
"Pak jangan senyum kek gitu dong!"Ucap salah seorang siswi.
"Kenapa?"Dedy menjawab.
"Takut diabetes kami pak.Manis banget.Bapak gantengnya kelewatan."Arka menyahut dan membuat satu kelas tertawa heboh ia lalu bertos ria dengan ketiga temannya dan tertawa bahagia sekali.
Deg
Jantung Dedy berdetak lebih kencang saat melihat tawa itu lagi.Hatinya berbunga-bunga hanya karena mendapat gombalan dari muridnya yang kebanyakan tingkah itu.Padahal biasnya juga ia merasa biasa-biasa saja.Tetapi kenapa sekarang terasa berbeda?
"Suit-suit."Sahutan beberapa siswa mendengar gombalan Arka.
"Kamu enak ya.Kalau kamu kalah cuma mentraktir saya.Tetapi jika bapak yang kalah bapak harus mentraktir satu kelas."Dedy coba bernegosiasi.Sebenarnya ia hanya ingin menghilangkan rasa gugup karena gombalan Arka barusan.
"Lah kan bapak guru.Duit bapak banyak.Beda sama saya yang uang saku aja pas-pasan pak.Lagian saya juga harus menepati janji saya buat gak dihukum lagi.Itu susah hlo pak."Bujuk Arka.
Dedy memincingkan matanya melihat Arka.Ia tak menyangka memiliki murid sejulid itu.
"Ok.Sekarang permainan apa yang kamu mau?"Tanya pak Dedy akhirnya.
'Bermain dengan siswa sesekali tidak apalah.'Pikir Dedy.
"Simple.Antara saya sama bapak aja nggak ada anggota lain.Truth or Dare aja udah cukup nggak usah ribet-ribet.Kita melakukan game batu kertas gunting.Ntar yang kalah harus milih truth or dare.Dan kalau nggak bisa melakukan tantangan atau menjawab pertanyaan berarti kalah.Gimana?"Tawar Arka.
"Ok.Asen dan Althaf bawa dua kursi kedepan!"Perintah pak Dedy.
"Doain gue menang biar istirahat kita makan banyak.Kalau kalah,gur sendiri yang nanggung soalnya."Arka meminta doa pada teman-temannya.
“Siap.”Jawab ketiga temannya.
Seluruh penghuni penasaran dengan hasil akhir.Mereka berharap,nanti Arka mempunyai ide untuk membuat pak Dedy menyerah saja.
Setelah kursi siap,Arka dan Dedy duduk berhadapan.Keduanya saling pandang.Dengan masing-masing mengartikan arti pandangan mereka berbeda.
'Duh beneran sumpah ganteng banget kalau dari dekat gini.Pantesan banyak yang klepek-klepek.Gue kalau lama-lama Deket sama nih guru juga bisa jatuh cintrong.'Ucap Arka dalam hati.
'Dasar bocah.Bisa aja bikin aku senam jantung.'Omwl Dedy dalam hati.
"Ok.Kita mulai.Batu,kertas,gunting."Ucap Arka.Arka menghela napas.Ia takau berlama-lama memandang Dedy,atau ia akan jatuh cinta beneran.
Pak Dedy kali ini menang.
"Truth or dare?"Tanya Dedy penuh kemenangan.
"Truth baelah pak."Jawab Arka.Dia sedikit ragu memilih pertanyaan itu.
"Ok.Bapak pengen tanya.Kalau disuruh milih kamu pilih siapa diantara ketiga teman kamu?Dan tidak ada jawaban lain."Tanya pak Dedy.
Seketika raut wajah Arka berubah menjadi pucat.Bukan hanya Arka,tapi juga satu kelas.
"Althaf."Jawab Arka ragu.Ia hanya berharap teman-temannya tidak salah paham.
"Ok.Sekarang saya tanya sama kalian berdua kenapa kalian tidak marah?"Tanya pak Dedy penasaran.
"Heheh bapak itu tidak tahu gimana pertemanan kami.Ntar aja kita jawab sekarang kita lanjutin dulu."Usul Azka.Ia yakin Arka mempunyai alasan yang logis untuk itu.
"Ok.Saya yang pimpin.Batu kertas gunting."
“Horeeee.”Arka bahkan sampai berjingkrak.
Saat ini Arka yang menang dia berteriak keras saking senangnya.Seakan ia sudah mempunyai kartu merah untuk mengalahkan sang guru.
"Sorry.Kesenengen soalnya."Ucap Arka sambil menutup mulutnya menggunankan telapak tangannya.
__ADS_1
"Truth or dare?"Tanya Arka sangat yakin.
"Dare sajalah."Jawab Dedy pasti.Ia sudah terlalu percaya diri jika memilih truth sudah pasti akan ia jawab,jika dare ia ingin tahu sebera berani seorang Arka menantang dirinya yang merupakan guru dan wali kelasnya.
Arka semakin bersorak ria mendengar jawaban gurunya.Ide sudah muncul sejak ia memulai game tadi.Ia yakin,dengan tantangan ini,maka Dedy bakal menyerah.
"Apapun hlo pak.Sebelumnya sudah jadi kesepakatan.Jadi apapun yang saya minta bapak nggak bisa menolak."Ucap Arka disertai senyum liciknya.
Dedy mulai was-was mendengar ucapan sang murid.
"Bapak nyatain cinta sama bu Sulis yang killernya masya allah nggak kalah sama bapak.Dan ditengah lapangan nanti pas istirahat.Dan siap-siap jadi pacarnya kan pasti diterima.Sudah jadi rahasia umum bukan jika bu Sulis itu,ehm. . . suka sama bapak."Ucap Arka.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar dari mulut penghuni kelas.Mereka tahu siapa bu Sulis.Guru matematika yang secara terang-terangan mengejar cinta Dedy.Bahkan dia tak jarang mengklaim Dedy sebagai miliknya.
“Meski sebenarnya yah pak,saya nggak rela kalau pak Dedy sampai pacaran sama bu Sulis.”Ucap Arka mulai mengacaukan pikiran Dedy.
“Why?”Tanya Dedy penasaran.
“Patah hati dong saya pak.Hahaha...”Lagi,Arka menggoda gurunya.Hal itu sengaja ia ucapkan agar Dedy menolak tantangannya.
Murid yang lain banyak yang ikut tertawa karena gangguan dari Arka untuk Dedy.
"Kamu luar biasa.Istirahat kalian kekantin.Beli apapun itu.Huh."Dedy langsung melenggang keluar kelas meskipun jam mengajarnya belum selesai.
Sedangkan para penghuni kelas sedang merayakan kemenangan mereka.
Masalah kecil muncul saat salah seorang teman satu kelas Arka meledek Arka yang sangat suka akan gratisan.
“Ceh.Dapat gratisan aja seneng banget.”Ledek Kay.
Arka tak menggubris hinaan itu.Jika ia tanggapi,ia sendiri yang akan tersulut amarahnya.
“Wajar sih.Gembel.”Ucap Kay lagi.Ia lalu meninggalkan kelas.
Raut wajahnya seketika berubah,hanya saja karena Arka memalingkan wajahnya ketiga temannya tak menyadari hal itu.
Jika memang ia suka gratisan,sudah dari dulu ia selalu minta ditraktir ketiga temannya.
Sejujurnya mendapat hinaan sedemikian hati Arka tersakiti.Ia merasa harga dirinya sudah diinjak-injak.
“Kalyana kebangetan banget sih.”Ucap Asen.
“Iya nyari gara-gara aja.”Sambung Azka.
“Jangan diambil hati Ar.Kan dia emang orangnya gitu.”Sahut Dewi salah satu temannya.Arka mengangguk sambil memamerkan deretan gigi putihnya.Memcoba terlihat baik-baik saja.Meski sebenarnya tidak.
Karena istirahat tidak lama lagi mereka memutuskan untuk juga segera pergi kekantin.
"Ntar bilang aja urusannya sama kita berempat gitu.Soalnya kita nggak langsung kekantin."Pesan Arka pada teman-temannya.
"Sen,Az sorry ya tadi gue asal ngejeplak milih Althaf.Ya kalau gue bilang nggak bisa milih ntar gue disuruh memenuhi tuh janji gue.Jujur aja terlalu berat itu mah.Apalagi cuma gue yang jalanin."Arka cengar-cengir setelah mengucapkan kata itu.
"Santuy.Mending kita buruan kekantin.Laper kita."Ajak asen.
"Cuz."Azka langsung menarik ketiga temannya.
Suasana kantin terlihat lebih ramai.Bagaimana tidak seluruh penghuni kelas Arka berkumpul dikantin itu.
"Gue biasa ya Ka."Ucap Asen.
"Gue juga."Sahut Azka.
"Gue samain aja kek elo."Althaf ikut menimpali.
__ADS_1
"Tadi gue yang berjuang sendirian.Lah ini.Kalian masih aja babuin gue."Omel Arka."Nggak ada rasa terimakasih sama sekali."Desis Arka.
"Bu mie ayam 2 sama mie ayam baksonya dua ya buk.Tapi mie ayam baksonya yang satu baksonya jumbo ya buk.Minumnya es teh 5 gelas Sama satu lagi entar semuanya habis berapa dihitung ya buk!"Ucap Arka.
"Siap neng.Sering-sering atuh neng ngadain acara kek gini."Ucap penjua mie ayam itu.
“Siap buk.Beres pokoknya mah.”Jawab Arka sambil mengacungkan jempolnya.
“Kenyang banget gue.”Ucap Arka setelah semua makanan yang ia pesan tandas.
“Lo makannya kayak udah berhari-hari kagak makan gitu.”Sahut Azka.
“Mumpung gratisan.Hehehe...”Jawab Arka.
Setelah hampir 30 menit kantin sudah sepi.Arka dkk juga sudah selesai makan tinggal menunggu bon makan hari ini.Sebelumnya dia juga sudah memesan mie ayam bakso ukuran jumbo dan es teh tawar untuk gurunya.Sebagai ucapan terima kasih.Tetapi tetap saja gurunya yang membayar.
"Ini neng bonnya.Semua 487.000 neng."Ucap suami pemilik kantin.
"Gini pak.Bapak anterin bon beserta makan ini untuk pak Dedy.Dia yang akan membayar.Kalau gak dibayar ntar istirahat kedua saya bayar.Sekalian nitip note ini buat pak Dedy.Bapak tenang aja.Saya yang bertanggung jawab."Jelas Arka.
“Tapi neng,inikan banyak.Ya saya nggak enak hatilah neng sama pak Dedy.”Ucap pemilik kantin.
“Udah!Tenang Nang!Ketiga teman saya yang jadi jaminannya.”Jawab Arka asal.
Ketiga temannya memelotottkan mata tak percaya dengan jawaban Arka yang suka sekali menjadikan mereka sebagai jaminan.
Meskipun ragu.Pemilik kantin mengiyakan ucapan Arka.Tentu ia tahu siapa pak Dedy.Guru yang terkenal irit senyum,irit suara,galak dan muka datar.
"Lo kasih note apaan?"Tanya Althaf penasaran.
"Pokoknya gue bikin kejutan buat tuh guru."Jawab Arka sambil senyum-senyum sendiri.
"Anjay.Temen lo Althaf gercep usai dicampakin Arga."Azka menyahut.
"Sialan lo.Ngapa bawa-bawa tuh pengecut sih?"Umpat Arka.
"Santuy Ar.Lo tenang aja masih ada gue.Althaf kakak tertua."Althaf mulai ngawur bicaranya.
"Hahaha lihat kakak kedua dan bontot kakak tertua belain gue."
"Iyalah.Orang dia udah tua."
"Huum.Udah bau tanah kayaknya."
“Hahahaha...”
"Mulut lo Sen,Az asal ngebacot aja.Pengen gue jahit pake benang yang biasa tukang bangunan pake."Althaf sedikit emosi dibilang tua.
"Heran gue bisa berteman ma kalian bertiga."Sahut Arka.”Kuy lah kita gas kekelas.Hayati kenyang bang.”Canda Arka.
“Jibang gue dengernya Ar”Sahut Azka.
“Kek bencong 408.”Imbuh Asen.
“Parah cuy,Asen mainnya sama bencong dibelakang kita.”Timpal Althaf.
“Bac*t Lo Al.Gue masih lempeng woy.”Kesal Asen.
“Berisik banget sih kalian.Udah kayak kenari mau dilombain tau.”Omel Arka.
“Kayak Lo tau kenari aja.”Ledek Althaf.
Arka mincingkan mata menatap Althaf tajam.Sedang Althaf ia hanya cengengesan.
__ADS_1
Dikantor guru
JANGAN LUPA VOTE,KOMWNTAR DAN LIKE YA...DITUNGGU JUGA SEDEKAH POINNYA