
Air mata Anisa semakin deras saat mendengar pertanyaan dari putri ke duanya, ia juga tidak ingin berada di situasi ini, situasi yang membuat ke dua putrinya mejadi saling membenci.
"Boleh'kah Uci egois untuk sekali ini? Boleh'kah Uci mengajukan pertanyaan untuk Bunda?"
Anisa mengangguk pelan, ia sudah tidak mampu lagi untuk berbicara dengan putri ke duanya.
"Baik, sekali ini Uci akan bersikap egois, Bunda boleh memilih salah satu dari putri Bunda. Bunda memilih dia? Atau Bunda memilih Uci?"
Anisa sangat tekejut dengan pilihan yang di ajukan putri ke duanya, selami ini memang putri ke duanya tidak pernah egois, tapi kali ini putri ke duanya mengatakan akan egois.
Anisa menghela nafas berat, ia tidak bisa memilih salah satu dari ke dua putrinya.
"Kenapa Bunda hanya diam? Bunda tidak bisa memilih salah satunya? Lalu Bunda juga masih ingin Uci dan mas Arkan berpisah? Kalau memang itu benar, Uci tidak bisa, tapi Uci akan membayarnya dengan darah lagi."
"Sayang apa maksudmu?"
Arkan bertanya sambil membalikan tubuh istrinya untuk saling menatap mata. Tidak bisa di pungkuri mata Arkan sudah memerah saat istrinya mengatakan akan.membayarnya dengan darah.
"Aku memiliki hutang mas, tentu aku harus membayarnya. Aku tidak ingin hidup hasil dari darah orang lain."
"Maksudmu darah apa sayang?"
"Darah yang mengalir di tubuhku, ini bukan darahku mas, ini darah orang lain, tidak seharusnya aku bahagia sekarang."
Lagi-lagi Suci mengatakan kalau kakanya adalah orang lain.
"Tidak! Mas tidak mau kamu melakukan yang aneh-aneh. Mas hanya ingin terus memilikimu, kamu adalah bidadari mas, mau di dunia dan di akhirat, jadi kamu jangan melakukan hal yang tidak masuk akal seperti Sulis."
Walau pun hati Suci sedang kacau, ia masih bisa tersenyum saat mendengar jawaban dari suaminya yang menurut Suci jawaban itu memang sangat puas.
Suci memegang ke dua tangan suaminya sambil tersenyum.
"Kita di satukan dalam ikatan pernikahan karena Allah mas, dan kita akan di pisahkan pula karena Allah. Maaf mungkin Uci tidak pernah bisa menjadi istri yang baik selama ini, tapi Uci sudah berusa untuk menjadi istri yang baik."
Suci mencium tangan suaminya cukup lama, hingga beberapa air matanya mengalir deras lagi.
Pikiran Suci sudah buntu, ia tidak bisa berpisah dengan suaminya, tapi ia juga tidak ingin kalau kaka dan Bundanya memojokan ia soal pengorbanan.
Menurut Suci pengorbanannya terlalu besar, dan darah harus di bayar dengan darah. Bukan di balas dengan menukar suaminya.
Setelah cukup lama Suci mencium tangan suaminya, ia berjalan pelan mendekati kakanya melewati Bundanya yang sedang menunduk dengan air mata yang mengalir deras.
__ADS_1
"Kaka serius ingin Uci memberikan kaka pengorbanan?"
Sulis mengangguk pelan.
"Baik, namen Uci tidak bisa memberikan mas Arkan untuk kaka, tapi Uci bisa memberikan apa yang telah kaka berikan. Pengorbanan darah harus di balas dengan darah, bukan dengan menukar suami Uci."
Suci menepuk pelan punggung kakanya yang sedang duduk di bangkar dengan senyuman yang aneh.
Bahkan Sulis pun melihat senyuman aneh dari diri adiknya walau pun tertutup cadar, tapi ia masih melihatnya dengan jelas.
Arkan masih terus menatap gerak-gerik istrinya, entah kenapa perasaan Arkan menjadi tidak enak.
Suci langsung menggulung lengan baju tangan kirinya, lalu dengan cepat ia mengambil pisau buah dan menggoreskannya di lengannya tepat di urat nadinya. Arkan yang melihat itu ia lari ke arah istrinya dan mendorong Anisa yang hanya menunduk tanpa tau apa yang di lakukan putri ke duanya.
"Istighfar sayang!"
Sulis sangat terkejut begitu pun Anisa yang di dorong dan mendengar suara Arkan. Anisa langsung melihat ke ara putri ke duanya.
Air mata Anisa mengalir semakin deras, pada akhirnya karena masalah lelaki ke dua putrinya sama-sama menderita dan saling membenci.
Arkan membuang kasar pisau itu lalu langsung merangkul pinggang istrinya sambil melihat tangan istrinya yang sudah mengelurkan darah.
Suci bertanya dengan nada kecewa saat suaminya membuang kasar pisaunya, ia menggoreskan pisau itu belum sampai ke urat nadinya, tapi suaminya sudah membuang pisau itu dengan kasar.
"Istighfar sayang! istighfar!"
Arkan memeluk pinggang istrinya dengan tangan kanannya yang ada di bahu istrinya.
"Jangan pernah lakukan ini sayang."
Air mata Arkan langsung terjatuh saat melihat darah istrinya yang menetes ke lantai.
"Mas akan bawa kamu ke ruang rawat!"
"Tidak usah mas."
Tidak ada air mata lagi di mata Suci begitu pun rasa sakit di tangannya, ia sama sekali tidak merasa sakit, hatinya jauh lebih sakit saat di hadapkan dengan keyataan seperti itu.
"Biarkan darahku keluar dan habis, aku tidak bisa kehilanganmu, dan tidak akan memberikanmu pada siapa pun, tapi aku harus membayar darah yang telah membuat aku hidup sampai sekarang."
Suci berbicara dengan tangan kanannya menghapus air mata suaminya yang sudah mengalir deras.
__ADS_1
"Tolong jangan seperti ini sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, bagai mana nasib dede?"
Suci menggeleng pelan sambil tersenyum, senyuman yang sangat aneh seumur hidupnya.
"Nak apa yang kamu lakukan?"
Anisa mendekati Suci dengan tubuh yang gemetar saat melihat darah di tangan putri ke duanya.
Saat Anisa akan menyentuh tangan putri ke duanya Arkan menepis kasar tangan Anisa.
"Jangan sentuh istriku! Semua ini karena kalian yang memojokan istriku! Dan Bunda sudah tidak pantas untuk memanggil Suci sebagai putri Bunda lagi!"
Walau pun Anisa Bunda dari istrinya, tapi Arkan sudah tidak menghormati Anisa lagi sebagai ibu mertuannya, kalau bukan karena Anisa dan Sulis istrinya tidak akan berbuat nekad.
Saat melihat kemarahan dari suaminya Suci menggeleng pelan, mengisyaratkan kalau suaminya tidak boleh marah pada Bundanya.
"Kak, aku harap dengan darah ini kaka bisa puas dengan pengorbananku."
Suci menghela nafas berat sambil beristighfar dan minta ampun pada Allah di dalam hatinya karena sudah mencoba untuk bunuh diri, tapi menurut Suci ini tidak bisa di bilang bunuh diri, ia melakukan semua itu karena tidak ingin melepaskan suaminya.
Sulis menggeleng pelan, bukan kekacauan seperti ini yang ia inginkan, ia hanya ingin memiliki Arkan, tapi di luar dugaan, ternyata adiknya tidak memikirkan nyawanya sendiri.
"Terima kasih sudah memberikan darah pada Uci dan membiarkan Uci hidup selama ini, hingga Uci merasakan kebahagian besar bersama mas Arkan."
Ada rasa sakit di hati Sulis saat mendengar ucapan dari adiknya, tapi ia masih enggan untuk mengakui kesalahannya yang sudah ia buat hingga sampai semuanya kacau.
Arkan saat merasa tubuh istrinya sudah mulai lemas, tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, ia langsung mengangkat tubuh istrinya sambil berteriak memanggil perawat, hingga Arkan dan Reyhan bertabrakan.
"Astagfirullah!"
Mereka berdua beriatighfar secara bersamaan.
"Suci kenapa?!"
Reyhan terkejut saat melihat tangan Suci yang mengeluarkan darah.
"Nanti saya jelaskan mas."
Arkan langsung berlari lagi di ikuti oleh Reyhan hingga Suci sudah masuk ke dalam ruangan rawat.
Sedangkan Arkan dan Reyhan berada di ruang tunggu Suci.
__ADS_1