Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 106 Erlangga


__ADS_3

Arkan terus menatap wajah istrinya yang memejamkan mata, hatinya begitu tenang saat melihat istrinya tertidur pulas, walau pun hatinya masih sangat kuatir, tapi setidaknya melihat istrinya baik-baik saja jauh lebih tenang.


"Maafkan aku Uci, aku masih saja belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Aku juga tidak bisa menjadi Ayah yang baik, karena tidak bisa menjaga kalian berdua." batin Arkan


Arkan langsung memindahkan kepala istrinya ke bantal, karena ia akan menemui kakeknya, setelah memindahkan istrinya ke bantal, ia langsung menyelimuti istrinya lalu mengecup kening istrinya cukup lama.


Arkan langsung turun dari atas ranjang, ia langsung keluar dari kamar mendekati kakeknya yang sedang mengobrol bersama Kania.


"Kakek."


Erlangga tersenyum lebar saat mendengar panggilan dari cucunya.


"Duduk nak."


Arkan mengangguk pelan, ia langsung duduk di sofa berlawanan dengan kakeknya.


"Kakek, untuk sementara Arkan menginap di sini dulu hingga Suci pulih kembali, kalau di bawa kerumah Arkan takut mama kuatir pada Suci."


"Terserah kamu saja, di sini juga rumah kamu, kenapa harus minta ijin sama kakek? Oh iya bagai mana keadaan Suci?"


"Suci sudah tidur kek, Arkan sudah menyuruh Suci untuk makan terlebih dahulu, tapi Suci menolaknya dan mengatakan kalau Suci ingin tidur."


"Iya sudah tidak apa-apa, kamu lebih baik makan nak, dari kemarin kamu belum makan, jangan menyiksa tubuhmu sendiri, kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga istrimu?"


"Iya kek, kakek tenang saja. Tumben kakek ada di Indonesia?"


"Awalnya kakek akan ke rumahmu untuk melihat cucu menantu kakek dan sekalian ingin tau keadaan cicit kakek, tapi kamu duluan yang kemari, iya terpaksa kakek tidak jadi ke sana."


"Jadi kakek kesini kangen sama mereka saja? Tidak kangen sama Arkan juga?"


"Kamu itu seperti anak kecil saja Arkan!"


Arkan tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari kakeknya begitu pun dengan Kania yang ikut tersenyum.


"Arkan mau makan dulu kek."


"Iya sudah sana."


Arkan langsung berlalu pergi meninggalkan kakeknya untuk ke ruang makan. Sekarang tinggal ada Erlangga dan Kania yang duduk di sana.


"Kamu sudah mendapatkan informasi tentang kenapa Suci bisa nekad menyakiti dirinya sendiri?"


"Sudah pak, kakak dari non Suci yang memojokan Suci untuk menyuruh Suci bercerai dengan den Arkan. Bahkan non Sulis juga berbohong kalau memiliki penyakit kangker stadium lanjut agar bisa mendapatkan den Arkan."

__ADS_1


Erlangga menghela nafas saat mendengar penjelasan dari Kania, ia memang tidak percaya kalau Suci yang ta'at agama mencelakai diri sendiri tanpa ada sebabnya, apa lagi cucunya mengatakan kalau darah Suci dari Sulis, jadi ia penasaran apa yang terjadi karena sekarang ia sudah tidak menyuruh orang untuk memata-matai Suci dan Arkan lagi.


"Lalu apa Arkan sudah tau tentang ini?"


"Sudah pak, bahkan den Arkan sudah menyuruh Ikbal untuk memecat Sulis."


Erlangga menghela nafas berat untuk ke dua kalinya saat mendengar cucunya tidak bersikap tegas.


"Apa hanya di pecat?! Apa tidak bertindak untuk mempermalukan Sulis sedikit saja?! Sulis sudah membahayakan nyawa Suci dan janinnya!"


Kania yang tadi bersikap biasa saja, ia langsung menunduk takut saat mendengar bentakan dari Erlangga.


"Iya pak, den Arkan tidak bertidak, hanya menyuruh Ikbal untuk memecat saja pak."


"Iya sudah tidak apa-apa, kamu nanti hubungi Rangga, apa Rangga membutuhkan bantuan atau tidak untuk mengurus perusahaan, karena untuk saat ini Arkan harus fokus mengurus istrinya dulu, kalau butuh bantuan, kamu bantu Rangga terlebih dahulu, dan saya juga tidak keluar negri dulu untuk melihat keadaan Suci lebih lanjut."


"Baik pak, kalau begitu saya permisi."


Erlangga hanya mengangguk pelan. Setelah kepergian Kania ke kamarnya dan untuk menelpon Rangga, Erlangga hanya diam merenung, ia tidak menyangka kalau Sulis begitu kejam dan ia bersyukur karena cucunya tidak jadi bersama Sulis.


Erlangga berjalan ke arah meja makan, ia melihat cucunya yang sedang makan sambil melamun, membuat ia menghela nafas berat lalu menepuk pelan punggung cucunya.


"Makan jangan sambil melamun."


Setelah mengatakan itu Erlangga duduk di samping cucunya.


"Kakek."


"Kamu kenapa hanya memecat Sulis? Apa kamu tidak ingin menuntut Sulis karena hampir membahayakan nyawa Suci dan janinnya?"


"Arkan takut Suci marah sama Arkan kek. Arkan sekarang tidak bisa terus bersikap tegas kalau sudah menyangkut Suci. Kakek tau sendiri Suci memiliki darah rendah, kalau pikiran Suci terganggu Suci bisa saja mudah pingsan. Arkan tidak ingin itu terjadi kek."


"Iya sudah kalau begitu terserah kamu saja, selama Suci dan janinnya baik-baik saja, tapi kalau Sulis bikin ulah lagi, maka jangan salahkan kakek yang akan turun tangan."


Arkan menghela nafas berat saat mendengar ucapan dari kakeknya, karena kalau kakeknya sudah berbicara, kakeknya bukan hanya sebuah ucapan, tapi kakeknya akan bertindak sesuai keinginannya.


"Iya kek, kalau begitu Arkan ke kamar dulu."


"Kenapa tidak di terusin makannya?"


"Sudah kenyang kek, Arkan mau menyuruh bi Lastri untuk bikin jus alpukat."


Arkan langsung mendekati bi Lastri yang sedang mencuci sayuran.

__ADS_1


"Bi, tolong bikin jus alpukat di tambah susu."


Bi Lastri yang di panggil oleh Arkan, ia langsung melihat ke arah Arkan.


"Baik den."


Bi Lastri langsung membuat jus alpukat yang di minta oleh Arkan. Sedangkan Arkan hanya berdiri di samping bi Lastri untuk menghindari obrolan dari kakeknya, ia tau kalau kakeknya marah karena ia tidak bertindak, dan hanya memecat Sulis saja, tapi ia juga masih menghargai istrinya, ia takut istrinya marah, membuat ia tidak bisa melakukan apa pun.


Bi Lastri selsai bikin jus alpukat, ia langsung memberikannya pada Arkan.


"Satu apa dua den?"


"Satu saja bi, terima kasih."


Arkan berbicara sambil mengambil jus yang di serahkan bi Lastri.


"Sama-sama den."


Arkan langsung berjalan keluar dari dapur, ia langsung menaiki tangga untuk menuju kamarnya, ia sangat terkejut saat melihat istrinya sedang menangis.


"Sayang kenapa?"


Arkan langsung meletakan jusnya di meja lalu langsung berdiri di samping ranjang.


Suci langsung bergeser, ia langsung memeluk suaminya dengan posisi ia masih duduk di atas ranjang.


"Aku takut mas. Hiks... Hiks..."


Arkan membalas pelukan istrinya sambil menghela nafas berat.


"Takut kenapa sayang?"


"Aku takut mas meninggalkan aku. Hiks... Hiks..."


"Mas tadi lapar, jadi mas makan dulu, mana mungkin mas meninggalkan sayang. Sudah jangan menangis, sayang minum jus iya?"


Suci mengangguk pelan, ia langsung melepaskan pelukannya.


Arkan langsung menghapus air mata istrinya, lalu ia langsung duduk di samping ranjang sambil menghela nafas berat, ia tidak menyangka kalau membuat istrinya hilang ingatan jauh lebih cengeng dan rasa takut itu seperti saat istrinya awal-awal hamil.


Istrinya selalu saja berpikir yang tidak-tidak walau pun sekarang istrinya dalam keadaan hilang ingatan.


Arkan langsung mengambil jus, lalu tangan kanannya langsung memegang sedotan dan menyodorkannya pada istrinya.

__ADS_1


"Minum dulu sayang, biar dedenya sehat."


Suci mengangguk pelan, lalu ia langsung menyedot jus yang di sodorkan oleh suaminya sambil tersenyum karena suaminya selalu saja perhatian dan romantis


__ADS_2