
Arkan tidak membawa istrinya ke rumah orang tuanya, tapi ia membawa istrinya ke rumah kakeknya, ia juga sudah menelpon dokter Rina untuk datang ke rumah kakeknya.
Arkan sekarang sampai di rumah kakeknya, ia langsung turun dari mobil sambil menggendong istrinya yang masih tertidur.
Arkan memasuki rumah itu dengan berusaha tegar, walau pun matanya sudah ingin menangis.
"Kakek."
Arkan langsung memanggil kakeknya saat tau kakeknya ternyata ada di rumah, biasanya kakeknya tinggal di luar negri.
"Suci kenapa nak?"
Erlangga sangat terkejut saat melihat Arkan menggendong cucu menantunya yang ada selang infusnya yang di pegang oleh pak Budi.
"Nanti Arkan ceritakan kek, sekarang Arkan mau bawa Suci ke kamar dulu."
Arkan langsung menaiki tangga untuk menuju kamar dua, di kamar tempat ia tidur saat berada di rumah kakeknya.
Arkan langsung membaringkan tubuh istrinya dan langsung meletakan tabung infusnya di samping istrinya.
"Bapak boleh keluar, sekali lagi terima kasih. Bapak nanti tidur di kamar sebelah pak Jakar."
Jakar adalah supir pribadi dari sang kakek.
"Baik den, kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya sama-sama den."
Arkan langsung membuka cadar istrinya lalu langsung mencium kening istrinya cukup lama hingga air mata yang ia tahan langsung menetes.
"Kenapa Allah memberikan cobaan sangat berat, kenapa yang merasakan sakit harus Suci, kenapa tidak hamba saja?" batin Arkan
Erlangga yang melihat cucunya mencium kening cucu menatunya sambil menangis membuat ia menghela nafas berat, ia baru saja melihat cucunya bahagia, tapi sudah sedih lagi, entah apa yang di lakukan oleh cucu menantunya hingga tangan kirinya di perban.
Erlangga menepuk pelan punggung Arkan.
"Yang sabar, kakek percaya kalau cucu menantu kake itu orang yang sangat kuat."
Arkan langsung mengangkat tubuhnya, ia langsung melihat ke arah kakeknya.
"Kenapa harus Suci yang merasakan sakit kek? Kenapa hidup Suci lebih tidak beruntung dari Arkan? Arkan tidak pernah tau kalau selama ini Suci hidup hasil darah dari Sulis, betapa sakitnya hati Arkan saat melihat Suci menggoreskan pisau ke tangannya sendiri kek. Arkan selama ini sering mengeluh atas cobaan yang di berikan oleh Allah, tapi ternyata Suci lebih menderita dari Arkan, entah kebebaran apa lagi yang di sembunyikan Suci selama ini."
Erlangga dengan sigap menahan tubuh cucunya yang hampir terjatuh, bisa ia rasakan tubuh cucunya sangat bergetar, bisa ia rasakan kalau tadi cucunya bersikap baik-baik saja, tapi ternyata sangat rapuh.
"Sabar nak, kamu sebagai suami harus sabar, semoga Suci baik-baik saja bersama janinnya."
__ADS_1
Erlangga memeluk cucunya sambil menepuk pelan punggung cucunya, untuk pertama kalinya ia melihat cucunya rapuh setelah kepergian papanya untuk selamanya.
"Arkan takut kek, Arkan takut kehilangan mereka."
Tiba-tiba saja mereka mendengar suara ketukan pintu.
Tok-tok.
Erlangga melepaskan pelukannya, ia langsung menyuruh orang yang mengetuk pintu menyuruhnya untuk masuk.
"Masuk!"
Kania langsung masuk ke dalam.kamar saat di suruh masuk.
"Pak Wijaya, dokter Rina sudah datang."
"Suruh dia masuk."
"Baik pak, dokter Rina silahkan masuk."
"Baik."
Arkan yang melihat dokter Rina masuk ia langsung berusaha untuk berdiri di bantu oleh kakeknya.
Dokter Rina yang melihat ke adaan Arkan tidak baik-baik saja ia hanya menghela nafas berat, hatinya sakit saat melihat lelaki yang di cintainya tidak berdaya.
Setelah mengatakan itu air mata Arkan mengalir deras, lagi-lagi hatinya begitu sakit saat mengatakan tentang istrinya.
Dokter Rina tersenyum sambil menepuk pelan punggung Arkan.
"Kamu lebih baik istirahat, istrimu biar aku yang urus, percaya padaku kalau istrimu akan baik-baik saja."
"Aku akan tetap di sini."
"Sudah nak, kamu harus istirahat, kamu jangan membebani Rina, biarkan Rina menjaga istrimu."
"Baik kek."
Pada akhirnya Arkan mengalah juga walau pun awalnya ia tidak ingin meninggalkan istrinya.
Arkan langsung mencium kening istrinya yang masih tertidur pulas karena obat tidur, lalu ia langsung keluar dari kamar di bantu oleh kakenya.
...****************...
Reyhan dan Rangga termasuk dokter Kinanti sudah ada di ruangan Sulis dan ada Anisa yang masih terus saja menangis.
__ADS_1
Dokter Kinanti yang sudah memeriksa dan sudah mengeluarkan hasil tes dari Sulis, ia hanya menghela nafas berat.
"Dokter Rey, ini hasil dari tes tadi."
Dokter Kinanti langsung menyerahkan hasil tes milik Sulis.
Reyhan langsung mengambil tes yang di serahkan oleh dokter Kinanti tanpa berbicara, ia langsung membaca hasil tes itu, ia membulatkan matanya tidak percaya, ia tidak percaya kalau Sulis berbohong sebesar itu.
Reyhan langsung melempar hasil tes itu pada wajah Sulis yang masih duduk di bangkar.
"Kenapa kamu lakuin itu sama Suci?! Sekarang nyawa Suci dan janinnya sedang terancam! Apa kamu puas?!"
Reyhan menggenggam tangan kanannya yang sudah ingin melayangkan tamparan pada Sulis.
Anisa yang sedang menangis ia membulatkan matanya melihat kemarahan Reyhan, dengan tubuh gemetar ia langsung mengambil surat tes yang di lempar oleh Reyhan.
Setelah membaca surat itu Anisa dengan tubuh gemetar ia langsung menampar putri pertamanya.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Sulis. Ini ke dua kalinya Anisa menampar putri pertamanya, hanya saja tamparan sekarang sangat berbeda, tamparan sekarang sangat keras hingga sudut bibir putri pertamanya mengeluarkan darah.
"Apa kamu menginginkan Suci meninggal?! Kenapa kamu sangat jahat Sulis?! Kenapa kamu tega hingga membuat adikmu mencelakai dirinya sendiri?! Bunda selama ini mendidikmu dengan kasih sayang, tapi kamu tidak memiliki hati nurani, kamu jahat Lis! Kamu bukan anak Bunda! Bunda membencimu Sulis!"
Setelah mengatakan itu Anisa langsung terduduk lemas, tubunnya bergetar hebat.
Reyhan langsung menarik Anisa dalam pelukannya.
"Tenang Bunda, jangan terlalu emosi kalau tidak tubuh Bunda drop."
Rangga dan dokter Kinanti memutuskan untuk pamit, ia takut Reyhan malu, terutama Kinanti yang sudah lama menaruh perasaan pada Reyhan saat namanya melambung tinggi sebagai dokter termuda sepesialis saraf.
"Dokter Rey, kami berdua pamit dulu."
"Iya terima kasih dokter Kinanti."
"Sama-sama."
Setelah Rangga dan dokter Kinanti pergi, Sulis langsung mengusap darahnya yang menetes, ia merasa sangat menyesal, tapi menyesal hanya tinggal menyesal dan waktu tidak bisa di puter ulang kembali, ia hanya menginginkan memiliki Arkan, bukan ingin menjadi seperti ini.
Sulis langsung turun dari bangkar, ia langsung bersujud di depan Bundanya.
"Maafkan Sulis Bunda, maafkan Sulis. Hiks... Hiks..."
"Apa dengan maaf kamu bisa membalikan keadaan?! Apa dengan maaf Suci bisa sembuh?! Bunda tidak pernah berpikir kalau sifatmu akan menjadi seperti ini, Bunda pikir kamu berbohong mengatakan membiarkan Suci meninggal, tapi nyatanya kamu memang benar-benar menginginkan Suci meninggal!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Anisa langsung memeluk Reyhan dengan sangat erat, tangisannya semakin tersedu-sedu, ia tidak pernah berpikir kalau putri pertamanya akan melakukan kebohongan sebesar itu
Bahkan Anisa menyesal karena telah membela putri pertamanya hingga menyebabkan putri ke duanya kritis.