Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 69 Curiga


__ADS_3

Arkan masih terus saja menatap wajah istrinya yang tertidur pulas, hingga beberapa menit kemudian istrinya terbangun.


" Sudah bangun sayang?"


Arkan bertanya dengan senyum lebar.


" Mas ko sudah pulang?"


Suci langsung duduk, ia langsung mencium tangan suaminya dan di balas dengan cium kening sekilas.


" Iya sayang. kepalamu bersandar di mas."


Suci mengangguk pelan, ia bukan hanya bersandar, tapi juga sudah seperti bayi yang di timang, dengan posisi kepala di sanggah oleh suaminya sambil duduk di pangkuan suaminya. Arkan melepaskan hijab istrinya.


" Bagai mana kuliah hari ini?"


" Semuanya lancar mas."


Suci memainkan jari-jari tangan kanan suaminya sambil sesekali ia cium.


" Mas boleh tanya sesuatu?"


Hingga saat ini Arkan selalu bertanya pada istrinya dengan meminta ijin, karena ia takut istrinya itu marah seperti dulu dan berpikir ia mengirim mata-mata.


" Boleh mas."


" Sayang menangis kenapa tadi? Dan kenapa telat pulang?"


Wajah Suci langsung berubah menjadi bingung, ia tidak mungkin menceritakan permasalahan bersama kakanya pada suaminya.


" Aku capek mas, akhir-akhir ini mudah capek."


Pada akhirnya Suci menjawab dengan berbohong.


" Ya Allah, ampuni hamba telah membohongi suami hamba." batin Suci


Arkan tau kalau istrinya sedang berbohong, tapi ia tidak ingin memperpanjang masalah itu karena takut membuat rumah tangganya memiliki masalah.


" Bagai mana kalau sayang di priksa dokter Rina?"


" Tidak usah mas, aku sudah jauh lebih baik."

__ADS_1


Arkan langsung mencium keningnya dan ke dua matanya, setelah itu langsung mencium bibir istrinya, bukan ciuman biasa, tapi ia menyapu setiap rongga mulut istrinya.


" Hhmmm."


Suara Suci tertahan saat suaminya masih menciumnya dan tangannya meraba-raba perut ratanya. Hingga 3 menit Arkan melepaskan ciumannya karena melihat istrinya susah untuk bernafas.


" Ih mas, siang-siang mesum."


" Sayang juga menikmatinya, buktinya nafas sayang memburu dan lenguhan tertahan sudah mulai keluar."


Arkan berbicara sambil tersenyum lebar. Sedangkan Suci langsung mukul dada bidang milik suaminya.


" Ih mas, entar aku raba-raba milik mas baru tau, kalau keluar lenguhannya, aku ejek juga entar."


" Jangan aneh-aneh sayang, entar mas tidak tahan."


Arkan langsung mencium leher istrinya sekilas.


" Mas sudah mandi?"


" Belum sayang, buktinya mas masih memakai baju kantor."


Suci langsung bangun dari pangkuan suaminya.


" Sudah berani iya berbicara kasar sama mas?"


Arkan berbicara sambil menyentil pelan hidung istrinya. Memang menurut Arkan ucapan seperti itu begitu kasar, saat istrinya mengatakan kata sehat, selama menikah ia tidak pernah mendengar ucapan seperti itu. Sedangkan Suci hanya tersenyum lebar.


" Mas, aku lapar."


Suci memang sudah merasakan lapar, biasanya ia tidak lapar saat masih pukul 14.30WIB, biasanya ia akan merasa lapar sehabis sholat magrib. Arkan tersenyum lebar, memang sudah 3 hari ini istrinya selalu minta makan di kamar.


" Sayang mau makan sama apa?"


" Aku ingin cilok mas, sepertinya enak kalau sore-sore makan cilok yang masih hangat, tapi aku maunya di penjual yang ada di jalansn mas."


Arkan menggeleng pelan, ada saja permintaan aneh dari istrinya, sudah 3 hari ini, dari minta rujak nanas, lalu minta rujak mangga muda, dan sekarang minta cilok.


" Sayang."


" Hm, iya mas."

__ADS_1


" Kapan terakhir datang bulan?"


" Mas itu dari kemarin nanyain itu mulu, aku lupa mas, lagian juga nanti kalau sudah waktunya datang bulan, akan datang bulan sendiri. Mas kenapa nanya itu terus? Mas mau melakukan jima?"


Arkan menggeleng pelan sambil tersenyum, ia tidak percaya kalau sekarang pikiran istrinya menjadi ke arah mesum.


" Ini masih sore sayang, sudah mikir ke situ saja."


" Saat pertama juga siang mas, bukan malam."


Arkan tersenyum lebar mendengar jawaban dari istrinya.


" Iya sudah, mas telpon Saras dulu untuk membelikan cilok."


" Tapi aku pengen penjualnya datang ke sini mas, biar ciloknya masih hangat."


" Iya sayang."


Arkan langsung mengambil ponselnya, saat ia menekan tombol ponselnya, ada dua pesan dari Sinta, terpaksa ia membuka pesan itu, ternyata sebuah video, menampilkan istrinya yang sedang berdebat dengan Sulis.


Sinta memang sudah tau pernikahan Arkan dan Suci dari Arkan, termasuk tau kalau Sulis itu sekarang menjadi kaka ipar Arkan, karena tadi Sinta memang sedang ada meeting bersama klien dari perusahaan Dirga Grup, sedangkan Arkan tadi hanya di meeting di kantor di temani oleh Rangga. Belum sempat Arkan melihat semuanya, ia takut kalau istrinya salah paham seperti dulu, di kira mengirim mata-mata, jadi ia langsung menelpon Saras. Setelah di angkat Arkan langsung berbicara lebih dulu.


" Ras, tolong beliin cilok, suruh orang jualnya datang ke rumah."


" Baik den."


Setelah itu Arkan langsung mematikan sambungan telponnya.


" Mas mandi dulu iya sayang."


Suci mengangguk pelan. Arkan langsung mencium bibir istrinya sekils, lalu turun dari ranjang dengan membawa ponselnya, ia penasaran apa yang di bicarakan istrinya dan Sulis, hingga membuat istrinya menangis tadi.


Memang sudah 2 bulan Arkan selalu saja menerima pesan dari Sulis, dan menyanyakan kapan akan berpisah dengan Suci, menurut Arkan Sulis itu wanita yang tidak memiliki pendirian, Sulis yang mengakhiri hubungannya dan menghinanya habis-habisan, tapi sekarang Sulis juga gencar mengirimi pesan dan sesekali juga Sulis menelponnya.


Namun Arkan sama sekali tidak pernah membalas pesan mau pun mengangkat telpon dari Sulis, bagi Arkan Sulis hanya lah kaka iparnya. Sedangkan Suci hanya mengerutkan keningnya melihat Suaminya masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa ponselnya, tidak biasanya suaminya itu pergi ke kamar mandi sambil membawa ponsel.


" Apa yang sedang mas Arkan sembunyikan dariku?" batin Suci


Suci memang tidak pernah melihat isi ponsel dari suaminya selama mereka menikah, termasuk Arkan juga tidak pernah melihat isi ponsel istrinya, mereka berdua memang saling percaya kalau tidak ada yang di sembunyikan, tapi kali ini Suci menjadi penasaran dan curiga dengan isi ponsel dari suaminya.


Setelah di kamar mandi Arkan langsung memutar video yang di kirim Sinta, ia juga membesarkan volume suaranya. Setelah selsai menonton video itu Arkan menghela nafas berat, ia tidak habis pikir kalau Sulis akan bertindang sejauh itu, dan bahkan Sulis mengatakan kalau ia hanya memanfaatkan istrinya saja, tapi ia bersyukur karena istrinya itu tidak percaya dengan ucapan kakanya, kebanyakan orang akan percaya pada ucapan kakanya sendiri dari pada percaya pada suami, karena kakanya itu orang yang paling berharga, tapi berbeda dengan istrinya yang lebih percaya perhatian dari pada pembicaraan.

__ADS_1


" Kenapa kamu tega sekali ingin merusak rumah tanggaku Lis, belum cukup kamu sudah membuangku dan menghinaku selama ini? Dan sekarang kamu datang pada adikmu ingin memilikiku? Walau pun aku tidak sampai menikah saat itu, aku tidak akan menerimamu kembali Sulis." batin Arkan


Arkan langsung meletakan ponselnya, ia langsung mandi. Setelah selsai mandi, ia juga keluar dengan membawa ponselnya, lalu ia letakan di meja ranjang. Setelah itu langsung pergi ke ruangan ganti. Suci hanya menatap ponsel suaminya yang di letakan di meja, ia ingin sekali memeriksa isi ponsel dari suaminya, tapi ia sama sekali tidak berani.


__ADS_2