
Setelah selsai pernikahan, Arkan ingin membiarkan istrinya untuk berpikir dengan tenang, untuk itu ia beralasan meminta ijin pada istrinya kalau ia langsung pulang ke rumahnya, karena ia besok akan ada meeting dengan klien dari Ausi, ia harus menjemput klien itu di bandara, walau pun ia bisa menyuruh Rangga menjemput dan membawa berkasnya yang ada di kamarnya, tapi ia ingin istrinya berpikir mau di bawa kemana hubungan pernikannya itu, tapi istrinya tetap memaksa untuk ikut pulang bersama, walau pun ia sudah menyuruh istrinya untuk pulang besok sore saja di jemput, tapi istrinya tetap memaksa ikut. Mau tidak mau Arkan hanya mengiyakan permintaan istrinya.
Suci ikut dengan Arkan, walau pun Arkan mengatakan kalau Suci besok saja ke rumahnya, tapi Suci tetap memaksa ikut sekarang. Suci juga hanya membawa bajunya beberapa setel, sisanya ia menyuruh Bi Minah untuk membereskannya, lalu menyuruh supir Bundanya untuk mengatarkannya. Di dalam mobil Arkan dan Suci hanya diam, mereka memang hanya berdua duduk di kursi penumpang.
Sedangkan orang tua Arkan sudah pulang lebih dulu, karena harus menjemput putranya yang akan sampai di bandara. Pak Budi yang melihat mereka hanya diam, membuat sedikit bingung, ia melihat kalau Arkan sedang tidak baik-baik saja, matanya terlihat memerah. Arkan yang hanya melihat istrinya diam saja, hatinya semakin merasa bersalah.
" Uci."
" Iya mas."
Suci menatap ke arah suaminya sambil tersenyum.
" Apa kamu menyesal?"
Suci menggeleng pelan, ia yakin kalau suaminya mengetahui perubahan sikapnya, ia menjadi merasa bersalah pada suaminya. Suci memegang tangan kanan suaminya sambil menatap mata suaminya.
" Mas, Uci hanya ingin kita fokus untuk masa depan kita seperti apa, jangan lagi bertanya seperti itu, tidak ada kata menyesal di hati Uci, hanya saja Uci butuh waktu untuk menyesuikan diri bersama mas."
" Maaf Uci, seharusnya mas tidak bertanya seperti itu."
Arkan langsung menarik istrinya dalam pelukannya, ada rasa aneh yang berdesir di tubuhnya, pelukan istrinya hampir sama persis dengan Gadis masa lalunya, aroma tubuh istrinya juga sama, seperti Gadis di masa lalunya, walau pun ia hanya bertemu sekali, tapi semua yang ada di Gadis masa lalunya itu tidak pernah ia lupakan. Suci merasakan pelukan hangat, pelukan yang pernah suaminya berikan dulu.
" Mas, apa kamu akan tetap menerimaku kalau kamu tau masa laluku hanya seorang Gadis nakal? Mas, aku belum siap mendengar hinaan, bahkan hinaan dari kak Sulis juga sangat menyiksa pikiranku." batin Suci
__ADS_1
" Apa Suci adalah dia? Gadis yang aku cintai selama 3 tahun ini?" batin Arkan
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam sambil terus berpelukan. Setelah perjalanan 30 menit mereka sampai di pekarangan rumah Arkan. Suci membantu suaminya untuk duduk di kursi roda, ia mendorong suaminya masuk ke rumah suaminya, sedangkan salah satu asisten rumah tangga di rumah itu membawa barangnya Suci. Mereka langsung masuk ke dalam kamar, karena hari memang sudah menunjukan pukul 20.20WIB, apa lagi ke dua orang tua Arkan masih belum pulang.
" Mas mandi dulu, kita sholat isya berjam'ah iya?"
" Iya Uci, mas mandi duluan, kamu duduk saja dulu, nanti baru mandi."
" Apa tidak di bantu mas?"
" Kalau sekedar mandi mas bisa sendiri, mas sudah terbiasa."
Suci hanya mengangguk pelan. Setelah suaminya masuk kamar mandi, Suci melihat seluruh kamar itu, tidak jauh berbeda besarnya dengan kamarnya, bedanya ia penuh dengan boneka dan buku-buku tentang islam, kalau kamar suaminya penuh dengan buku-buku kantor dan banyak piala juga. Suci mengambil buku-buku yang ada di rak, ia melihat satu persatu, ternyata buku itu adalah sertipikat penyumbangan dana. Suci tersenyum lebar saat melihat sertipikat-sertipikat itu.
Setelah itu Suci melihat foto yang di atas meja, foto suaminya dan dengan seorang lelaki yang ia yakin kalau itu adalah papa kandung suaminya. Suci bisa melihat Arkan yang dulu dan yang sekarang tidak ada yang berubah, wajahnya tetap masih tampan, hanya yang berubah senyumannya, senyuman yang dulu seperti tidak ada beban, sedangkan senyuman sekarang penuh dengan kesedihan.
" Mas, aku ingin menggantikan senyuman lukamu menjadi senyuman kebahagiaan, sudah cukup 9 tahun kamu menyiksa dirimu untuk tetap tersenyum, walau pun senyuman itu aneh. Aku memang tidak tau kapan bisa mencintaimu, tapi aku akan berusaha menjadi istri yang bisa membuatmu bahagia." batin Suci
Suci mengelus lembut pipi Arkan yang di foto itu, dan itu tidak pernah lepas dari penglihatan Arkan. Arkan memang sudah selsai mandi, tapi saat ia melihat istrinya di depan fotonya, ia hanya diam dan hanya melihat apa yang akan di lakukan istrinya, setelah istrinya berhenti mengelus pipi dalam fotonya, ia langsung menyuruh istrinya untuk mandi.
" Uci, mandi, katanya kita mau sholat berjam'ah."
Suci yang mendengar suara suaminya, ia melihat ke arah suaminya sambil membuka cadarnya.
__ADS_1
" Iya mas."
Arkan sangat terkejut dengan wajah istrinya, wajah istrinya sama persis dengan wajah Gadis yang ia cintai selama ini, tidak ada yang berbeda, hanya saja dulu terlihat pucat, kalau sekarang wajah istrinya itu terlihat bercahaya. Suci yang melihat reaksi terkejut dari suaminya, ia sedikit kuatir, ia takut kalau suaminya ingat saat menolongnya, ia belum siap suaminya tau kalau masa lalunya begitu bebas, ia takut kalau suaminya menghinanya seperti kaka kandungnya sendiri.
" Apa yang harus aku lakukan, aku belum siap untuk jujur sekarang pada mas Arkan, luka di hatiku saja baru membaik atas hinaan dari kak Sulis." batin Suci
Suci mencoba untuk bersikap biasa saja, ia belum siap untuk jujur, ia tau kalau suaminya masih mengenalinya.
" Mas, kenapa menatap Uci seperti itu? Memangnya kita sudah pernah bertemu?"
Arkan yang di tanya oleh istrinya, ia menggeleng pelan, ia juga tidak yakin kalau istrinya itu dia, Gadis yang di cintainya selama ini, karena melihat kepribadian Gadis masa lalunya dan istrinya sangat bertolak belakang.
" Tidak mungkin kamu pasti bukan dia."
Suci yang mengerti maksud dari jawaban suaminya, ia hanya tersenyum aneh, itu artinya suaminya memang masih ingat betul dengan wajahnya, walau pun mereka hanya bertemu sekali.
" Maaf mas, aku belum siap untuk menceritakannya sekarang, kasih aku waktu untuk menceritakan masa laluku." batin Suci
" Iya sudah Uci mandi dulu mas."
Suci langsung berjalan ke arah baju gantinya, setelah mengambil baju gantinya, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Arkan terus menatap istrinya hingga menghilang di balik pintu.
" Kalau benar Suci adalah Gadis itu, aku yakin Suci mengenali wajahku, atau tetap tidak? Karena saat itu Suci juga mabuk berat, lalu tidak lama dia pingsan, tapi sepertinya tidak mungkin kalau Gadis itu adalah Suci, keperibadian Suci dan Gadis itu sangat jauh berbeda." batin Arkan
__ADS_1
Arkan mengusap wajahnya sendiri, perasaannya menjadi tidak karuan, antara percaya atau tidak percaya kalau istrinya itu adalah Gadis yang di tolongnya. Setelah itu Arkan langsung berusaha turun dari kursi rodanya, ia juga mengampar sejadahnya sambil menunggu istrinya.