Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 105 Penyesalan


__ADS_3

Semenjak pulang kemarin saat mengetahui putri pertamanya berbohong hati Anisa semakin sakit hati, dulu putrinya menyebarkan berita yang tidak benar dan sekarang putri pertamanya menyebabkan putri ke duanya masuk rumah sakit.


Anisa dari kemarin hanya diam membisu walau pun berkali-kali putri pertamanya meminta maaf, bagi ia apa dengan kata maaf putri ke duanya bisa sembuh, itu lah yang di pikiran Anisa.


Anisa sekarang duduk di tepi ranjang sambil melihat foto keluarga, foto ia bersama almarhum suami dan ke dua putrinya, ia melihat mereka yang tersenyum bahagia, tapi sekarang ke dua putrinya saling membenci.


"Mas, maafkan aku, maafkan aku yang tidak becus mendidik Sulis dengan baik hingga membuat Suci sakit karena ulah Sulis."


Air mata Anisa masih mengalir deras dari kemarin, hatinya sangat sakit dan ia juga tidak berani untuk mengabari menantunya saat menantunya mengatakan putri ke duanya sepenuhnya tanggung jawabnya.


"Maafkan Bunda nak, Bunda memang tidak becus menjadi Bunda yang baik, tolong jangan benci Bunda Uci, tolong jangan menyalahkan Bunda tentang kejadian ini, Bunda tidak sanggup kalau kamu membenci Bunda. Selama ini kamu selalu mengalah Uci, selama ini kamu bersikap sabar, tapi Bunda begitu sangat mengecewakanmu, mendukung kakamu yang jelas-jelas salah, maafkan Bunda Uci."


Pikiran Anisa sangat prustasi, ia menjadi menyalahkan diri sendiri semenjak kejadian itu, ia tidak pernah berpikir sedikit pun kalau putri pertamanya berbohong sebesar itu.


Reyhan masuk ke dalam kamar Anisa sambil membawa nampan berisi makanan dan susu, ia letakan di meja, lalu duduk di samping Anisa.


"Bunda, jangan terus menangis."


Reyhan mengambil bingkai foto yang di genggam Anisa, lalu ia langsung memeluk Anisa dengan mata yang memerah, hati ia sangat sakit saat melihat wanita yang sudah membesarkannya menangis tidak berdaya sambil menyalahkan diri sendiri.


"Jangan menangis lagi Bunda, aku mohon, tolong jangan terus menyalahkan diri sendiri tentang kejadian ini. Bukan Bunda yang salah, tapi yang salah adalah Sulis. Sulis yang menghalkan segala cara untuk mendapatkan Arkan."


"Tapi Bunda yang terus memojokan Suci, Bunda yang membuat Suci menjadi menyakiti diri sendiri, Bunda terlalu bodoh! Bunda tidak menyangka kalau hati Sulis seperti iblis!"


"Istighfar Bunda, jangan berbicara seperti itu, semoga dengan kejadian ini Sulis benar-benar berubah."


Reyhan bukan membela Sulis, tapi ia juga sedih melihat keadaan Sulis yang terus menangis di kamar.

__ADS_1


Namen nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan bisa menjadi nasi lagi, begitu pun dengan penyesalan Sulis, sebanyak apa pun Sulis menyesalinya, ia tidak akan pernah bisa membalikan keadaan yang sudah membuat Suci menyakiti diri sendiri karena ulah Sulis.


"Kenapa Bunda memiliki putri seperti Sulis? Kenapa Bunda melahirkan putri egois seperti Sulis? Hiks... Hiks..."


Tangisan Anisa semakin pecah, ia tidak menyangka kalau dirinya memiliki putri seperti Sulis yang begitu kejam, menghalalkan berbagai cara hanya untuk mendapatkan Arkan, lelaki yang sudah Sulis buang begitu saja oleh putrinya.


Bahkan Sulis bukan hanya membuangnya, tapi Sulis juga menghina Arkan habis-habisan, tanpa berpikir kalau ucapan Sulis menyakiti hati Arkan begitu dalam.


"Istighfar Bunda, jangan terus berbicara seperti itu."


"Bunda takut Rey, Bunda takut kalau nanti Uci membenci Bunda. Bunda takut kalau Uci nanti tidak pernah memaafkan Bunda saat tau Sulis tidak sakit."


"Bunda jangan berpikir macam-macam, Suci bukan wanita seperti itu Bunda. Bunda harus percaya kalau Suci tidak akan pernah membenci Bunda."


Anisa mengangguk pelan dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi, hatinya lagi-lagi semakin sakit saat mengingat ke dua putrinya.


Reyhan melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata Anisa dengan perasaan sedih, seumur hidup ia, ini pertama kalinya lagi ia melihat Anisa menangis tersedu-sedu setelah meninggal suaminya.


"Bunda tidak lapar Rey, biarkan saja Bunda sakit, agar menebus kesalahan Bunda pada Suci."


"Kalau Bunda tidak makan lalu sakit, Suci pasti sedih Bunda, tolong jangan membuat kuatir Suci. Suci sedang sakit, jadi tolong jangan membuat Suci semakin merasa bersalah pada Bunda."


"Apa Suci tidak akan membenci Bunda? Buktinya hingga sekarang Arkan dan Suci tidak memberi kabar pada Bunda, pasti mereka sangat membenci Bunda."


Reyhan menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Bukan karena Suci benci Bunda, Suci baru saja bangun dari tidurnya 1 jam yang lalu, dan Suci mengalami hilang ingatan."

__ADS_1


Reyhan memang sudah menanyakan tentang Suci pada Arkan melalui telpon, dan Arkan mengatakan kalau Suci hilang ingatan untuk sementara.


Anisa sangat terkejut saat mendengar putri ke duanya mengalami hilang ingatan.


"Apa begitu parah nak? Sampai Suci hilang ingatan?"


"Dokter yang menyuntikan obat tidur sengaja memberikan obat hilang ingatan pada Suci Bunda, guna untuk mempertahankan janin Suci. Suci terlalu banyak pikiraan dan janinnya sangat lemah, kalau tidak di suntikan obat itu bisa saja janin Suci tidak bisa di selamatkan karena pikiran Suci yang begitu kacau."


"Ini semu karena Bunda yang terus memojokan Suci, hingga pikiran Suci kacau. Hiks... Hiks..."


"Sudah dong Bunda, jangan terus menangis, sekarang Bunda makan, jadi kalau Suci sudah ingat, Bunda akan tetap sehat, kalau Suci tau Bunda sakit yang ada Suci semakin kuatir."


Anisa mengangguk pelan membuat Reyhan tersenyum lebar, ia langsung menghapus air mata Anisa, lalu langsung mengambil makanan yang ada di meja, ia langsung menyuapi Anisa perlahan.


"Maafkan Bunda, nak. Bunda jadi nyusahin kamu."


"Tidak apa-apa Bunda, Rey juga putra Bunda, jangan pernah bilang kalau Bunda menyusahkan Rey, ini sudah kewajiban Rey Bunda."


Anisa mengangguk pelan, ia tau kalau Reyhan juga kecewa pada ia, tapi Reyhan menutupi semua rasa kecewanya karena ia yang membesarkan Reyhan hingga Reyhan tidak bisa marah padanya.


Apa lagi Anisa ingat betul kemarahan Reyhan kemarin pada Sulis yang menurut ia tidak seperti biasanya, Reyhan marah pada Sulis sambil memaki Sulis dan mengatakan kalau Sulis wanita murahan yang butuh kasih sayang dari lelaki, tapi ia juga tidak marah karena itu pakta.


Sementara Sulis hanya menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya sambil sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri, ia tidak bermaksud untuk mencelakai adiknya sendiri, ia hanya ingin memiliki Arkan, bukan menginginkan mencelakai adiknya.


"Aku tau aku salah, tapi bukan seperti ini yang aku inginkan, aku hanya ingin memiliki Arkan, bukan ingin mencelakai adikku sendiri. Hiksh... Hiksh..."


Sulis terus menangis dari kemarin hingga sekarang, terlebih Ikbal tadi menelponnya dan mengatakan kalau ia di pecat, hatinya lebih sakit, karir yang ia bangun selama ini hancur begitu saja tanpa sisa.

__ADS_1


Walau pun Sulis tau Arkan tidak mempermalukannya, tapi tetap saja ia merasa kecewa, menjadi model adalah cita-citanya, tapi harus hancur karena kebohongannya.


"Andai saja waktu bisa di putar, aku tidak akan pernah menyuruh Suci untuk menikah denganmu Arkan. Aku cinta dan sayang sama kamu, aku hanya ingin memilikimu, tapi nyatanya apa yang aku dapat? Aku tidak bisa memilikimu, tapi aku mencelakai adikku sendiri dan menghancurkan karirku sendiri. Hiks... Hiks..."


__ADS_2