
Indra masih diam mematung menatap Suci, ia tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini, ia pindah ke jakarta kerena ingin tau keberadaan Suci. Suci pergi tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, ia hanya ingin bertanya apa Suci marah karena kejadian 3 tahun yang lalu.
Awalnya memang Indra sudah bertanya pada orang tua Suci tentang keberadaan Suci, ia bertanya Suci pindah sekolah kemana, tapi orang tua Suci menutup rapat di mana Suci sekolah, hingga ia melajutkan kulih di luar negri, demi untuk melupakan Suci, tapi bayang-bayang Suci terus hadir, hingga membuat Indra memutuskan untuk pindah kuliah ke jakarta, ia ingin tau tentang Suci, tapi apa yang ia dapatkan? Suci menikah dengan kaka tirinya.
Arkan yang melihat reaksi adik tirinya ia sangat terkejut, lalu ia melihat ke arah istrinya yang hanya diam mematung, tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulut istrinya.
" Apa jangan-jangan yang di katakan Indra itu Suci istriku?" batin Arkan
Flashback on
Arkan baru saja mengantarkan seorang Gadis kecil ke rumah sakit, dan menunggu Gadis yang di bawanya sadar, ia mengelus lembut rambut Gadis itu yang berantakan.
" Kenapa seusiamu harus terjun ke club malam? Usiamu ini masih balia, apa lagi tanpa pengawasan orang dewasa."
Arkan merasa iba pada Gadis yang masih memejamkan mata.
" Kamu cantik."
Arkan tersentum sendiri setelah mengatakan cantik, ia belum pernah mengatakan cantik pada Gadis mana pun, tapi ini baru pertama kalinya ia memuji seorang Gadis. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar
Dret... Dret...
Arkan mengangkat telpon dari orang ke percayaan papa tirinya.
" Ada apa pak?"
" Den, den Indra masuk rumah sakit, tapi tidak parah, tulang bitisnya patah."
" Di rumah sakit mana pak?"
" Rumah sakit Harahan den, di ruangan khusus."
" Kebutul saya di sana, saya akan segera ke sana."
" Baik den."
Arkan langsung memutuskan sambungan telponnya.
" Maaf, aku tidak bisa menunggu kamu sampai sadar, aku harus menemui adikku."
Arkan menatap wajah Gadis yang masih terpejam, dan tiba-tiba saja ia langsung mencium kening Gadis yang terpejam itu.
" Maaf, aku mencium keningmu, jujur aku belum pernah mencium kening siapa pun selain kening mama, kamu adalah orang pertama yang aku cium keningmu, dan kamu adalah orang pertama yang membuat jantungku berdebar, cepat sembuh iya, aku harap kamu bisa menjadi Gadis lebih baik setelah kejadian ini."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung ke arah respsionis untuk melunasi tagihan Gadis yang di bawanya tadi, setelah itu langsung ke arah ruang adik tirinya, dengan perasaan kuatir dan menahan amarah. Arkan membuka ruangan itu, menampilkan sosok adiknya yang sedang duduk memegangi bitisnya yang baru saja di perban.
__ADS_1
" A-abang."
Indra memanggil kaka tirinya dengan terbata-bata, ia tau kalau kaka tirinya sedang menahan amarah.
" Berapa kali abng bilang jangan membawa motor?! Dan berapa kali abang bilang harus di antar oleh pak Samsul?!"
" Maaf bang, aku tau aku salah."
Indra berbicara sambil menunduk takut mendrngar kemarahan kaka tirinya.
" Apa tidak bisa sekali saja tidak buat abang kuatir?!"
" Iya bang, maaf aku salah."
Kini mata Arkan menatap ke arah pak Samsul.
" Apa sudah di lunasi? Dan sudah boleh pulang?"
" Sudah Den."
" Ayo ikut pulang sama abang."
" Aku harus pergi ke club malam bang."
" Apa tidak bisa sekali saja tidak bikin abang emosi?! Usiamu itu masih anak SMA, apa tidak bisa main di tempat yang seusiamu?! Sudah 3 bulan lebih kamu selalu saja pergi ke club malam, bahkan ucapan abang berkali-kali yang melarangmu selalu saja kamu anggap angin lalu! Indra, abang itu sayang sama kamu walau pun kamu adik tiri abang, apa bisa sekali saja dengerin abang?!"
Tangan kanan Arkan terkepal kuat, ia sedang menahan emosi habis-habisan melihat kelakuan adik tirinya.
" Pulang sekarang Indra! Mama dan papa sedang ada di luar negri! Kamu adalah tanggung jawab abang!"
Memang ke dua orang tuanya sudah 4 bulan di luar negri karena ada perjalanan bisnis, mereka akan kembali ke jakarta dua hari lagi.
" Tapi bang, Suci pasti menungguku, dan aku juga kuatir kalau Suci di club malam hanya dengan ke tiga temanku, aku takut terjadi apa-apa sama Suci."
" Siapa Suci pacar kamu?! Apa tidak bisa mencari pacar yang baik pergaulannya?!"
Arkan mengusap wajahnya dengan kasar, emosinya meluap-luap melihat kelakuan adik tirinya yang selalu saja membuatnya emosi.
" Maaf bang, walau pun abang tidak mau mengijinan aku, aku harus tetap ke sana, aku cinta bang sama Suci, walau pun Suci sudah menolaku 80 kali, tapi aku selalu ingin menjaga Suci, dan akan aku buktikan kalau cintaku itu tulus padanya."
Arkan menggeleng pelan saat mendengar ucapan dari adik tirinya.
" Kamu itu masih anak-anak, tau apa tentang cinta? Itu hanya cinta monyet, sudah, ikut abang pulang sekarang."
" Tidak mau bang! Aku harus ke sana!"
__ADS_1
" Baik! Kalau kamu tidak ingin turuti kemauan abang, jangan salahkan abang kalau semua kartu ATM kamu abang blokir! Bahkan bukan hanya itu, abang tidak akan memberikan pasilitas apa pun padamu selama 3 bulan! Dan abang akan memberi uang jajanmu hanya 200ribu."
" Kalau abang berani melakukan itu, aku akan aduin ke papa!"
" Silahkan aduin ke papa kamu, tapi abang akan aduin tentang kelakuan kamu yang selalu pergi ke club malam."
Indra menghela nafas berat, kaka tirinya kalau sudah berbicara seperti itu ya seperti itu, karena ia tau kalau kaka tirinya itu bukan hanya sekedar mengancam.
" Baiklah aku ikut abang pulang."
" Bagus. Pak Samsul, tolong papah anak bau ingusan itu ke mobil saya, setelah itu bapak bawa motor Indra."
" Baik den."
Arkan keluar lebih dulu. Sementara Indra akan di papah oleh pak Samsul
" Ciuh nyebelin banget aku di bilang anak ingusan."
Arkan yang mendengar ucapan adik tirinya hanya menggeleng pelan.
Flashback off
" Kalian berdua saling kenal?"
Indra menggeleng pelan, ia tidak mungkin bilang mengenal Suci.
" Tidak bang, wajah kaka ipar hanya mirip sesaorang."
Indra langsung mengulurkan tangan pada Suci.
" Kenalin, aku Indra adik bang Arkan."
Suci hanya menggeleng pelan saat melihat uluran tangan dari Indra, karena Indra tidak jujur pada kaka tirinya. Suci langsung menungkupkan tangannya di dada.
" Aku Suci."
Indra yang melihat Suci tidak menjabat uluran tangannya sangat terkejut, bukan hanya penampilan yang berubah, tapi juga Suci tidak menerima uluran tangannya.
Indra langsung menurunkan tangannya, lalu langsung duduk. Suci langsung duduk di samping suaminya. Arkan bisa melihat kalau mereka berdua memang saling kenal, tapi ia pura-pura percaya saja sama adik tirinya. Mereka langsung memulai sarapan.
" Aduh masakan menantu mama enak banget iya."
" Ya iya lah ma, jangan seperti mama yang tidak bisa masak, taunya hanya ngangkang di ranjang."
" Ih papa! Malu-maluin!"
__ADS_1
Sementara yang lain hanya menggeleng pelan, memang papanya itu suka sekali ceplas-ceplos, ia tidak pernah mempedulikan tempat.