Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 16 Berpamitan dengan Umi Abi


__ADS_3

Gus Ali menghela nafas berat, saat sesekali melirik ke arah Suci, ia memutuskan untuk segera berangkat ke kampus, karena ia tidak ingin melihat kesedihan di mata Suci.


" Mas Arta, ayo kita berangkat sekarang."


" Hah?!"


Gus Arta sedikit bingung karena jam berangkat ke kampus masih 20 menit lagi, tapi beberapa detik kemudian ia paham dengan maksud adik sepupunya, melihat mata adik sepupunya semakin memerah.


" Iya."


Gus Arta dan Gus Ali langsung berdiri.


" Umi, Abi, Suci saya berangkat dulu."


" Iya Arta."


Suci mengangguk pelan. Setelah menyalami orang tua Gus Ali, Gus Arta lebih dulu keluar.


" Umi, Abi, Ali berangkat dulu."


Gus Ali langsung menyalami ke dua orang tuanya, lalu pandangannya tertuju pada Suci sambil menunduk.


" Neng, saya berangkat dulu."


" Iya Gus, maaf kalau selama ini neng selalu merepotkan Gus, dan maaf juga karena neng sudah mengecewakan Gus, sekali lagi benar-benar minta maaf Gus."


Air mata Suci sudah ingin keluar, hatinya sangat sakit saat meminta maaf pada Gus Ali, hatinya sakit karena ia tidak bisa mengucapkan kalau ia juga memiliki rasa cinta yang sama, hatinya sakit karena ia harus menyakiti lelaki yang selama ini ia cintai.


" Neng, semua orang pasti punya salah, termasuk saya, saya juga minta maaf karena sudah membuat neng sedih atas lamaran saya, saya mohon neng jangan merasa bersalah dan sedih, karena jodoh memang tidak ada yang tau. Jangan pernah menangis karena merasa bersalah, jujur saya tidak ridho kalau neng menangis seperti itu, hati saya sudah sakit neng, jangan membuat hati saya tambah sakit karena melihat neng menangis."


Suci hanya mengangguk pelan.


" Assalamuailaikum."

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam."


Mereka menjawab salam serempak, kini tinggal ada Suci dan ke dua orang tua Gus Ali.


" Umi, Abi, sebelumnya neng minta maaf karena telah melukai hati putra Umi dan Abi."


" Tidak apa-apa neng."


Khadijah mengelus lembut punggung Suci, ia menguatkan Suci yang dari tadi sudah ingin menangis. Sedangkan Kiai habibi hanya mengangguk.


" Ke datangan neng kesini, karena neng mau bilang, kalau neng mau menikah, dan insya Allah akan di laksanakan 4 hari lagi, Umi."


Hati Khadijah sedikit sakit saat mendengar ucapan dari Suci, ia tidak pernah menyangka kalau Suci secepat itu akan menikah.


" Jadi neng menolak lamaran Ali karena akan menikah? Mendadak sekali neng? Apa ada sesuatu?"


Suci menggeleng pelan, ia tidak mungkin menceritakan aib keluarganya sendiri.


" Tidak ada Umi, mungkin karena kak Arkan memang jodoh neng."


" Memang jodoh tidak ada yang tau neng, seberapa keras kita menginginkan sesaorang, kalau tidak jodohnya tidak akan bersatu, contohnya Umi dulu sama kekasih Umi. Umi melanggar aturan agama hanya untuk orang yang Umi cintai, tapi pada akhirnya Umi dan Abi di jodohkan, kita dulu menikah tanpa cinta neng, Abi mencintai santrinya dan Umi mencintai lelaki biasa yang hanya seorang pembisnis, tapi lambat laun kita saling mencintai. Itulah jodoh neng, tidak ada yang tau, walau pun awalnya seperti paksaan, tapi akhirnya tetap manis."


Suci tersenyum di balik cadarnya, ia berharap juga pernikahannya akan berakhir dengan manis, seperti yang di ceritakan oleh Khadijah.


" Iya Umi."


" Di mana pernikahannya neng?"


" Di rumah Umi."


" Iya sudah, nanti Umi, Abi dan orang terdekat neng di pesantren, Umi ajak untuk menghadiri pernikahan neng."


" Serius Umi?"

__ADS_1


" Serius neng, walau pun neng tidak bersama Ali, neng tetap putri Umi dan putri Abi, sampai kapan pun tidak akan pernah berubah."


Suci merasa sangat malu dan sedih di depan Khadijah, ia jelas-jelas telah menyakiti hati putranya, tapi mereka masih tetap menganggap ia sebagai putrinya. Khadijah langsung menarik Suci dalam pelukannya. Termasuk Suci juga membalas pelukan Khadijah, pelukan hangat yang selama 3 tahun ini ia rasakan, kasih sayang Khadijah yang begitu besar terhadapnya seperti Bundanya sendiri.


" Umi, terima kasih telah mendidik neng selama ini, telah menerima neng sebagai putri Umi, maafin neng Umi. Neng tidak bisa membalas semua kebaikan yang Umi dan Abi lakukan pada neng."


Air mata Suci langsung mengalir deras, tanpa suara, ia tidak bisa menahannya lagi, semakin ia tahan air matanya, semakin pandangannya kabur, terutama ia sangat sedih dengan ucapan Gus Ali yang mengatakan tidak ridho melihat ia menangis, jelas-jelas ia telah mematahkan hati Gus Ali begitu saja, tapi Gus Ali masih saja bersikap baik padanya, ia menjadi merasa paling jahat sekarang, keputusannya untuk menikah dengan Arkan banyak orang yang tersakiti, dari keluarga Kiai, banyak santri yang tidak suka karena telah menolak Gus Ali, termasuk ke tiga Ustazah yang telah mendidiknya selama ini juga merasa kecewa, jadi yang kecewa oleh keputusanya bukan ia saja.


" Ya Allah, apa hamba sangat berdos? Begitu banyak orang yang hamba sakiti karena keputusan hamba, bukan hanya hamba sendiri yang merasakan sakit hati, tapi banyak orang yang sakit hati karena keputusan hamba." batin Suci


Khadijah masih memeluk Suci, ia enggan untuk melepaskan Suci, ia juga tidak tau apa yang Suci rasakan, tapi melihat Suci seperti ini membuat hati Khadijah semakin sakit, ia sudah sakit hati karena putranya terluka, sekarang ia juga sakit hati karena melihat Suci menangis, entah kenapa ia merasa kalau Suci juga memiliki perasaan yang sama pada putranya, hanya saja ia yakin ada sesuatu yang membuat Suci menolak lamaran putranya.


" Jangan menangis neng, kalau neng mau cerita sama Umi tidak apa-apa, Umi siap mendengarkan cerita neng. Jangan pernah menyimpan rasa sakit sendiri."


" Neng baik-baik saja Umi, hanya saja neng merasa belum siap harus berpisah dengan Umi dan Abi."


" Ya Allah, ampuni hamba, hamba sekarang berbohong, apa lagi berbohong pada wanita yang sudah menganggap hamba putrinya, rasanya sakit." batin Suci


" Neng masih bisa kemari kapan pun neng mau, neng tetap putri Umi."


" Iya Umi."


Khadijah tau kalau Suci tidak ingin cerita padanya, tapi ia hanya berharap kalau Suci menjalani semuanya dengan ikhlas, karena hanya dengan kata ikhlas lah menjalaninya dengan mudah, sedangkan kalau tidak ada kata ikhlas, hatinya akan semakin terus tersakiti. Suci melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya di pelupuk matanya


" Umi, Neng harus pulang sekarang, kalau tidak nanti kemalaman di jalan."


" Neng tidak menginap satu malam saja? Umi tidak yakin kalau neng pulang sendiri dengan keadaan menangis, Bandung ke jakarta itu jaraknya jauh neng."


Khadijah sangat kuatir pada Suci, karena Suci menyetir sendiri, ia tidak yakin kalau Suci akan baik-baik saja


" Tidak apa-apa Umi."


" Neng, nanti nunggu istrinya Akang Irfan, bentar lagi juga istrinya Akang Irfan datang."

__ADS_1


Gus Irfan adalah kaka dari Gus Arta, ia sudah memiliki istri dan anak, biasanya para santri memanggilnya dengan panggilan Akang.


" Neng benar-benar tidak apa-apa Umi."


__ADS_2