Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 12 Arkan kecewa


__ADS_3

Arkan yang mendengar hinaan dari Sulis, matanya memerah menahan amarah, ia juga mencengkram kuat berkas yang ada di tangannya.


" Arkan, apa yang harus aku lakukin agar kamu membatalkan pernikahan itu? Sudah cukup adikku menderita saat kehilangan Ayah, jadi tolong biarkan adikku bahagia dengan lelaki yang adiku cintai."


" Apa kamu bisa membuat aku di hargai di seluruh keluargaku Lis? Setelah kejadian yang menimpaku? Kamu pernah berpikir tidak kalau hidupku juga tidak bahagia? Aku sekarang lumpuh, seluruh keluarga tiriku semuanya hampir terlihat senang, dan kamu membatalkan pernikahan kita, lalu kamu menghinaku, kamu pikir hidupku juga tidak menderita?"


Arkan menahan amarahnya, ia ingin sekali berbicara kasar pada Sulis, tapi ia sebisa mungkin tidak berbicara dengan nada tinggi, ia menghargai Sulis sebagai masa lalunya dan sekarang Sulis juga calon kaka iparnya, jadi ia tidak bisa marah-marah, yang ada akan membuat Sulis semakin menghinanya.


" Apa maksudmu bilang agar kamu bisa di hargai oleh keluargamu? Apa kamu menyuruhku untuk menikah denganmu?! Aku katakan sekali lagi aku tidak sudi menikah dengan lelaki lumpuh! Seharusnya kamu tanggung sendiri resikomu dan jangan menyeret adikku! Adikku itu berhak bahagia!"


" Kenapa kamu menyalahkan aku? Seharusnya kamu salahkan diri kamu yang selalu memojokan Suci dan seolah-olah agar Suci menikah denganku. Apa kamu tidak merasa bersalah? Suci bertanggung jawab atas perbuatanmu yang membatalkan pernikahan begitu saja di saat aku mengalami musibah? Di mana letak hati nurani kamu Sulis? Kamu dulu selalu melengket sama aku, tapi sekarang kamu membuangku seperti sampah, aku pikir cintamu itu tulus, tapi cintamu hanya untuk menaikan populeritas kamu."


Saat mendengar ucapan dari Arkan, Sulis ingat kalau awal adiknya menerima Arkan karena ia terus memojokan adiknya, hingga Keyla meminta adiknya untuk menikah dengan Arkan. Sulis masih diam, hatinya sangat sakit saat mendengar ucapan Arkan. Saat Arkan mengatakan kalau cintanya hanya untuk menaikan populeritas, ia akui kalau Arkan lah yang membuat ia jadi model papan atas, tanpa Arkan ia mungkin masih menjadi model biasa, tapi ia benar-benar mencintai Arkan, hanya saja ia tidak bisa menerima pisik Arkan saat ini.


" Cukup Arkan! Kamu jangan pernah bilang kalau aku tidak mencintaimu! Aku selalu melakukan apa pun itu saat kita masih menjalin hubungan, karena aku mencintaimu!"


" Kamu bilang cinta? Cinta macam apa Lis? Buktinya setelah aku lumpuh, apa kamu masih cinta dan menerimaku? Tentu jawabannya tidak, kamu tidak mencintaiku."


Sulis menghela nafas berat, dadanya terasa sakit saat orang yang ia cintai, tapi orang yang ia cintai itu tidak percaya dengan cintanya.


" Sulis, aku mohon sama kamu, tolong jangan pernah memintaku untuk melepaskan Suci, aku baru saja menata hidupku kembali setelah beberapa bulan terpuruk. Suci adalah semangatku, tanpa kata-katanya mungkin hingga saat ini aku masih terpuruk, terlalu banyak beban yang harus aku tanggung."


" Aku tidak peduli! Kamu itu tidak pantas dengan adikku! Walau pun kamu tidak lumpuh, kamu tetap tidak pantas dengan adikku yang sangat sempurna!"


Sulis menatap mata Arkan dengan tatapan tajam, ia marah saat Arkan masih saja mempertahankan Suci. Sulis akui Suci memang sangat sempurna menurutnya, bukan karena Suci tau banyak tentang agama, tapi kecantikan Suci juga sangat sempurna. Arkan lagi-lagi meremas berkas yang masih dari tadi ia genggam, tatapannya mulai memerah, sehina itukah ia di depan Gadis yang dulu pernah saling sayang dan saling cinta?

__ADS_1


" Aku mohon kamu pergi dari rumahku Sulis!! Aku tidak butuh tamu yang hanya memaki tuan rumahnya!!"


Arkan yang dari tadi menahan amarahnya, kini langsung membentak Sulis, matanya sudah memerah, ia sangat kecewa pada Sulis. Sulis bukan hanya membatalkan pernikahannya begitu saja, tapi Sulis masih saja menghinanya, belum cukup'kah Sulis sudah membuat orang tuanya kemarin menangis karena hinaannya? Dan sekarang Sulis masih terus menghinanya. Sulis mengepalkan ke dua tangannya kuat, karena Arkan menbentaknya dengan suara yang sangat keras, mungkin beberapa asisten rumah tangga juga bisa mendengar bentakan Arkan.


" Dasar lelaki lumpuh tidak berguna!"


Setelah mengatakan itu Sulis langsung lari keluar dari rumah Arkan. Setelah Sulis pergi Arkan membuang semua berkas yang ada di meja.


" Kenapa ya Allah, kenapa aku harus di berikan hidup?! Kenapa aku tidak mati saja! Hidup aku juga sudah tidak berguna! Hidupku seperti lelucon sekarang!"


Setetes air mata Arkan jatuh, ia merasa sangat tidak adil dengan hidupnya, dulu Papanya meninggal, saat ia menerima keadaan walau pun berat, ia kecelakaan, lalu Sulis membatalkan pernikahannya, sekarang Sulis menghinanya habis-habisan. Bagas dan Keyla yang baru saja keluar dari lift, mereka sangat terkejut dengan ucapan Arkan yang begitu terlihat prustasi.


" Kenapa sayang."


Keyla panik melihat putranya yang duduk di sofa dengan penuh amarah. Bahkan berkas-berkasnya sudah berserakan di lantai. Keyla langsung duduk di samping putranya, ia langsung memeluk putranya, ia sangat sedih saat melihat putranya terpuruk lagi. Sedangkan Arkan hanya diam, ia mencoba untuk meredamkan amarahnya.


" Kenapa sayang? Kenapa kamu tidak mau sama Suci?"


Arkan melepaskan pelukan dari mamanya, ia menatap mata mamanya yang sudah mengeluarkan air mata.


" Arkan tidak cocok ma, Suci itu sholehah, sedangkan Arkan hanya lelaki biasa, di tambah lagi Arkan lumpuh, Arkan tidak cocok sama Suci. Suci begitu sangat sempurna kalau untuk Arkan."


Bagas mengusap lembut punggung putra tirinya.


" Kamu cocok bersama Suci, kalau kamu mau meninggalkan dunia malammu."

__ADS_1


Arkan menggelengkan kepalanya, cocok dari mana? Perbedaannya dengan Suci begitu jauh.


" Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu nak?"


Arkan hanya menggeleng pelan, ia tidak ingin kalau ke dua orang tuanya tau kalau tadi Sulis datang ke rumah, memang teriakan Arkan dan Sulis tadi tidak akan sampai terdengar ke kamar orang tuanya, karena kamar mereka terletak di lantai sepuluh. Rumah itu memiliki 15 lantai.


" Ma, boleh Arkan minta nomer Suci?"


Keyla mengangguk, ia langsung memberikan ponselnya pada putranya, walau pun hatinya sangat takut kalau putranya akan membatalkan pernikahannya. Arkan langsung mengambil ponsel mamanya, ia langsung menghubungi nomer Suci. Setelah di angkat Suci lebih dulu uluk salam, karena nomer Keyla memang sudah Suci simpan di ponselnya saat Keyla memberikan gaun pengantin.


" Assalamulaikum ma."


" Wa'alaikumsalam, Uci ini saya."


" Kak Arkan."


" Iya, kamu yakin atas ucapanmu saat itu? Kamu yakin mau menikah sama saya dari hati kamu? Atau kamu merasa kasihan sama saya?"


Suci yang di sebrang sana, ia yakin kalau Arkan tidak baik-baik saja, ia bisa mendengar suara Arkan yang sangat lirih


" Kak, Uci yakin mau menikah dengan kaka, jangan pernah berburuk sangka, Uci menerima kaka bukan semata-mata karena kasihan, tapi mungkin ini sudah takdir kita, apa kaka keberatan menikah dengan Uci?"


Arkan menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari Suci, bukan'kah yang harusnya bertanya keberatan itu ia? Bukan Suci.


" Maaf Uci, seharunya saya tidak bertanya seperti itu, tapi kalau kamu keberatan, batalkan saja."

__ADS_1


" Uci sama sekali tidak keberatan kak."


__ADS_2