
Sudah 5 hari Arkan dan Suci liburan di hotel laut biru, dan berita tentang Arkan semakin ramai, tapi ada salah satu akun gosip juga yang mengatakan Arkan memiliki hubungan bersama Sulis.
Bahkan di sana juga mengatakan kalau Suci adalah orang ke tiga yang membuat Arkan dan Sulis mengakhiri hubungannya, tapi Arkan dan Suci belum melihat berita itu.
Arkan sengaja mematikan ponsel yang ada nomer telpon umumnya, ia hanya memakai ponsel yang ada nomer untuk keluarganya.
Apa lagi Arkan juga tidak ingin ada yang menggangu setelah 5 hari yang lalu mengunggah foto liburan bersama istrinya, ia yakin kalau unggahan itu akan menjadi topik utama.
Arkan sekarang sedang duduk di atas ranjang dengan posisi istrinya yang menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, dari tadi wajah istrinya itu pucat dan mengatakan kepalanya pusing, tapi lagi-lagi istrinya itu menolak untuk di periksa oleh dokter.
Tiba-tiba kamar hotel Arkan ada yang mengetuk.
Tok-tok.
"Bentar iya sayang."
Suci hanya mengangguk pelan. Arkan langsung membuka pintunya.
"Hai Arkan."
Lelaki itu langsung menyapa Arkan dan meneluk Arkan dengan pelukan ala lelaki sesaat, ia adalah Samuel teman Arkan saat masa SMA.
"Gue pikir bukan Arkan lo yang liburan di sini, tapi setelah melihat berita gue akhirnya memutusin ke sini. Apa kabar Arkan? Gue enggak menyangka kalau hotel gue kedatangan pembisnis termuda."
Samuel beebicara sambil tersenyum.
"Alhamdulilah baik, lo sendiri bagai mana kabarnya?"
"Alhamdulilah gue juga baik. Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol di kamarku?"
"Di sini saja, istriku kurang enak badan."
"Sebelah kamar ini Arkan."
"Gue tetep enggak tenang kalau harus ninggalin istri gue."
"Dasar bucin!"
"Bentar dulu. Sayang! Pakai hijab dan cadarmu!
"Iya mas!"
Suci langsung memakai hijab dan cadarnya, setelah selsai ia langsung turun dari rajang mendekati suaminya.
"Sudah mas, ada tamu?"
"Iya sayang, ini teman mas dulu. Sam, kenalin ini istri gue Suci."
Samuel mengangguk pelan, lalu langsung mengulurkan tangannya ke arah Suci. Suci yang melihat uluran tangan dari Samuel, ia langsung menungkupkan ke dua tangannya di dada.
Samuel yang melihat Suci menungkupkan tangannya di dada, ia pun mengikutinya.
"Masuk Sam."
__ADS_1
Arkan langsung berjalan lebih dulu di ikuti Samuel, sedangkan Suci langsung menutup lagi pintu kamarnya, lalu langsung mengikuti ke arah suaminya yang sudah duduk di sofa.
"Sayang, kamu istirahat saja, mas ngobrol bentar boleh?"
"Iya mas, iya sudah aku istirahat dulu."
Sebelum Suci berdiri, Arkan langsung mencium kening istrinya sekilas.
Samuel yang melihat kemesraan dari Arkan pada istrinya, ia hanya tersenyum lebar, apa lagi ia tau kalau Arkan paling tidak suka di dekati oleh seorang wanita, jadi ia tidak menyangka kalau Arkan bisa mesra.
Setelah istrinya pergi Arkan langsung menatap ke arah Samual yang duduk di sofa berlawanan.
"Jadi hotel ini milik lo?"
"Iya gue salah satu pemilik hotel di sini."
"Wow keren seorang dokter umum jadi pemilik hetol ini."
"Gue enggak ada apa-apanya di bandingkan sama lo Arkan. Eh iya lo ko sudah nikah? Kapan nikah enggak ngundang-ngundang, emang iya sudah lupa sama temen sendiri!"
"Bukan lupa, gue awalnya pengen ngundang lo, tapi lo tau sendiri gue mengalami kecelakaan, dan istri gue ingin pernikahanya tertutup cukup keluarga yang tau."
"Lo kenal di mana sama istri lo? Heran gue seorang Arkan bisa menikahi wanita muslimah, bukannya lo dulu menolak Alisah karena Alisah wanita muslimah? Lo bilang wanita muslimah banyak aturannya ribet, eh sekarang istrinya wanita muslimah juga, pasti dapat karma itu."
"Mana ada gue dapat karma, alasan gue menolak Alisah karena gue enggak cinta, tapi gue enggak mau menyakiti hati Alisah, jadi gue bilang gitu."
"Tapi denger-denger katanya Alisah jadi Ustazah sekarang, kalau enggak salah di pesantren Alhusna Bandung. Gue sudah lama enggak pernah bertemu sama Alisah semenjak Alisah pindah ke Bandung, tapi gue acungin dua jempol, hebat Alisah bisa jadi Ustazah."
Arkan bertanya sambil menaik turunkan satu alisnya.
"Bukan suka, gue lagi cerita sama lo."
"Gue sudah tau kalau Alisah menjadi Ustazah, saat pernikahan gue juga Alisah datang."
"Gila iya lo teman laknat! Alisah di undang, tapi gue ennggak!"
"Istri gue salah satu santriwati di Alhusna."
"Tunggu, namanya tadi Suci iya?"
"Iya."
"Wow hebat dong, gue pernah mendengar ceramahnya Suci saat sama Ustazah Syifa. Mereka berdua memang selalu bersama, gue enggak menyangka kalau lo bisa menikah sama santriawati teladan, hanya 1 tahun Suci sudah bisa ceramah di setiap acara."
"Ko lo tau istri gue?"
"Ustazah Syifa calon istri gue, tapi masih calon istri kita sedang ta'aruf, kalau misalnya Ustazah Syifa ngerasa enggak cocok iya enggak di lanjut, ini juga atas amanat nenek, kalau bukan amanat nenek gue lebih suka wanita-wanita seksi, jadi kalau di bawa saat kumpul menghadiri undangan itu bikin jadi sorotan."
"Iya tapi lo yang dosa, harus menanggung dosa istri lo bodoh!"
Arkan tidak habis pikir dengan ucapan dari temannya.
"Dosa belakangan, yang penting pujuiannya."
__ADS_1
Arkan belum sempet menjawab, tiba-tiba saja mendengar suara istrinya yang muntah-muntah di kamar mandi.
"Bentar, istri gue kenapa iya?"
Arkan langsung lari ke arah kamar mandi, ia melihat istrinya yang sedang memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa sayang?"
Suci mematikan kerannya setelah kumur-kumur, lalu melihat ke arah suaminya.
"Tidak tau mas, perutku mual, kepalanya pusing banget."
"Mas panggilkan dokter hotel iya?"
Arkan bertanya sambil mengusap wajah istrinya yang sangat basah.
"Tidak perlu mas, mungkin aku masuk angin."
"Memangnya ACnya terlalu dingin buat sayang?"
"Iya mas."
Suci memang merasakan mual, pusing dan dingin di sekujur tubuhnya. Arkan bisa melihat wajah istrinya yang semakin pucat, ia menghela nafas berat, ia sangat kuatir pada istrinya, tapi istrinya selalu saja menolak dan menolak saat ia menyuruh untuk di priksa oleh dokter.
"Iya sudah kita ke ranjang lagi."
Arkan langsung menggendong tubuh istrinya, lalu berjalan ke arah ranjang, ia mendudukan istrinya di atas ranjang.
"Mas, minta obat untuk masuk angin."
"Kamu minum air hangat saja sayang."
Arkan takut kalau istrinya itu memang sedang hamil, jadi ia melarang istrinya untuk minum obat masuk angin, ia takut kalau dokter melarang wanita hamil untuk meminum obat masuk angin, bagai mana pun juga ia bukan lelaki yang berpengalaman dengan wanita hamil.
Arkan langsung menuangkan air hangat untuk istrinya.
"Di minum dulu sayang."
"Iya mas."
Suci menurut saja saat suaminya melarang untuk meminum obat masuk angin.
Setelah istrinya meminum air hangat, Arkan membantu istrinya untuk berbaring, lalu ia langsung menyelimuti tubuh istrinya, setelah itu mengecilkan pendingin AC.
"Teman mas sudah pergi?"
"Masih ada sayang, mas mau bilang dulu sama Samuel kalau sayang sedang tidak enak badan."
"Kalau mas masih ingin mengobrol tidak apa-apa, aku baik-baik saja, lagian juga masih satu kamar."
"Tidak, mas akan temani sayang."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung pergi ke arah Samuel.
__ADS_1