Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 88 Nasi goreng asin


__ADS_3

Sudah 2 hari semenjak Rangga datang ke rumah. Pagi harinya Arkan sedang menamani istrinya berjemur di taman samping rumahnya, agar tubuh istrinya mendapatkan sinar mata hari pagi.


"Sayang, apa sudah terlalu panas?"


Mereka berdua memang sudah berjemur sekitar 15 menit.


"Tidak mas, mas belum menemukan pelakunya?"


Suci memang sudah 2 hari ini selalu saja bertanya siapa pelaku yang membuat namanya menjadi jelek.


Mungkin ini sudah saatnya Arkan jujur pada istrinya, apa lagi tubuh istrinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Sudah sayang, tapi kamu yakin tidak akan kecewa kalau sudah tau?"


Suci mengangguk mantap saat mendengar ucapan dari suaminya dan tatapan serius dari suaminya.


"Sulis yang membayar salah satu akun gosip yang memiliki akun Sarantika."


"Mas yakin kalau yang melakukanya kaka?"


"Iya yakin sayang, Rangga yang sudah menyelidikinya. Jadi apa yang ingin sayang lakukan padanya?"


Suci menggelengkan kepalanya, ia langsung memeluk suaminya sangat erat, untuk menyalurkan rasa kecewaannya, ia tidak menyangka kalau kakanya tega menjelekan namanya dengan mengecap ia sebagai orang ke tiga.


Suci menjadi bertanya-tanya apa kesalahannya hingga kakanya tega melakukan itu, dari kecil hingga dewasa kakanya selalu menjadi sosok kaka yang baik buat ia, tapi kali ini kakanya sangat tega padanya.


"Aku tidak ingin nama kaka jelek di media mas, aku tidak ingin kaka nanti malu."


Arkan menghela nafas berat, ia memang sudah tau dengan jawaban dari istrinya yang tidak ingin kakanya malu, untuk itu ia akan mengadakan konferensi pers, ia hanya akan menjelaskan tentang pernikahannya dan mengatakan kalau kedudukan istrinya itu sangat sebanding dengan ia.


"Iya mas tau, siapkan diri sayang, kita akan mengadakan konferensi pers dan mengatakan sayang pemilik utama dari Wijaya Grup, yang jelas sekarang sayang harus menjaga kesehatan, kita lalui ini sama-sama. Jangan berpikir yang tidak-tidak, sayang hanya harus fokus pada calon bayi kita."


Suci mengangguk pelan, ia masih memeluk suaminya dengan erat.


"Kenapa yang melakukan ini harus kaka? Bagai mana kalau Bunda tau kelakuan kaka? Bunda pasti sangat kecewa pada kaka yang melakukan sesuatu dengan seenaknya." batin Suci


Suci menghela nafas berat berkali-kali, ia tidak menyangka kalau kakanya sangat jahat, dan melakukan segala cara untuk mendapatkan suaminya yang sudah kakanya buang seperti sampah saat itu.


"Sayang masuk yuk?"


Suci mengangguk pelan, ia melepaskan pelukannya, lalu langsung mengalungkan ke dua tangannya pada leher suaminya.


Arkan langsung menggendong istrinya, lalu berjalan masuk ke rumah, ia menurunkan istrinya di ruang keluarga.


"Jangan di pikirkan masalah tadi sayang, nanti tubuhmu bisa ngedrop lagi."


Arkan mengingatkan lagi pada istrinya, ia takut kalau istrinya memikirkan masalah itu, karena sangat kecewa yang melakukan itu adalah kakanya sendiri, apa lagi kaka kandungnya, pasti rasanya sangat kecewa.

__ADS_1


Suci mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Mas, dede katanya sudah lapar tau."


Suci berbicara sambil mengelus perut ratanya. Memang dari pagi mereka belum sarapan, pagi-pagi mereka sudah berjemur.


Arkan tersenyum lebar saat mendengar dan melihat istrinya yang mengelus perut ratanya.


"Memangnya dede mau makan apa?"


Arkan bertanya sambil ikut mengelus perut rata istrinya.


"Katanya mau makan nasi goreng kornet buatan Ayah."


Ucapan istrinya mampu membuat Arkan melebarkan ke dua matanya, ia belum pernah belajar memasak, sekedar memasak mie saja tidak pernah, apa lagi di suruh masak nasi goreng.


"Sayang minta bi Ira atau asisten rumah tangga yang lain saja iya? Atau minta mama buat buatin iya?"


Arkan tidak bisa dan ia menyerah kalau di suruh masak nasi goreng oleh istrinya.


"Aku inginnya mas yang masak nasi goreng, emangnya mas mau kalau anak kita nanti ileran?"


Arkan menghela nafas berat sambil menggeleng pelan, menurut ia kelakuan wanita hamil itu sangat aneh, ada saja permintaan yang tidak masuk akal.


"Iya sudah, mas masakin buat dede, tapi kalau tidak enak jangan di ejek."


Suci mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Iya mas."


Arkan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan nasi goreng permintaan istrinya.


"Aden mau masak apa?"


Bi Ida langsung bertanya saat melihat majikannya mengambil bawang merah, bawang putih dan kornet.


"Mau masak nasi goreng bi, tolong ambilkan nasinya."


"Iya den."


Arkan langsung menggoreng kornetnya terlebih dahula di teplon sambil memotong-motong bawang merah dan bawang putih.


"Ini den nasinya, apa perlu bibi bantu?"


Bi Ida bisa melihat kalau majikannya sangat kesulitan, apa lagi selama ia bekerja menjadi tukang masak di rumah itu, ia belum pernah melihat majikannya memasak, sekedar memasak mie saja tidak pernah.


"Tidak bi terima kasih, bibi boleh kembali ke pekerjaan bibi."

__ADS_1


"Baik den."


Arkan langsung menggoreng bawang yang sudah ia potong-potong di kuali, lalu sesekali juga ia mengaduk kornetnya.


Setelah bawangnya kuning, ia langsung memasukan nasinya, ia bukan lelaki ahli memasak, hingga ada banyak nasi yang jatuh ke sisi kompor saat ia mengaduk-ngaduk nasinya.


Setelah kornetnya matang Arkan langsung memasukannya di nasi, tida lupa ia juga menaburkan bumbu-bumbu.


Setelah sudah matang Arkan langsung mencoba nasi gorengnya, ia langsung memutahkannya di tong sampah, karena nasi gorengnya asin.


"Ya Allah susah-susah masak asin pula." batin Arkan


Arkan langsung membuang nasi gorengnya, lalu ia langsung memasak nasi goreng untuk yang ke dua kalinya, tapi hasilnya tetap sama, tetap asin, hingga ia memutuskan untuk membuat nasi goreng yang ke 3.


Suci yang merasa suami memasak nasi goreng terlalu lama, ia langsung pergi ke dapur, saat sudah sampai dapur, ia menggeleng pelan saat suaminya masih memasak nasi goreng, bisa ia lihat kening suaminya yang berkringat, membuat ia tersenyum lebar, lalu langsung memeluk pinggang suaminya dari belakang.


"Mas, lama sekali masak nasi gorengnya."


"Iya sayang, namanya juga baru belajar."


Ini adalah nasi goreng yang ke tiga, ia langsung menyajikannya di piring, lalu langsung mencobanya lagi, tapi tetap hasilnya asin.


"Huh, susah sekali ternyata masak nasi goreng." batin Arkan


"Sayang sebentar iya, mas akan buatkan nasi goreng lagi, ini terlalu asin."


Suci langsung melepaskan pelukanya, ia langsung mencoba nasi goreng buatan suaminya.


"Enak mas, ini saja."


Suci juga merasakan hal yang sama, ia merasakan asin, tapi setidaknya nasi goreng itu bisa di komsumi dengan baik, apa lagi ini buatan suaminya yang sudah susah payah membuat nasi goreng.


"Tidak, mas akan buatkan lagi."


"Ini saja mas enak ko, pakonnya aku mau yang ini."


Keyla yang melihat perdebatan putra dan menantunya, ia langsung mendekati mereka.


"Kenapa sayang?"


"Ini ma Suci minta nasi goreng, dan nasi gorengnya asin, aku mau membuatkan lagi, tapi dia maksa mau makan nasi goreng ini."


Keyla langsung mengambil sendok, ia langsung mencobanya, memang rasanya sangat asin, ia langsung membuang makanan yang ada di mulutnya, lalu langsung mencuci mulutnya di westapel.


"Itu nasi goreng atau gudangnya garam Arkan? Asin sekali."


"Iya itu kenapa Arkan mau membuatkan yang baru karena rasanya asin."

__ADS_1


__ADS_2