
Rangga melebarkan matanya saat mendengar jawaban dari Suci, ia juga tidak percaya kalau Suci itu adalah adik kandung dari Sulis, melihat penampilan mereka yang jauh berbeda.
" Kamu adik tiri? Atau adik angkat? Atau adik sepupu?"
" Uci adik kandung kak Sulis."
Arkan tersenyum saat mendengar banyak pertanyaan dari Rangga yang seolah-olah Rangga tidak percaya kalau Suci adalah adik kandung Sulis, ia juga sempat tidak percaya kalau Suci adalah adik kandung Sulis, namen melihat nama Ayah yang di urus Arkan untuk surat nikah membuat Arkan percaya kalau Suci memang adik kandung Sulis.
" Suci memang adik kandung Sulis."
" Terus kalian berdua kenapa seolah-olah seperti memiliki hubungan lebih dari seorang adik ipar dan kaka ipar? Atau jangan-jangan lo mau menghianati Sulis?! Jangan gila Arkan, kurang apa Sulis? Selama ini Sulis selalu baik dan perhatian sama lo!"
Belum sempat Arkan menjawab pertanyaan dari Rangga, tiba-tiba telpon Suci bergetar.
Dret... Dret... Dre...
Suci langsung mengambil ponselnya di tas, ia langsung mengangkat telpon dari Karinah.
" Assalamuailikum, Karinah."
" Wa'alaikumsalam Uci."
Suci bisa mendengar helangan nafas Karinah yang seperti menahan amarah.
" Kamu berhenti mondok karena akan menikah?! Kenapa kamu tega sakitin hati Gus Ali, Uci?! Kurang apa Gus Ali di mata kamu?! Gus Ali itu sangat sempurna Uci! Tapi aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu yang memilih lelaki pembisnis! Bahkan kamu tau sendiri sangat berbeda dari kita, untuk apa kamu belajar di pesantren hingga 3 tahun kalau kamu masih tetap memilih lelaki kaya harta dari pada lelaki kaya agama?!"
Mata Suci mulai memanas saat mendengar kata terakhir dari Karinah. Inilah sifat Karinah, kalau tidak suka dengan apa pun ia tidak mentutup-tutupinya, melainkan akan berbicara dengan jujur. Suci masih diam, ia beristighfar di dalam hatinya untuk menguatkan diri dengan ucapan yang di ucapkan sahabatnya.
" Dulu kamu memuji Gus Ali tampan saat baru beberapa hari di pesantren! Dulu kamu bilang kalau Gus Ali adalah calon idamanmu, tapi kenapa sekarang kamu berubah Uci?! Kenapa kamu memilih lelaki lain?!"
" Aku minta maaf Karinah, aku sudah mengecewakan kalian semua."
__ADS_1
Air mata Suci langsung mengalir, ia baru saja melupakan nama Gus Ali dalam sekejap, tapi sekarang sahabatnya sudah membahas tentang Gus Ali, bahkan sahabatnya memarahinya karena keputusan yang ia ambil.
" Apa dengan minta maaf kamu bisa membuat hati Gus Ali baik-baik saja?! Kamu tau saat lamarannya di tolak Gus Ali sudah dua hari tidak mengajar di kelas?! Kamu tau raut matanya penuh dengan kesedihan?! Kamu itu wanita muslimah! Tapi kamu menyakiti hati sesaorang tanpa memikirkannya lagi!"
" Hiks... Hiks... Hiks... Sekali lagi maaf, aku sudah mengecewakan kalian semua dengan pilihanku, tapi apa pun yang aku ambil, aku selalu percaya kalau jalanku di ridhoi oleh Allah."
" Diam kamu Uci! Kamu itu sudah menyakiti seorang hamba! Tapi kamu bilang kalau jalanmu di ridhoi oleh Allah?! Jalan seperti apa Uci?!"
Sedangakan Arkan yang melihat Suci menangis ia sangat terkejut termasuk Rangga, cuma sayang mereka tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan oleh penelpon, karena suara volume ponsel Suci memang hanya bisa di dengar oleh Suci.
" Aku tanya sama kamu Uci! Aku minta kamu jawab dengan jujur! Apa kamu mencintai Gus Ali?!"
Suci hanya diam, ia masih terus menangis sambil mencengkaram kuat baju gamisnya, ia tidak menyangka kalau sahabatnya akan berpikir yang tidak-tidak.
" Jawab Uci!"
Suci bisa mendengar deru nafas sahabatnya sudah tidak beraturan, itu menandakan kalau sahabatnya begitu marah.
Suci menjawab dengan berbohong, ia tidak ingin kalau hati Arkan juga ikut tersakiti.
"Jadi selama ini kamu tidak mencintai Gus Ali?! Jadi selama ini kamu hanya mempermainkan perasaan Gus Ali?! Kamu yang minta di lamar oleh Gus Ali, tapi kamu juga yang menyakiti Gus Ali! Kamu adalah wanita yang paling jahat yang pernah aku kenal!"
Suci dulu memang sudah menceritakannya pada Lia dan Karinah tentang lamaran itu, tentu saja membuat Karinah marah, berbeda denga Lia, walau pun kecewa Lia tetap menutupi kekecewaannya.
" Aku tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini Karinah. Aku minta maaf sudah mengecewakan kalian semua, tapi perlu kamu tau Karinah, sekuat apa pun aku mempertahankan dia, kalau jodohku yang di tulis di Lauhul Mahfuz adalah Kak Arkan, aku bisa apa? Tolong hargai keputusanku, aku tau kamu sangat kecewa. Hiks... Hiks... Hiks..."
Karinah yang di sebrang sana, yang terus mendengar isak tangis Suci, ia mencoba meredamkan amarahnya beberapa menit, sebelum ia minta maaf.
" Maafkan aku Uci, aku sudah membuat kamu menangis, tapi keputusanmu itu mengecewakan banyak orang Uci."
" Aku tau Karinah."
__ADS_1
" Aku tau Karinah, bukan hanya orang lain yang kecewa dengan keputusanku, tapi aku sendiri berat untuk menerima semuanya, tapi di sisi lain aku tidak mau kak Arkan terpuruk lagi seperti yang mama bilang. Aku percaya kalau Gus Ali bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku dengan agamanya dan pisiknya, aku percaya kalau Gus Ali tabah menghadapi semuanya, tapi aku tidak yakin kalau kak Arkan bisa menghadapi semuanya, hidupnya sudah cukup tersiksa, aku tidak mau melihat kak Arkan lebih tersiksa." batin Suci
Setelah beberapa saat diam, akhirnya Karina mengakhiri panggilan telponnya.
" Uci sudah dulu iya, aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis, aku pasti datang ko di pernikahanmu."
" Iya Karinah, terima kasih. Assalamualaikum."
" Sama-sama Uci. Wa'alaikumsalam."
Suci langsung mematikan sambungan telponnya, ia langsung meletakan ponselnya di tas lagi, setelah itu menghapus air matanya di pelupuk matanya.
" Ada apa Uci? Kenapa kamu menangis? Aku tau kamu tidak mencintaiku, karena kita baru saling mengenal, apa ada kata-kata kasar yang membuatmu sakit hati?"
Suci menggeleng pelan.
" Suci, saya ini calon suamimu, bisa kamu sedikit terbuka dengan masalahmu sama saya?"
Jujur saja Arkan kuatir dengan Suci yang menangis setelah berbicara di telpon. Suci yang belum menjawab ucapan dari Arkan, tiba-tiba saja mobil itu sampai di depan gerbang rumah Suci.
" Kita sudah sampai, apa tlaksin biar mobilnya masuk ke dalam atau tidak?"
" Kak Arkan mau mampir dulu?"
Arkan menggelengkan kepalanya pelan, ada rasa kecewa di hati Arkan saat Suci tidak mau jujur dengannya.
" Apa ini ada kaitannya dengan lelaki yang di ceritakan oleh Sulis? Kalau memang benar, apa aku harus tetap maju? Aku tidak bisa egois dan menyakiti hati Suci, aku yakin kalau aku ini sudah jatuh cinta, aku sangat kuatir saat melihat Suci menangis." batin Arkan
Suci juga diam, ia tidak mungkin menceritakan tentang ucapan Karinah pada Arkan, ia tidak ingin Arkan tau kalau ia mencintai lelaki lain.
" Kak, terima kasih, sekali lagi maafkan Uci, karena Uci sudah merepotkan kaka."
__ADS_1
" Jangan minta maaf Suci, sudah saya bilang kalau saya ini calon suami kamu, untuk apa kamu minta maaf? Bukan'kah itu sudah sepantasnya kalau saya mengantarmu?"