
Sulis terus saja memeluk Raka dengan perasaan takut, sedangkan Raka hanya tersenyum lebar, ia tidak menyangka kalau Sulis yang terkesan keras kepala itu takut dengan ulat.
"Lis, sampai kapan kamu terus dalam gendonganku? Ulat itu tidak akan mengejarmu."
Sulis yang baru sadar dalam gendongan Raka, ia langsung turun dari gendongan Raka.
"Maaf, aku tadi refleksi, habis ulatnya menggelikan."
"Memangnya ada ulat yang lucu?"
Raka bertanya sambil menaik turunkan satu alisnya, ia merasa tidak bosan-bosan menggoda Sulis yang selalu melontarkan ucapan konyol.
"Ada seperti kamu."
Setelah mengatakan itu Sulis langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak bermaksud mengatakan itu, tapi tiba-tiba saja mulutnya mengatakan itu.
Raka yang mendengar ucapan dari Sulis ia tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan gigi rapihnya.
Apa lagi saat melihat Sulis memalingkan wajahnya karena malu, ia merasa kalau Sulis terlihat lucu.
"Lis, aku boleh berbicara sesuatu sama kamu?"
Sulis mengangguk pelan dengan mata yang fokus ke arah tadi.
"Kamu mau'kan belajar menghapus cintamu pada Arkan? Kamu mau'kan berubah untuk menerima kenyataan kalau Arkan itu bukan milikmu?"
Sulis yang mendengar ucapan dari Raka, ia langsung melihat ke arah Raka lagi.
"Aku mau. Reyhan juga menyuruhku untuk melupakan Arkan. Aku tidak mau di jauhi semua orang karena aku melakukan kesalahan, terlebih keinginanku tidak akan pernah tercapai. Adikku itu wanita yang sangat lemah lembut, jadi Arkan tidak akan meninggalkan adikku hanya untuk aku."
"Suci adalah wanita pertama yang di cintai Arkan. Jadi mau kamu berusaha bagai mana pun juga tidak akan membuahkan hasil, karena Suci selalu ada di hatinya dari dulu."
Raka sebenarnya ingin mengatakan kalau Arkan menjalin hubungan bersama Sulis karena wajah Sulis yang sangat mirip dengan Suci, tapi ia tidak ingin menyakiti hati Sulis.
Sulis sudah cukup menderita karena kebodohanya sendiri yang melepaskan Arkan.
"Iya aku baru tau saat itu kalau adiku adalah wanita yang di cintai Arkan selama ini, tapi aku senang pernah menjadi kekasihnya. Arkan adalah lelaki baik, walau pun Arkan tidak banyak tau tentang peraturan agama, tapi Arkan memang pantas bersanding bersama adikku karena Arkan sangat menghargai wanita. Mungkin itu juga yang membuat adiku mudah berpaling dari lelaki yang di cintainya selama 3 tahun lamanya."
Raka hanya mengangguk pelan saat mendengar ucapan dari Sulis, ia akui lelaki yang di cintai Suci dulu sangat sempurna, ia masih sangat ingat saat memberi ucapan selamat di pernikahan Suci, tiba-tiba saja raut bahagia Suci berubah menjadi raut wajah sedih.
"Teruslah belajar untuk menghapus rasa cintamu pada Arkan, kalau kamu ingin aku membantumu, aku akan siap membantumu."
"Dengan cara apa?"
"Dengan cara belajar mencintaiku."
__ADS_1
"Dasar anak ingusan!"
Lagi-lagi Raka tersenyum lebar, ia sama sekali tidak merasa kesal saat mendengar Sulis mengatakan ia anak ingusan, biasanya ia sangat mudah tersinggung, tapi kali ini ia sama sekali tidak tersinggung.
"Gimana kamu sudah merasa senang?"
Sulis hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, sekarang ia merasa sangat senang.
"Terima kasih sudah mengajak aku kesini. Aku sangat senang, biasanya lelaki kalau melihat wanita sedih akan mengajak wanita itu ke taman, tapi kamu sangat berbeda, aku sangat menyukainya."
Raka mengelus pelan pucuk kepala Sulis.
"Bagus kalau kamu merasa senang, setidaknya kamu bisa melupakan masalahmu sesaat."
"Apa kamu masih mau jadi temanku?"
"Kata siapa aku bilang tidak ingin menjadi temanmu? Bukan'kah sudah aku katakan kalau kamu butuh sandaran kamu bisa menelponku, aku akan selalu ada untuk kamu."
"Terima kasih Raka."
"Tidak perlu berterima kasih, aku akan selalu ada untuk kamu asalkan kamu mau berubah menjadi wanita yang lebih baik, jangan selalu memaksakan ingin mendapatkan semua yang kamu inginkan kalau yang kamu inginkan itu sudah tidak seharuanya kamu perjuangkan."
Sulis hanya mengangguk pelan, entah kenapa hari ini ia merasa kalau Raka tidak menyebalkan seperti dulu.
Walau pun saat itu Sulis masih menjalin hubungan bersama Arkan, tapi menurut Sulis Raka sangat menyebalkan dari semua teman Arkan.
"Aku tidak mau pergi ke mall lagi dan aku juga belum ingin pulang."
"Iya sudah kalau begitu kamu ikut aku saja."
"Kemana?"
"Semangatin aku main badminton, sebentar lagi aku akan main badminton."
"Iya sudah ayo."
Raka mengangguk pelan, ia langsung berjalan mendekati pemilik kacang panjang itu.
"Pak, terima kasih, dan maaf sudah menganggu waktu bapak, dia sekarang sudah bisa tersenyum lagi."
"Sama-sama de, adek mau tidak kacang panjangnya?"
"Tidak usah pak, kalau begitu saya permisi."
"Iya de."
__ADS_1
Raka langsung mendekati Sulis lagi, ia langsung menggenggam tangan Sulis pergi dari sana.
Sulis sesekali melihat ke wajah Raka yang fokus menatap lurus, ia tidak menyangka kalau Raka begitu sopan pada orang tua.
Sekarang mereka sudah ada di mobil, Raka langsung melajukan mobilnya ke arah yang ia tuju, tidak lupa ia juga memutar musik untuk memecahkan keheningan.
"Kuliahmu bagai mana?"
"Alhamdulilah sangat lancar, hanya saja dosen pembimbingku sangat gila."
"Maksudmu gila gimana? Kamu jangan ngatain dosen sendiri gila."
"Habisnya nyebelin banget."
"Nyebelin bagai mana?"
"Kerjaannya terus ngejar-ngejar aku. Aku juga tidak menyangka kalau dosen pembimbingku adalah Kalisa."
Sulis langsung tersenyum lebar, Kalisa adalah teman Sulis saat duduk di bangku SMA, hanya saja Kalisa sangat pintar, berbeda dengan ia yang memiliki otak pas-pasan.
"Memang ya ternyata Kalisa itu cinta mati sama kamu, tidak pernah berubah dari dulu."
"Kamu mengenal Kalisa? Dan kamu tau kalau Kalisa mencintai aku dari dulu?"
"Iya dulu Kalisa yang bilang sama aku."
Raka hanya menggeleng pelan, ia tidak menyangka kalau Sulis mengenal Kalisa.
Walau pun Raka dan Sulis berbeda 1 tahun, tapi mereka berdua dari dulu belum pernah sekolah di sekolahan yang sama atau kampus yang sama, jadi Raka tidak tau kalau Sulis dan Kalisa saling kenal.
Mereka sampai di tempat yang di tuju. Raka memasuki arsea badminton sambil menggenggam tangan Sulis, tadi ia juga memakaikan kembali kacamata hitam milik Sulis, tidak lupa ia mengikat rambut Sulis agar tidak terlalu di kenali oleh orang lain, karena ia tidak mau kalau nanti kedekatanya ketahuan wartawan, ia memang tidak peduli kalau sampai ketahuan, tapi ia menghargai Sulis yang merasa tidak nyaman.
"Hai bro! Siapa dia? Sepertinya wajahnya sangat pamiliar?"
Raka bersalaman dengan seluruh teman-temanya ala lelaki.
"Oh, dia temanku."
Lelaki yang bertanya tadi adalah Irawan, ia melihat Sulis dari atas kebawah dan dari bawah ke atas.
"Tumben lo bawa cewek ke sini."
"Sudah, ayo mulai. Kamu duduk di situ saja."
Sulis mengangguk pelan, ia langsung duduk di tempat yang di suruh oleh Raka.
__ADS_1
Raka dan Irawan langsung bermain badminton.
Sulis yang melihat permainan dari Raka tersenyum lebar, ia juga sesekali berteriak saat Raka memenangkannya dan Raka juga sesekali melihat ke arah Sulis sambil tersenyum lebar.