
Pernikahan Suci sudah genap 1 bulan, dan besok adalah Reyhan kembali ke Indonesia, Suci sangat senang saat tau kaka sepupunya di rekomandasikan langsung ke rumah sakit Harapan. Suci sekarang seperti biasa, ia akan duduk di atas ranjang sambil menunggu suaminya beres mandi, sudah 1 minggu ini suaminya selalu saja pulang malam. Arkan selsai mandi, ia mendekati ranjang. Setelah di samping ranjang Arkan di bantu oleh istrinya pindah ke atas ranjang.
" Uci, kenapa tidak di tinggal tidur saja?"
" Aku belum ngantuk mas."
Arkan langsung duduk sambil menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, ia menepuk pelan pahanya untuk istrinya tidur di pangkuannya. Suci tersenyum, ia hanya menurut saja, ia bahkan senang saat di perlakukan suaminya seperti itu.
" Maaf iya, mas akhir-akhir ini pulang malam terus."
" Tidak apa-apa mas."
Arkan mengelus lembut kepala istrinya, ia merasa kalau istrinya adalah obat penghilang lelah, sebenyak apa pun pekerjaannya, saat ia pulang dan melihat istrinya yang duduk di teras rumah selalu membuat wajah lelahnya hilang, perlakuan manis istrinya membuat ia semakin mencintai istrinya, tapi hingga sekarang ia tidak tau, apa hati istrinya itu sudah sepenuhnya miliknya atau masih tersimpan nama lelaki lain, semejak istrinya menangis di malam saat menawarkan diri, ia sudah tidak pernah lagi berbicara tentang lelaki lain, ia tidak ingin membuat istrinya sedih.
" Mau mas bersholawat atau mau dengar mas bacain surat ayat suci Al-Qur'an?"
Suci menggeleng pelan, ia tidak mau ke duanya, ia bisa melihat wajah lelah suaminya.
" Kenapa?"
" Aku tidak ingin apa pun mas, mas mau aku pijitin?"
" Tidak perlu, ini sudah malam, kamu juga capek habis pulang dari toko, mas sama sekali tidak pernah merasa capek kalau sudah melihat wajah istri mas yang cantik."
" Ih mas, kenapa jadi gombal coba?"
" Kamu memang sangat cantik Uci, mas tidak sedang menggombal, mas serius."
Suci langsung duduk, ia menatap mata suaminya.
" Mas, belum dapat hukuman dari aku."
Arkan tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya yang memang menurutnya sangat lucu. Memang semejak Arkan pulang telat, Suci selalu saja mencium ke dua pipi suaminya sebagai hukuman.
" Uci, kalau mau beri mas hukuman di sini dong."
__ADS_1
Arkan menujuk bibirnya. Suci mengangguk pelan, ia langsung mencium bibir suaminya sekilas, baru juga ia akan menyembunyikan wajahnya, suaminya sudah memegang tengkuknya.
" Mas boleh cium lebih tidak?"
Arkan mengusap-usap bibir tipis istrinya yang memang sudah 1 minggu ini ia inginkan, tapi ia selalu menahan diri, ia selalu saja berpikir tidak mau menyakiti hati istrinya dengan perlakuannya, walau pun istrinya itu sudah menawarkan diri, tapi ia selalu saja ingin melakukannya saat istrinya sudah mencintainya. Namen kali ini Arkan sudah tidak bisa menahan diri untuk sebatas ciuman.
" Boleh mas, walau pun lebih dari ciuman juga boleh."
Sebelum memulai ciumannya, Arkan langsung menyuruh istrinya untuk menyadarkan kepalnya di pergelangan tangannya, lalu mengecup kening dan ke dua mata istrinya, ia tidak ingin terbawa oleh nafsu.
Setelah itu ia langsung memulai ciumannya. Sedangkan Suci hanya memejakan mata sambil membuka mulutnya, detak jantungnya berdetak lebih cepat, ini adalah pertama kalinya detak jantung Suci berdetak lebih cepat, selama ini detak jantungnya selalu saja seperti biasa.
Arkan tersenyum saat melihat istrinya sudah mempersilahkan ia bermain, ia langsung memulai ciumanya, dan semakin lama ciumannya semakin dalam, ia menyapu semua rongga mulut milik istrinya, tapi tidak ada rasa nafsu di dalam ciumannya, hanya ada rasa cinta yang sedang ia salurkan.
Lama-kelamaan Suci juga mulai membalas ciuman dari suaminya, ia merasa menikmati ciuman itu. Hingga sekitar 10 menit nafas istrinya mulai tersengal-sengal, itu membuat Arkan menghentikan ciumannya dengan di akhiri mencium kening istrinya. Arkan yang melihat mata istrinya terbuka, ia langsung tersenyum lebar sambil mengusap bibir istrinya yang basah.
" Terima kasih sayang."
" Hah?"
Suci sangat terkejut dengan panggilan baru dari sang suami.
Suci menggeleng pelan, wajahnya yang sudah merah, sekarang semakin merah. Arkan yang melihat wajah istrinya, ia tersenyum lebar.
" Sayang malu iya sama mas?"
Pertanyaan dari suaminya mampu membuat Suci langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang miliknya, karena kepalanya masih suaminya tahan dengan pergelangan tangannya. Arkan yang melihat kelakuan istrinya ia tersenyum lebar.
" Apa aku mencintai mas Arkan? Jantungku dari tadi berdetak lebih cepat tidak seperti biasanya, kalau memang benar seperti itu aku sangat bersyukur, tapi aku masih sedikit ragu, apa mas Arkan akan selalu bersamaku jika kakinya sudah sembuh? Atau akan kembali dengan kak Sulis?" batin Suci
Kata cinta suaminya yang bilang mencintai Suci lebih besar dari pada mencintai kakanya saat ia menangis tidak bisa membuat ia begitu percaya, mengingat hubungan kakanya dan suaminya yang sudah 2 tahun lamanya, membuat ia takut kalau suaminya akan kembali dengan kakanya.
" Sayang, apa sudah ngantuk?"
Suci menggeleng pelan, sambil terus berpikir, ia bisa mendengar detak jantung suamunya yang berdetak lebih cepat, ia yang mendengar itu hanya tersenyum dengan masih menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
Arkan mengelus lembut rambut istrinya, hari ini jauh lebih bahagia, memang setiap harinya ia selalu bahagia saat melihat senyuman lebar dari istrinya, tapi ia sekarang lebih bahagia lagi, mungkin menurut orang berciuman itu terbilang biasa, tapi berbeda dengan Arkan yang menganggap berciumanya adalah luar biasa, apa lagi saat melihat reaksi istrinya yang membalas ciuamannya, ia sangat bahagia.
" Suci, aku tidak tau di hatimu itu sudah di ganti namaku atau masih milik nama lelaki lain, tapi jujur hari ini aku sangat bahagia." batin Arkan
Setelah beberapa menit Suci langsung duduk, ia ingin minta ijin pada suaminya untuk menjemput kaka sepupunya.
" Mas, besok aku ijin untuk menjemput kaka sepupu, boleh?"
" Jemput di mana sayang?"
" Di Bandara, tapi aku bawa mobil sendiri, karena besok Saras ada mata kuliah jam 1 nya."
" Boleh, sayang nanti pak Budi yang antar, nanti mas suruh jemput Rangga."
" Tidak perlu mas, aku mau membawa mobil sendiri saja."
" Baiklah, tapi sayang harus janji, jangan sampai kejadian sebelum menikah terulang lagi."
Itu alasan kenapa Arkan melarang istrinya membawa mobil sendiri, ia terlalu takut kalau kejadian sebelum menikah terulang lagi, ia tidak mau istrinya itu terluka, atau memiliki terouma.
" Insya Allah, terima kasih mas."
Suci langsung mencium bibir suaminya sekilas, lalu langsung membaringkan tubuhnya dan menutup seleruh tubuhnya dengan selimut. Arkan selalu saja tersenyum saat melihat tingkah istrinya.
" Sama-sama sayang."
Arkan langsung mematikan lampu, ia ganti dengan lampu tidur, lalu langsung membaringkan tubuhnya, ia membuka selimut istrinya yang menutupi sampai kepala, lalu langsung menarik istrinya dalam pelukannya.
" Mas."
" Iya sayang."
" Terima kasih karena mas sudah membuat tidur aku selama 1 bulan ini menjadi nyenyak, sebelumnya aku tidak bisa tidur nyenyak setelah Ayah meninggal, tapi pelukan mas membuatku tidur nyenyak."
" Sama-sama sayang."
__ADS_1
Arkan tersenyum saat mendengar kejujuran dari istrinya.
" Semoga hatimu juga selalu merasa nyaman bersamaku." batin Arkan