Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 11 Meminta membatalkan pernikahan


__ADS_3

Pagi harinya Suci sudah di sibukan dengan memasak di dapur, dan pikirannya sudah tenang, seperti ucapannya semalam ia sholat istikhara untuk menemukan jawabannya, tapi walau begitu ia akan melakukannya 2 hari lagi untuk membuat benar-benar yakin kalau memang Arkan lah pilihannya. Sedangkan Bi Minah sibuk memotong sayuran sesuai yang di inginkan oleh Suci. Bi Minah memotong sayuran sambil sesekali menatap ke arah Suci, ia tidak melihat kesedihan di wajah Suci, karena sekarang Suci memang tidak memakai cadar.


" Bi, kalau bibi menatap saya karena semalam menangis, saya sudah tidak apa-apa bi."


Walau pun Suci sedang menumis sayur, tapi ia tau kalau bi Minah menatapnya karena kejadian semalam.


" Eh iya non. Bibi jadi lancang menatap non karena masalah semalam."


" Tidak apa-apa bi, lagian bibi sudah lama kerja di sini, dari usia saya 9 tahun, jelas dong pasti penasaran sama saya karena saya tidak pernah menangis seperti itu."


" Tapi non benar tidak apa-apa?"


Bi Minah mulai sedikit kuatir dan jiwa keponya menjadi menggebu.


" Saya tidak apa-apa bi, saya yakin sama pilihan saya, saya tidak bisa menyakiti orang lain, biarkan semalam menjadi malam terakhir untuk saya menangis tentang masalah percintaan saya."


Suci memang sudah menganggap Bi Minah sebagai ibu ke dua, ia akan terbuka tentang hatinya pada bi Minah.


" Msksud non apa iya? Non mencintai siapa?"


" Lelaki yang kemarin malam melamar saya bi, tapi saya tidak bisa menyakiti kak Arkan, karena kaka membatalkan pernikahan, jadi saya yang akan menggantikannya."


" Non yakin? Non Sulis saja tidak menerima karena den Arkan lumpuh."


" Saya yakin bi, kalau kak Arkan adalah yang terbaik untuk saya."


Bi Minah mengangguk saja, walau pun ia sedikit tidak rela kalau Suci menikah dengan Arkan, bukan apa-apa bi Minah takut suatu saat jadi perang sodara sama Sulis, bagai mana pun juga Sulis menjalin hubungan bersama Arkan suda 2 tahun, di tambah lagi menurut bi Minah, kalau Suci memang lebih cocok dengan lelaki yang melamarnya, sama-sama memiliki kepribadian yang lemah lembut, dan ilmu agamanya seimbang. Setelah sekitar satu jam Suci selsai masak, ia menata makananya di meja. Sulis yang akan sarapan menatap adiknya dengan perasaan bingung, karena tidak melihat kesedihan di mata adiknya.


" Eh kaka ko sudah mau sarapan? Jam berangkat kerja kaka masih satu jam setengah lagi."


" Hari ini pemotretan kaka di luar kota dek, jadi kaka berangkat lebih pagi."


Suci hanya mengangguk pelan, ia percaya dengan ucapan kakanya yang sedang membohonginya. Anisa juga sampai di meja makan.


" Ayo sarapan kak, Bunda."


Anisa tersenyum saat melihat putrinya yang sudah baik-baik saja. Mereka langsung memulai sarapan, seperti biasa mereka sarapan tanpa pembicaraan, tapi wajah dari Sulis dan Suci tidak memasang wajah yang serius di sana. Setah 10 menit mereka selsai sarapan.


" Dek, kamu tetap yakin akan melajutkan pernikahan ini?"

__ADS_1


" Kenapa kak? Kaka berubah pikiran?"


Sulis langsung menggeleng kepalanya pelan, seharusnya yang berubah pikiran itu adiknya bukan ia.


" Uci tidak berubah pikiran kak. Kaka juga tau kalau keputusan yang Uci ambil pasti Uci tidak akan pernah mundur di tengah jalan, apa lagi sekarang Uci belum mencobanya."


Sulis mengangguk saja, tapi ada rasa sedikit kecewa di hatinya saat adiknya masih akan melajutkan pernikahannya, ia bingung dengan hatinya yang masih saja belum mengiklaskan Arkan, jelas-jelas ia sudah menolak dan menghina Arkan, tapi hati kecilnya tidak bisa melupakan Arkan. Sulis langsung berpamitan pada ibu dan adiknya.


" Bund, Sulis berangkat."


Sulis langsung mencum punggung tangan Bundanya.


" Iya nak, hati-hati."


" Iya Bunda."


" Dek, kaka berangkat."


Suci mengangguk sambil mencium tangan kakanya. Sulis hari ini membawa mobil sendiri, ia menyuruh menegernya untuk bertemu di kantor saja. Sepanjang perjalanan Sulis terus saja berpikir keras, kerena melihat adiknya yang seperti tidak terjadi apa-apa, jelas-jelas kalau adiknya semalam menangis hingga terdengar di seluruh ruangan. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, Sulis sampai di depan gerbang rumah Arkan.


" Pak, Arkan ada?"


Satpam itu langsung membuka gerbang untuk mempersilahkan mobil Sulis masuk. Sulis sekarang sudah sampai di depan rumah Arkan, yang sudah ada pembantu rumah tangga, memang rumah Arkan sangatlah besar hampir di setiap pintu ada pembantu.


" Bi, Arkan ada?"


" Ada non Sulis, mari silahkan masuk."


Pembantu itu sudah tau siapa Sulis, karena sebelum Arkan kecelakaan, Sulis sudah pernah main empat kali ke rumah Arkan.


" Den, ada non Sulis."


Arkan yang sedang duduk di ruang keluarga dan sibuk memeriksa berkas kantornya, ia langsung melihat ke arah Sulis sambil tersenyum, senyuman seperti biasanya, yang terlihat seperti perpaksa, karena semejak papa Arkan meninggal, Arkan tidak pernah tersenyum bahagia, dan saat Suci menerimanya, itu adalah senyuman bahagia Arkan setelah di tinggalkan oleh papanya.


" Bi, tolong suruh yang lain jangan beres-beres di sini dulu."


" Baik Den."


Asisten rumah tangga itu langsung menyuruh yang lain untuk menginggalkan ruang keluarga. Sekarang tinggal ada Sulis dan Arksn di ruangan itu.

__ADS_1


" Duduk Sulis."


Sulis mengangguk, ia duduk di samping Arkan yang jauhnya berjarak 15cm.


" Ada apa kamu kesini?"


" Arkan, aku kesini hanya untuk memohon sama kamu, tolong jangan teruskan lagi pernikahan kamu dengan adikku."


" Kenapa?"


" Adikku tidak akan bahagia bersamamu."


" Tapi Suci menerimaku."


" Hati adikku sudah di penuhi lelaki lain, yaitu bernama Gus Ali, anak dari kiai tempat adikku menimba ilmu, semalam adikku menangis hingga jam dua pagi, karena adikku menolak lamaran dari Gus Ali, adikku memilih kamu, tapi hati adikku itu untuk Gus Ali, mungkin perasaanya sangat sakit, karena adikku tidak bisa bersama Gus Ali. Jadi aku minta tolong kamu batalkan pernikahanmu dengaan adikku."


" Aku tidak bisa membatalkan pernikahanku, terkecuali adikmu sendiri yang meminta untuk membatalkannya."


" Baik kalau kamu tidak bisa membatalkan pernikahan itu, tapi setelah perusahaan itu resmi menjadi milikmu, tolong ceraikan adikku, dan jangan sekali-kali kamu meminta hakmu, karena aku ingin adikku bahagia."


" Aku juga tidak bisa menceraikan Suci, aku tidak masalah kalau perusahaan itu tidak menjadi milikku, tapi aku sangat masalah kalau Suci tidak menjadi milikku."


" Apa kamu mencintainya?"


" Hanya lelaki buta yang tidak mencintai Suci. Suci adalah Gadis yang sangat sholehah, tentu lelaki mana pun akan langsung jatuh cinta pada Suci."


Ada rasa sakit di hati Sulis saat mendengar jawaban dari Arkan.


" Semudah itu Arkan melupakanku? Setelah banyak yang kita lalu bersama?" batin Sulis


Sulis langsung berlutut di kaki Arkan. Arkan yang melihat Sulis berlutut, ia sangat terkejut.


" Sebelumnya aku tidak pernah berlutut ke pada siapapun itu, tapi demi kebahagiaan adikku, aku hari ini berlutut di depanmu, tolong batalkan pernikahanmu."


" Sekali lagi aku katakan, kalau aku tidak bisa membatalkan pernikahanku."


Sulis langsung berdiri saat mendengar ucapan dari Arkan.


" Dasar lelaki lumpuh keras kepala! Harusnya kamu sadar diri kalau kamu itu adalah lelaki lumpuh! Jadi jangan pernah berharap dengan adikku yang sangat sempurna!"

__ADS_1


__ADS_2