Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 50 Penjelasan dari Suci


__ADS_3

Suci sampai pukul 03.00WIB, ia sama sekali belum tidur, setelah sholat tahajud, ia hanya menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, biasanya ia akan akan membaca ayat suci Al-Qura'an, tapi malam ini ia sama sekali tidak, ia takut suaminya terganggu, terlebih dari suaminya membaringkan tubuhnya, suaminya itu tetap di posisi yang sama, sama sekali tidak bergeser walau pun hanya sedikit.


Air mata Suci masih mengalir, ia bingung dengan perlakuan suaminya, apa suaminya itu cemburu, atau suaminya itu sedang mencari masalah agar berpisah darinya? Karena selama menikah, suaminya hanya mengatakan satu kali kalau cintanya pada ia lebih besar dari pada cintanya pada kakanya, jadi ia bingung sendiri.


Suci mengeser tubuhnya, ia menatap wajah suaminya yang memejamkan mata, ia mencium kening suaminya sekilah, hingga air matanya jatuh di pelupuk mata suaminya.


" Maafin aku mas, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati mas, dari awal aku masuk ke rumah ini, aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat mas tersenyum bahagia, seharusnya mas tau, dalam islam tidak ada wanita yang boleh berpoligami, jadi mana mungkin aku menikah dengan mas Rey, lalu menikah dengan mas, itu sangat tidak mungkin mas. Mas, kita sudah berjanji akan saling terbuka, dan mas juga akan mengatakannya kalau ada sifat aku yang tidak di sukai mas, tapi kenapa mas tidak mau mendengarkan penjelasanku?"


Suci berbicara dengan lirih, ia mengusap air matanya yang masih terus mengalir.


" Ke dua orang tua mas Rey, dulu meninggal dalam kecelakan pesawat, saat itu usia mas Rey masih 3 bulan, dan usia kak Sulis saat itu 6 bulan, jadi Bunda yang memberikan asi pada mas Rey. Bunda juga yang membesarkan mas Rey hingga mas Rey bisa menjadi sekarang, jadi dalam agama, aku dan mas Rey itu kaka beradik mas. Maafkan aku karena aku menangis saat di bandara, aku sangat merindukan mas Rey, jadi aku senang saat bisa bertemu lagi dengan mas Rey. Mas, dari hatiku yang paling dalam, aku bukan hanya sudah mengikhlaskan Gus Ali, tapi nama Gus Ali di hatiku sudah tidak ada lagi, jangan pernah cemburu dengan hal yang belum jelas, karena rasa cemburumu bukan hanya menyakiti hatiku, tapi juga menyakiti hati mas sendiri, jadi mas bilang baik-baik sama aku, dan dengar penjelasanku, jangan langsung kabur dari masalah."


Setelah mengatakan itu, Suci membaringkan tubuhnya, ia sudah lelah menangis dari pukul 20.00WIB hingga pukul 03.30WIB, ia menghapus air matanya, ia menatap nanar punggung suaminya, hingga lama kelamaan ia mencoba untuk memejamkan mata sambil terus beristighfar untuk menguatkan diri, hingga ia benar-benar tertidur.


Arkan merasakan air mata istrinya jatuh ke pelupuk matanya, ia memang tidak tidur, dari membaringkan tubuhnya, hingga sekarang, ia sama sekali tidak tidur, hanya saja ia langsung membaringkan tubuhnya karena takut emosinya tidak bisa ia kontrol, ia takut ucapanya semakin melukai hati istrinya, tapi nyatanya ucapannya tetap membuat istrinya menangis semalaman. Arkan menghela nafas berat, saat mendengar penjelasan dari istrinya.


" Maafkan mas Uci, sekali lagi mas membuatmu menangis seperti malam ke dua pernikahan kita." batin Arkan


Arkan langsung membalikan tubuhnya, ia menatap istrinya yang sudah memejamkan mata, di pipi istrinya masih ada sisa air mata, ia langsung menghapus sisa air mata istrinya, lalu mengecup kening istrinya, setelah itu ia langsung memeluk istrinya dengan erat, ia mengelus lembut punggung istrinya.


" Maafkan mas Uci." batin Arkan

__ADS_1


Suci yang merasa ada sesaorang yang sedang memeluknya, ia membuka mata perlahan, hingga melihat dada suaminya, ia juga merasakan punggungnya yang di elus lembut oleh suaminya, itu membuat ia tersenyum, lalu langsung memejamkan matanya lagi.


Arkan terus saja mengelus punggung istrinya, ia merasa sangat bersalah, mungkin kalau orang lain saat di tuduh sudah menikah secara diam-diam sudah marah, tapi berbeda dengan istrinya, dari pertama bertemu di rumah Bundanya hingga sekarang, ia belum pernah mendengar suara bentakan dari istrinya.


" Uci maafkan mas, terima kasih selalu sabar menghadapi sifat kanak-kanakan mas, mas sangat cemburu dengan hal yang tidak jelas, mas selalu saja tidak percaya diri dengan fisik mas, dan lagi-lagi mas meragukan kasih sayangmu, maaf, mas selalu tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu." batin Arkan


Mata Arkan sudah memerah, ia merasa bodoh yang selalu saja meragukan kasih sayang dari istrinya, perlakuan tulus dari istrinya selalu saja ia ragukan, walau pun ia tidak tau istrinya mencintainya atau tidak, tapi ia harusnya sadar dan tau, kalau kasih sayang istrinya itu tulus. Suci yang memejamkan mata, ia merasa nyaman saat di peluk oleh suaminya, hingga sudah semakin mengantuk.


" Terima kasih mas, walau pun mas marah sama aku, mas masih tetap memeluku, karena tanpa pelukanmu, tidurku tidak akan bisa nyenyak." batin Suci


Setelah mengatakan itu Suci langsung tertidur pulas. Sedangkan Arkan sama sekali tidak tidur, ia di selimuti rasa menyesal. Tidak lama suara adzan subuh terdengar di telinga Suci, hingga Suci terbangun dan memutuskan untuk mandi, ia melepaskan pelukan dari suaminya perlahan, ia takut suaminya bangun.


" Sudah bangun sayang?"


" Mas sudah bangun?"


Arkan mengangguk pelan, jangankan sudah bangun, ia semalaman sama sekali tidak tidur, tapi ia enggan untuk mengatakan itu, jadi ia hanya mengangguk saja saat di tanya oleh istrinya.


" Maaf, aku ganggu mas tidur."


Suci langsung minta maaf dengan perasaan menyesal, ia takut suaminya marah lagi.

__ADS_1


" Tidak sayang, mas dulu iya yang mandi, lalu kamu."


" Iya mas."


Suci langsung membantu suaminya pindah ke kursi roda dengan senyuman lebar, ia senang saat suaminya memanggil dengan panggilan sayang lagi. Setelah suaminya beres, kini giliran Suci yang mandi, ia sambil sesekali memukul kepalanya yang pusing, mungkin karena epek menangis semalaman. Setelah selsai mandi mereka langsung melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Setelah selsai sholat, Suci langsung mencium tangan suaminya, lalu di balas cium kening oleh suaminya.


" Sayang mau baca Al-Qur'an?"


" Tidak mas aku masih ngantuk."


Suci menjawab pertanyaan dari suaminya sambil tersenyum meringis.


" Iya sudah, kita tidur lagi."


Suci mengangguk pelan, setelah membereskan peralatan sholatnya, ia langsung membaringkan tubuhnya lagi. Arkan yang awalnya mau membaca ayat suci Al-Qura'an ia tidak jadi, ia juga ikut dengan istrinya membaringkan tubuhnya lagi di ranjang sambil memeluk istrinya, karena ia tau kalau istrinya tidak akan bisa tidur tanpa pelukannya.


" Tidurlah sayang."


Suci mengangguk pelan, ia langsung memeluk pinggang suaminya, lalu langsung memejamkan matanya hingga tertidur. Sedangkan Arkan sama sekali tidak tidur, ia hanya menepuk pelan punggung istrinya sambil terus saja bersholawat, untuk membuat istrinya tidur nyenyak.


" Maafin mas sayang, sudah membuatmu menangis semalaman."

__ADS_1


Arkan mencium pucuk kepala istrinya sekilas, ia belum minta maaf secara langsung, mungkin saat istrinya bangun ia baru akan minta maaf dengan kejadian semalam.


__ADS_2