Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 99 Meminta untuk berpisah


__ADS_3

Arkan langsung tersenyum sekilas saat mendengar pertanyaan dari istrinya, ia bersyukur karena menikahi 2 wanita kaka dan adik kandung itu di haramkan oleh agama, dan ia juga berharap kalau Sulis tidak membuat ulah lagi dengan manfaatkan penyakitnya.


Anisa tidak menjawab pertanyaan dari putri ke duanya, ia diam membisu di selimuti rasa terkejut, ia baru tau kalau menikahi dua wanita kaka beradik itu di larang oleh agama.


Sedangkan Sulis yang mendengar pertanyaan dari adiknya pada Bundanya, ia hanya menghela nafas kasar, ia baru tau kalau menikahi kaka beradik itu di larang oleh agama, lalu bagai mana dengan ia, ia masih belum mau untuk melepaskan Arkan.


"Sulis hanya ingin menikah dengan Arkan, Bunda."


Suci menghela nafas berat, air matanya masih terus mengalir, ia sekarang seperti wanita bodoh.


Bukan'kah dulu kakanya itu membuang Arkan dan menyuruh ia untuk menikahi Arkan, tapi kini kakanya menggunakan penyakitnya untuk memiliki suaminya.


"Ya Allah, jalan apa yang harus hamba ambil, hambi tidak mau berpisah dengan suami hamba." batin Suci


Anisa menghela nafas saat mendengar permintaan dari putri pertamanya.


"Jangan membuat masalah semakin sulit nak, kamu sudah dengar sendiri kalau berpoligami denganmu itu tidak di perbolehkan oleh agama."


"Tapi Sulis menginginkan Arkan Bunda."


Sebelum Anisa berbicara Suci lebih dulu berbicara.


"Apa kaka lupa kalau dulu Uci sudah pernah bilang mas Arkan itu bukan barang yang bisa kaka ambil dan kaka buang kapan saja? Dan apa kaka lupa kalau Uci sudah pernah bilang Uci tidak suka ada orang yang mengambil milik Uci, walau pun itu kaka Uci sendiri?"


Suci berbicara dengan mulut yang bergertar karena terus menahan amarahnya, air matanya terus mengalir dan tangan kanannya semakin mencengkram kuat gamisnya.


"Kaka sangat ingat, tapi apa kaka salah ingin memiliki lelaki yang kaka cintai?"

__ADS_1


"Salah, dan sangat salah kak, karena lelaki yang kaka cintai itu suami Uci, adik kandung kaka sendiri, apa tidak berpikir sedikit saja tentang perasaan Uci? Uci merasa sangat di permainkan di sini oleh kaka. Kaka meminta Uci untuk menikah, tapi kaka juga sekarang ingin mengambil suami Uci."


Arkan mengelus punggung istrinya, ia tau istrinya sedang menahan emosi, walau pun ia belum pernah melihat istrinya emosi, tapi saat ia melihat tangan kanan istrinya yang terus mencengkram gamisnya, itu menandakan kalau istrinya sangat emosi.


"Kaka tidak meminta selamanya untuk memiliki Arkan, kaka hanya meminta biarkan kaka hidup bersama Arkan hanya 1 bulan saja, setelah itu kaka akan kembalikan Arkan padamu lagi."


"Sudah Uci bilang mas Arkan bukan barang kak, tidak bisa seenaknya mengoper-oper mas Arkan."


Anisa langsung meneteskan air matanya mendengar perdebatan ke dua putrinya, ia bingung harus berbuat apa sekarang, ia juga tidak mungkin menyuruh putri ke duanya untuk berpisah dengan Arkan, tapi ia juga tidak mau putri pertamanya terus di rawat di rumah sakit.


"Sudah dong Lis, jangan terus memaksa adikmu yang tidak bisa melakukannya."


"Apa salahnya kalau adek juga berkorban untuk Sulis, Bunda? Bukan'kah dulu Sulis juga mempertaruhkan nyawa Sulis untuk menolong adek, tapi kenapa adek membalas kebaikan Sulis seperti ini Bunda? Dan kenapa Bunda membelanya? Sulis hanya ingin menikah bersama Arkan hanya 1 bulan saja."


"Tapi kamu sudah dengar kalau berpoligami denganmu itu tidak di perbolehkan nak."


"Walau pun aku sampai berpisah dengan Suci, aku tidak akan menikahi kamu Lis, apa lagi aku tidak mungkin berpisah dengan Suci. Tidak ada alasan untuk aku berpisah dengan Suci, karena kehadiran Suci sangat berarti dalam hidupku."


Setelah dari tadi Arkan hanya diam, akhirnya ia membuka suara juga karena sangat geram melihat tingkah kanak-kanakan dari Sulis.


Apa lagi Arkan bisa melihat kalau istrinya sedang di penuhi emosi, ia takut dengan kondisi tubuhnya dan janinnya, istrinya baru juga sembuh, tapi sudah di hadapkan dengan masalah yang tidak masuk akal.


"Baiklah, kalau begitu Sulis tidak ingin di oprasi Bunda!"


Anisa menghela nafas sambil menghapus air matanya, ia akan memohon pada putri ke duanya untuk memberikan Arkan agar putri pertamanya mau di oprasi, kalau perlu ia akan berlutut di depan putri ke duanya, karena nyawa tidak bisa di beli, nyawa tidak bisa untuk di buat mainan.


"Bunda mohon nak, turuti permintaan kakak kamu untuk kali ini saja, dulu kakakmu juga sudah berkorban untukmu, dan sekarang tolong kamu juga berkorban untuk kakamu."

__ADS_1


Suci menghela nafas kasar saat mendengar ucapan dari Bundanya, kata itu lagi yang ia dengar untuk yang ke dua kalinya.


"Maksud Bunda menyuruh Uci berpisah dengan mas Arkan?"


Anisa hanya menganguk pelan.


"Uci tidak bisa melakukan itu Bunda. Pernikahan tidak bisa untuk di permainkan, apa lagi Uci juga sedang mengandung, tolong Bunda jangan egois seperti kaka juga."


"Bunda tau pernikahan tidak untuk di permainkan, tapi ini keinginan kakamu. Nyawa tidak bisa untuk di permaikan, tolong mengerti sedikit saja. Apa yang harus Bunda lakukan agar kamu menyetujuinya? Kalau kamu menyuruh Bunda untuk berlutut di depanmu juga Bunda mau."


Dada Suci sangat sakit saat mendengar ucapan terakhir dari Bundanya yang akan berlutut padanya hanya agar berpisah dengan suaminya.


"Tolong nak, kali ini saja, anggap saja sebagai balasanmu pada kakamu yang telah menolongmu."


Anisa berbicara untuk ke dua kalinya karena melihat putri ke duanya hanya diam saja.


"Jadi Bunda benar menyetuji Uci untuk berpisah dengan mas Arkan? Bunda menyetujui perbuatan dosa? Ingat Bunda, di dalam kandungan Uci ini masih cucu Bunda, masih darah daging Bunda."


Tubuh Suci semakin bergetar, Arkan dengan sigap menahan tubuh istrinya yang hampir terjatuh karena tubuhnya semakin bergetar.


Suci membuka cadarnya sebelah, ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu langsung membenarkan kembali cadarnya.


Suci merasakan kekecewaan yang mendalam, hatinya sangat sakit saat Bundanya mengatakan kakanya pernah berkorban untuknya hingga di rawat di rumah sakit 10 hari, tapi itu karena sebuah kecelakaan, ia juga tidak ingin musibah itu terjadi.


"Apa karena ini soal donor darah Bunda? Hingga Bunda terus saja memohon pada Uci? Kalau tau akhirnya akan seperti ini, kenapa tidak biarkan saja Uci meninggal saat itu Bunda? Kenapa Bunda harus membiarkan Uci hidup dengan menggunakan darah orang lain? Hati Uci sakit Bunda, seharusnya Bunda biarkan Uci meninggal saat itu, dari pada Uci terus saja memiliki hidup yang sangat rumit dan berkali-kali menahan sakit di dada Uci."


Air mata Suci semakin deras, bahkan sekarang kaka kandungnya sendiri ia anggap orang lain, karena ia sudah tidak sanggup teruas saja menahan emosinya, kalau saja ia tidak terus saja beristigfar di dalam hatinya, mungkin ia sudah marah-marah pada wanita yang telah melahirkannya, tapi ia masih sadar sedang berbicara dengan siapa.

__ADS_1


Arkan sangat terkejut dan bingung dengan ucapan dari istrinya,ia bingung darah siapa yang di donorkan pada istrinya hingga membuat istrinya sangat kecewa.


__ADS_2