Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 123 Sama-sama memikirkan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya Sulis dan Raka sampai di rumah. Sulis dan Raka langsung turun dari mobil, karena Raka mau menjelaskan tentang kenapa mobil Sulis lebih dulu datang.


Memang bisa saja kalau Sulis yang mejelaskan, tapi Raka tidak ingin di cap lelaki tidak bertanggung jawab.


"Assalamulaikum!"


Sulis dan Raka mengucap salam serempak.


"Wa'alaikumsalam."


Anisa langsung berdiri dari duduknya saat melihat putri pertamanya membawa lelaki yang ia kenali kalau lelaki itu adalah sahabat dari menantunya, hanya saja ia tidak tau namanya.


Setelah Sulis mencium tangan Bundanya, kini tinggal Raka yang mencium tangan Anisa sambil mengenalkan diri.


"Saya Raka bu, temanya Sulis."


"Oh iya nak silahkan duduk."


Anisa menyuruh Raka duduk sambil tersenyum lebar, apa lagi saat melihat wajah putri pertamanya sangat ceriah, ia yakin kalau putri pertamanya sangat dekat dengan Raka.


"Terima kasih bu."


Anisa mengangguk pelan.


"Rak, kamu mau minum apa?"


"Tidak usah Lis, aku ikut kamu masuk cuma mau bilang sama Bundamu."


"Begini Bu, tadi saya mengajak Sulis main, untuk itu saya menyuruh supir saya mengantarkan mobil Sulis, maaf sebelumnya tidak minta ijin untuk membawa putri ibu sampai sore, soalnya kita memang tidak sengaja bertemu."


Anisa tersenyum lebar saat mendengar penuturan dari Raka yang menurut ia sangat sopan.


"Tidak apa-apa nak, jangan panggil saya Bu, panggil saja saya Bunda."


"Iya Bunda."


Sulis dari tadi melihat gerak-gerik Raka dan ucapan Raka membuat ia kagum dengan kepribadian Raka yang menurut ia bertolak belakang dengan Raka yang ia kenal sekilas.


Yang Sulis tau Raka tidak memiliki tatakrama dan sopan santun, tapi kali ini ia bisa melihat Raka yang sangat sopan.


"Kenapa dari dulu aku tidak dekati si bocil saja, semakin tau kepribadiannya, aku semakin mengaguminya." batin Sulis


"Saya cuma mau bilang begitu saja Bunda, saya sekarang harus pulang."


"Loh ko buru-buru nak Raka?"


"Saya hari ini ada jadwal kuliah sore Bunda, jadi kapan-kapan saja saya main lagi."


"Oh iya sudah, terima kasih sudah nganterin putri Bunda."


"Tidak perlu berterima kasih Bunda, itu sudah kewajiban saya sebagai teman Sulis."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Raka langsung mencium tangan Anisa.


"Assalamulaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Raka keluar di antar oleh Sulis sampai samping mobilnya.


"Terima kasih untuk segalanya anak ingusan."


Raka mengangguk pelan sambil mengusap kepala Sulis, seolah-olah ia lebih dewasa dari Sulis.


"Aku pulang dulu Bu Sulis."


Sulis langsung mengambil tangan Raka yang sedang mengelus kepalanya.


"Jangan so seperti lelaki dewasa deh, anak ingusan seperti kamu tidak pantas mengelus kepalaku, aku lebih dewasa dari kamu."


"Aku juga tidak menganggap kamu anak kecil, buktinya aku panggil kamu Bu Sulis, atau kamu mau aku panggil Busu?"


"Yang ada entar busuk! Dasar nyebelin, sana pulang, jangan lupa belajar yang rajin anak baik."


Sulis mengatakan anak baik sambil mengelus kepala Raka.


Raka yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum lebar, setidaknya ia bisa melihat Sulis tersenyum bahagia lagi, tidak apa Sulis menganggap ia anak kecil.


Sedangkan Anisa yang ingin tau sampai di mana kedekatan putri pertamanya bersama Raka, ia berdiri di samping pintu sambil mengintip mereka berdua.


Anisa yang melihat dan mendengar percakapan mereka hanya tersenyum lebar.


Raka langsung membuka pintu mobilnya, ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati anak ingusan."


Raka hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, lalu langsung melajukan mobilnya.


Anisa yang sudah melihat Raka pergi, ia buru-buru duduk di sofa lagi.


Setelah mobil Raka sudah tidak terlihat, Sulis langsung masuk ke rumah lagi.


"Bunda."


Sulis memanggil Bundanya lalu langsung duduk di sofa berlawanan dengan Bundanya.


"Adek sekarang ada di luar negri Bunda, tadi Sulis mendengar percakapan adek dan Raka."


Wajah Sulis yang awalnya ceriah sekarang berubah menjadi murung.


"Kata adek, adek di sana baik-baik saja dan janinya masih sangat lemah."


"Alhamdulilah kalau sudah ada kabar dari adik kamu, Bunda senang mendengarnya."

__ADS_1


"Adek juga bilang kalau sudah maafin Sulis."


Setelah mengatakan itu Sulis menghela nafas berat.


"Bunda, kenapa adek masih mau memaafkan Sulis? Sulis sangat salah, tapi adek masih saja memaafkan Sulis, jelas-jelas Sulis sudah menyakitinya berkali-kali."


"Itu lah gunanya sodara nak, kamu mau berubah menjadi lebih baik dan belajar membuang rasa cintamu pada Arkan? Bunda lihat Raka itu lelaki baik-baik. Bunda setuju kalau kamu bersamanya."


Sulis yang awalnya sudah sedih terbawa suasana, tapi kini menghela nafas berat.


"Raka masih anak-anak Bunda, Raka juga masih anak kuliahan, jadi tidak mungkin kalau Sulis bersama Raka, usia kita berbeda 1 tahun."


"Kamu mencintainya?"


Anisa bukan sekedar bertanya, tapi saat mendengar ucapan dari putri pertamanya ia yakin kalau putri pertamanya memiliki perasaan pada Raka.


"Sepertinya iya Bun, Sulis merasa kalau Raka lelaki yang sangat lucu, tapi tetap saja Raka masih anak-anak, apa lagi sekarang Sulis tidak punya apa pun yang bisa di banggakan, jadi Sulis malu kalau harus memperjuangkan Raka, terlebih dulu Raka pernah membenci Sulis."


Anisa tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari putri pertamanya, akhirnya putri pertamanya itu bisa membuang rasa cintanya terhadap Arkan.


"Apa salahnya di coba? Kalau Raka masih belum memiliki kekasih kamu bisa berjuang untuk Raka."


Sulis yang mendengar ucapan dari Bundanya, ia tersenyum lebar.


Sulis merasa lega saat Bundanya memperbolehkannya bersama Raka. Walau pun Sulis juga tidak tau bagai mana ia bisa mendekati Raka.


"Iya sudah kalau begitu Sulis ke kamar dulu Bunda."


"Iya nak."


Sulis menaiki tangga dengan senyuman yang mengambang, entah kapan terakhir kali ia tersenyum bahagia dulu, yang jelas sekarang ia sangat bahagia.


"Kira-kira Raka sudah punya pacar belum iya?" batin Sulis


Sulis langaung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap ke arah langit-langit


...****************...


Raka yang sedang menyetir dalam perjalanan pulang, ia tersenyum lebar saat mengingat ia memegang tangan Sulis tanpa di sengaja.


Apa lagi saat Sulis menanyakan siapa Riana, membuat ia tersenyum senang.


"Apa benar aku mencintai Sulis dalam sekejap? Apa ini yang di namakan cinta dan benci itu beda tipis? Buktinya aku merasa senang saat bersamanya, bahkan tadi aku tidak merasa kalau Sulis menyebalkan." batin Raka


Raka sampai di rumah, senyumanya tidak pernah pudar, ia masih saja mengingat bersama Sulis tadi.


"Aku tidak mungkin bisa mendapatkan cinta dari Sulis. Sulis hanya menganggapku anak ingusan." batin Raka


Raka langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Tapi kalau di pikir-pikir aku dan Sulis hanya berbeda 1 tahun, masa iya Sulis tidak mau menerimaku karena umurnya lebih tua dariku." batin Raka

__ADS_1


Raka yang asik rebahan, ia langaung melihat ke arah jam tanganya yang memang sudah hampir masuk kuliah.


"Aku bisa telat pergi ke kampus karena terus aaja memikirkan Sulis!"


__ADS_2