
Suci dan Reyhan sampai di sebuah Apartemen, mereka langsung turun dari mobil dengan Reyhan yang menarik ke dua kopernya, sedangkan Suci berjalan lebih dulu di depan Reyhan. Setelah mereka masuk Rangga dan Arkan juga masuk, tapi mereka sangat terkejut saat melihat mereka berdua langsung berjalan ke arah life tanpa berbicara dengan resepsionis di sana.
" Coba tanya sama resepsinois Ga."
Rangga mengangguk, ia mendekati resepsinois di sana.
" Permisi, tadi wanita bercadar dan seorang lelaki itu sebenarnya mau kemana? Atau salah satu dari mereka pemilik apartemen di sini?"
" Maaf pak, saya tidak bisa menjelaskan kecuali dengan orang tertentu."
" Lelaki yang duduk di kursi roda adalah suaminya, jadi tolong anda kasih tau, atau saya akan membuat anda di pecat dari sini."
Resepsionis yang bernama Diana itu melihat ke arah lelaki itu, ternyata lelaki itu adalah Arkan, mau tidak mau ia harus jujur, karena bagai mana pun juga Arkan bisa saja mengadukan yang tidak-tidak pada atasannya.
" Iya, wanita tadi pemilik salah satu di apartemen ini, atas nama Suci Septiani Susanti."
Rangga dan Arkan sangat terkejut dengan jawaban dari Diana. Rangga langsung melirik ke arah Arkan.
" Tanyakan kapan istriku membeli apartemen itu."
Rangga mengangguk pelan, ia menatap ke arah Diana, tanpa di tanya juga Diana langsung menawab, karena ia mendengar ucapan Arkan.
" 1 Minggu yang lalu pak."
Arkan mengurutkan keningnya, ia bingung, bagai mana bisa istrinya bisa membeli apartemen mewah tanpa menggunakan uangnya sepeser pun?
" Atau Suci mati-matian kerja untuk membeli apartemen di sini untuk lelaki tadi?" batin Arkan
" Terima kasih."
" Sama-sama pak."
Rangga langsung mendekati Arkan, ia menatap mata Arkan yang menujukan kekecewaan
" Gue harus bagai mana sekarang?"
" Saran gue lo tanya baik-baik sama istri lo, kalau tidak salah lelaki tadi itu familiar deh, gue seperti pernah liat dia, tapi gue juga lupa siapa dia."
" Mungkin lo pernah liat di internet?"
__ADS_1
Resepsionis yang masih mendengar perdebatan mereka, ia pun langsung memberi tau siapa lelaki itu, karena ia adalah penggemar berat Reyhan.
" Maaf pak, lelaki itu adalah Reyhan, di internet juga sudah tersebar luas, kalau dia seorang dokter spesialis saraf, dia dari Ausi pak."
Rangga dan Arkan sangat terkejut dengan ucapan resepsionis itu, mereka bahkan merutuki dirinya sendiri bodoh, karena tidak tau tentang lelaki itu, sedangkan resepsionis saja tau siapa lelaki itu.
" Terima kasih, kamu jangan bilang kalau saya datang untuk mencari tau tentang dia."
" Baik pak, sama-sama."
" Rangga, ayo pergi."
" Pergi? Lo enggak mau cari tau?"
" Buat apa? Bukan'kah lo tadi bilang suruh tanya baik-baik sama istri gue?"
" Oh iya gue lupa."
Rangga langsung mendorong Arkan keluar dari sana. Rangga sedikit bingung sendiri dengan Suci, ia yakin Arkan jauh lebih bingung. Sedangkan Suci dan Reyhan masuk ke dalam apartemen itu, mereka langsung duduk di sofa.
" Mas, mobil tidak perlu beli lagi, pakai saja mobil Uci yang ada di rumah Bunda, lagian tidak ada yang pakai, Bunda dan kak Sulis sudah punya, dari pada ngambur-ngambur uang."
" Iya Uci, mas lapar."
" Mas makan di sana saja, tapi bisa tidak temani mas? Mas masih rindu sama adik mas, apa lagi bentar lagi juga kamu pulang."
" Baiklah mas."
Reyhan memang merindukan Suci, sebenarnya ia lebih rindu Suci yang dulu, yang terlihat senyumannya, tapi ia juga sangat senang karena sekarang adik sepupunya itu mau berubah menjadi lebih baik lagi. Reyhan dan Suci keluar dari apartemen. Reyhan juga langsung memesan makanan dan minuman, sedangkan Suci tidak memesan apa pun, ia tidak mungkin makan di restoran.
" Uci, kamu sudah mengabari suami kamu mau menjemput mas?"
" Sudah mas, semalam Uci sudah bilang sama mas Arkan."
" Syukur kalau begitu, mas tidak mau nanti suami kamu salah paham."
Suci mengangguk pelan. Reyhan langsung makan, tidak ada pembicaraan di setiap kunyahan Reyhan, hingga ia benar-benar menghabiskan semuanya.
" Ayo."
__ADS_1
" Iya mas."
Mereka keluar dari restoran itu dengan bergandengan tangan, banyak orang yang menatap pagum dengan ketampannya, dan banyak juga yang sudah tau profesi Reyhan sebagai dokter spesialis saraf. Indra yang akan masuk ke restoran bersama ke dua sahabatnya, ia berpapasan dengan Suci.
" Suci!"
Indra langsung berteriak, terlebih saat melihat tangan Suci yang di genggam oleh sesaorang, ia sangat marah. Suci yang di panggil, ia menghentikan langkahnya termasuk Reyhan yang ikut berhenti.
" Kamu selingkuh dari abang?!"
Sedangkan Marsanda, ia sangat tekejut dengan penampilan Suci yang berubah derastis dari 3 tahun yang lalu. Marsanda memang mengenal Suci saat sekolah SMA, karena Marsanda mencintai Indra, bahkan sampai sekarang Marsanda masih mencintai Indra, tapi lagi-lagi Marsanda harus menelan pahit kenyataan, karena sampai sekarang Indra masih saja mencintai Suci. Sedangkan Reno, ia adalah sahabat baru Indara.
" Aku tidak selingkuh."
" Itu apa?!"
Indra menujuk tangan Suci yang di genggam oleh Reyhan. Reyhan langsung melihat ke arah Suci meminta jawaban.
" Dia Indra mas, adiknya mas Arkan."
Indra yang mendengar ucapan dari Suci yang memanggil mas pada lelaki di depannya, ia sangat terkejut.
" Mas?! Maksud kamu apa Uci?! Kamu berpegangan tangan dengan lelaki yang bukan makhrom kamu?!"
Mereka menjadi pusat perhatian yang akan keluar masuk ke restoran tersebut, banyak yang penasaran dengan perdebatan mereka, terlebih yang sudah tau siapa Reyhan, tapi tidak dengan Indra, walau pun Indra anak kandung dari Bagas Adipati, mereka sama sekali tidak ada yang tau. Sebelum Suci menjawab, Reyhan lebih dulu bersuara.
" Jaga bicaramu, saya adalah Reyhan, kaka dari Suci."
Indra tertawa terbahak-bahak, seolah-olah ucapan dari Reyhan itu lucu.
" Apa kamu bilang kaka? Kaka dari mana? Suci hanya memiliki kaka perempuan, yaitu Sulis. Kamu jangan coba-coba untuk membohongi saya! Saya akan buat kamu babak belur!"
" Saya memang bukan kaka kandung Suci, tapi saya dan Suci meminum asi yang sama, dalam agama kami berdua memang kaka beradik."
Kini mata Indra beralih ke arah Suci, ia meminta penjelasan dari Suci yang hanya sesekali menatap ke arah Indra.
" Memang yang di katakan Mas Rey itu benar Indra, kami memiliki ikatan sebagai kaka dan adik, walau pun Mas Rey kaka sepupuku, tapi kami meminum asi yang sama."
Jujur saja Indra jadi malu sendiri setelah mendengar jawaban dari Suci, ia bersyukur belum membuat Reyhan babak belur, kalau sudah membuat Reyhan babak belur, ia akan lebih malu lagi.
__ADS_1
" Aku tidak selingkuh, suamiku sudah sangat sempurna, untuk apa lagi aku mencari lelaki lain? Jika semua lelaki ada di dalam diri suamiku?"
Indra tidak bersuara lagi, ia langsung berjalan ke arah mobil di ikuti ke dua sahabatnya dan langsung melajukan mobilnya, ia bukan hanya malu, tapi kata-kata terakhir Suci mampu membuatnya begitu cemburu saat memuji kaka tirinya, seharusnya ia senang Suci tidak menghianati kaka tirinya, tapi hatinya masih tetap sakit.