
Setelah Suci beberapa saat diam, ia pun langsung membuka suara.
" Maaf Indra, dulu aku hanya menggapmu sebagai sahabat, dan sekarang aku menganggapmu sebagai adik iparku. Indra, aku mohon buanglah rasa cintamu itu padaku, aku percaya kalau kamu bisa melupakanku, karena aku bukan jodohmu yang tertulis di lauhul mahfudz, suatu saat akan ada orang yang kamu cintai tapi bukan aku. Indra, aku harap kamu cintai Allah terlebih dahulu, sebelum kamu mencintai seorang hamba."
" Aku tidak bisa melupakanmu, aku rindu kamu Suci, aku rindu pelukan hangat kamu."
" Tolong mengerti aku Indra, aku tidak bisa memelukmu lagi, sebatas memegang tanganmu juga aku tidak bisa, aku sudah hijrah, kita bukan makhrom."
" Apa kamu menerima pernikahan ini untuk menyakiti aku? Apa kamu dendam padaku karena tidak datang ke club malam saat itu?"
Tiba-tiba saja ingatan Indra ke masa lalu dan Suci menaruh dendam padanya, Suci menerima kakanya agar bisa menyakiti hati ia, itu lah yang ada di pikirannya sekarang.
" Indra, aku tidak pernah berpikir ingin menyakiti hatimu, aku saja tidak tau kalau kamu adik tiri mas Arkan."
" Bohong! Kamu pasti benci karena malam itu aku tidak datang! Bahkan kamu pindah tanpa memberi tahuku, kamu tidak pernah menganggap aku, bukan hanya menolaku, tapi kamu juga tidak pernah menganggap aku jadi sahabatmu!"
Suara teriakan Indra terdengar sampai ke dua orang tuanya, itu membuat ke dua orang tua Indra mengintif perdebatan putra dan menantunya.
Awalnya Bagas akan memisahkan mereka dan memarahi Indra, tapi istrinya melarang dengan mecelakal tangannya dan menggelengkan kepalanya, menandakan jangan ikut campur. Suci menggeleng pelan saat mendengar suara Indra yang menggunakan nada tinggi, selama ia kenal dengan Indra, ini pertama kalinya Indra menggunakan suara nada tinggi.
__ADS_1
" Benar begitu kan Uci? Aku tidak pernah ada artinya di dalam hidupmu?"
Mata Indra sudah memerah, ia menahan unek-unek itu selama 3 tahun lamanya, dan sekarang baru di utarakan pada orang yang selama ini menghilang seperti di telan bumi.
" Aku minta maaf Indra, sekali lagi aku minta maaf."
Mata Suci sudah memerah, ia sedih kenapa Indra menjadi salah paham, bahkan ia lebih sedih lagi, karena Indra masih saja belum menghapus rasa cintanya, ia sedih terus membuat Indra terluka, Indra adalah lelaki yang baik menurutnya, tapi ia tidak pernah memcintainya, berbulan-bulan Indra menjaganya, tapi hatinya tidak bisa mencintai Indra, ia pikir setelah ia pergi begitu saja Indra akan membencinya dan melupakan perasaannya, tapi ternyata Indra masih saja mencintainya.
" Kamu tidak salah, aku yang salah, aku yang selalu berharap sama kamu, aku yang selalu ingin menjadi yang terbaik untuk kamu, tapi apa kamu tau? Saat malam aku tidak datang karena aku kecelakaan, tulang betisku patah, dan abang melarangku untuk menemuimu."
" Ya Allah, kenapa harus seperti ini, kenapa hamba harus menyakiti hati Indra lagi, setelah 3 tahun kita tidak di pertemukan." batin Suci
" Suci, aku tau kamu benci aku, tapi tolong jangan sakiti aku dengan menikahi abang!"
Air mata Suci langsung mengalir deras, ia memang belum pernah membenci orang lain selain dirinya sendiri, ia benci karena pernah terjun bebas ke dunia malam.
" Kamu tau kejadian malam itu? Kejadian yang hampir membuat seumur hidupku menyesal, kejadian saat tiga sahabatmu Hiks... Hiks..."
Suci tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, bayang-bayang malam itu sudah berputar di otaknya, dadanya sakit, nafasnya tidak beraturan, masa lalu yang paling ia benci untuk di ingat, tapi ia tidak membenci ke tiga sahabat Indra, ia benci diri sendiri karena saat itu tetap saja pergi ke club malam tanpa pengawasaan Indra.
__ADS_1
" Jangan katakan Uci, kalau kamu memang berat, dan jangan kamu ingat lagi kejadian malam itu, aku sudah tau semuanya tentang kejadian malam itu, tapi kenapa kamu harus pergi tanapa sepatah kata pun Uci? Kenapa kamu jahat sama aku?"
Indra memang sudah tau tentang kejadian malam itu, bahkan Indra juga membuat ke tiga sahabatnya menjadi babak belur saat itu, karena marah dengan ke tiga sahabatnya, lebih marah lagi saat Suci pindah tanpa memberitahunya.
" Maaf, aku memang jahat, aku menyakiti hati kamu untuk sekian kalinya, tapi pernikahanku dengan mas Arkan, itu tidak ada kaitannya sama kamu, aku hanya percaya kalau mas Arkan adalah jodohku dan mampu untuk menjadi imamku, aku tidak pernah berpikir untuk menyakitimu karena malam itu kamu tidak datang. Bahkan aku bersyukur karena kejadian malam itu membuat aku berubah untuk lebih baik lagi, kejadian malam itu mampu membuat aku percaya pada Allah lagi dan mengikuti ajarannya yang sudah di tetapkan."
Suci menghapus air matanya yang terus saja mengalir.
" Indra, kamu adalah lelaki yang paling baik selama aku mengenal lelaki, kebaikanmu selama ini tidak akan pernah bisa di gantikan oleh siapa pun itu, jadi tolong jangan menyakiti dirimu untuk terus mencintaiku, aku merasa bersalah kalau kamu terus mencintaiku Indra, karena aku merasa menjadi orang jahat yang terus menyakiti hatimu, tolong hapus perasaanmu Indra. Jika memang berat, hapuslah namaku dengan menyebut nama Allah, sholat, dan curahkan semua beban yang ada di hatimu, insya Allah kamu akan menemukan kata Iklhas dari hatimu bukan hanya dari mulutmu. Terima kasih, selama ini sudah menjagaku Indra, dan maaf karena kebaikanmu tidak bisa aku balas dengan apa pun."
Indra menggeleng pelan, ia tidak semudah itu untuk melupakan Suci, bahkan saat ia pergi ke luar negri untuk melupakan Suci, nyatanya bayang-bayang Suci terus saja hadir di ingatannya, apa lagi sekarang satu rumah bersama wanita yang ia cintai, jadi semakin tidak mungkin.
" Kamu mudah menasehatiku karena kamu belum pernah merasakannya, kamu belum pernah merasakan cinta yang benar-benar cinta, kamu juga tidak mencintai abang, walau pun mulutmu berbohong, tapi matamu tidak akan pernah bisa berbohong."
Suci menghela nafas, kata siapa ia tidak pernah merasakan hal seperti Indra? Bahkan Suci dan Gus Ali saling mencintai, tapi pada akhirnya tidak bisa bersama.
" Aku pernah ada di posisimu Indra, hingga saat ini aku masih di posisi itu, aku sedang belajar mengikhlaskan dan menghapus nama lelaki yang aku cintai, lalu menggantikannya dengan nama suamiku, karena aku tidak mau menyakiti siapa pun lagi, aku tidak mau menyakiti hati mas Arkan seperti menyakitimu."
" Apa kamu pernah mencintai sesaorang?"
__ADS_1
" Iya, tapi karena aku percaya dia bukan jodohku, aku memilih mas Arkan, walau pun kita saling mencintai, tapi kalau yang tertulis di lauhul mahfudz bukan nama lelaki yang aku cinta melainkan mas Arkan, aku bisa apa Indra? Seperti kamu mencintaiku, tapi bukan namaku yang tertulis di lauhul mahfudz, itu kenapa kita tidak pernah di persatukan. Indra, ikhlaskan aku."
Setelah mengatakan itu Suci langsung masuk ke dalam life, ia tidak ingin terus mendengar ucapan Indra dan membuat ia semakin merasa bersalah.