
Erlangga yang melihat jawaban dari cucu angkatnya ia menghela nafas kasar.
"Katakan pada kakek kenapa kamu mencelakai Suci?!"
"Arra benci sama Suci karena Suci terlalu manja, Suci memperlakukan Arkan seperti boneka, Arra memang cinta, tapi kalau Suci menghargai Arkan, Arra tidak akan melakukan ini kek."
"Kamu tau kalau Suci adalah Gadis yang akan kakek jodohkan bersama Arkan? Jadi kakek tidak pernah peduli kalau Arkan di perlakukan seperti boneka oleh Suci!"
Erlangga tau betul sifat cucu menantunya, ia yakin kalau cucu menantunya itu tidak memperlakukan cucunya seperti boneka, apa lagi cucu menantunya sangat tau tentang agama, jadi sangat tidak mungkin.
Namun kalau cucu menantunya memperlakukan cucunya seperti boneka pun Erlangga tidak akan marah, karena ia tau kalau Suci adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat cucunya tersenyum kembali tanpa beban.
Biasanya Erlangga hanya melihat senyuman cucunya dengan raut wajah terpaksa, tapi semenjak bersama Suci cucunya selalu tersenyum bahagia, jadi ia tidak peduli tentang apa pun asalakan bisa melihat cucunya tersenyum tanpa beban.
Arrabella yang mendengar jawaban dari kakek angkatnya, ia seperti di sambar petir, ia tidak menyangka kalau posisi Suci lebih berharga dari pada Arkan yang cucu kandungnya dan membuat Arrabella semakin membenci Suci saat tau kalau Suci lebih berharga.
"Dasar wanita ular! Bahkan kamu di nomer satukan dari pada Arkan cucunya, aku akan buat kamu lebih parah dari ini karena kamu telah merebut segalanya. Kamu tidak pantas hidup!" batin Arrabella
Kebencian Arrabella terhadap Suci semakin besar, dan ia semakin ingin menyingkirkan Suci.
"Maaf kek, Arra tidak tau."
Sebelum Erlangga menjawab, Arkan lebih dulu bertanya pada Arrabella.
"Apa kamu sering melakukan kejahatan terhadap sahabatmu?"
"Tidak pernah Arkan."
"Kakek menyesal telah membesarkanmu Arra, kalau kakek tau kamu tumbuh menjadi Gadis nakal, seharusnya kakek biarkan saja kamu hidup dengan kekerasan oleh orang tuamu."
Setelah mengatakan itu Erlangga menghela nafas berat, ia mengingat kembali keadaan Arrabella saat kecil, di mana saat itu Arrabella penuh dengan luka-luka, dan Erlangga yang mengambil Arrabella dari orang tuanya, ia yang mengobati luka di sekujur tubuh Arrabella saat itu.
Erlangga memang berkuliah di jurusan kedokteran, jadi ia bisa dengan mudah mengobati Arrabella yang sudah kritis saat itu, ia juga yang mengangkat Arrabella sebagai cucunya.
Erlangga mendidik Arrabella penuh dengan kasih sayang karena Arrabella tidak pernah mendapat kasih sayang dari ke dua orang tuanya, tapi ia tidak menyangka kalau Arrabella tumbuh menjadi wanita yang kejam.
Jelas-jelas Erlangga tidak pernah memukul Arrabella sekali pun saat di besarkan olehnya, tapi sekarang ia menjadi memukul Arrabella karena menurutnya Arrabella sudah sangat keterlaluan.
"Maafkan Arra kek. Hiks... Hiks..."
Arrabella meminta maaf tidak sampai hati, tidak seperti tadi yang merasakan menyesal, tapi sekarang di gantikan dengan rasa benci pada Suci.
__ADS_1
Bahkan Arrabella sudah tidak merasakan sakit di dua sudut bibirnya, hatinya jauh lebih sakit saat kekek angkatnya dengan mudah menyayangi Suci.
"Jangan lakukan apa pun pada Suci, kalau sampai kamu melakukan kejahatan lagi pada Suci, kakek tidak akan segan-segan melaporkanmu ke pihak berwajib."
Setelah mengatakan itu Erlangga langsung keluar dari kamar cucu angkatnya, ia takut kalau tidak bisa mengontrol emosinya seperti tadi, kalau sampai itu terjadi, ia bisa saja melenyapkan cucu angkatnya sendiri.
Arrabell tidak menyangka kalau kakek angkatnya mengancam ia hanya untuk membela Suci.
"Dasar wanita ular!" batin Arrabella
Di kamar itu tanggal ada Arkan dan Arrabella. Arkan masih menatap Arrabella dengan tatapan sinis.
"Kenapa kamu harus mencintaiku Arra? Lelaki yang belum beristri masih banyak, tolong hapus rasa cintmu, dan jangan melakukan hal yang membahayakan orang lain, karena yang akan rugi bukan hanya orang lain tapi kamu juga."
Setelah mengatakan itu Arkan keluar dari kamar untuk menuju ke kamarnya lagi, tanpa menunggu jawaban dari Arrabella.
Erlangga yang sudah keluar dari kamar Arrabella, ia masuk ke ruangan Cctv untuk melihat apa yang di lakukan oleh cucu angkatnya hingga membahayakan cucu menantunya.
Saat sudah di ruangan itu Erlangga sangat terkejut saat melihat penjaga Cctv tertidur sambil duduk.
Erlangga tidak membangunkannya, tapi ia langsung mengambil cemilan yang ada di meja, ia mencium cemilan itu hingga menyadari ada obat tidur di ceminan itu.
"Benar-benar Arra merencanakan segalanya untuk mencelakai Suci."
Setelah meletakan cemilan itu, Erlangga langsung melihat rekaman Cctv untuk melihat apa yang cucu angkatnya lakukan.
Erlangga sangat terkejut saat melihat rekaman Cctv itu, ia tidak menyangka kalau cucu angkatnya akan melakukan kejahatan.
"Kenapa harus melakukan hal ini Arra, hingga kakek tidak bisa menahan emosi kakek sampai menamparmu."
Setelah itu Erlangga langsung keluar lagi dari ruangan Cctv dengan rasa kecewa yang mendalam setelah melihat dengan jelas kejahatan cucu angkatnya.
Arkan sampai di kamar, ia langsung tersenyum saat melihat istrinya sudah sadar.
Arkan langsung duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan istrinya.
"Bagai mana? Apa sayang sudah merasa lebih baik?"
"Aku baik-baik saja mas, tapi apa dede baik-baik saja?"
"Alhamdulilah dede baik-baik saja sayang."
__ADS_1
"Syukurlah kalau dede baik-baik saja, aku takut dede kenapa-kenapa mas."
"Jangan takut, dede itu kuat seperti Bundanya, jadi dede akan baik-baik saja."
Arkan langsung mengecup kening istrinya cukup lama untuk meredamkan emosinya yang masih ada, ia tidak ingin istrinya tau kejadian tadi dan membuat istrinya banyak pikiran.
Arkan tidak mau kalau kesehatan istrinya sampai kurang sehat lagi, sudah cukup istrinya menjadi sakit seperti ini.
Suci yang di cium keningnya cukup lama, ia bisa merasakan nafas yang memburu seperti sedang meredamkan amarahnya.
"Kenapa mas Arkan tiba-tiba emosi seperti ini? Aku belum pernah melihat mas Arkan semarah ini." batin Suci
Suci yang tau kalau suaminya sedang emosi, ia tidak ingin bertanya, ia takut pertanyaannya itu mengganggu suasana hati suaminya.
Suci langsung mengalungkan tangannya pada pinggang suaminya yang masih mencium keningnya.
Arkan yang merasakan istrinya memeluk pinggangnya ia langsung menatap ke wajah istrinya sambil tersenyum.
"Jangan bergerak sayang nanti selang infusnya lepas, mas juga belum menelpon dokter Viona untuk mengecek keadaanmu."
"Arra juga dokter kandungan mas, kenapa harus menelpon dokter lain?"
Suci bertanya pada suaminya sambil mengerutkan keningnya karena bingung.
"Arra sedang sibuk sayang, jadi lebih baik mas telpon dokter Viona."
Arkan tidak mungkin mengatakan kalau ia tidak percaya lagi pada Arrabella, jadi ia hanya bilang kalau Arrabella sedang sibuk.
"Wanita itu kah?"
Suci bertanya sambil menujuk foto wanita yang lengkap menggunakan baju dokter bersama suaminya di samping wanita itu.
"Iya sayang."
"Apa dia masa lalu mas?"
Arkan yang mendengar pertanyaan dari istrinya ia ingin sekali menyentil hidung istrinya kalau ia tidak ingat istrinya sedang sakit.
"Jangan berbicara sembarangan, dokter Viona anak tiri kakek."
"Anak tiri kakek?"
__ADS_1
Suci bertanya dengan wajah terkejut, ia tidak menyangka kalau kakek dari suaminya memiliki anak tiri.