
Setelah makan sesuai janji suaminya, Suci di perbolehkan makan rujak mangga. Sekarang Suci sedang duduk di ruang keluarga menunggu suaminya yang sedang membeli rujak mangga di depan rumah. Arkan masih setia berdiri di samping tukang rujak, ia juga tadi menawarkan seluruh asisten rumah tangganya untuk memakan rujak yang mereka mau.
" Pak, kalau habis semua dapatnya ini berapa?"
Arkan bertanya sekedar basa-basi
" Tidak pernah habis semua den, biasanya hanya habis setngah saja, kadang-kadang kalau hujan tidak ada yang beli, apa lagi sekarang musim hujan, kalau habis setengah dapatnya 300rb den, itu belum buat modal lagi."
Arkan mengangguk paham.
" Sudah lama jualan pak?"
" Seketir 7 tahun den."
" Sudah lama banget."
" Ini den, sudah selsai."
" Baik pak terima kasih, nanti asesten rumah tangga saya yang mau buatkan saja pak, nanti di hitungnya sekalian sama punya saya."
" Baik den, sama-sama."
Arkan masuk ke dalam rumahnya sambil membawa piring isi rujak mangga muda hingga sampai di ruang keluarga.
" Ini sayang rujaknya."
Arkan langsung meletakan rujak mangga muda di meja depan istrinya. Suci yang sudah memegang garpu hanya tersenyum sambil mengangguk. Arkan bisa melihat mata berbinar dari istrinya saat melihat rujak mangga muda.
" Mas mau?"
Arkan menggeleng pelan, jangankan untuk makan menatapnya saja sudah ngilu duluan.
" Tidak romantis dong kalau mas tidak mau."
" Sini mas yang suapin."
Arkan mengambil garpu yang di pegang istrinya.
" Kenapa tidak memakai sendok saja sayang? Nanti bumbunya tumpah di baju bagai mana?"
" Aku maunya pakai garpu mas."
Arkan mengangguk saja, ia langsung menyuapi istrinya. Suci memakan rujak sambil tersenyum.
" Bagai mana rasanya?"
" Enak tau mas."
Arkan hanya menggeleng sambil tersenyum. Tidak lama Keyla dan Bagas datang habis menghadiri rapat. Mereka berdua hanya tersenyum saat melihat putranya sedang menyuapi rujak pada menantunya.
" Eh mama, papa sudah pulang."
Suci langsung berdiri, ia langsung mencium tangan mama mertuanya.
" Mama sama papa mau?"
Keyla dan Bagas hanya menggeleng pelan.
" Buat kamu saja sayang, biar lebih sehat."
Suci menggaruk kepalanya yang tertutup hijab dengan perasaan bingung karena melihat ke dua mertuanya menatapnya dengan mata yang berbinar dan senyuman lebar.
" Mama sama papa kenapa?"
" Tidak apa-apa sayang, Arkan nanti setelah menyuapi istri kamu ke kamar mama."
Bagas hanya menggeleng pelan masih dengan senyuman lebar.
__ADS_1
" Iya ma."
" Mama sama Papa ke kamar dulu iya sayang."
Keyla mengelus pucuk kepala menantunya seperti biasanya.
" Iya ma."
Arkan dan Suci menjawab sersmpak. Setelah mereka pergi Suci duduk lagi dengan perasaan bingung.
" Mama sama papa kenapa iya mas? Senyumannya aneh?"
" Mas juga tidak tau sayang, ayo lanjutkan langi makan rujaknya."
Arkan langsung menyodorkan lagi rujaknya. Suci hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Setelah habis setengah Suci sudah merasa kenyang.
" Mas sudah, aku sudah kenyang."
Arkan mengangguk pelan, ia langsung meletakan garpunya.
" Apa tidak ingin rujak yang lain lagi?"
" Tidak mas."
" Mas bayar dulu iya."
" Iya mas."
Arkan mencium kening istrinya sekilas, lalu ia langsung keluar dari rumahnya sambil membawa lembaran uang.
" Pak, semuanya berapa?"
" Semuanya 400ribu den."
" Oh ini pak, nanti jangan kapok iya kalau di suruh kesini lagi."
Tukang rujak itu memberikan lagi uang 600 ribunya pada Arkan.
" Itu untuk bapak saja, lagian dari pasar ke sini jauh pak, sampai 10 menit jalan kaki, apa lagi sambil dorong gerobak."
" Sudah biasa ko den, ini benar buat bapak?"
" Iya pak, terima kasih."
" Iya terima kasih kembali den."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung masuk lagi ke dalam rumahnya, ia melihat istrinya yang sudah berbaring di sofa, membuat Arkan sangat terkejut, ia langsung berdiri dengan menikal lututnya, tangannya mengelus lembut pipi istrinya.
" Sayang kamu kenapa? Apa kepalanya sakit lagi?"
" Iya mas kepalanya pusing, aku ingin tidur sebentar di sini boleh?"
" Tapi kalau di sini tidak nyaman, sayang memakai cadar, lebih baik di kamar saja iya?"
" Aku maunya di sini mas."
Arkan hanya menghela nafas berat, sepertinya istrinya itu sudah begitu sangat ngantuk, ia langsung mendorong mejanya menjauh dari istrinya, lalu langsung menarik bawah sofanya yang lebarnya seperti kasur untuk nonton telepisi.
" Sayang tidurnya jangan di sisi sofa iya?"
Arkan mengangkat kepala istrinya lalu langsung menumpuk dua bantal untuk kepala istrinya.
" Iya sudah sayang tidur."
" Iya mas. Mas lebih baik ke kamar mama, tadi mama menyuruh mas untuk ke kamarnya."
" Memang tidak apa-apa sayang di tinggal sendiri?"
__ADS_1
" Ini di rumah mas."
" Iya sudah mas ke kamar mama dulu."
Suci mengangguk pelan, matanya masih terpejam. Arkan mencium kening istrinya sekilas, lalu ia langsung berjalan ke arah life untuk ke kamar orang tuanya. Arkan sampai di depan pintu kamar orang tuanya, ia langsung mengetuk pintu.
Tok-tok.
" Masuk saja!"
Setelah mendengar teriakan dari mamanya Arkan langsung masuk ke kamar orang tuanya, ia langsung duduk di sofa yang sudah ada ke dua orang tuanya.
" Mama mennyuruh Arkan ke kamar ngapain?"
" Bagai mana keadaan Suci nak?"
" Masih tetap sama ma, tidak ada perubahan sedikit pun."
Arkan menghela nafas berat, mengingat kondisi istrinya yang masih seperti 2 bulan lalu. Keyla juga menghela nafas berat begitu pula dengan suaminya yang merasakan sesak di dada saat mendengar menantunya masih saja tidak ada perubahan. Kini Keyla fokus dengan pertanyaan pertamanya saat menyuruh putranya untuk ke kamar.
" Sayang, kapan istrimu datang bulan?"
Arkan hanya diam, ia mengingat kapan istrinya datang bulan.
" Sepertinya sudah telat 1 minggu ma."
" Yakin sayang?"
" Iya ma."
" Sepertinya istrimu hamil? Karena sudah 2 hari ini istrimu pingin rujak terus."
Keyla bertanya dengan mata yang berbinar. Kalau memang iya istrinya hamil, Arkan sangat senang, tapi ia tetap kuatir, ia takut kondisi istrinya semakin memburuk.
" Arkan tidak tau ma, tapi mama jangan senang dulu."
Arkan tidak ingin membuat mamanya kecewa karena asal menyimpulkan.
" Tapi mama yakin sayang, Suci itu seperti sedang hamil, kamu lebih baik suruh dokter Rina untuk memeriksanya."
" Suci selalu menolak ma, katanya percuma di priksa, lagian sudah tau kalau darahnya rendah."
" Iya sudah, kalau begitu biarkan saja, kamu cukup tanya sama istrimu kapan terakhir datang bulan, agar istrimu peka."
" Iya ma, iya sudah Arkan ke luar dulu."
" Iya nak."
Arkan keluar dari kamar orang tuanya, ia langsung mendekati istrinya yang masih terlelap di sofa. Arkan langsung mengangkat tubuh istrinya untuk ia bawa ke kamar. Setelah di kamar ia meletakan tubuh istrinya dengan perlahan, tapi ternyata istrinya tetep bangun juga.
" Mas menganggu aku tidur."
" Maaf sayang, kamu tidur lagi iya."
Arkan segera menepuk pelan punggung istrinya dengan masih berposisi duduk.
" Mas ko di tepuk terus setiap kali aku tidur?"
Selama menikah Arkan selalu menepuk pelan punggung istrinya saat istrinya akan tidur.
" Biar sayang selalu nyaman bersama mas."
" Aku selalu nyaman bersama mas."
Suci berbicara masih memejamkan mata karena masih ngantuk. Arkan mengangguk pelan.
" Iya sudah sayang tidur lagi."
__ADS_1
" Iya mas."