
Arkan memang tidak bisa melarang istrinya untuk tidak membuka toko dan menjual Gamis milik buatannya sendiri, apa lagi istrinya hanya menggambar di kertas, sedangkan yang membuatnya para karyawan, jadi mana mungkin ia melarang, karena itu pekerjaan yang di anggap ringan olehnya.
" Iya tetap saja kalau ada apa-apa dengan menantu kesayangan mama bagai mana?"
Arkan hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan, pikiranya bahkan di penuhi kata-kata dari dokter Rina, dan sekarang mamanya bertanya seperti itu.
" Ma, sudah dong jangan marah-marah sama mas Arkan, hati Uci sakit mendengarnya."
Arkan menatap ke arah wajah istrinya.
" Kamu tidak apa-apakan sayang?"
Suci menggeleng pelan. Keyla mengelus kepala menantunya yang terturup hijab.
" Maaf sayang, mama terbawa emosi."
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum. Keyla langsung duduk. Suci membantu suaminya pindah duduknya. Suci langsung mengambilkan makanan untuk suaminya.
" Sayang mas yang suapin iya?"
Suci mengangguk sambil tersenyum. Hadi mengambil tumis sayur bayam dan tumis buah bit.
" Mas aku tidak suka bit."
Memang semalam sebelum tidur Arkan menyuruh bi Ira untuk menyuruh bagian dapur untuk masak bayam dan buah bit untuk sarapan pagi.
" Tidak apa-apa, sayang harus di biasakan, yang penting tidak alergi, ini bagus untuk penambah darah kamu."
Suci mengangguk pasrah. Arkan langsung memimpin do'a makan seperti biasa, memang semejak istrinya mengatakan suruh memimpin do'a makan, hingga sekarang ia akan memimpin untuk membacakan do'a makan. Setelah itu menyuapi istrinya. Keyla yang baru menyadari ke dua tangan putranya seperti habis cakaran, ia langsung bertanya di sela-sela makannya.
" Itu tangan kamu kenapa sayang?"
Arkan beralih menatap mamanya dengan wajah yang sudah memerah malu, termasuk Suci juga sudah ikut malu. Bagas yang melihat ekspresi wajah putra tiri dan menantunya hanya tersenyum.
" Mama jangan di tanya, seperti tidak pernah muda saja."
" Mama walau pun pernah muda tidak pernah melakukan itu."
" Itu ma, aku yang mencengram tangannya mas Arkan hingga berdarah."
Suci dengan malu-malu, ia menjawab rasa penasaran dari mama mertuanya. Keyla sangat terkejut saat mendengar jawaban dari menantunya.
" Kenapa sayang? Memang sayang kesurupan?"
Keyla bertanya dengan perasaan bingung.
__ADS_1
" Kita."
Suci menghentikan pembicaraannya, ia malu dengan semua orang yang ada di meja makan.
" Mana ada kesurupan ma, menantu kita itu sholehah, jadi jangan ngada-ngada, menantu dan anak kita itu habis making love, ko di bilang kesurupan."
Bagas memang sangat peka dengan ekspresi wajah ke dua sijoli di depannya itu, ia juga pernah muda, saat malam pertama juga istrinya mencengkram kuat, bedanya istrinya itu di punggungnya, kalau putra tirinya itu di tangannya.
" Iya mana mama tau pa, walau pun mama pernah muda, saat malam pertama mama hanya mencengkram sprei."
Keyla berbicara sangat jujur tanpa tau malu ke pada orang yang ada di meja makan. Arkan hanya menggeleng pelan mendengar kejujuran dari sang mama. Sedangkan Suci hanya tersenyum meringis, ia malu sekali.
Indra menatap kaka tirinya dan Suci secara bergantian, ia bisa melihat di mata mereka berdua ada rasa cinta dari mereka berdua. Indra menghela nafas pelan, mungkin ini sudah saatnya untuk belajar mengikhlaskan Suci untuk kaka tirinya, karena ia sudah melihat kalau Suci juga mencintai kaka tirinya.
" Abang, Suci, semoga kalian selalu bahagia." batin Indra
Mereka selsai makan.
" Wah bentar lagi papa bakalan dapat cucu."
Bagas berbicara sambil tersenyum girang.
" Mama pikir kecapean karena pekerjaan, tidak taunya habis di garap."
Keyla berbicara sambil tersenyum, mengingat kejadian tadi yang mengomel tidak jelas pada putranya.
" Arkan tidak kasar ma, wajarlah namanya juga pertama, lagian darah Suci rendah, ia mudah capek."
Keyla mengangguk pelan, ada rasa kuatir di hatinya, kalau terus berlanjut itu akan berakibat patal dengan nyawanya, hingga ia menghela nafas berat.
" Sayang, harus mengomsumsi makan yang banyak menambah darah, tidak boleh di biarkan."
" Iya ma."
Arkan mengelus lembut kepala istrinya.
" Sudah jangan di pikirkan, semuanya tidak akan ada yang serius."
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum saat mendengar ucapan dari suaminya, ia memang tidak memikirkan itu, ia menyerahkan jiwa dan raganya pada ya rabbnya, apa pun yang di rencanakan ya rabbnya, ia percaya kalau rencana ya rabbnya terbaik dari pada rencana manusia sendiri.
Indra memutuskan untuk pindah, ia tidak mungkin terus di rumah ini, ia takut tidak bisa melupakan Suci, untuk itu ia lebih baik keluar dari rumah ini untuk menata kembali hatinya yang telah hancur.
" Pa, belikan Indra apartemen, Indra mau tinggal di apartemen."
" Kenapa sayang?"
__ADS_1
Sebelum Bagas menjawab Keyla terlebih dahulu bertanya pada putra tirinya.
" Tidak kenapa-kenapa ma, Indra hanya ingin terbiasa mandiri, agar seperti abang yang selalu hidup mandiri."
" Iya nak, nanti papa belikan setelah pulang dari kantor."
Bagas langsung menyetujui permintaan dari putranya, ia tau maksud dari putranya, mungkin putranya agar bisa melupakan Suci, bagai mana pun cinta putranya itu dari masa sekolah, jadi terlalu sulit untuk di lupakan kalau masih terhubung dengan orang yang di cintainya. Arkan yang mendengar permintaan dari adik tirinya, ia menghela nafas berat, ia tau maksud dari adik tirinya.
" Biar abang sama kaka ipar kamu saja yang pindah Dra."
Suci yang mendengar ucapan dari suaminya, ia akhirnya paham, mungkin Indra merasa tidak nyaman tinggal di sini, apa lagi melihat kemesraan ia dan suaminya.
" Tidak apa-apa bang, aku hanya ingin belajar dewasa, abang tidak perlu pindah, kasian mama kalau abang pindah, nanti mama tidak ada temannya, kalau abang di sini ada kaka ipar yang bisa buat ajak mama ngobrol."
" Kamu serius?"
" Iya bang, aku juga di luar negri 2 tahun baik-baik saja."
" Baiklah kalau seperti itu."
Keyla akhirnya menggerti maksud permintaan dari putra tirinya, ia hanya bisa menghela nafas berat saat salah satu dari putranya ada yang tersakiti.
" Maafin aku Indra, aku membuat kamu tidak nyaman." batin Suci
Suci memang menjadi merasa bersalah, saat itu juga ia merasa bersalah, di tambah lagi dengan Indra pindah, ia merasa lebih bersalah lagi.
" Ma, pa, Indra ke kamar dulu."
" Iya sayang."
Sedangkan Bagas hanya mengangguk pelan. Setelah Indra pergi kini Keyla menatap ke arah putranya.
" Jam berapa kake datang?"
" Katanya jam 2 ma."
" Terus sayang mau ke kantor?"
" Iya ma, ada meeting, sekitar 2 jam saja ko, nanti pulang lagi setelah selsai."
" Baiklah kalau seperti itu, mama sedikit cemas kalau tidak ada kamu, apa lagi dari awal kakemu itu tidak pernah setuju dengan pernikahanmu."
Memang kake Arkan tidak setuju saat Arkan meminta restu untuk menikahi Sulis, untuk itu kenapa kake Arkan tidak datang di hari pernikahannya.
" Tidak perlu cemas ma, semuanya akan baik-baik saja."
__ADS_1
Keyla mengangguk pelan. Sedangkan Suci mulai cemas saat mendengar ucapan dari mama mertuanya.
" Jadi itu alasan kake mas Arkan tidak datang? Lalu apa yang harus aku lakukan nanti?" batin Suci