
Jam sudah menujukan pukul 08.21WIB, tapi Suci masih saja tertidur pulas, bahkan sinar mata hari itu sudah masuk ke tirai tipisnya, hingga membuat Arkan menutup tirai tebalnya untuk membuat tidur istrinya nyaman.
Arkan terus saja menatap wajah istrinya yang tertidur pulas, ia sesekali tersenyum, selama ia menikah sudah 1 bulan lebih sehari, ini pertama kalinya ia melihat istrinya yang tidur hinggak pukul 08.21WIB, biasanya istrinya itu sehabis sholat tahujud hingga pagi tidak tidur lagi, tapi berbeda dengan sekarang yang tertidur pulas.
" Maafkan mas sayang."
Arkan mengecup ke dua mata istrinya, entah sudah berapa kali ia mengecup ke dua mata istrinya yang tertidur pulas. Arkan tersenyum saat melihat tangan istrinya yang meraba-raba lalu memeluk pinggangnya lagi, tadi Arkan memang meninggalkan istrinya untuk mandi, untuk menidurkan juniornya yang selalu saja bangun sendiri tanpa ada rangsangan, jadi tadi ia letakan guling sebentar untuk membuat istrinya nyaman.
Arkan hari ini juga tidak pergi ke kantor, bahkan berkas untuk meeting hari ini ia suruh pak Budi untuk mengantarkan ke apartemen Rangga. Suci masih saja tertidur nyaman, hingga suara ponsel suaminya membangunkan tidurnya. Arkan langsung mengambil ponselnya, ia melihat siapa yang menelponnya, ia langsung merijek panggilan telpon itu saat melihat nama yang tertera adalah Sulis.
" Ngapain nelpon aku?" batin Arkan
Bahkan Sulis menelponnya lagi, hingga Arkan langsung mematikan ponselnya, ia tidak mau di ganggu lagi oleh wanita yang sudah membuangnya seperti sampah, walau pun ia tidak tau alasan Sulis menelponnya untuk apa, tapi ia sudah tidak peduli lagi. Suci yang melihat suaminya merijek telponnya, ia langsung bertanya sambil mengucek matanya.
" Siapa yang telpon sepagi ini mas?"
Suci pikir masih pagi, karena kamar itu masih gelap dan lampu tidur masih menyala. Arkan tersenyum saat melihat istrinya yang sudah bangun.
" Maaf mas lupa men-silent ponsel mas, jadi tidur sayang terganggu, mau tidur lagi tidak?"
Arkan mengelus lembut pucuk kepala istrinya.
" Siapa yang telpon mas?"
Suci masih penasaran, melihat raut wajah kesal suaminya, ia yakin kalau yang menelpon itu memiliki masalah dengan suaminya.
" Itu Sinta sayang, sekretaris mas."
Suci mengangguk saja, walau pun ia tidak percaya kalau yang menelpon adalah sekretaris suaminya.
" Sayang mau tidur lagi?"
" Memang mas tidak pergi ke kantor?"
__ADS_1
" Tidak sayang."
Arkan langsung mengecup bibir istrinya sekilas sambil tersenyum.
" Ih mas, aku belum cuci muka."
Wajah Suci memerah, ia malu bangun tidur sudah di beri ciuman oleh suaminya.
" Memangnya kalau belum cuci muka ada larangan? Tidak ada'kan sayang? Yang penting kita sudah halal."
" Ih tapi masih bau tau mas."
" Sayang sama sekali tidak bau, bahkan aroma tubuh sayang itu selalu membuat mas nyaman. Sayang, mas minta maaf atas kesalahan semalam yang sudah membuatmu menangis dan tidak mau mendengar penjelasanmu terlebih dahulu."
Arkan masih mengelus lembut pucuk kepala istrinya, sedangkan tangan kirinya untuk menyanggah kepalanya.
" Mas tidak marah lagi sama aku?"
" Ya Allah, terima kasih sudah memberikan hamba seorang istri yang begitu sempurna dalam ahlak mau pun fisiknya." batin Arkan
" Ngapain mas harus marah sayang, apa kamu tidak marah sama mas karena sudah membuatmu menangis semalaman?"
Suci menggeleng pelan, ia sama sekali tidak marah sama suaminya, bahkan semalam juga ia tidak marah, ia hanya kecewa pada suaminya semalam.
" Jadi mas sudah tau siapa mas Rey?"
" Sudah, sayang semalam sudah menjelaskan semuanya, mas mendengar semua penjelasan kamu, maafkan mas karena mas masih bersikap kanak-kanakan, seharusnya yang bersikap kanak-kanakan itu kamu, yang memang usia kita berbeda 9 tahun, tapi kamu selalu berpikir dewasa, sekali lagi maafkan mas, sayang."
Suci mengangguk sambil tersenyum, ia tau kalau berumah tangga itu tidak selalu mulus, pasti akan selalu ada ujian untuk memperkuat rumah tangganya.
" Apa mas cemburu?"
Jujur saja Suci sebenarnya tidak enak hati bertanya seperti itu, tapi ia masih bingung dengan sifat suaminya, walau pun sudah mengenalnya 1 bulan, tapi ia masih belum mengenali sifat asli suaminya.
__ADS_1
" Iya mas cemburu, maaf."
" Mas jangan pernah cemburu lagi, karena bukan hanya aku yang tersakiti, tapi hati mas juga tersakiti, aku tidak pernah ridho kalau hati dan fisik mas tersakiti oleh masalahku."
Mata Arkan memerah saat mendengar ucapan dari istrinya, ia tidak pernah menyangka, lagi-lagi istrinya lebih mementingkan ia tidak tersakiti dari pada hatinya sendiri yang sudah tersakiti oleh ia.
" Sayang, kenapa kamu memiliki hati yang begitu sabar? Terbuat dari apa hati kamu? Hingga selalu saja mementingkan mas?"
" Karena aku cinta dan sayang sama mas, kalau dulu mungkin aku tidak ingin diriku merasa bersalah, tapi kali ini aku mencintai mas dan menyayangi mas karena Allah." batin Suci
Sayang ucapan Suci hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya, ia masih terlalu takut kalau nanti suaminya belum mencintainya seutuhnya, ia takut kalau di hati suaminya masih tertulis nama kakanya, ia hanya berusaha menjadi yang terbaik agar cintanya tidak sebelah pihak.
" Di setiap rumah tangga harus ada yang mengalah mas, kalau kita ingin mempertahankan rumah tangga kita, kalau mas egois, tentu aku tidak boleh egois juga, karena akan membuat retak rumah tangga kita kalau sama-sama memiliki sifat egois, aku hanya ingin selalu menjadi istri yang baik, walau pun mungkin masih banyak kekurangan dari diriku, tapi aku hanya bisa belajar dan berusaha mas."
Arkan mengangguk pelan, ia bingung dengan jawaban istrinya yang selalu saja menyentuh hatinya, dari awal pertemuannya di rumah Bunda istrinya, istrinya selalu saja berpikir dewasa dan sabar, bahkan kata-kata istrinya mampu membuat ia menjadi seperti anak remaja yang masih butuh bimbingan, seharusnya seorang suami yang membimbing istrinya, tapi kini seorang istri yang terus membimbing suaminya.
" Mas malu sama kamu sayang, mas merasa seperti anak remaja yang selalu membutuh bimbingan, maafin mas, seharusnya yang membimbingmu itu mas, mas memang seorang suami, tapi mas gagal untuk membimbingmu, melainkan sebaliknya, kamu yang selalu membimbing mas, kamu yang selalu menasehati mas."
" Jangan malu, mas adalah suami terbaik bagiku."
Arkan tersenyum mendengar ucapan dari istrinya. Suci langsung melirik ke arah jam di sebelah mejanya, ia sangat terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukan pukul 09.11WIB
" Mas, ini sudah siang, aku belum bikin sarapan buat mas."
Suci tersenyum meringis, ia malu, ia pikir masih pagi, karena masih gelap, tapi ternyata suaminya yang menutup tirai tebalnya.
" Hari ini sayang tidak perlu buat sarapan untuk mas, hari ini mas akan di rumah untuk menamani sayang kemana pun yang sayang inginkan."
" Mas benaran tidak pergi ke kantor?"
" Tidak sayang."
Arkan bisa melihat senyuman ceriah dari istrinya, ia tidak menyangka kalau hanya tidak pergi ke kantor saja membuat istrinya bahagia.
__ADS_1