Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 107 Menginginkan hingga merajuk


__ADS_3

Sudah 5 hari Arkan dan istrinya tinggal di rumah kakeknya. 5 hari juga Suci tidak perah bertanya tentang orang tuanya pada suaminya, dan sama sekali tidak penasaran tentang orang tuanya.


Bagi Suci selama ia bisa selalu bersama suaminya, ia sangat bahagia.


Sekarang Suci sedang ada di taman bersama suaminya. Suci sedang memakan buah apel yang di suapi oleh suaminya, bahkan apel itu mendadak metik dari pohonnya oleh suaminya.


"Mas, boleh aku bertanya?"


Arkan yang mendengar pertanyaan dari istrinya, ia hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Memangnya mas bekerja apa? Kenapa selama 5 hari ini mas hanya di rumah saja?"


"Memangnya istri mas ingin tau pekerjaan mas?"


Suci mengangguk pelan sambil terus saja mengunyah apel.


Arkan tersenyum lebar sambil mengelus pelan kepala istrinya dengan tangan kirinya.


"Mas memiliki perusahaan yang mas bangun sendiri namanya Xien Grup, tapi di urus oleh Ikbal, mas hanya ingin fokus untuk mengurus sayang."


Suci langsung mengacungkan ke dua jempolnya pada suaminya.


"Ternyata mas benar-bebar hebat! Mas bukan hanya tampan, tapi mas juga pintar."


Arkan semakin tersenyum lebar saat mendengar pujian dari istrinya.


"Memangnya menurut sayang mas tampan?"


"Mas memang sangat tampan."


Arkan masih terus saja tersenyum lebar, ia mencium kening istrinya sekilas lalu langsung menyuapi istrinya lagi.


"Sayang, betah di sini?"


"Aku betah di mana pun juga mas, asalkan aku bisa bersama mas, hanya saja aku merasa tidak nyaman saat tidak bisa mengingat apa pun di masa lalu kita."


"Jangan coba mengingat sayang, dan jika sudah ingat, tetaplah tersenyum seperti ini sayang, mas hanya ingin selalu melihat senyumanmu, bukan air matamu."


Suci mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Mas, sudah kenyang."


"Iya sudah, kalau sudah kenyang."

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel Arkan bergetar.


Dret... Dret...


Arkan langsung mengambil ponselnya di saku celananya, di sana menampilkan nama ibu mertuanya hingga membuat Arkan menghela nafas berat.


Memang dari kemarin ibu mertuanya terus saja menelpon Arkan, tapi Arkan sama sekali tidak mengangkat telponnya, begitu pun dengan Sulis yang menelponnya, ia tidak mengangkat telponnya, terkecuali yang menelpon adalah Reyhan, ia akan mengangkat telpon itu.


Arkan langsung merijek telpon dari ibu mertuanya, lalu langsung memasukan kembali ponselnya di dalam saku celananya.


"Mas, siapa yang telpon? Kenapa di rizek mas?"


"Oh itu Sinta sekretaris mas dari Wijaya Grup."


"Mungkin mau bahas pekerjaan mas, angkat saja kasian kalau di abaikan."


"Di sana juga ada Kania dan Rangga yang mengurus perusahaan sayang, jadi biarkan saja, ayo masuk di sini cuacanya sudah panas."


Arkan langsung memakaikan cadar istrinya, lalu ia langsung menggendong istrinya sambil tangan kanannya membawa piring buah bekas makan istrinya.


Arkan membawa istrinya masuk ke dalam rumah, lalu langsung meletakan piring itu di ruang keluarga, setelah itu ia langsung menaiki tangga untuk ke kamarnya.


Suci hanya tersenyum saja, ia sangat senang saat lagi-lagi di perlakukan layaknya seperti seorang ratu oleh suaminya.


"Mas."


"Iya sayamg."


"Boleh tidak aku minta ini?"


Suci berbicara sambil mengusap lembut bibir suaminya, ia memang dari 3 hari yang lalu menginginkan berciuman dengan suaminya, tapi rasa malunya lebih besar dari keinginannya.


"Tentu saja boleh sayang, kamu istri mas, tidak perlu minta ijin sama mas."


Suci menggangguk pelan saat mendengar jawaban dari suaminya.


Arkan langsung duduk di samping ranjang, ia langsung mencium bibir istrinya perlahan.


Suci membuka lebar mulutnya dan tangan kanannya sudah membuka kancing kemeja suaminya satu-persatu.


Suci juga membalas ciuman dari suaminya dengan sangat kasar, sesekali ia menggigit bibir suaminya yang menurut ia menggemaskan, bibir tipis suaminya selalu membuat ia menelan ludahnya sediri hingga sekarang ia bisa merasakan betapa nikmatnya merasakan bibir suaminya.


Walau pun istrinya masih hilang ingatan, tapi Arkan merasakan bahagia dan menikmati permainan istrinya.

__ADS_1


Permainan yang menurut Arkan seperti awal kehamilan istrinya yang selalu mengigit bibirnya dengan kasar hingga membuat bibirnya bengkak.


Napas ke duanya sudah memburu, membuat Arkan melepaskan ciumannya, lalu langsung mencium kening istrinya untuk mengahiri ciumannya.


Arkan mengusap lembut bibir istrinya yang basah dan bisa ia lihat kalau istrinya menginginkan sesuatu yang lebih dari ciuman.


"Apa sayang mau?"


Saat mendengar pertanyaan dari suaminya, ia mengangguk pelan dengan wajah yang memerah karena malu, apa lagi saat melihat suaminya yang masih bisa mengontrol birahinya tidak seperti ia, membuat rasa malunya semakin besar.


Arkan menghela nafas berat, ia langsung mengambil ponselnya, lalu langsung menanyakan pada google tentang berhubungan tanpa menyakiti janinnya, karena lupa tidak menanyakan pada dokter Parah saat di priksa.


Suci yang melihat suaminya memainkan ponsel ia mengerutkan keningnya, lalu beberapa detik kemudian ia langsung membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya yang masih sibuk memainkan ponselnya, ia merasa sangat kecewa pada suaminya.


"Mas tidak perhatian banget, tadi nawarin, tapi bukannya melakukan jima, mas sibuk main ponsel." batin Suci


Arkan masih fokus pada ponselnya hingga sekitar 5 menit ia sudah membaca semua di google.


Arkan langsung meletakan ponselnya di meja, lalu ia langsung melihat ke arah istrinya yang sedang membaringkan tubuhnya membelakangi ia, membuat ia menggelengkan kepalanya pelan, walau pun hilang ingatan istrinya masih tetep sama saat merajuk membelakangi ia.


Arkan langsung turun dari ranjang, lalu berjalan ke arah pintu untuk mengunci pintu kamarnya dan menyalakan ruangan kedap suara.


Suci yang merasa suaminya turun dari ranjang ia hanya menghela nafas berat, ia merasa kalau suaminya itu tidak peka, bukan di bujuk, tapi suaminya turun dari ranjang.


Arkan langsung melepaskan baju kemejanya yang sudah di buka kancingnya oleh istrinya, lalu ia langsung menaiki ranjang, ia langsung membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Sayang kenapa merajuk? Mas tadi bukan mengabaikan sayang, sayang itu sedang hamil muda, saat itu mas lupa bertanya pada dokter Parah, jadi mas tadi membaca cara untuk jima di google, mas tidak mau sampai salah malukan posisi, mas tidak ingin membahayakan dede."


Arkan berbicara di telinga istrinya. Arkan menghela nafas berat saat istrinya diam membisu tanpa mau menjawab ucapannya.


"Sayang, jangan abaikan mas, nanti dedenya marah loh sama sayang karena telah mengabaikan Ayahnya."


Lagi-lagi Arkan tidak mendengar jawaban dari istrinya.


Arkan langsung menciumi pipi istrinya yang sedang memejamkan mata dari belakang, ia tau istrinya itu tidak tidur, melainkan sedang merajuk.


Arkan terus saja menciumi istrinya hingga pindah ke leher belakang dan leher depan, tidak lupa ia juga memberikan tanda kepemilikan pada leher istrinya.


Suci yang awalnya terus memejamkan mata, ia merasa sudah tidak tahan karena terus saja di rayu oleh suaminya dengan cumbuan hingga membangunkan gairahnya yang sempat hilang karena di abaikan oleh suaminya.


"Mas, hhhmmm..."


Arkan tersenyum lebar saat mendengar panggilan dari istrinya, ia tau kalau istrinya itu sedang menginginkannya.

__ADS_1


Arkan dengan perlahan melepaskan baju istrinya hingga ia memulai aksinya di pagi hari dengan perlahan yang penting tidak menyakiti janin istrinya.


__ADS_2