
Setelah sarapan pagi, Arkan memutuskan untuk ke kamar adik tirinya, ia tidak ingin adik tirinya membencinya, ia hanya ingin mengatakan kalau ia juga mencintai Suci bukan Sulis, ia tidak mau adik tirinya marah karena hubungan di masa lalunya bersama Sulis. Arkan langsung mengetuk pintu adik tirinya.
Tok-tok.
Tidak lama Indra membuka pintu kamar dengan tangan yang masih mengucek matanya, ia memang baru bangun, karena ucapan kamarin oleh Suci membuat ia tidak bisa tidur, hingga ia tidur pukul 06.00WIB.
" Abang."
" Boleh abang masuk?"
" Silahkan bang."
Indra memberi jalan untuk kaka tirinya masuk. Arkan masih duduk di kursi roda, sedangkan Indra duduk di tepi ranjang.
" Ada apa bang? Tumben abang ke kamar aku?"
" Abang cuma mau bilang sama kamu, abang minta kamu berusaha menghapus perasaan cintamu pada kaka iparmu."
Indra mengerutkan keningnya, ia bingung kenapa kaka tirinya tau kalau ia masih mencintai Suci? Bukan'kah Indra sudah mengatakan tidak kenal dekat?
" Maksud abang apa?"
" Abang tau nama Suci yang di cintai sama kamu di masa lalu itu adalah Suci istri abang, abang tau dulu Suci pernah terjun bebas ke dunia malam, karena saat kejadian malam itu, abang yang menolong Suci dari ke tiga sahabatmu."
Indra sangat terkejut saat mengdengar ucapan dari kaka tirinya, ia tidak menyangka kalau yang menolong Suci adalah kaka tirinya.
" Apa abang tidak memikiran hati Suci? Kenapa abang melakukan segala cara untuk mendapatkan perusahaan milik papa kandung abang? Apa abang tidak pernah berpikir kalau abang menyakiti hati Suci dengan keputusan abang? Abang mencintai Sulis, tapi abang menikah Suci."
" Abang tidak pernah sedikit pun berpikir untuk menyakiti hati Suci, abang memang bisa kehilangan perusahaan peninggalan papa, tapi abang tidak bisa kehilangan Suci."
" Abang mencintai Suci?"
__ADS_1
" Abang mencintai Suci dari awal pertemuan kita."
Indra menggeleng pelan saat mendengar jawaban dari kaka tirinya, ia tidak percaya kalau kaka tirinya itu mencintai Suci di pertemuan pertama, mengingat kaka tirinya pernah menjalin hubungan bersama Sulis, dan menurutnya mungkin kalau saja kaka tirinya tidak lumpuh, bukan Suci yang di nikahi oleh kaka tirinya melainkan Sulis.
" Abang pasti bohongin aku? Jelas-jelas yang akan abang nikahi itu Sulis, bukan Suci."
" Abang serius cinta sama Suci, bukan karena abang tidak ingin memperjuangkan cinta abang pada Suci, tapi kamu tau sendiri usia abang dan Suci berbeda 9 tahun, jadi abang minder dan malu padanya."
Indra menatap intens mata kaka tirinya, ia berharap ucapan dari kaka tirinya itu benar adanya, ia memang melihat kalau kaka tirinya memang mencintai Suci, tapi ia tidak menjamin kalau kaka tirinya itu tidak akan menyakiti hati Suci.
" Abang yakin mencintai Suci?"
" Abang yakin dan seyakin-yakinnya. Bahkan selama 3 tahun ini abang tidak pernah melupakan wajah Suci."
" Lalu bagai mana abang bisa memiliki hubungan dengan Sulis di masa lalu?"
" Sulis adalah satu-satunya orang yang sedikit ada kemiripan dengan wajah Suci, tapi abang tidak pernah tau kalau ternyata Sulis itu kaka dari Suci, karena selama abang main ke rumah Sulis, abang tidak pernah bertemu dengan Suci, bahkan di rumahnya tidak ada foto keluarga, itu kenapa abang tidak tau kalau Sulis kaka dari Suci. Indra, abang serius mencintai Suci, abang tidak mau kamu membenci abang cuma karena wanita. Abang tidak pernah meminta apa pun selama ini, abang hanya minta kamu hapus perasaan cintamu pada Suci, dan anggaplah Suci sebagai kaka iparmu."
Indra langsung memegang tangan kiri kaka tirinya sambil tersenyum.
Arkan juga menepuk tangan adik tirinya yang sedang memegang tangan kirinya.
" Pasti abang akan lakukan itu Indra, tanpa kamu meminta abang hanya menganggap Sulis sebagai kaka ipar abang, kalau saja abang tidak menganggap Sulis sebagai kaka ipar abang, mungkin abang sudah membuat Sulis kehilangan posisi sebagai model terpopuler, atau bisa jadi sudah abang pecat."
" Baik bang, semoga abang tidak ingkar janji."
Arkan mengangguk sambil tersenyum, bisa ia lihat kalau adik tirinya itu tidak sepenuhnya percaya, tapi bagi ia tidak apa, biar waktu yang akan membuktikan kalau ia tulus mencintai Suci.
" Iya sudah abang keluar dulu."
" Iya bang."
__ADS_1
Arkan langsung keluar dari kamar Indra, ia masuk ke kamar lagi, karena hari ini memang ia menunggu istrinya untuk di kenalkan pada supir barunya yang memang sudah datang sekitar 1 jam yang lalu. Bahkan tadi Arkan juga sudah menujukan kamar yang akan di tempati oleh Saras, kalau misalnya Saras bolak-balik membawa motor, itu akan membuat Saras banyak mengeluarkan biyaya, jadi ia menyuruh Saras untuk tinggal di rumahnya saja.
" Uci kamu baru beres mandi?"
Arkan menelan ludahnya sendiri saat melihat istrinya yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimino, memang handuk yang di pakai istrinya itu memakai lengan panjang, tapi menampilkan belahan dadanya dan betis kecilnya. Memang selama menikah Arkan belum pernah melihat istrinya memakai celana pendek, atau baju tidur dress yang di gunakan wanita pada umumnya, istrinya itu selalu memakai baju tidur panjang.
" Kenapa mas menatap aku seperti itu?"
Arkan yang di tanya istrinya, ia menggeleng pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Tidak, mas nunggu kamu dari tadi di luar, mas pikir kamu sedang memakai make up, tapi tidak taunya kamu mandi lagi."
" Iya mas, biasanya aku mandi dua kali kalau pagi, sebelum adzan subuh dan setelah sarapan."
" Iya sudah sana ganti bajumu."
" Iya mas."
Suci langsung berjalan ke arah ruang ganti. Arkan memegang dadanya sendiri, dan wajahnya sudah yakin pasti memerah, ia tidak pernah percaya kalau hanya menatap istrinya berpakaian seperti itu saja sudah tergoda, seumur hidupnya, ia sama sekali tidak pernah tergoda dengan wanita yang berpakaian seksi, tapi kali ini hanya begitu saja tergoda.
Arkan bersyukur istrinya langsung pergi ke ruangan ganti, kalau tidak, mungkin istrinya sudah melihat wajahnya yang memerah, dan ia yakin kalau istrinya akan menggodanya seperti kemarin sore.
" Kalau terus melihat Suci berpakain seperti itu, aku tidak yakin bisa terus menahan diriku yang ingin melakukannya saat Suci juga mencintaiku." batin Arkan
Arkan menghela nafas berat, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Suci selsai memakai Gamis, ia juga sudah berpakain rapih memakai cadarnya.
" Uci."
" Iya mas."
" Kamu tidak pakai make up seperti wanita pada umumnya kalau mau keluar rumah?"
__ADS_1
" Tidak mas, aku juga pakai cadar, dan wajah yang aku rias, cukup malam saja saat kita akan tidur, karena membuat suami lebih nyaman pada istrinya itu lebih penting."
Arkan mengangguk pelan.