Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 83 Tau dari Rangga


__ADS_3

Indra memutuskan untuk tidak menceritakan tentang berita itu, apa lagi saat tau Suci sedang hamil, jadi ia mengurungkan niatnya.


Indra langsung duduk di sofa samping papanya.


"Wah berarti aku tidak ketinggalan kabar bahagia dong."


"Kamu tadi marah-marah sama abang maksudnya apa?"


Arkan langsung duduk lagi, ia menatap mata adik tirinya dengan tatapan tajam, enak sekali sehabis membentaknya sekarang adik tirinya seolah-olah tidak ada yang terjadi apa-apa.


"Sudah di periksa dokter kandungan bang?"


Indra tidak menjawab pertanyaan dari kaka tirinya, melainkan ia bertanya balik dengan kaka tirinya.


Arkan menghela nafas kasar saat mendengar pertanyaan dari adik tirinya, seharusnya adik tirinya itu menjawab pertanyaannya bukan bertanya balik.


"Mungkin lusa, kasihan Suci habis perjalanan jauh."


Indra hanya mengangguk pelan.


"Lalu bagai mana dengan kuliah Suci nanti bang?"


"Itu terserah Suci, mau masuk kuliah atau belajar dari rumah."


Mereka semua mulai berbicang-bincang ringan sambil menunggu mengantuk dan sesekali mereka juga teetawa pelan saat ada obrolan yang lucu.


ke dua orang tua Arkan mau pun Indra tidak menceritakan perihal berita yang beredar, mereka membiarkan Arkan untuk mengetahuinyan sendiri, karena sekarang sedang ada Suci, jadi mereka tidak ingin Suci menjadi stres karena memikirkan tentang berita itu.


"Sudah ajak istrimu tidur, kasian dia sudah capek."


"Iya ma."


Arkan langsung berdiri dari duduknya, ia langsung menggendong istrinya, lalu langsung memasuki life untuk ke kamar.


Setelah kepergian Arkan dan istrinya Indra melihat ke arah orang tuanya secara bergantian.


"Mama sama papa belum menceritakan berita yang beredar?"


"Belum, lagian kalau pun Arkan mengaktifkan ponselnya, Arkan pasti sudah di telpon oleh salah satu sahabatnya, jadi kita tidak perlu cerita, apa lagi ada Suci nak, Suci sedang mengandung dan selalu memiliki darah rendah, mama takut kalau Suci stres memikirkan hal itu."


"Baiklah ma."


Indra hanya bisa pasrah, walau pun hatinya sudah kesal.


Arkan sampai di kamar, ia langsung melatakan tubuh istrinya di atas ranjang, tiba-tiba saja ponsel pribadi ia bergetar, sedangkan ponsel yang untuk umum Arkan masih belum mengaktifkan ponselnya.

__ADS_1


Dret... Dret...


Arkan langsung mengambil ponselnya di meja, ia melihat nama siapa yang menelponnya.


"Ada apa Rangga telpon malam-malam?.Tidak biasanya Rangga telpon, tidak mungkin masalah pekerjaan."


Setelah mengatakan itu Arkan langsung mengangkat telpon dari Rangga.


"Lo ada apa telpon gue malam-malam begini?"


"Gue cuma mau tanya kenapa lo masih belum konfimasi berita yang beredar di akun gosip? Apa lagi sekarang sudah bertambah satu beritanya."


"Iya elah biarkan saja, gue tidak perduli tentang itu."


"Lo gila iya Arkan? Istri lo di pojokin sebagai orang ke tiga di hubungan lo dan Sulis, tapi lo dengan santainya menganggap biarkan saja? Lalu ada salah satu akun gosip lagi tadi sore yang mengatakan kalau lo menikahi Suci hanya untuk mempertahankan Wijaya Grup, tapi yang sudah viral menganggap Suci sebagai orang ke tiga, dan tentang lo menikahi Suci untuk mendapatkan Wijaya Grup, berita itu baru di tonton oleh 10ribu orang."


Arkan menghela nafas berat saat mendengar penjelasan panjang lebar dari Rangga, ia pikir karena masalah unggahan fotonya di Instagram, tapi nyatanya bukan masalah yang bisa di anggap sepele, ia kalah satu langkah lebih dulu oleh orang lain yang bertindak lebih dulu.


"Sayang bentar iya mas mau berbicara pekerjaan sama Rangga."


Arkan berbicara sambil mengelus pelan pucuk kepala istrinya.


"Iya mas."


Setelah di ruangan kerja, Arkan langsung membuka laptopnya sambil ponselnya masih di telinganya, ia melihat berita yang sedang beredar sekarang.


"Tolong cari tau siapa yang awal mengunggah berita itu, kalau masalah berita ke dua, aku yakin yang membayar akun gosip adalah sepupu tiriku, tapi kamu langsung meminta Raka suruh hapus berita yang ke dua."


"Baik kalau begitu, apa berita pertama tidak perlu di hapus?"


"Tidak perlu, lo cari tau siapa yang pertama mengunggah tentang hubungan gue bersama Sulis, setelah itu kita langsung kasih pukulan dengan menuntut akun gosip itu sebagai contoh untuk yang lainnya, dan cari tau juga dari mana dia mendapatkan berita tentang hubungan gue bersama Sulis."


Arkan menghela nafas berat.


"Tumben lo peduli sama berita jelek sampai ingin menuntut akun gosip juga? Biasanya lo cuma akan cari tau dalang yang membayar akun gosip"


"Ini menyangkut kesehatan Suci, kalau saja Suci sehat seperti wanita lainnya, gue akan selalu berpikir tenang."


"Istri lo sakit apa?"


"Hanya darah rendah, tapi gue tetap menganggap kalau darah rendah adalah hal yang beresiko."


"Jelas itu sangat berbahaya Arkan, iya sudah gue tutup dulu."


"Oke, terima kasih informasinya."

__ADS_1


"Sama-sama."


Arkan langsung mematikan sambungan telponnya, ia langsung menutup laptopnya, lalu langsung keluar dari ruangan kerjanya.


Saat keluar Arkan sangat terkejut saat istrinya sudah menangis sambil mencengkram kuat baju tidurnya sendiri.


"Aku bukan orang ke tiga! Aku juga tidak pernah mengganggu hubungan orang lain! Apa lagi kaka kandungku sendiri! Hiks... Hiks..."


Arkan baru pertama kali melihat istrinya berbicara dengan suara yang tinggi bukan karena terkejut, saat itu memang pernah sekali mendengar suara istrinya yang meninggi karena terkejut masala lingri.


Arkan langsung menangkup ke dua pipi istrinya sambil duduk di ranjang.


"Kenapa sayang?"


Suci masih tetap menangis sambil tangan kanannya memberikan ponsel miliknya pada suaminya.


Arkan langsung mengambil ponsel yang di serahkan istrinya, ternyata istrinya membaca berita yang menjelekan dirinya. Arkan langsung menarik istrinya dalam pelukannya dan menepuk pelan punggung istrinya.


"Kamu bukan orang ke tiga sayang, kamu yang menerima mas dengan sepenuh hati saat kaki mas masih lumpuh, jangan terlalu di pikirkan, mas sudah menyuruh Rangga untuk mencari tau siapa dalang dari berita itu, kamu jangan menangis, jangan terlalu di pikirkan, kasian anak kita kalau Bundanya sedih, nanti anak kita ikut sedih."


Arkan bisa memahami sifat istrinya yang biasanya selalu tegar, mungkin karena bawaan bayi juga istrinya menjadi cengeng.


Suci mengangguk pelan, ia langsung membalas pelukan dari suaminya dengan sangat erat.


Arkan menghela nafas berat, ia lupa, seharusnya tadi mengambil ponsel istrinya untuk melarang istrinya bermain ponsel, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Mas aku ngantuk."


Suci langsung melepaskan pelukannya.


"Iya sayang."


Arkan langsung menumpuk ke dua bantal, lalu menidurkan istrinya, ia juga ikut berbaring dengan menyanggah kepalanya memakai tangan kirinya.


"Baca do'a dulu sayang."


"Iya mas."


Suci membaca do'a tidur, setelah selsai ia memiringkan tubuhnya untuk memeluk suaminya.


Arkan langsung mencium kening istrinya, lalu menepuk pelan punggung istrinya sambil membacakan surat Ar Rahman, ia tau kalau surat Ar Rahman adalah surat yang bagus untuk wanita hamil.


"Nak, kelak kamu harus menjadi seperti Ayah, yang tidak memiliki sifat cacat sedikit pun." batin Suci


Suci sangat terharu dengan perlakuan suaminya yang selalu membuatnya kagum pada sifat suaminya, suaminya selalu membuatnya nyaman dalam hal apa pun yang selalu membuatnya lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2