Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 43 Selalu memberi semangat


__ADS_3

Sudah 3 minggu pernikan Suci dan Arkan, dan 3 minggu pula Arkan dan Suci masih belum melakukan malam pertamanya. Suci sedang duduk di atas ranjng, matanya sedang sibuk membalas pesan cht dari orang yang akan membeli Gamisnya.


Memang sudah 10 hari Suci di sibukan dengan toko yang di belikan suaminya, bahkan ia juga sudah bekerja sama dengan perusahaan Ardiansah Grup, tapi ia tetap ingat kebawajibannya sebagai seorang istri, ia akan pulang pukul 15.00WIB dari tokonya, sedangkan suaminya pulang tidak menentu kadang-kadang sore, kadang-kadang juga malam, seperti malam ini suaminya baru pulang pukul 20.32WIB, bahkan sekarang suaminya sedang mandi.


Tidak lama Arkan keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap seperti biasanya, memang Arkan selama ini tidak pernah telanjang dada di depan istrinya, ia menghampiri ranjang. Suci yang melihat suaminya datang, ia langsung meletakan ponselnya, lalu langsung membantu suaminya untuk pindah ke atas ranjang. Arkan duduk sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


Arkan menepuk pelan pahanya, menandakan kalau ia menyuruh istrinya untuk membaringkan tubuhnya. Suci tersenyum saat melihat suaminya menyuruhnya untuk rebahan, ia rebahan dengan kepala yang ia sandarkan di paha suaminya sambil ke dua tangannya memegang tangan kanan suaminya. Sudah 1 minggu ini Suci merasa kalau suaminya itu terlihat lebih tampan dan mempesona, mungkin rasa cintanya sudah mulai tumbuh, atau mungkin karena terbiasa sering melihat wajah suaminya, yang jelas di hati Suci sudah mulai menghilang rasa cintanya pada Gus Ali, ia bukan hanya berbicara ikhlas di mulut, tapi ia sudah benar-benar mengikhlaskan. Tangan kiri Arkan mengelus lembut kepala istrinya


" Maaf iya Uci, mas pulang malam terus akhir-akhir ini, mas sibuk sekali di kantor."


" Tidak apa-apa mas. Mas, aku boleh tanya?"


" Boleh, tanya apa?"


" Memang mas tidak sedang menjalankan terapi?"


" Tidak Uci, kenapa? Kamu terganggu dengan kaki mas?"


Suci menggeleng pelan, ia tidak terganggu sama sekali, ia hanya penasaran sudah 3 minggu menikah, tapi suaminya selalu sibuk bekerja saja, bahkan saat hari sabtu dan minggu suaminya masih harus melihat perusahaan ke duanya yaitu Xien Grup.


" Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu?"


" Tidak ada mas, aku hanya penasaran saja. Mas."


" Iya."


Arkan menatap wajah serius yang di tampilkan istrinya.


" Kapan mas ngajak aku jalan? Aku bosan di rumah dan di toko terus."


" Memang kamu mau jalan-jalan ke mana Uci?"

__ADS_1


" Mau ke laut biru mas."


Arkan menghela nafas berat, ia juga sebenarnya ingin sekali mengajak istrinya liburan, bukan hanya sekedar jalan-jalan di sini, tapi dengan kondisi ia seperti ini, ia takut kalau istrinya nanti malu, terlebih tiga hari yang lalu istrinya menanda tangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Ardiansah Grup, yang mengambil empat produk Gamis untuk ia pamerkan di kalangan bisnisnya, karena Ardiansah Grup adalah perusahaan baju muslimah, hanya saja ia tidak memproduksi produk sendiri, melainkan mengambil dari orang lain.


Suci yang melihat helangan nafas suaminya, ia menjadi lesu, karena semenjak masuk kepasantren ia belum pernah lagi pergi ke laut biru. Laut biru adalah tempat ia jalan-jalan bersama Ayahnya, jadi Suci biasanya setiap satu minggu sekali akan berkunjung ke sana, tapi semenjak masuk pesantren, ia belum pernah lagi ke sana.


" Iya sudah kalau mas tidak mau."


" Kamu bisa pergi bersama Saras, Uci."


Suci menggeleng pelan, ia langsung melingkarkan ke dua tangannya ke pinggang suaminya, dan kepalanya ia sembunyikan di perut suaminya, itu kebiasaan ia selama beberapa hari ini. Arkan hanya tersenyum menatap istrinya sambil masih mengelus lembut kepala istrinya.


" Kamu tidur gih Uci, sekarang sudah malam."


Suci mendongkakan kepalanya saat suaminya menyuruhnya untuk tidur.


" Mas sudah ngantuk?"


" Belum, tapi kamu harus bayak istirahat, pasti capek, seharian kerja."


Suci menggeleng pelan.


Suci masih penasaran kenapa suaminya tidak mengikuti terapi.


" Mas sedang mencari dokternya Uci, karena selama ini mas juga ikut terapi, tapi tetap tidak ada perubahan, mas baru 1 minggu ini tidak mengikuti terapi."


Suci langsung duduk saat mendengar jawaban dari suaminya, ia menatap intens mata suaminya yang sedikit kecewa.


" Mas tidak boleh menyerah, aku percaya kalau mas bisa sembuh."


" Lalu bagai mana kalau mas tidak sembuh? Apa kamu akan meninggalkan mas? Apa kamu akan meminta."

__ADS_1


Arkan belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Suci langsung meletakan telunjuknya di bibir suaminya.


" Apa pun yang terjadi aku akan tetap menjadi istri mas, aku tidak akan pernah berubah pikiran, mas jangan pernah ucapkan kata itu, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a, selebihnya kita serahkan pada Allah."


Suci langsung menurunkan kembali telunjuknya. Arkan yang mendengar ucapan istrinya tersenyum sambil mengelus kepala istrinya, rasa cintanya semakin hari semakin bertambah, terlebih setiap kali ucapan istrinya mampu membuatnya menjadi percaya diri.


" Uci."


" Iya mas."


" Kadang-kadang mas itu bingung sendiri, mas begitu banyak kekurangannya, tapi mas memiliki istri seperti kamu yang tidak memiliki satu kekurangan sedikit pun."


" Aku juga pernah di uji dengan ujian yang berat, aku di uji memiliki penyakit paru-paru dari usiaku 5 tahun, tapi aku selalu percaya kalau semua penyakit pasti ada obatnya, hingga aku benar-benar sembuh saat usiaku 7 tahun. Jadi mas jangan pernah menyerah, mas harus percaya kalau mas bisa sembuh."


Arkan mengangguk pelan sambil tersenyum, ia tidak menyangka kalau istrinya dulu juga memiliki penyakit yang serius.


" Apa kamu tidak malu memilik suami seperti mas?"


Suci menggeleng pelan.


" Aku tidak malu, bahkan aku bangga saat melihat mas tampil lagi di media dengan percaya diri karena perusahaan Wijaya Grup menduduki peringkat no satu di asia. Allah memberikan otak yang sempurna pada mas, jadi jangan pernah mas bertanya seperti itu."


Arkan langsung menarik istirinya dalam pelukannya.


" Uci, hanya kamu satu-satunya wanita yang membuat mas menjadi percaya diri, hanya kamu satu-satunya wanita yang mengajarkan agama pada mas, jadi tolong tetaplah bersama mas walau pun apa pun yang terjadi, mas tidak ingin kehilangan kamu, mas tidak bisa kehilangan kamu, mas harap kamu tidak pernah berubah pikiran untuk selalu bersama mas."


" Insya Allah mas, aku akan selalu bersama mas apa pun yang terjadi, hanya ada dua yang membuat aku tidak bisa bersama mas kalau sesuatu terjadi, yaitu perselingkuhan dan meminta untuk menikah lagi, kalau sampai itu terjadi, aku akan mundur mas."


" Mas tidak akan pernah melakukan itu, bahkan pikiran seperti itu sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran mas, kamu begitu sempurna, mas tidak akan pernah tertarik dengan wanita mana pun selain kamu."


Suci mengangguk pelan.

__ADS_1


" Mas, tunggu mas Rey kembali ke Indonesia, mungkin Allah mempercayakan mas Rey untuk menyembuhkan kaki mas. Aku percaya mas Rey bisa menyembuhkan kakimu dengan mengikuti terapi padanya, selama ini mas Rey belum pernah gagal untuk membuat pasiennya bisa berjalan lagi." batin Suci


Reyhan memang terkenal dokter muda yang tidak pernah gagal dalam menangani pasiennya.


__ADS_2