Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 56 Mas mesum


__ADS_3

Arkan dan Suci tidur begitu pulas karena lelah, bahkan mereka tidak bangun saat adzan ashar, apa lagi Arkan yang memang sudah memasang ruangan kedap suara saat belum tidur, ia sengaja takut mamanya kuatir karena seharian istrinya tidak keluar dari kamar.


Arkan bangun lebih dulu, ia melihat istrinya yang masih tertidur pulas di dada bidang miliknya, itu membuat ia tersenyum bahagia dan lebih bahagia lagi saat tidur bahkan mereka belum melepaskan persetubuhannya. Bahkan milik Arkan masih tegang, ia ingin sekali menggempur lagi kalau tidak ingat milik istrinya yang mungkin merasakan sakit dan bengkak.


" Ih kenapa aku jadi mesum?" batin Arkan


Arkan merutuki pikiran mesumnya yang melintas di otaknya. Arkan mencium kening istrinya, ia mengelus pelan pipi kanan istrinya, bahkan bisa ia lihat, saat tertidur wajah istrinya masih cantik, dengan pipi cabi dan rona kemerahan, wajahnya terlihat begitu bersih, tidak ada bekas jerawat atau semacamnya.


" Uci, mungkin kalau kamu tidak memakai cadar, mas akan sering cemburu, karena kecantikanmu itu begitu sangat sempurna, kadang mas heran sendiri, kata kamu tidak ada orang yang di ciptakan begitu sempurna, pasti ada kekurangan dan kelebihan, tapi hingga sampai sekarang mas belum pernah tau apa kekuranganmu. Kamu cantik, dari sekolah dasar hingga sekarang kamu selalu mendapatkan peringkat satu, ilmu agamamu juga lumayan." batin Arkan


Arkan langsung menatap jam yang sudah menujukan pukul 17.10WIB.


" Bentar lagi magrib, aku harus segera membangunkan Uci, kita belum mensucikan diri." batin Arkan


Arkan menepuk pelan pipi kanan istrinya.


" Sayang bangun, sekarang sudah mau magrib."


" Hhmmm."


Arkan tersenyum saat mendengar respon dari istrinya, ia tidak menyangka kalau istrinya itu mudah sekali di bangunkan. Suci mengangkat kepalannya sambil tangan kanannya mengucak matannya.


" Ah.."


Saat merasakan miliknya seperti terisi penuh oleh sesuatu. Arkan mencium bibir istrinya sekilas.


" Jangan mengoda begitu sayang, punya mas masih tegang tau."


Suci yang masih menindih suaminya, ia menatap suaminya dengan perasaan bingung, karena kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.


" Sayang, kamu lucu iya ternyata kalau bangun tidur."


Suci masih diam, ia masih menatap suaminya bingung, hingga usapan lembut di punggungnya membuat ia sadar, kalau ia masih telanjang, bahkan ia dan suaminya masih bersetubuh.


" Pantas saja aku berasa seperti milikku penuh, ternyata milik mas Arkan masih ada di milikku." batin Suci


" Mas, milikmu masih tegang terus, kapan tidurnya?"


Suci bertanya dengan perasaan bingung, selama ia menikah, ia tidak pernah memikirkan milik suaminya.


" Saat mas tidur milik mas juga tidur, tapi sekarang sudah bangun karena masih betah di milikmu."


" Ih mas mesum."


" Habisnya nikmat tau sayang, apa lagi melakukannya sama kamu, wanita yang selalu mas cintai."

__ADS_1


" Mas sudah siap memiliki anak?"


Suci bertanya sambil menatap mata suaminya dengan serius.


" Usia mas sudah tidak muda lagi sayang, jelas mas menginginkannya, tapi itu balik lagi ke sayang, kalau memang sayang belum siap dan masih menginginkan melanjutkan kuliahnya agar tidak terganggu, mas tidak masalah."


Arkan memang tidak mempermasalahkan masalah anak, selama ia selalu bersama istrinya, bagi ia sudah lebih dari cukup, ia sangat bahagia.


" Aku juga menginginkannya mas, aku ingin merasakan bagai mana menjadi seorang Bunda."


Arkan bisa melihat mata berbinar dari istrinya.


" Kalau begitu kita harus berusaha sayang."


Suci mengangguk pelan, senyumannya tidak pernah pudar dari saat ia akan bersetubuh. Tangan kiri Arkan mengelus bibir istrinya, karena tangan kanannya masih mengelus lembut punggung istrinya.


" Bibir sayang ko bisa bengkak? Sampai lecet lagi, perasaan mas tidak sekasar itu sayang, atau mas memang tadi sangat kasar?"


Arkan sangat kuatir saat melihat bibir istrinya yang bengkak, bahkan sampai lecet. Suci menggeleng pelan sambil tersenyum meringis, ia malu sendiri kalau mengingat kejadian tadi.


" Terus kenapa sampai seperti ini sayang?"


" Aku yang menggigitnya mas, karena milikku merasakan sakit."


Suci mengangguk pelan, ia memang merasakan perih di bibirnya. Arkan langsung memberikan ke pemilikan di dada milik istrinya yang memang sudah banyak kepemilikkannnya.


" Hhmm, sudah dong mas."


Arkan menghentikan kegiatanya, ia menatap mata istrinya.


" Mas masih menginginkanya."


Arkan dengan segaja menggoyangkan badanya.


" Ih mas, ternyata mesum, aku pikir mas tidak mesum."


" Mesum sama istri tidak apa-apa sayang."


" Ya iya tau mas, tapi aku sudah kehabisan tenaga mas."


Arkan mengangguk pelan, istrinya itu memang sudah berjuang berjam-jam tadi. Suci menatap jam sekilas lalu menatap lagi ke arah suaminya.


" Mas ko tidak bangunin aku untuk sholat ashar?"


" Mas juga baru bangun sayang."

__ADS_1


" Lagian mas pakai menyalakan ruangan kedap suara."


" Agar sayang tidurnya nyenyak, sekarang sayang mandi, nanti mas akan suruh bi Ira untuk menganti sprei kita."


" Biar aku yang menggantinya mas, ini adalah tugasku."


" Mas tau, setiap 5 hari sekali sayang mengganti sprei, tapi kali ini tubuh sayang masih lemas, ujung kasurnya itu berat."


" Tidak apa-apa mas, aku bisa ko."


" Tapi mas tidak mau sayang, kalau malu sayang yang lepas spreinya dan langsung di kucek lalu masukan ke mesin cuci, nanti bi Ira yang masang spreinya."


Suci mengangguk pelan, ia menyetuji saran dari suaminya. Suci langsung mengangkat tubuhnya dari atas suaminya, ia duduk di samping suaminya.


" Masih sakit?"


Suci mengangguk pelan, ia langsung mengambil bajunya lalu memakai satu persatu baju miliknya, setelah itu ia memungut celana dan baju suaminya yang ada di lantai sambil menggelengkan kepalanya.


" Mas ada-ada saja, bajunya berserakan, persis seperti orang yang akan memperkosa."


Arkan langsung duduk sambil tertawa dan malu saat mendengar ucapan dari istrinya.


" Mas aku ke kamar mandi dulu sebentar, mas pakai bajunya, nanti mas mandi duluan aku akan membereskan sprei dulu."


Arkan mengangguk pelan, ia mengambil baju yang di berikan istrinya, lalu ia langsung memakai baju dan celananya. Setelah istrinya pergi ke kamar mandi, Arkan tersenyum lebar saat melihat bercak darah di spreinya, lalu ia langsung pindah ke kursi roda. Suci keluar dari kamar mandi, ia melihat ke arah suaminya sambil tersenyum.


" Mas tau do'a untuk mensucikannya?"


" Iya, mas tau sayang."


Suci mengangguk sambil tersenyum dengan sedikit heran, kalau mandi mensucikannya bisa, tapi do'a sebelum bersrtubuhnya tidak bisa.


" Wajahmu kenapa sayang? Kamu seperti heran?"


" Aku hanya heran sama mas, do'a sebelum melakukan jima mas tidak tau, tapi do'a untuk mensucikannya tau. Bukan'kah pepatah mengatakan sebelum masuk harus tau jalan keluar? Tapi mas sendiri tau jalan keluar namen tidak tau jalan masuk."


" Jangan berbicara seperti itu dong sayang, mas malu tau."


Wajah Arkan memerah karena malu, ia seperti sedang di ejek oleh istrinya.


" Aku tidak mengejek mas, jadi ngapain harus malu? Aku cuma heran, sudah sana mas mandi."


" Iya sayang."


Arkan langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Suci mengerutkan keningnya bingung, tumben sekali suaminya itu tidak membawa baju ganti, biasanya suaminya selalu saja membawa baju ganti ke dalam kamar mandi, dan saat keluar suaminya sudah rapih memakai baju santainya.

__ADS_1


__ADS_2