Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 60 Kedatangan Kake


__ADS_3

Seperti yang di ucapkan oleh Arkan tadi pagi, ia hanya pergi untuk meeting dan setelah selsai ia akan langsung pulang. Setelah pergi ke kantor Arkan sekarang baru saja beres mandi, walau pergi hanya 2 jam, ia merasa tidak nyaman kalau tidak mandi. Arkan yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia sangat terkejut saat melihat istrinya yang telentang di atas ranjang dengan posisi di tengah-tengah ranjang, ia langsung mendekati istrinya, lalu memegang tangan istrinya, sambil menatap mata istrinya terpejam.


" Sayang kamu tidak apa-apa?"


" Hhmm."


Arkan pindah keatas ranjang, ia langsung mengambil dua bantal untuk istrinya yang tiduran tanpa bantal, ia dengan perlahan mengangkat kepala istrinya untuk meletakan bantalnya. Setelah selsai ia langsung membaringkan tubuhnya dengan tangan kirinya menyanggah kepala dan tangan kanannya mengelus pelan pipi kiri istrinya.


" Sayang tidak apa-apa? Apa kepalanya pusing?"


" Aku ngantuk mas."


" Iya sudah sayang tidur sebentar, nanti kake datang."


Suci tidak menjawab, matanya masih terpejam, ia merubah posisi menyamping mencari sumber suara suaminya, lalu tangan kanannya meraba-raba untuk memeluk suaminya, ia bisa merasakan dada telanjang milik suaminya.


" Mas jangan menggoda aku, kenapa belum pakai baju?"


Suci bertanya masih memejamkan mata, ia enggan untuk membuka mata, karena kepalanya merasa pusing dan pandangan matanya tadi mulai kabur lagi.


" Mas hanya kuatir, sayang tidur kalau ngantuk."


Arkan mencium kening istrinya, lalu ke dua matanya, setelah itu mencium bibir istrinya sekilas. Suci langsung memeluk suaminya sambil kepalanya ia sembunyikan di dada bidang milik suaminya, ia bisa mencium aroma harum sabun milik suaminya di dada bidangnya. Arkan menepuk pelan punggung istrinya agar istrinya tidur dengan nyenyak.


" Mas tau apa yang kamu rasain sekarang Uci, tapi kenapa kamu seoalah-olah hanya ngantuk? Mas bisa melihat wajahmu yang kurang bersemangat. Cepat sembuh Uci, agar mas bisa selalu melihat senyuman ceriah dari wajahmu lagi." batin Arkan


Arkan mengecup kening istrinya yang selalu menjadi candu setiap saat. Tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu


Tok-tok.


Arkan diam saja, ia tidak menjawab ketukan pintu itu, mau teriak, ia takut istrinya terganggu, mau buka pintu posisi ia sedang di peluk oleh istrinya.


Tok-tok


Pintu itu kembali di ketuk untuk yang ke dua kalinya, tapi Arkan masih tetap diam. Suci memang mendengar ketukan pintu di kamarnya, tapi pendengarannya tidak begitu jelas dan enggan untuk membuka mata. Arkan melihat jam yang sudah menujukan pukul 14.05WIB, ia yakin yang mengetuk pintu itu bi Ira untuk memberitahukan kalau kakenya datang. Arkan perlahan bangun, ia langsung meletakan guling di tangan istrinya, lalu langsung mengecup keningnya sekilas.


" Tidurlah sayang, mas mau memakai baju dan menemui kake."


Setelah mengatakan itu Arkan pindah ke kursi roda, lalu langsung mengganti baju, setelah selsai ia langsung keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang keluarga. Arkan langsung tersenyum saat melihat sang kake yang sedang mengobrol dengan ke dua orang tuanya.

__ADS_1


" Kek."


Arkan mendekati kakenya, ia langsung mencium tangan sang kake, yang bernama Erlangga Wijaya


" Bagai mana kabarnya kek?"


" Baik nak, bagai mana kesehatan kakimu apa ada perubahan?"


" Belum kek."


" Istrimu kemana?"


" Dia sedang istirahat kek, mungkin bentar lagi juga turun."


" Kake kesini mau mengatakan tentang Wijaya Grup, sesuai janji kake, kake akan menyerahkan Wijaya Grup padamu sepenuhnya kalau kamu menikah, tapi sepertinya sekarang tidak mungkin, karena kamu menikah dengan Gadis yang tidak kamu cintai hanya untuk sebuah perusahaan Wijaya Grup."


Arkan mengerutkan keningnya, ia bingung dengan ucapan kakenya yang mengatakan menikah hanya demi Wijaya Grup, bahkan tanpa Wijaya Grup juga ia tidakkan memiliki kesusahan kalau hanya sebatas uang. Tidak lama Suci datang


" Assalammulaikum."


Suci langsung mengucap salam untuk menyapa sang kake.


" Wa'alaikumsalam."


" Ayo mas aku bantu duduk di sofa."


Arkan mengangguk. Suci langsung membantu suaminya untuk duduk di sofa. Arkan mengelus lembut kepala istrinya yang tertutup hijab.


" Kenapa bangun? Sayang tidak jadi tidurnya?"


" Tidak ngantuk mas."


Arkan mengangguk, kini ia menatap lagi ke arah kakenya. Sedangkan Suci hanya menunduk.


" Sampai berapa lama pernikahan kalian?"


" Maksud kake apa?"


Arkan tidak menjawab pertanyaan dati kakenya, melainkan ia bertanya balik dengan perasaan bingung.

__ADS_1


" Iya kontrak pernikahan kalian sampai berapa lama nak?"


" Kek, menikah itu adalah ikatan yang suci, mana bisa di permainkan, Arkan dan Suci menikah tanpa perjanjian kontrak, tapi kita menikah karena saling percaya kalau kita memang berjodoh."


" Arkan, kake tidak meminta apa pun dari kamu selama ini, tapi kake akan minta satu permintaan, berpisahlah dengan istrimu, kake sangat tidak setuju."


" Tidak bisa kek."


Erlangga menatap ke arah Suci yang masih menundukan kepalanya.


" Saya minta sama kamu Suci, tinggalkan cucu saya!"


Suci menggeleng pelan, ia merasa suara kake dari suaminya itu dingin, bahkan memanggilnya saja dengan kata saya.


" Maaf, Uci tidak bisa meninggalkan mas Arkan."


" Berapa miliar yang kamu inginkan? Saya akan berikan asal kamu mau meninggalkan cucu saya. Kamu tidak pantas bersanding dengan cucu saya."


Sebelum Suci menjawab, Arkan lebih dulu berbicara.


" Kek, jangan berbicara seperti itu sama Suci."


" Memang kenyataan Arkan! Kalau Suci ini tidak pantas bersamamu."


" Uci tidak meminta uang berapa pun dari kake."


" Baik! Berapa saham yang kamu inginkan? Atau 50% saham ingin menjadi milikmu? Hingga kamu mau menikah dengan Arkan? Sedangkan kakamu sendiri saja membatalkan pernikahannya dengan Arkan, tanpa kamu terus di sisi cucu saya, saya akan memberikan 50% saham milik Wijaya Grup, tapi tolong setelahnya kamu tinggalkan cucu saya, kamu cukup memiliki setengah saham dari Wijaya Grup."


Suci menghela nafas berat, sambil beristighfar, ia tidak menyangka mulut kake dari suaminya itu sangat tajam.


" Uci tidak menginginkan itu kek."


" Sombong sekali kamu?! Memangnya kamu siapa berani menolak?! Orang tuamu hanya dari kalangan biasa, tidak memiliki perusahaan, selain restoran!"


Tangan kiri Suci meremas gamisnya, memang orang tuanya hanya memiliki dua restoran, tapi alasannya bukan karena mereka tidak bisa membeli perusahaan, tapi alasannya karena tidak mau ribet, untuk itu membuka dua restoran untuk memenuhi kebutunan hidup sehari-hari, tapi kakenya pemilik 8 gedung perhotel dan 8 gedung apartemen di tempat kakenya tinggal, itu hampir seimbang dengan kekayaan milik suaminya yang akan di wariskan padanya saat usia ia genap 21 tahun.


" Orang tua Uci memang hanya memilik restoran, tapi Uci tidak pernah menginginkan uang dari mas Arkan, Uci cinta sama mas Arkan."


" Kamu bilang cinta? Mana mungkin ada orang yang tidak membutuhkan uang, jadi jangan munafik! Saya sudah kenal sifat satu-persatu orang!"

__ADS_1


" Kake cukup! Jangan berbicara seperti itu dengan Suci!"


Arkan tidak enak hati pada istrinya, apa lagi istrinya sedang kurang sehat.


__ADS_2