
Setelah di rumah Arkan langsung membaringkan tubuh istrinya, lalu langsung menyelimuti dan mengecup singkat kening istrinya.
"Istirahat sayang."
Suci mengangguk pelan, tangan kanannya terus menggenggam tangan kiri suaminya. Tiba-tiba saja ponsel Arkan bergetar.
Dret... Dret...
Arkan langsung mengambil ponselnya, lalu ia langsung mengangkat telpon dari Rangga.
"Gue sudah ada di rumah lo, mau membicarakan yang lo suruh."
"Oke gue bentar lagi turun."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung mematikan sambungan telponnya, lalu langsung meletakan lagi ponselnya di meja.
Arkan mengelus lembut kepala istrinya sambil tersenyum, senyuman yang di tampilkan sekarang bukan senyuman kebahagiaan, tapi senyuman untuk tidak membuat istrinya curiga kalau ia sangat menghuatirkan istrinya, karena kalau istrinya tau ia kuatir, istrinya pasti akan minta maaf padanya.
"Sayang, mas tinggal boleh?"
"Memang mas mau kemana?"
"Mas ada pekerjaan sama Rangga, di ruang keluarga ko sayang."
"Iya sudah boleh mas."
"Iya sudah sayang istirahat, kalau bisa tidur siang, kasihan janin yang ada di perutmu."
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum. Arkan mencium kening dan bibir istrinya sekilas, lalu ia langsung keluar dari kamarnya.
Arkan sekarang sudah duduk di samping Rangga.
"Jadi siapa yang mengungkapkan hubunganku bersama Sulis?"
"Kaka iparmu mantanmu."
__ADS_1
Rangga berbicara sambil menahan tawanya yang mengingat Sulis memiliki dua gelar sebagai kaka ipar Arkan dan mantan Arkan.
"Jadi yang melakukan ini semua Sulis?"
"Iya yang melakukan itu Sulis. Sulis membayar salah satu akun gosip yang bernama Sarantika."
Arkan menghela nafas berat, lalu akan ia apakan kalau yang melakukan itu adalah Sulis? Kaka dari istrinya, ia jadi bingung sendiri, ia takut istrinya marah kalau bertindak semena-mena.
"Lalu bagai mana? Apa lo mau memecat Sulis secara tidak terhormat?"
"Tidak mungkin, gue takut istri gue kecewa sama gue, apa lagi Sulis adalah kakanya."
"Lalu apa yang akan lo lakuin?"
"Gue akan mengadakan konferensi pers 1 minggu lagi, jadi tolong siapkan tempatnya, dan katakan seluruh karyawan Wijaya Grup juga suruh hadir, karena gue akan mengumumkan siapa pemilik Wijaya Grup."
"Maksud lo?"
Rangga bingung sendiri siapa pemilik Wijaya Grup, bukan'kah kake dari Arkan sudah mengatas namakan Arkan? Sesuai perjanjian keluarga Wijaya, yang akan memberikan perusahaan itu pada Arkan.
"Istri gue memiliki saham 70% dari Wijaya Grup, sedangkan gue sendiri hanya memiliki saham 30% dari Wijaya Grup."
"Kake yang memberikan saham pada istri gue."
"Kalau ada yang bertanya bagai mana? Itu sangat mustahil, yang ada istri lo akan semakin terpojok, netizen pasti mikir kalau istri lo ngincar harta lo."
"Semuanya sudah gue rencanain, gue akan mengatakan kalau Xien Grup sebelumnya milik istri gue, dan sebelum menjalin hubungan istri gue dan gue tuker perusahaan, itu sudah cukup untuk membungkam mulut netizen. Gue juga enggak akan mengakui hubungan gue sama Sulis, karena itu akan memperkeruh keadaan, gue takut istri gue marah karena memojokan kakanya, jadi gue bilang berita yang beredar itu salah paham. Pastikan pemilik akun Sarantika juga ikut hadir dan mengakui kalau itu hanya berita bohong, kalau dia mengatakan itu karena gue dan Sulis sering tertangkap kamera. Kalau dia tidak mau hadir, tuntut saja dia sebagai pencemaran nama baik."
Rangga mengangguk pelan, ia tidak menyangka kalau Arkan sudah memikirkan hal itu dengan sangat baik menurutnya.
Walau pun Rangga kesal karena tidak bisa membuat Sulis terpojok, tapi ia juga tau kalau Arkan tidak ingin istrinya kecewa.
"Oke kalau begitu gue akan segera cari tempatnya, tapi gue hanya akan mengingatkan sama lo, lo harus hati-hati sama Sulis, gue takut kalau Sulis akan merencankan sesuatu yang lain lagi."
"Oke, terima kasih atas nasehatnya."
__ADS_1
Rangga mengangguk pelan, walau pun ia tidak begitu mengenal Sulis, tapi dengan kejadian ini ia takut kalau Sulis tidak akan tinggal diam.
Ini yang Rangga tidak suka dengan kata cinta, cinta itu membuat orang gelap mata, apa pun akan di lakukan asal mendapatkan orang yang di cintai, sama halnya dengan ke dua orang tuanya yang bercerai karena mereka mencintai orang lain, tanpa memikirkan ia yang menjadi keegoisan ke dua orang tuanya karena cinta.
Hingga usia Rangga 28 tahun ia belum pernah sekali pun pacaran, kalau pun ia ingin memuaskan hasratnya, ia hanya akan membayar pelacur, karena ia tidak ingin berdampak buruk pada diri sendiri atau pun orang lain.
Arkan menghela nafas berat untuk sekali lagi, ia tidak percaya kalau Sulis sangat nekad, dari Sulis mendatangi istrinya agar ia dan istrinya berpisah, lalu Sulis datang ke kantornya, agar menjadikan Sulis istri ke dua, dan sekarang Sulis memojokan isrinya, seolah-olah istrinya itu sangat bersalah.
Jelas-jelas Sulis sendiri yang membatalkan pernikahanya, bahkan sampai meminta adiknya untuk menikah dengannya, tapi kini Sulis yang akan menjadi orang ke tiga di rumah tangga adiknya sendiri.
"Lalu apa lo akan bilang kalau ini perbuatan Sulis pada istri lo?"
"Gue pasti bilang, gue enggak mau kalau istri gue berpikir gue tidak berusaha siapa yang sudah membuatnya terpojok. Apa lagi kondisi istri gue semakin ngedrop, gue takut terjadi apa-apa sama dia termasuk calon bayi kita."
"Maksud lo istri lo sedang hamil sekarang?"
"Iya istri gue sedang hamil, pikranya terlalu sensitif sekarang, bahkan saat istri gue melihat berita itu, istri gue menangis sambil bilang kalau dia bukan orang ke tiga. Gue semakin kuatir dengan keadaannya."
Rangga langsung memeluk Arkan dengan pelukan ala lelaki, sambil menepuk punggung Arkan.
"Selamat iya, lelaki jijik wanita akhirnya bisa menghamili anak orang juga."
Setelah mengatakan itu Rangga melepaskan pelukannya. Bukan tanpa alasan Rangga mengatakan itu, memang dari ke 3 sahabat Rangga hanya Arkan yang tidak ingin di sentuh oleh wanita malam, jangankan wanita malam, banyak wanita-wanita yang berprfesi sebagai model, artis, bintang iklan, termasuk seorang pemimpin perusahaan, tapi Arkan selalu menghindar, hingga Arkan menjalin hubungan dengan Sulis.
Namen Rangga tau kalau Arkan tidak pernah melakukan yang berlebihan, bahkan sebatas cium bibir saja Arkan tidak pernah mau, hingga kadang-kadang Rangga berpikir sahabatnya itu lelaki normal atau tidak? Itu lah yang selalu ada di pikiran Rangga, tapi saat tau Arkan akan menikahi Sulis, ia baru yakin kalau sahabatnya itu lelaki normal.
"Gimana gue enggak jijik, itu bekas orang lain, bisa saja semalam sampai 10 kali ganti lelaki."
Rangga menggeleng pelan dengan ucapan sahabatnya yang tidak masuk akal.
"Kalau main semalam hingga 10 lelaki bisa masuk rumah sakit, karena kehabisan tenaga, heran gue sama pikiran lo yang enggak masuk akal."
"Tapi bisa saja kalau wanitanya yang kuat making love. Sudah jangan bahas itu lagi, entar ada istri gue dengar bisa salah paham."
"Oke, sudah gue mau bilang begitu saja, gue mau pamit dulu, dan jagain calon ponakan gue."
__ADS_1
"Pasti termasuk sama Bundanya juga, masa hanya calon ponakan lo doang."
"Iya iya lah, kalau ibunya sakit jelas anaknya juga sakit Arka."