Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 55 Tempur


__ADS_3

Suci diam, ia mengatur nafasnya yang memang masih memburu, air matanya sudah mulai mereda, ada rasa bahagia, tapi ada rasa tidak percaya dengan ucapan dari suaminya.


" Lalu mas masih mencintai kak Sulis?"


Arkan menggeleng pelan.


" Mas sudah tidak mencintai Sulis, semenjak Sulis membuang mas seperti sampah, tapi mas masih menghargai Sulis sebagai kaka ipar mas, untuk itu mas masih membiarkan Sulis di posisinya seperti sebelum membuang mas, yaitu model terpopuler, karena bagai mana pun juga Sulis kaka kandungmu."


" Mas benaran cinta dan sayang sama aku?"


" Iya sayang, dari awal mas cinta dan sayang sama kamu."


Suci langsung memeluk suaminya sambil menangis bahagia, ia membisikan sesuatu pada telinga suaminya.


" Ana Uhibbhuka Fillah."


Arkan yang mendengar ucapan dari istrinya ia langsung tersenyum bahagia.


" Sejak kapan sayang mencintai mas?"


" Aku juga tidak tau, tapi yang jelas aku mencinta mas."


Arkan mencium pucuk kepala istrinya, sebenarnya ia tidak berani bertanya kalau istrinya tidak mengungkapkan perasaannya, ia akan menunggu hingga ia bisa berjalan kembali dan mengungkapkan isi hatinya dengan memon yang romatis, tapi tidak bisa di pungkiri ia sangat bahagia, saat tau istrinya juga mencintainya.


" Maaf sayang, mungkin ungkapan cinta mas tidak romantis karena kita berdua di awali dengan kesalah pahaman."


" Tidak apa-apa, maaf aku tadi berbicara dengan suara emosi pada mas, hatiku sakit."


" Tidak apa-apa sayang, lebih baik seperti ini, terima kasih sudah mencintai mas."


Suci mengangguk pelan, perasaannya begitu bahagia. Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya. Arkan melihat ke arah jam tangannya yang sudah menujukan pukul 13.00WIB.


" Sayang mau tidur siang?"


Suci mengangguk pelan. Arkan dan Suci membaringkan tubuhnya, mereka saling berpelukan dan menatap mata.


" Sayang, besok kake pulang."


" Kake? Mas masih punya kake?"

__ADS_1


Suci mendongkakan kepalanya ia sangat terkejut karena saat pernikahan, ia tidak bertemu dengan kake dari suaminya.


" Iya sayang, memang dia tidak hadir saat itu, tapi apa pun yang kake katakan padamu, kamu jangan di masukin ke hati."


Suci mengangguk pelan, tapi tidak bisa di pungkiri, ia sedikit takut saat suaminya mengatakan jangan di masukin ke hati. Arkan mengecup kening istrinya.


" Maaf untuk masalah hari ini sayang, aku tidak tau kalau yang aku katakan itu salah di pikiranmu."


Suci mengangguk pelan sambil tersenyum.


" Apa tubuhmu baik-baik saja?"


" Baik mas, aku tidak apa-apa."


Arkan kuatir karena ia bisa merasakan tubuhnya yang dingin.


" Jangan ulangi lagi, kalau ada apa-apa berbicara baik-baik, mas tidak mau kamu menyakiti diri kamu sendiri sayang."


Suci lagi-lagi mengangguk.


" Kamu jangan mengangguk terus dong sayang."


" Aku harus berbicara apa mas?"


" Mas jangan lagi bilng tidak percaya diri, aku ini istri mas, aku memilih mas karena aku percaya kalau mas jodoh aku, kita mulai dari awal lagi mas, kita mulai rumah tangga ini dari ke dua belah pihak saling mencintai."


Arkan tersenyum, sekarang memang ia jauh lebih percaya diri saat cintanya terbalaskan oleh istrinya. Suci mencium bibir suaminya sekils.


" Itu hukuman karena sudah membuatku menangis."


Arkan tersenyum, ia langsung menahan tengkuk istrinya yang akan menyembunyikan kepalanya. Arkan mulai mencium bibir istrinya, ia juga menyapu semua rongga mulut istrinya. Suci juga mulai membalas ciuman dari suaminya, walau pun ia tidak bisa mengimbangi ciuman dari suaminya. Setelah beberapa menit tangan Arkan mulai merayap ke dada istrinya, ia membuka kancing baju istrinya dengan perlahan, dan menghentikan ciumannya sesaat.


" Mas boleh minta hak mas sekarang?"


Suci mengangguk pelan, nafasnya memburu, ia merasakan panas di tubuhnya. Arkan langsung memulai ciumannya lagi, tangannya sudah merayap ke mana pun yang ia mau, hingga lenguhan kecil yang tertahan karena ciumannya bisa ia dengar.


Arkan menyudahi ciumannya, ia beralih ke leher istrinya memberikan beberapa kepemilikan, hingga kepalanya terus turun ke bawah, semakin lama lenguhan istrinya semakin terdengar, ia juga bisa merasakan tubuh istrinya yang bergetar, tapi sekarang ia tidak menghiraukannya.


Arkan langsung membuka baju santainya, ia buang ke sembarang tempat. Suci yang melihat tubuh suaminya, ia menelan ludahnya sendiri, selama menikah, ini pertama kalinya ia melihat dada suaminya yang menurut ia sangat seksi dengan perut yang berisi dan kota-kota. Saat suaminya ke susahan dengan kakinya, Suci memberanikan diri untuk mengambil alih.

__ADS_1


" Mas, biar aku saja yang melakukannya."


" Yakin sayang tidak apa-apa?"


Suci mengangguk pelan, wajahnya sudah memerah. Arkan mengganti posisinya, ia yang telentang, dan istrinya yang menggantikannya.


" Tubuh sayang gemetar, yakin sayang mau melakukannya?"


Arkan sedikit kuatir saat melihat tubuh istrinya sedikit gemetar, wajahnya merah dan pucat.


" Iya mas, aku hanya sedikit takut, karena ini pertama untuk kita berdua."


Arkan mengangguk sambil tersenyum, ia merasa bodoh karena tadi pagi itu istrinya gemetar bukan karena belum siap, tapi gemetar karena memang pertama kali, mungkin ada rasa takut di hati istrinya.


" Mas do'anya bisa?"


Suci baru ingat karena terbawa nafsu yang begitu nikmat menurutnya. Arkan menggeleng, ia tidak tau. Suci yang melihat suamunya menggeng, ia langsung membimbing do'a untuk suaminya hingga selsai. Setelah itu baru di mulai malam pertama yang selalu saja mereka tunda hingga satu bulan ini.


Kamar mereka menjadi saksi indah oleh ke dua insan yang sedang menyalurkan rasa cinta mereka. Suci berkali-kali mencengkram kuat tangan suaminya dan menggigit bibir bawahnya, ia merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan, setetes air mata mengalir di pelupuk matanya, ia sangat bahagia karena akhirnya ia bisa menjadi istri seutuhnya untuk Arkan.


Termasuk Arkan yang merasakan kebahagiaan begitu besar, ia tidak pernah menyangka kalau bisa melakukannya dengan wanita yang ia cintai selama ini. Pertempuran mereka terus saja berlanjut hingga 3 jam lamanya, Suci langsung ambruk lemas di dada bidang milik suaminya.


" Terima kasih sayang, sudah memberikan seluruh milikmu untuk mas, dari cinta dan mahkotamu."


Arkan mengecup kening istrinya, ia menarik selimutnya yang tadi hanya menutupi sampai pinggang, hingga ia tarik sampai punggung istrinya untuk menutupi tubuh mereka.


" Sama-sama mas, memang seharusnya seperti itu mas, maaf karena aku baru mencintai mas."


" Seperti yang kamu bilang sayang, cinta tidak bisa di paksa, tapi kamu sudah mau belajar hingga sekarang mencintai mas."


Suci sama sekali tidak melepaskan milik Arkan, ia biarkan taburan benih cintanya itu masuk ke dalam rahimnya. Arkan memeluk pinggang istrinya.


" Tidurlah sebentar sayang, kamu pasti lelah."


Suci mengangguk pelan.


" aku minta maaf karena mencengkram kuat tangan mas hingga berdarah."


" Tidak apa-apa sayang, mas bisa memakluminya, rasa sakit di milikmu lebih besar dari pada sakit di tangan mas."

__ADS_1


Suci mengangguk pelan, ia langsung memejamkan mata masih di atas tubuh suamunya, tubuhnya merasa sakit semua, dan sudah merasakan ngantuk karena lelah.


" Terima kasih iya Allah, sudah membiarkan hamba memiliki wanita yang hamba cinta selama 3 tahun ini." batin Arkan


__ADS_2