
Hari ini Suci tidak memiliki mata kuliah, ia bingung sendiri harus ngapain, ia juga sedang tidak pergi ke toko, hingga ia memutuskan untuk memasak, ia akan mengantarkan makan siang untuk suaminya. Sebenarnya selama menikah Suci belum pernah pergi ke kantor suaminya, tapi kali ini ia akan mengantarkan makan siang. Keyla yang menatap menantunya sibuk memasak ia mendekati menantunya.
" Sayang, masak buat siapa?"
Keyla bertanya karena biasanya kalau siang Suci tidak pernah memasak, karena di rumah itu kalau siang hanya ada ia dan menantunya. Suci yang sedang sibuk menumis bumbu, ia menoleh ke arah mama mertuanya.
" Mau masak untuk makan siang mas Arkan ma, apa Uci tidak mengganggu iya kalau datang ke kantornya?"
" Mana ada istri sendiri datang di bilang mengganggu, Arkan akan senang kalau kamu datang ke sana sayang, iya sudah mama tinggal dulu."
" Iya ma."
Keyla meninggalkan dapur sambil tersenyum, ia senang memiliki menantu yang begitu perhatian dengan putranya. Setelah selsai masak, Suci langsung mandi, lalu mengganti pakaiannya, ia sekarang sudah siap dengan menteng tas bekal untuk suaminya.
" Saras, antar saya ke kantor Wijaya Grup."
" Iya Uci."
Saras memang memanggilnya Suci, walau pun ia awalnya memanggilnya non seperti yang di suruh oleh Arkan, tapi Suci menyuruhnya untuk memanggil nama, Suci bilang agar lebih akrab, apa lagi dulu pernah satu sekolah saat SMA. Setelah Saras dan Suci masuk mobil, Saras langsung melajukan mobilnya.
" Bagai mana kuliah hari ini Ras?"
" Semuanya lancar Uci, iya walau pun selalu mendapatkan nilai pas-pasan, kamu tau sendiri dari dulu otakku ini hanya di atas rata-rata."
" Alhamdulilah semua lancar."
Saras mengangguk pelan, ia jarang berbicara kalau tidak di tanya, sebenarnya Saras bukan orang yang pendiam, tapi ia menghargai siapa Suci sekarang. Sepanjang perjalanan hanya diam, hingga mereka sampai di kantor Wijaya Grup.
" Ras, kamu pulang saja, takutnya aku lama di kantor, nanti kalau suruh jemput aku telpon, terima kasih."
"Baik Uci, sama-sama."
" Assalamualaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Suci langsung turun dari mobil, ia berjalan mendekati respsionis di sana.
" Permisi, apa pak Arkan ada?"
" Iya, pak Arkan sedang ada meeting di luar bu, apa ibu sudah memiliki janji temu dengan pak Arkan?"
Suci menggeleng pelan, ia memang tidak mengabari suaminya kalau akan berkujung ke kantornya.
" Kira-kira berapa lama iya pak Arkan kembali ke kantor?"
__ADS_1
Resepsionis yang bernama Rita itu melihat ke arah jam tangannya sekilas.
" Mungkin kurang lebih 10 menit lagi juga datang kalau tidak ada gangguan, apa ibu mau menunggu pak Arkan?"
" Iya."
" Kalau begitu ibu duduk saja di kursi tunggu di sana."
" Baik terima kasih."
" Sama-sama bu."
Rita sama sekali tidak bertanya nama orang yang ingin menemui atasannya itu, ia sudah kepalang bingung dengan pakaian orang yang di depannya, selama ia bekerja menjadi resepsionis sudah 8 tahun ini, ia belum pernah melihat ada sesaorang yang mencari atasannya dengan memakai pakaian rapih, bahkan yang berhijab saja belum pernah. Rita mengamati Suci yang duduk sambil memainkan ponselnya.
" Siapa iya Gadis yang mencari pak CEO tidak mungkin Gadis itu pacar pak CEO, penampilannya saja sangat rapih." batin Rita
Suci duduk nyaman sambil balas cht dari ke dua sahabatnya lamanya, yaitu Lia dan Karinah, mereka berdua memang sedang ada kegiatan di kampus, jadi mereka berdua bisa berkirim pesan dengan Suci, sesekali Suci tersenyum saat membaca pesan dari Lia yang terus saja mengatakan rindu padanya, ia juga memang sangat merindukan ke dua sahabatnya, tapi ia lebih merindukan Mia, si Gadis pembuat masalah setiap harinya, ia juga bertanya pada Lia bagai mana perubahan Mia sekarang, Lia membalasnya jauh lebih baik, sekarang sudah jarang terkena khasus tidak seperti dulu.
" Alhamdulilah, akhirnya Mia mau berubah lebih baik juga, lagian kaka selalu percaya kalau kamu bisa berubah lebih baik." batin Suci
Tidak lama Suci melihat mobil suaminya yang berhenti di parkiran, ia tersenyum saat melihat itu. Arkan turun di bantu oleh Rangga yang selalu setia, walau pun ada pak Budi, tapi tetap ia yang membantu Arkan. Arkan di dorong oleh Rangga masuk ke dalam kantor, hingga berhenti di depan Resepsionis karena melihat Suci yang sudah menunggu di sana.
" Assalamulaikum."
" Wa'alaikumsalam istriku."
" Romantis sih romantis pak Arkan Wijaya, tapi tau tempat, saya ini jomblo, ngiri tau pak."
Sebenarnya Rangga sama sekali tidak ngiri, ia bahkan senang melihat keharmonisan rumah tangga sahabatnya. Sedangkan Arkan hanya tersenyum lebar.
" Kamu kenapa tidak bilang kalau mau kesini Uci?"
" Kenapa mas? aku mengganggu mas iya?"
" Bukan masalah mengganggu, tapi kalau kamu mengabari mas, kamu bisa menunggu di ruangan mas."
" Tidak apa-apa mas, aku juga baru datang."
Rangga yang melihat Suci membawa tas bekal, ia langsung meminta untuk mengambil alih, karena ia yakin kalau Suci yang akan mendorong suaminya.
" Sini bu, tas yang di tentengnya biar saya yang bawa."
Suci mengangguk sambil memberikan tas bekalnya.
" Kak jangan panggil Uci dengan panggilan ibu dong, Uci dengarnya risih."
__ADS_1
" Sekarang masih jam kerja, saya harus tetap formal."
" Kata siapa sekarang masih jam kerja? Ini sudah jam istirahat."
" Iya Uci."
Mereka langsung berjalan ke arah life, dan memasuki life khusus ruangan Ceo, sadangkan Rita menutup mulutnya sendiri yang mendengar perdebatan atasannya tadi, ia tidak menyangka kalau wanita yang bercadar itu adalah istrinya, karena sebelum kecelakan terjadi, atasannya itu di kabarkan sangat dekat dengan salah satu modelnya sendiri, yaitu Sulis, bahkan foto-fotonya beredar di media, bukan hanya itu, mereka juga sering pergi bersama.
" Aku pikir pak CEO memiliki hubungan dengan Sulis, eh ternyata sudah punya istri, apa lagi istrinya sholehah." batin Rita
Mereka sampai di ruangan Arkan. Setelah meletakan tas bekal, Rangga memutuskan untuk makan siang.
" Pak, saya makan siang dulu."
Sebelum Arkan menjawab, Suci duluan yang menjawab lebih dulu.
" Kak makan di sini saja, aku bawanya banyak, sekalian untuk kaka juga soalnya."
" Kalau di tawarin boleh-boleh saja."
Suci langsung membuka bekalnya, ia memberikan dua piring yang sudah ia bawa dari rumah, walau pun di kantor memang ada, tapi ia lebih suka membawa dari rumah. Suci mengambilkan untuk suaminya dan Rangga
" Ayo makan kak."
Rangga mengangguk pelan.
" Kamu sudah makan Uci?"
" Sudah mas."
Sebenarnya Suci sama sekali belum makan siang, karena ia sudah terbiasa hanya sarapan pagi dan malam, kalau siang, ia akan memakan buah saja.
" Ini masakan kamu?"
" Iya kak."
" Enak banget pantasan saja Arkan suka sarapan di rumah sekarang."
Suci hanya tersenyum.
" Sini Uci suapin, tangan mas masih untuk bekerja."
Arkan mengangguk sambil tersenyum.
" Saya juga jadi pengen nikah ngeliat ke romantisan kalian."
__ADS_1
" Mangkannya nikah dong Ga."
Rangga mengangguk pelan