
Arkan sangat senang saat istrinya sudah mulai kepo pada isi ponselnya, itu artinya istrinya sudah mulai ada rasa cemburu. Arkan dan Suci melepaskan pelukannya.
" Mas, semoga kita selalu menjadi keluarga bahagia."
" Amin sayang."
Arkan mengecup bibir istrinya sekilas.
" Jangan cuma di kecup dong mas."
Arkan semakin tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya, saat ia akan mencium istrinya, tiba-tiba saja ponsel ia bergetar. Arkan langsung membuka pesan dari Saras, Saras mengatakan kalau tukang ciloknya sudah ada di depan rumah.
" Sayang, tukang ciloknya sudah ada di depan rumah."
" Benaran mas?"
Suci bertanya dengan mata yang berbinar. Arkan mengangguk pelan, ia langsung memakaikan istrinya hijab, lalu langsung membantu istrinya untuk memakai cadar. Suci tersenyum saat melihat perlakuan suaminya yang semakin hari semakin romantis.
" Mas."
" Iya sayang."
" Kalau tau nikah itu enak, mungkin aku sudah nikah dari usiaku 16 tahun."
" Enak dalam hal artian apa sayang?"
" Semuanya, terlebih perhatian mas yang sangat hangat, saat aku tidur, mas menepuk punggungku sambil bersholawat, kalau tidak sambil membaca ayat suci Al-Qur'an."
" Jadi maksud sayang, sayang awal mencintai mas karena perlakuan hangat mas?"
Suci mengangguk pelan, memang Suci merasakan nyaman saat di perlakukan seperti itu, hingga rasa cinta itu hadir begitu saja.
" Ayo turun."
Arkan sudah berdiri untuk membantu sang istri, tapi ia sangat terkjut saat istrinya bukan turun dari ranjang, melainkan langsung mengalungkan ke dua tangannya pada leher ia dan kakinya melingkar di pinggang suaminya.
" Jangan pakai Gamis dong sayang kalau mau seperti ini, pakai baju tidur panjang saja."
Arkan tidak mau betis istrinya itu terlihat, walau pun memakai celana legging panjang hingga semata kaki, tapi tetap saja ia tidak rela. Suci dengan terpaksa turun dari gendongan suaminya.
" Iya sudah aku ganti baju dulu."
__ADS_1
Suci langsung turun dari gendongan suaminya, ia berlari kecil ke arah ruangan ganti. Arkan yang melihat kelakuan istrinya hanya tersenyum, ia merasa kalau istrinya semakin hari semakin manja padanya, tapi ia sama sekali tidak risih, ia senang saat istrinya menjadi wanita manja.
" Ada saja kelakuan lucu kamu itu Uci."
Arkan berbicara sangat lirih sambil menatap ke arah ruangan ganti istrinya. Suci selsai mengganti bajunya memakai baju tidur panjang sebawah paha, dan celana panjang hingga melewati mata kaki sedikit, ia berlari kecil seperti tadi, lalu langsung meloncat ke gondongan suaminya dengan tangan yang melingkar di leher suaminya.
" Ayo mas."
" Iya sayang."
Arkan keluar sambil memeluk pinggang istrinya. Sedangkan para asisten rumah tangga di buat bingung dengan ke dua majikannya, tapi mereka hanya menatap Arkan dan Suci untuk sesekali saja. Arkan langsung menurunkan istrinya di ruangan keluarga.
" Bentar, mas beli cilok dulu."
Suci mengangguk sambil tersenyum. Arkan langsung keluar dari rumahnya, ia mendekati tukang cilok sambil membawa piring, di sana ada Saras yang sedang mengobrol dengan tukang cilok.
" Pak cilok iya, 20 biji."
" Iya den."
" Ras, kalau mau pesan saja, sekalian tawarin pada yang lain."
" Iya den."
" Maaf iya pak, jadi di suruh kesini, istri saya katanya mau cilok yang masih hangat."
" Tidak apa-apa den, bapak senang kalau cilok bapak ada yang beli."
Semua tukang jualan pasti senang kalau ada yang beli, apa lagi yang belinya dari kalangan orang kaya, bukan tukang cilok itu berharap di kasih uang lebih, tapi kalau orang kaya doyan, itu artinya makanannya itu di anggap higenis, banyak orang kaya yang tidak mau makan makanan penjual jalanan, karena di anggap makanan yang di jual di jalanan tidak higenis. Arkan mengangguk sambil tersenyum.
" Ini den."
Tukang jual itu sudah selsai.
" Terima kasih pak, nanti yang lain layani saja, tinggal di hitung habisnya berapa."
" Baik den, sama-sama."
Arkan langsung masuk ke dalam rumahnya, ia langsung mendekati istrinya yang masih setia duduk di sofa. Arkan langsung meletakan ciloknya di meja sambil duduk, lalu langsung membuka cadar istrinya.
" Sayang mau mas suapin?"
__ADS_1
Suci mengangguk sambil tersenyum. Arkan langsung membelah ciloknya memakai sendok dan garpu, tidak lupa ia tiup kecil karena cilok itu masih panas, lalu baru menyuapi istrinya.
" Mas mau?"
Arkan menggeleng pelan.
" Mas tidak suka karena makanannya dari penjual jalanan?"
" Tidak sayang bukan begitu, mas tidak pernah jajan seperti ini."
Memang hingga usia Arkan 28 tahun, Arkan tidak pernah jajan cilok, di tambah lagi ia juga tidak pernah jajan di penjual jalanan, tapi ia tidak ingin istrinya tersinggung kalau ia tidak pernah jajan di tukang jual jalanan.
" Iya sudah, di coba dong mas, enak ko."
Arkan menggeleng pelan. Suci mengambil garpu yang di pegang oleh suaminya, lalu ia langsung menusukannya cilok, dan menyodorkannya ke mulut suaminya.
" Ayo buka mulut mas."
Mau tidak mau Arkan membuka mulutnya, ia mengunyah makanan yang di suapi istrinya.
" Bagai mana enak mas?"
Arkan menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum, memang rasanya enak. Sedangkan di kursi ruangan televisi di sana ada Bagas dan Keyla, mereka tersenyum saat melihat ke romantisan anak dan menantunya, mereka merasa hubungan anak dan menantunya itu selalu saja mesra setiap harinya, membuat mereka tersenyum bahagia, walau pun hati mereka tidak bisa di pungkiri kasihan pada putra ke duanya yang tinggal di apartement untuk melupakan menantunya, tapi bagi mereka tidak sia-sia walau pun putra ke duanya pergi, namen tidak sia-sia kepergiannya karena putra pertamanya dan menantunya selalu saja romantis.
" Suci itu bukan hanya cantik dan baik iya pa, ternyata Suci juga selalu romantis, mama senang melihat mereka semakin hari semakin lengket, apa lagi Arkan juga sekarang tidak begitu sibuk bekerja, Arkan akan selalu pulang lebih awal, semoga hubungan mereka tetap seperti itu dan semoga Sulis tidak merayu Arkan."
Walau pun Keyla senang putranya sudah sembuh total dan selalu romantis pada istrinya, tapi tetap saja ia kuatir kalau Sulis akan merayu putranya, bukan kuatir atas rayuan Sulis, tapi ia kuatir kalau putranya kemakan rayuan Sulis.
" Semoga saja sayang, papa juga berharap mereka selalu bahagia, dan papa berharap kalau Sulis tidak akan merayu putra kita, bagai mana pun juga putra kita pernah memiliki hubungan, jelas papa juga takut kalau putra kita termakan rayuan Sulis."
Tidak bisa di pungkiri, Bagas juga merasakan hal yang sama seperti istrinya, apa lagi mengingat hubungan putranya dan Sulis bukan lah waktu yang sebentar, tentu ia sebagai orang tua ada rasa takut. Arkan menyuapi istrinya dan sesekali ia juga menyuapi diri sendiri karena rasa cilok itu memang enak, hingga cilok itu habis.
" Sayang sudah kenyang apa belum?"
" Sudah mas."
Suci mendekati wajah suaminya, lalu mencium bibir suaminya sekilas.
" Terima kasih mas selalu turutin keinginanku."
" Itu sudah kewajiban mas sayang."
__ADS_1
Arkan berbicara sambil tersenyum lebar, karena istrinya menciumnya dengan tidak tau tempat, walau pun di rumah, tapi ia sadar kalau ke dua orang tuanya sedang memperhatikan dari tadi.