Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 68 Berdebat


__ADS_3

Mau Suci yang sekarang atau pun Suci yang dulu, sifatnya tetap sama tidak ada yang berubah, apa pun yang sudah menjadi miliknya, ia tidak suka kalau ada orang lain yang mengambil miliknya, terlebih itu adalah suaminya yang di inginkan kakanya, dari awal ia sudah berkali-kali bertanya untuk memastikan kalau kakanya benar-benar ikhlas melepaskan Arkan. Namen nyatanya kakanya hanya ikhlas di mulut saja, tapi tidak di hatinya yang masih mencintai Arkan.


" Kamu bilang di mana letak hati nurani kaka? Kamu yang merebut Arkan dari kaka! Kalau kamu hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang kaka lakukan, kamu akan mau berpisah dari Arkan! Bahkan kamu baru mengatakan cinta sama Arkan sekarang pada kaka!"


" Uci mencintai mas Arkan jauh sebelum mas Arkan sembuh kak, sebelum mas Rey kembali ke indonesia, Uci sudah mencintai mas Arkan, bukan karena mas Arkan sudah sembuh, tapi cinta Uci pada mas Arkan sangat tulus."


" Kalau cintamu tulus, harusnya kamu mau berpisah dengan Arkan, karena belum tentu kalau Arkan itu bahagia bersamamu!"


" Mas Arkan sekarang suami Uci, bukan pacar Uci, mungkin kalau masih status pacar, Uci bisa menyerahkan mas Arkan untuk kaka, tapi sekarang tidak bisa kak, Uci akan jauh lebih menderita hidup tanpa mas Arkan dan Uci percaya kalau mas Arkan bahagia hidup bersama Uci."


Suci masih kekeh ingin mempertahankan suaminya, karena bagi ia tidak ada alasan untuk melepaskan suaminya, terkecuali suaminya sendiri yang ingin berpisah dengannya, maka ia tidak berhak mempertahankannya, tapi sekarang ia dan suaminya saling mencintai, jadi ia berhak mempertahankannya.


Sedangkan Saras yang dari tadi menyimak saja, ia akhirnya mengerti permasalahan kaka beradik yang terus saja berdebat, tapi ia masih tetap diam saja, karena ini permasalahan mereka, walau pun ia ingin sekali menampar mulut Sulis yang menuduh Suci merebut calon kaka iparnya.


" Kalau kamu mencintai Arkan, lalu apa Arkan mencintai kamu? Arkan tidak akan pernah mencintai kamu walau pun seujung kuku pun Arkan tidak akan pernah ada rasa cinta, kaka tau betul tentang Arkan, Arkan hanya menghargaimu sebagai istrinya karena telah membantu mendapatkan Wijaya Grup, dan suatu saat nanti Arkan akan tetap menceraikanmu. Mungkin untuk saat ini kamu menang dari kaka, tapi suatu saat kamu juga akan di buang oleh Arkan dan memilih kaka."


Kalimat terakhir dari kakanya mampu membuat Suci meremas gamisnya sambil menggeleng dan beristghfar, ia percaya kalau suaminya bukan orang seperti itu, cinta suaminya sangat tulus untuknya.


" Uci percaya kalau mas Arkan itu sangat mencintai Uci dari pada Wijaya Grup. Uci tau mana orang yang tulus mencintai Uci atau hanya memanfaatkan Uci."


" Tapi suatu saat kamu akan tau, dan akan kamu lihat kalau Arkan akan kembali dalam pelukan kaka, lalu membuang kamu."


" Terserah kaka mau berbicara apa, yang jelas Uci akan tetap percaya kalau mas Arkan mencintai Uci."


Semua orang sekarang mulai berbisik-bisik tentang Sulis, yang tega meninta suami dari adiknya sendiri, mereka semua tidak menyangka, seorang model papan atas dan sekaligus sebagai bintang iklan itu tega menginginkan suami dari adiknya.

__ADS_1


" Kalau begitu Uci pamit kak, Uci tidak mau berdebat lagi di sini dan menjadi tontonan banyak orang, ingat profesi kaka, kaka akan tercoreng jelek kalau terus berdebat di sini. Assalamualaikum."


Setelah mengatakan itu Suci langsung keluar dari Cafe, ia tidak ingin mempermalukan kakanya sendiri di depan umum. Sedangkan Sulis, ia mengepalkan ke dua tangannya.


" Wa'alaikumsalam."


" Dari dulu apa yang kamu inginkan selalu kamu dapatkan, dari dulu kamu selalu di sayang seluruh keluarga, walau pun sudah salah tetap saja mereka masih saja menyayangimu, dan aku selalu diam, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam, kamu boleh mengambil seluruh kasih sayang keluarga, tapi tidak dengan Arkan, aku tidak akan pernah diam sebulum Arkan menjadi miliku lagi. Suci, dari kecil aku selalu ingin menjadi kaka yang baik untuk kamu, tapi tidak harus merelakan Arkan juga untuk menjadi milik kamu, aku akan mengambil kembali apa yang telah kamu rampas." batin Sulis


Suci dan Saras sekarang sedang di mobil. Saras yang sedang menyetir, ia sesekali menatap Suci di kaca tengah yang duduk di belakang. Bisa Saras lihat kalau Suci sedang menangis, ia yakin kalau Suci sedang merasakan kecewa, ia juga kalau di posisi Suci jelas kecewa, setelah mengorbankan kebahagiaannya untuk bertanggung jawab, tapi kakanya dengan mudah menyuruh Suci untuk berpisah, tapi ia bersyukur karena bukan ia yang di posisi Suci, kalau ia yang di posisi Suci, mungkin ia sudah mencingcang wanita yang meminta suaminya.


" Uci, kamu tidak apa-apa?"


" Tidak apa-apa Ras, tolong rahasiakan dari mas Arkan tentang kejadian tadi."


" Iya Uci."


Suci memutuskan untuk tidur, untuk menenangkan pikirannya, ia tidak mau kalau suaminya tau ia habis menangis, untuk itu ia memaksakan diri untuk tidur.


" Iya Uci."


Suci langsung menyadarkan kepalanya, ia langsung memejamkan mata sambil terus beristighfar, hingga ia benar-benar tertidur.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka sampai di pekarangan rumah, termasuk Arkan dan Rangga juga baru saja sampai di pekarangan rumah, karena pak Budi akan kembali besok, jadi yang mengantar pulang Arkan adalah Rangga, sedangkan tadi pagi Arkan berangkat bersama istrinya dan Saras. Saras turun dari mobil, ia langsung membuka pintu mobil, saat ia akan menepuk pelan pipi Suci, Arkan langsung berjalan mendekatinya.


" Suci kenapa Ras?"

__ADS_1


" Dia tidur den."


Saras langsung minggir ke samping mobil. Arkan langsung mengangkat tubuh istrinya.


" Tasnya Suci taruh di ruang tamu saja Ras."


" Baik den."


Rangga yang melihat Suci tertidur pulas, ia hanya menggeleng pelan.


" Arkan gue balik."


" Oke terima kasih Ga."


Rangga mengangguk pelan, lalu langsung melajukan mobilnya. Arkan menggendong istrinya sambil menghela nafas berat, akhir-akhir ini istrinya mudah sekali tertidur, membuat ia sedikit bingung, jelas-jelas ia juga sudah mengurangi waktu untuk berhubungan badan, walau pun istrinya selalu menawarkan diri, tapi ia sekarang selalu melakukannya 1 minggu dua kali, ia tidak ingin istri capek, terlebih tubuh istrinya yang terlihat semakin kurus.


Bahkan Arkan juga sekarang selalu melarang istrinya untuk membaca Al-Qur'an malam terlalu lama, tapi tetap saja istrinya seperti kecapean. Arkan meletakan tubuh istrinya di ranjang, ia langsung membuka cadar istrinya, lalu langsung mengecup kening istrinya sekilas.


" Kamu itu sebenarnya kenapa Uci? Sudah melarang ini dan itu, bahkan sampai-sampai aku selalu menahan diri untuk tidak melakukannya setiap malam, tapi tetap saja kamu selalu saja seperti kecapean." batin Arkan


Arkan menatap wajah istrinya yang masih terpejam, ia melihat sisa air mata di pipi istrinya.


" Astaghfirullah, apa yang terjadi sama Suci, kenapa Suci menangis tadi?" batin Arkan


Arkan menatap ke arah jam dindingnya, seharusnya istrinya itu pulang kuliah 2 jam yang lalu, tapi istrinya telat pulang 2 jam. Arkan memang selalu tau jam masuk dan jam pulang istrinya.

__ADS_1


__ADS_2