Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 96 Rumah Sakit


__ADS_3

Arkan langsung mengajak istri dan ibu mertuanya untuk membawa Sulis ke rumah sakit Harapan yang sudah di janjikan Arkan pada dokter Yuda tadi.


Arkan langsung menggedong tubuh Sulis. Sulis bisa mencium aroma tubuh Arkan yang selalu ia rindukan selama ini saat Arkan mengangkat tubuhnya untuk ke arah mobil.


Bahkan detak jantung Sulis berdetak lebih cepat, ia susah payah mengatur detak jantungnya agar tidak di dengar oleh Arkan.


Setelah meletakan tubuh Sulis Arkan langsung melajukan mobilnya, tangan kirinya menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin.


"Tenangin diri sayang, kontrol pikirannya jangan sampai sayang kenapa-kenapa, harus ingat sayang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dede."


Suci mengangguk pelan, air matanya masih saja mengalir, ia tidak percaya kalau kakanya akan di berikan ujian yang sangat begitu berat.


Anisa mengelus lembut pucuk kepala putri pertamanya sambil menangis.


"Mas, pelan-pelan saja."


Suci yang melihat suaminya menyelip-nyelip mobil lain membuat kepalanya pusing, pandangannya mulai kabur.


"Iya sayang."


Pikiran Arkan kalut saat tubuh istrinya menjadi gemetar, apa lagi ia tidak membawa pak Budi, karena ia pikir tidak akan pergi kemana-mana, hanya menginap di rumah ibu mertuanya.


Sedangkan supir Anisa sedang cuti membuat Arkan terpaksa membawa mobil sendiri.


Mereka sampai di depan rumah sakit, Arkan langsung melihat ke arah istrinya.


"Sayang diam saja di sini dulu, mas bawa Sulis dulu bersama Bunda, sayang jangan ikutan."


Suci hanya mengangguk pelan, ia juga tidak ingin memaksakan diri untuk ikut, kepalanya sangat pusing, ia takut pingsan begitu saja.


Arkan langsung turun, ia langsung mengangkat tubuh Sulis berjalan masuk ke dalam rumah sakit di ikuti oleh ibu mertuanya.


Setelah kepergian suaminya Suci langsung menyadarkan kepalanya sambil memejamkan mata dan mulutnya tidak berhenti terus beristighfar.


Tidak lama Arkan datang, ia langsung membuka pintu mobil milik istrinya, lalu mengelus pelan kepala istrinya.


"Apa sayang tidak apa-apa? Atau perlu priksa ke dokter sayang?"


"Tidak perlu mas, kita kerungan tunggu kakak saja."


Suci membuka matanya perlahan, lalu ia langsung menggem pergelangan suaminya untuk turun dari mobil.


"Apa perlu mas gendong?"


"Tidak perlu mas, mas cukup rangkul pinggangku saja."


Arkan mengangguk, ia langsung merangkul tubuh istrinya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


Arkan dan Suci menjadi pusat perhtian orang-orang yang ada di rumah sakit, apa lagi berita mereka berdua masih sangat hangat.


Mereka juga menilai Arkan dan Suci pasangan yang sangat serasi, walau pun usia mereka berbeda sangat jauh.


Arkan dan Suci sampai di ruang tunggu. Anisa yang tadinya menangis, ia melihat ke samping, ke arah putri ke duanya.


"Apa tidak apa-apa nak? Kalau kurang enak badan kamu bisa pulang nak.Bunda tidak apa-apa di sini sendiri."


"Tidak apa-apa Bunda, Uci baik-baik saja."


"Tapi jangan terlalu di paksakan nak, kamu juga sedang hamil, tidak boleh banyak berpikir."


"Iya Bunda."


Tidak lama dokter Yuda keluar dari ruang rawat Sulis.


"Pak Arkan, kita bicarakan di ruangan saya."


"Baik. Sayang mas ke ruangan dokter Yuda dulu."


"Iya mas."


Arkan langsung mengikuti dokter Yuda hingga mereka berdua sampai di ruangan dokter Yuda.


Setelah duduk doker Yuda langsung menjelaskan kondisi Sulis pada Arkan hingga membuat Arkan berkali-kali menghela nafas berat, ia tidak menyangka kalau penyakit Sulis begitu parah.


Dokter Yuda menghela nafas, ia menjadi terjebak di permainan sendiri.


Dokter Yuda langsung menjelaskan segalanya tentang penyakit yang di derita Sulis dan ia juga mengatakan bisa oprasi, tapi tetap ia harus bertanya dengan pasien, apa mau di oprasi atau tidak, dan ia juga menjelaskan tidak mudah untuk berhasil harus berkali-kali melakukan pengangkatannya baru bisa bersih.


Setelah mengerti Arkan langsung keluar dari ruangan dokter Yuda, ia langsung menjelaskan pada istri dan ibu mertuanya secara detail apa yang di ceritakan oleh dokter Yuda padanya.


Anisa langsung masuk ke dalam ruangan putrinya, sedangkan Suci masih duduk di ruang tunggu sambil memeluk erat suaminya.


"Sabar sayang, mas percaya kaka sayang baik-baik saja, ingat ini adalah ujian."


Suci mengangguk pelan, tubuhnya terasa lemas saat tadi mendengar cerita dari suaminya tentang keadaan kakaknya, detak jantungnya bedetak lebih cepat.


Arkan berkali kali-kali mengecup kepala istrinya, pikirannya semakin kuatir, ia bisa merasakan detak jantung tidak beraturan dari istrinya.


"Ya Allah, kuatkan dan tabahkan istri hamba." batin Arkan


Hingga sekitar 3 menit lamanya berpelukan Arkan bisa merasakan tubuh istrinya yang sangat lemas, ia langsung melonggarkan pelukannya.


"Astaghfrullah sayang!"


Arkan sangat terkejut saat melihat istrinya pingsan, ia langsung menggendong tubuh istrinya dan mengatakan pada suster agar segera di periksa.

__ADS_1


Setelah Arkan meletakan tubuh istrinya dalam ranjang rumah sakit, tidak lama dokter Nindi masuk ke dalam.


"Bapak tolong ke luar dulu."


Arkan mengangguk pasrah, tubuhnya terasa lemas, ia langsung keluar hingga terduduk di samping pintu ruangan istrinya.


"Jangan biarkan istri dan kandungannya kenapa-kenapa iya Allah." batin Arkan


Arkan berkali-kali mengatur nafasnya, ia mencoba untuk berusa tenang, ada rasa menyesal di hatinya jika benar istrinya memiliki masalah dalam kehamilan, seharusnya ia memaksa istrinya untuk menunda kehamilannya 1 tahun seperti yang orang tuanya ucapkan, tapi ia memilih mendengarkan ucapan istrinya hingga terjadi seperti ini.


Dokter Nindi langsung keluar dari ruangan rawat Suci. Arkan yang melihat dokter Nindi keluar, ia langsung berdiri.


"Bagai mana dok?"


"Istri bapak harus di lakukan infuz penambahan zat besi pak."


"Kira-kira berapa lama?"


"Tergantung bisa 3 sampai 4 jam, karena darah istri bapak sangat rendah."


"Lakukan apa saja yang penting tidak membahayakan ke duanya."


"Baik pak."


Setelah mendapat persetujuan dari Arkan dokter Nindi masuk lagi ke ruangan rawat Suci. Sedangkan Arkan, ia bersandar di tembok samping pintu ruangan istrinya dengan mulut yang tidak berhenti-henti berkomat-kamait untuk mendo'akan istrinya agar baik-baik saja.


Di lain tempat Anisa bingung saat keluar dari ruangan Sulis tidak menemukan putri ke duanya dan menantunya.


Anisa menyusuri lorong rumah sakit, karena perasaannya tidak enak, ia juga berpikir takut terjadi apa-apa dengan putri ke duanya.


Anisa melihat Arkan yang sedang bersandar, matanya terpejam sambil menunduk, mulutnya berkomat-kamit tidak jelas, setelah di samping Arkan, ia menepuk pelan bahu Arkan


"Kenapa nak?"


Arkan langsung mengangkat kepala sambil membuka matanya.


"Bunda, Suci harus di infuz karena darahnya sangat rendah."


Arkan memegang tangan kanan ibu mertuanya dengan ke dua tangannya.


"Maaf Bun, Arkan tidak bisa menjdi suami yang baik untuk Suci, seharusnya Arkan mendengar apa kata mama saat itu untuk menunda kehamilan Suci selama 1 tahun."


Anisa menepuk pelan tangan Arkan dengan tangan kirinya.


"Ini bukan salah kamu nak, mereka berdua tidak akan kenapa-kenapa, kamu harus percaya sama Bunda, mereka akan baik-baik saja."


Arkan mengangguk pelan. Walau pun pikirannya sangat kuatir, tapi sekarang pikiran Arkan sedikit tenang saat mendengar ucapan dari ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2