Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. Suci terjtuh


__ADS_3

Sudah 2 hari semjak kejadian di mana suaminya memasak sup ikan untuk Suci.


Suci juga sudah tidak murung lagi semenjak tau kakanya telah membohonginya hingga ia hampir kehilangan janinnya.


Namun masih ada rasa kecewa di hati Suci hingga sekaran, lagi-lagi ia masih tidak menyangka kalau kakanya akan berbuat nekad.


Pagi ini Suci sedang sibuk memasak untuk membuat sarapan pagi, ia bersyukur karena kehamilanya tidak seperti wanita lain pada umunya yang sering mual-mual.


Suci sudah selsai masak dan ia sedang membawakan makannya ke meja makan, tapi setelah balik lagi akan mengambil masakan yang belum ia bawa Suci tiba-tiba terjatuh.


Bruk...


Suara nyaring Suci terjatuh itu begitu keras, untungnya ia terjatuh dengan posisi duduk.


"Astagfirullah!"


Salah satu asisten rumah tangga yang bernama bi Darmi itu langsung mendekati Suci.


"Nyonya tidak apa-apa?"


Bi Darmi mencoba untuk membangunkan Suci, tapi Suci hanya menggeleng pelan, perutnya terasa sakit seperti keram.


"Sakit bi."


"Bentar bibi telpon den Arkan."


Belum sempat bi Darmi menelpon Arkan. Arkan sudah keluar dari life karena setelah sholat subuh ia tertidur lagi, jadi tidak tau kalau istrinya itu turun membuat sarapan.


Arkan sangat terkejut saat melihat istrinya sedang terduduk sambil memegangi perutnya.


"Astagfirullah sayang kenapa?!"


Arkan langsung berjongkok sambil melihat lantai yang basah.


"Sakit mas."


"Tenang, mas panggil Arra nanti."


Arkan langsung menggedong istrinya dengan wajah yang sangat kuatir.


"Bi tolong panggil Arra dan suruh ke kamar saya."


"Baik den."


Setelah itu Arkan langsung pergi ke life untuk menuju ke kamarnya, ia tidak mungkin membawa istrinya kedokter karena ia takut tertangkap kamera.


Bukan karena apa-apa, tapi Arkan tidak ingin ibu mertuanya dan Sulis semakin menyesali perbuatannya saat tau Suci masuk ke rumah sakit lagi.


Bagi Arkan sudah cukup mereka tersiksa karena tidak tau keberadaan Suci.

__ADS_1


Arkan langsung merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang perlahan.


"Tahan sayang, bentar lagi Arra akan datang."


Belum juga Arkan selsai membantu istrinya berbaring istrinya sudah pingsan.


"Iya Allah sayang!"


Sebelum Arra masuk Arkan duduk di samping ranjang sambil memeluk tubuh istrinya.


"Kamu dan dede harus kuat. Mas tidak ingin kehilangan kalian berdua."


Air mata Arkan tiba-tiba saja menetes dan lagi-lagi ia merasa menyesal karena telah membiarkan istrinya hamil.


Arkan memang ingin memiliki seorang anak, tapi jika sudah melihat istrinya pingsan ia selalu saja menyesalinya.


Tiba-tiba saja Arkan mendengar suara ketukan pintu.


Tok-tok.


"Masuk!"


Arrabella langsung masuk ke dalam saat mendengar teriakan dari dalam dengan membawa semua peralatan dokternya di dalam tas.


"Istrimu kenapa Arkan?"


Arrabella bertanya dengan pura-putra tidak tau, sebenarnya tadi yang menaruh air di sana adalah ia sendiri, ia ingin kandungan Suci keguguran, tapi ia hanya setengah hati menginginkan Suci keguguran karena masih ada rasa takut ketahuan di hatinya.


"Tadi istriku jatuh."


Arkan langsung membenarkan posisi istrinya lalu ia langsung bergeser ke samping agar Arrabella mudah memriksanya.


Arrabella langsung memriksa ke adaan Suci, ia menghela nafas pelan, ia bersyukur janin Suci tidak apa-apa.


"Kondisi Suci dan janinnya sangat lemah, ia harus di infus, aku akan memasang infusnya dulu."


Arkan mengangguk pelan saat mendengar ucapan dari Arrabella, bibirnya terasa kelu, hanya bisa menghela nafas berat, apa lagi saat mengingat istrinya yang terus saja di infus.


Awal kehamilan saja sudah sering di infus hingga membuat pikiran Arkan sangat kacau, ia menjadi semakin takut terjadi apa-apa dengan istrinya dan janinnya.


Arrabella langsung memasang infusan dengan perlahan, ia memang tidak bisa membuat Suci keguguran, tapi tetap saja ia takut kalau Arkan tau ia yang membuat Suci menjadi seperti ini.


Setelah selsai Arrabella langsung merapihkan kembali alat-alat dokternya ke dalam tas.


"Kalau ada apa-apa panggil aku, aku keluar dulu."


"Iya terima kasih Arra."


"Sama-sama."

__ADS_1


Arrabella langsung keluar dari kamar Arkan. Setelah Arrabella keluar Arkan langsung duduk lagi di samping ranjang, ia langsung mencium kening istrinya sekilas.


"Kamu kenapa tidak pernah dengarin mas sayang? Mas kemarin sudah melarangmu untuk tidak memasak, tapi kamu selalu saja membantah."


Arkan menghela nafas berat, lalu ia langsung keluar dari kamar untuk menuju ke arah dapur, ia ingin tau siapa yang mengepel lantai itu hingga ada sisa air. Setelah keluar dari life Arkan mendekati Bi Darmi.


"Bi, siapa yang mengepel di sini? Lihat tadi istri saya jatuh karena masih banyak air."


"Maaf den, yang mengepel di sini putri saya, saya benar-benar minta maaf."


Arkan menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari bi Darmi. Bi Darmi memang bekerja bersams putrinya yang bernama Tata dan baru saja berusia 17 tahun, karena kakek Arkan untuk menyuruh bi Darmi membawa putrinya kemari hingga membiyayai sekolah putrinya.


Katanya kakek Arkan bilang kuatir kalau anak Gadis tinggal di kontrakan sendiri, walau pun kakek Arkan sudah berkali-kali untuk menyuru putri bi Darmi agar hanya fokus pada sekolahnya, tapi mungkin mereka berdua malu kalau putrinya hanya diam saja, sedangkan semua kebutuhanya di penuhi oleh kakek Arkan.


"Kenapa bibi harus menyuruh Gadis kecil? Asisten rumah tangga di sini ada 30 asisten, untuk apa bibi masih membiarkan Tata untuk mengepel?"


"Maaf den, biasanya tidak seperti ini, bibi juga dari tadi pagi bolak-balik tidak ada air di sani."


Saat mendengar jawaban dari Bi Darmi Arkan merasa ada yang janggal dengan air yang ada di lantai.


"Saya akan menyuruh putri saya untuk minta maaf den, bahkan kalau aden mau menghukum putri saya juga tidak apa-apa."


"Tidak perlu, saya bisa lihat Cctv terlebih dahulu bi, biar jelas. Saya tidak akan memarahi sesaorang tanpa bukti."


Sebelum bi Darmi menjawab ucapan dari Arkan, Arkan lebih dulu menaiki tangga untuk ke ruangan Cctv.


"Pak, tolong putar rekaman ruangan meja makan tadi."


"Baik den."


Penjaga rekaman Cctv itu langsung memutar rekaman itu hingga mereka berdua terkejut saat melihat Arrabella yang menyiram air sedikit demi sedikit ke lantai itu.


"Dasar Arra bermuka dua!"


Setelah mengatakan itu Arkan langsung ke luar dari ruangan itu lalu langsung memasuki life untuk ke kamar Arrabella yang ada di lantai 9.


Setelah sampai Arkan langsung mengetuk pintu kamar Arrabella.


Tok-tok.


"Masuk!"


Arkan yang mendengar ucapan dari dalam ia langsung masuk ke kamar itu dengan pintu yang terbuka lebar, ia tidak mau pintu kamar Arrabella di tutup karena takut kalau asisten rumah tangga di luar beranggapan macam-macam.


"Ada apa Arkan?"


Arrabella menatap bingung Arkan saat melihat wajah Arkan seperti sedang di penuhi amarah.


"Kenapa kamu ingin membunuh calon anakku Arra?! Kamu punya dendam apa sama aku sampa-sampai ingin membahayakan istriku dan calon anaku?!"

__ADS_1


Arrabella yang mendengar bentakan dari Arkan sangat terkejut, terlebih saat Arkan secepat itu mengetahui perbuatannya sendiri.


__ADS_2