
Setelah bermain badminton Raka memutuskan membawa Sulis untuk makan, karena sekarang jam sudah menujukan pukul 15.00WIB.
Sekarang mereka berdua sudah duduk di ruangan VIP.
"Kamu mengajak makan saja sampai ke ruangan VIP, memangnya kenapa?"
"Aku takut kamu terganggu, apa lagi kamu sedang di buru wartawan dengan berita pemecatan dari Xien Grup."
"Iya sebenarnya aku tidak nyaman, bahkan saat aku ingin menemui adikku ke rumah Arkan, aku tidak punya nyali, jujur saja aku malu."
"Kamu sudah menghunungi ponsel adikmu?"
"Ponsel adikku ada di rumah, saat aku berbohong kebetulan adikku dan Arkan sedang menginap di rumah, setelah kejadian itu mereka berdua belum datang ke rumah lagi."
Sulis menghela nafas berat.
"Aku jahat iya sebagai kaka sampai membuat adikku berbuat nekad?"
Raka langsung mengambil tangan kanan Sulis yang ada di meja karena mereka duduk berhadapan.
"Menurutku kamu tidak jahat, kamu juga tidak berharap adikmu mengelakuin itu'kan?"
Sulis hanya mengangguk pelan.
"Tapi tetap saja aku yang membuat adikku masuk ke dalam rumah sakit, apa lagi adikku itu memiliki darah rendah. Aku tidak tau bagai mana keadaanya, saat itu adikku melukai tanganya sendiri, darahnya keluar sangat banyak, aku sangat takut adikku dan janinnya terjadi sesuatu. Jujur saja aku sangat menyesal, tapi rasa menyesal itu tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi."
Air mata Sulis langsung mengalir deras, hatinya sangat sakit jika mengingat kejadian itu.
"Menyesal tidak ada gunanya Sulis, yang penting kamu sekarang mau belajar lebih baik lagi. Setelah makan aku akan telpon Arkan kalau kamu ingin mendengar kabar adikmu, cukup dengarkan saja aku percakapanku bersama Arkan."
Sulis yang di genggam tanganya, tangan kirinya ia tungkupkan di tangan Raka yang sedang memegang tangan kananya.
"Sekali lagi terima kasih Rak."
Raka hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
Tidak lama pelayan itu datang membawa pesanan mereka berdua.
"Silahkan di nikmati tuan dan nona."
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah pelayan itu pergi Raka melepaskan genggaman tanganya.
"Ayo makan dulu Lis."
"Iya."
Mereka berdua langsung baca do'a di pimpin oleh Raka. Sedangkan Sulis menatap wajah Raka sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Mereka berdua langsung memulai makan dengan sesekali saling menatap mata tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua hingga mereka selsai makan.
Setelah selsai makan Raka langsung mengajak Sulis duduk di sofa.
Raka langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi Arkan sesuai yang ia katakan sebelum makan tadi.
Raka langsung menpon Arkan hingga beberapa nutan baru di angkat, ia juga langsung melodspeker panggilan itu.
"Assalamualaikum."
Raka yang mendengar suara Suci mengucap salam ia langsung melihat ke arah Sulis sambil tersenyum.
Sulis yang melihat Raka tersenyum ia juga ikut tersenyum saat mendengar suara adiknya.
"Wa'alaikumsalam, ini Uci iya?"
"Iya kak, mas Arkan lagi mandi, ada apa iya kak?"
"Oh aku hanya ingin tau kabar kalian saja, bagai mana kabar kalian berdua?"
"Alhamdulilah kita berdua sehat kak."
"Kandungan kamu?"
"Alhamdulilah kandungan Uci baik-baik saja kak, hanya saja masih belum ada pengembangan, kandungan Uci masih lemah."
Sulis yang mendengar jawaban dari adiknya, ia menghela nafas berat dengan perasaan sedih, ia tidak menyangka kalau kandungan adiknya masih saja belum sehat.
"Tunggu kak, kaka dekat sama kak Sulis tidak?"
"Iya dekat tidak dekat, kenapa Uci?"
"Tolong bilangin kak Sulis kalau Uci di luar negri baik-baik saja, mas Arkan membawa Uci kemari agar Uci tidak banyak pikiran dan kecewa sama kak Sulis, karena hanya dengan cara Uci baik-baik saja, Uci juga bisa menjaga kandungan Uci. Satu lagi bilangin juga kalau Uci sudah memaafkan semua kesalahan kak Sulis. Uci sebenarnya ingin menghubungi Bunda dan kak Sulis, tapi mas Arkan melarang Uci, jadi Uci tidak berani untuk menghubungi Bunda dan kak Sulis."
Air mata Sulis yang sudah berhenti akhirnya mengalir deras lagi, ia tidak menyangka kalau adiknya masih tetap peduli dengannya, jelas-jelas ia sudah menyakiti adiknya berkali-kali, tapi adiknya masih tetap memaafkannya.
Tangan kanan Raka langsung menarik tangan Sulis agar menyadarkan kepalanya di bahunya, sedangkan tangan kirinya masih memegang ponselnya.
"Iya Uci, aku pasti akan sampaikan pesanmu pada Sulis."
"Terima kasih kak. Assalamualaikum."
"Sama-sama Uci. Wa'alaikumsalam."
Setelah panggilan itu terputus, Raka langsung memasukan ponselnya di saku celanya lagi, lalu mengelus lembut kepala Sulis yang masih di ikat tadi.
"Jangan cengeng dong. Mana Sulis yang aku kenal sangat keras kepala dan menyebalkan? Aku lebih suka kamu yang dulu, aku tidak suka kamu menangis dan terlihat rapuh."
"Uh dasar so dewsa, anak ingusan juga!"
Sulis berbicara dengan tangan kirinya yang memukul dada Raka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa aku di bilang anak ingusan, yang penting aku tidak cengeng seperti kamu."
Sulis langsung mengangkat kepalanya, ia menatap mata Raka yang sedang menatapnya.
"Kamu kenapa menjadi menyebalkan?"
"Aku menyebalkan juga karena kamu Sulis."
Entah kenapa tatapan Sulis yang begitu intim membuat detak jantung Raka berdetak lebih cepat.
"Jantung gue kenapa sih? Perasaan gue, gue enggak punya riwayat jantung, heran deh gue." batin Raka
"Pulang yuk Rak?"
"Kamu sudah mau pulang?"
"Iya, pasti Bunda kuatir kalau mobilku sudah datang akunya belum datang juga dari tadi."
"Oke."
Mereka langsung berdiri lalu keluar dari tempat ruangan VIP masih sambil berpegangan tangan.
Seperti biasa Raka hanya menatap lurus, sedangkan Sulis sesekali melihat ke arah wajah Raka sambil tersenyum lebar.
Setelah di dalam mobil Raka langsung melajukan mobilnya, tiba-tiba saja tangan kirinya menggenggam tangan kanan Sulis tanpa melihat ke arah Sulis.
Sulis melihat ke arah Raka sambil mengerutkan keningnya, ia bingung saat tiba-tiba Raka menggenggam tanganya, tapi ia juga tidak berbicara pada Raka, lalu matanya fokus melihat ke arah depan lagi sambil tersenyum lebar.
"Kalau punya pacar bocil lucu kali iya, kelihatanya Raka lelaki yang romantis." batin Sulis
Entah kenapa Sulis tiba-tiba saja pikiranya memikirkan tentang Raka, jelas-jelas dulu ia sangat membenci Raka karena mulut Raka seperti bon cabe level 10.
Raka yang baru menyadari ia menggenggam tangan Sulis, ia langsung melihat ke arah Sulis sambil melepaskan genggamanya.
"Mmmhhh maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu risih, jujur lupa, aku pikir di sampingku Riana."
Sulis yang mendengar ucapan dari Raka, ia langsung melihat ke arah Raka.
"Riana siapa? Apa dia kekasihmu?"
"Kenapa kamu jadi kepo hhmmm?"
Raka bertanya sambil menaik turunkan satu alisnya.
"Fokus saja menyetir bocil!"
Setelah mengatakan itu Sulis langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela, ia tidak tau ada apa dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat saat Raka memanggil nama wanita lain.
"Riana adikku, dia baru berusia 20 tahun."
"Aku tidak ingin tau."
__ADS_1
Bohong kalau hati Sulis tidak ingin tau siapa Riana, ia sangat ingin tau siapa Riana tadi.