
Mereka semua sampai di depan rumah Erlangga dengan posisi Arkan menggendong tubuh istrinya yang memang sudah terlelap dari masuk ke dalam mobil.
Arrabella tersenyum lebar saat melihat Arkan tanpa melihat siapa wanita yang dalam gendong Arkan.
Arrabella memang sudah menyukai Arkan semenjak Arkan terjun ke dunia bisnis, tapi ia sadar hanya lah cucu angkat dari Erlangga hingga ia tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya pada Arkan walau pun sekarang ia sudah memiliki profesi sebagai dokter kandungan.
"Hey what's up Arkan?!"
"Gunakan bahasa Indonesa Arra."
Arrabella mengangguk pelan masih sambil tersenyum hingga senyumannya hilang saat menyadari Arkan sedang menggendong istrinya.
"Aku ke kamar dulu Arra."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung masuk ke dalam life untuk menuju lantai 7 tempat ia biasa tempati saat di rumah kakeknya di luar negri.
Arrabella yang melihat Arkan masuk ke dalam life, ia menghela nafas berat dengan perasaan yang sangat kecewa, ia selalu berharap dan bermimpi seperti di derama cina yang saling jatuh cinta, tapi nyatanya pupus setelah berita pernikahan Arkan beredar.
Apa lagi sekarang Arrabella harus melihat langsung tentang bagai mana Arkan memperlakukan istrinya yang sangat romantis.
Erlangga langsung menepuk pelan punggung Arrabella sambil tersenyum.
"Jangan menatap Arkan seperti itu nak, apa kamu mencintai Arkan?"
Erlangga memang tidak pernah tau kalau cucu angkatnya menaruh perasaan pada cucu kandungnya.
Arrabella langsung melihat ke arah kakek angkatnya sambil tersenyum lebar.
"Mana mungkin Arra mencintai Arkan kek, Arra hanya cucu angkat dari kakek, Arra tidak pantas untuk bersama Arkan."
Jawaban cucu angkatnya mampu membuat Erlangga paham maksud dari perasaan cucu angkatnya kalau cucu angkatnya mencintai Arkan.
"Kakek harap kamu bisa membuang rasa cintamu pada Arkan, bukan karena kamu cucu angkat kakek, tapi Arkan sudah mencintai Suci, kalau saja Arkan mencintai kamu, kakek akan tetap setuju karena kakek tidak pernah memandang status."
Arrabella tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari kakeknya.
"Apa aku sekarang bisa berjuang mendapatkan cinta dari Arkan? Karena sekarang kakek sudah memberikan ijin untukku?" batin Arrabella
Erlangga yang tidak mendapatkan jawaban dari Arrabella, ia langsung melajutkan kembali ucapannya.
"Arra, kamu tau kalau Arkan mencintai Suci, jadi tolong lupakan Arkan, jangan berpikir dangkal seperti Sulis yang ingin merusak rumah Arkan dan Suci, kalau sampai itu terjadi, kakek tidak akan pernah memaafkanmu."
__ADS_1
Arrabella menghela nafas berat dan sangat kecewa saat mendengar ucapan dari kakek angkatnya.
"Arra tidak akan seperti Sulis kek."
"Bagus kalau kamu tidak berpikir seperti itu nak, karena hanya Suci yang mampu merubah Arkan untuk lebih baik lagi."
Setelah mengatakan itu Erlangga langsung duduk di sofa di ikuti oleh Arrabella yang ikut duduk di sofa, lalu mereka langsung berbincang-bincang ngombrolkan tentang bisnis.
Setelah membaringkan istrinya tadi Arkan sekarang baru saja selsai mandi, ia tersenyum lebar saat melihat istrinya sudah duduk di ranjang.
"Sayang sudah bangun?"
Arkan bertanya sambil menggosok-gosok kepalanya memakai handuk.
"Kita sudah sampai mas?"
"Iya sayang."
Suci langsung bergeser mendekati suaminya saat suaminya duduk di samping ranjang, lalu ia langsung memeluk suaminya sangat erat.
"Kapan aku bisa mengingat semuanya mas? Aku selalu ingin mengingat semuanya, aku ingin bahagia seperti pasangan pada umumnya."
Arkan juga membalas pelukan dari istrinya sambil menghela nafas berat, ia juga ingin rumah tangganya di selimuti rasa bahagia, bukan pernikahan yang penuh air mata, tapi mau bagai mana lagi ia anggap semuanya adalah ujian.
"Aku tau mas."
Suci langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan suaminya.
"Sayang mau makan?"
"Tidak mas aku belum lapar."
Suci berbaring sambil memainkan jari-jari tangan kanan suaminya.
Arkan menatap wajah istrinya sambil mengelus lembut kepala istrinya yang masih tertutup hijab.
"Mas, dulu apa aku tergolong wanita yang sangat patuh pada suami atau aku suka melawan sama mas?"
"Sayang adalah istri yang patuh pada suami dan selalu mengajarkan mas tentang agama, tapi sayang tergolong wanita yang cemburuan."
"Bagai mana tidak cemburu kalau suamiku sangat tampan seperti mas, jadi wajar kalau aku cemburu, karena bagiku di dalam diri mas tidak ada yang kurang satu pun. Mas memiliki sifat yang baik, penyayang, perhatian, sabar dan selalu bersikap dewasa, tidak ada sedikit pun yang kurang di dalam diri mas, jadi wanar kalau dulu mungkin aku sangat cemburuan sama mas."
__ADS_1
Tiba-tiba saja ponsel Arkan bergetar.
Dret... Dret...
Arkan langsung mengambil ponselnya di meja samping ranjang, ia langsung menghela nafas berat saat melihat nama yang menelponnya adalah ibu mertuanya.
"Mas, siapa yang telpon?"
Suci menatap bingung wajah suaminya saat melihat wajah suaminya berubah merah seperti sedang marah dan mendengar helengan nafas dari suaminya.
"Bukan siapa-siapa sayang."
Arkan langsung merijek panggilan dari ibu mertuanya, hingga sekarang ia masih marah pada ibu mertuanya dan masih ada kecewa saat mengingat istrinya membahayakan nyawanya sendiri karena di pojokan oleh ibu mertuanya.
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum, sebenarnya ia sangat penasaran, siapa yang menelpon suaminya hingga suaminya menahan amarah, tapi ia tidak ingin bertanya lagi, ia tidak ingin suaminya marah padanya.
Arkan baru saja mau meletakan ponselnya, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar
Dret...
Arkan langsung membuka pesan dari ibu mertuanya dan membacanya
"Bunda tau kamu marah sama Bunda, tapi Bunda ingin tau keadaan putri Bunda. Bunda ingin tau apa keadaan Suci sudah membaik? Tolong balas pesan Bunda kalau memang tidak mau mengangkat telpon dari Bunda. Bunda mohon nak, Bunda tau Bunda salah pada Suci, tapi tolong maafkan Bunda dan maafkan kebohongan yang di buat Sulis hingga membuat kekecawan di rumah tangga kalian."
Itu lah pesan yang di baca oleh Arkan. Namun Arkan sama sekali tidak berniat untuk membalas pesan itu, ia sadar kalau istrinya itu adalah putrinya.
Namun menurut Arkan tidak pantas di sebut seorang ibu di saat keadaan putri ke duanya sedang hamil muda dan baru saja pulih, tapi ibunya menyuruh putri ke duanya untuk bercerai hingga membahayakan nyawa putri ke duanya.
"Pesan apa yang mas baca? Boleh aku membacanya juga?"
Lagi-lagi Suci di penuhi rasa penasaran dengan perubahan wajah suaminya yang seperti sedang marah.
"Bukan apa-apa sayang, ini pesan dari Rangga."
Arkan berbicara sambil memaksakan senyum, lalu langsung menghapus pesan dari ibu mertuanya.
Setelah itu Arkan langsung meletakan kembali ponselnya di atas meja, ia langsung mengelus pelan kepala istrinya lagi.
"Ada apa Rangga menghubungi mas?"
"Rangga bilang pak Darka memutuskan kerja samanya sepihak, jelas mas marah karena mas sudag mengeluarkan uang 1 miliyar untuk mengajak pak Darka bekerja sama."
__ADS_1
Arkan menjawab ucapan dari istrinya dengan berbohong, sebenarnya perusahaan pak Darka masih di bawah naungan Wijaya Grup, tapi ia tidak ingin istrinya tau kalau Bunda dari istrinya yang menelponnya.