
Sudah satu malam Arkan dan Suci menginap di hotel, sore harinya mereka sedang berada di pesisir pantai, menikmati indahnya pantai dan angin sore yang berhembus.
"Mas foto yuk."
Arkan mengangguk pelan, ia memang sudah siap membawa tongsis, sebenarnya ia bukan tipe lelaki yang suka berfoto, tapi semuanya ia siapkan untuk istrinya.
Mereka langsung mengambil foto dengan Arkan yang memeluk pinggang istrinya dari belakang, lalu dengan Arkan yang mencium kening sang istri, masih banyak foto lainnya.
Mereka selsai berfoto, sekarang Suci sedang melihat hasil foto-fotonya bersama suaminya.
"Nanti di unggah di Instagram mas boleh sayang?"
Arkan sedikit demi sedikit akan membuka hubungannya dengan istrinya di sosial media, agar semua rekan bisnisnya atau pun fansnya tau kalau ia sudah menikah.
"Boleh mas, bahkan aku senang kalau mas mau membuka tentang pernikahan kita."
Arkan mengangguk sambil tersenyum, ia mengelus pelan pucuk kepala istrinya.
"Bagai mana sudah puas berfotonya?"
"Sudah mas, terima kasih."
"Sama-sama sayang."
Arkan langsung mengunggah foto yang tadi di Instagram miliknya, tidak lupa ia juga menandai Instagram istri dan menulis kata holiday with wife.
Hari semakin sore dan semakin ramai pengunjung, banyak juga dari mereka yang mengambil foto kemesraan Arkan dan istrinya, walau pun Arkan bukan seorang artis atau penyanyi, tapi Arkan selalu tampil di televisi sebagai pembisnis termuda di asia.
Bahkan hampir semua pengunjung juga tau siapa Arkan yang selalu menduduki rengking pertama dalam bidang perbisnisan.
Mereka semua memang belum tau pernikahan Arkan dan Suci. Banyak orang yang penasaran juga dan bertanya-tanya di hati mereka siapa yang begitu mersa dengan Arkan, apa lagi semua orang di situ juga tau kalau Arkan di kabarkan dekat dengan modelnya sendiri yaitu Sulis, tapi sudah 6 bulan belangkan ini mereka tidak pernah melihat Arkan dan Sulis tampil di media bersama.
Apa lagi saat Arkan kecelakaan, Arkan tidak pernah mucul lagi di televisi sampai 3 bulan lamanya, tapi 3 bulan belakangan ini mereka selalu melihat Arkan lagi tampil di televisi.
Namen ada juga yang tidak suka dengan kedekatan Arkan dan Suci, apa lagi Suci hanyalah wanita biasa tidak memiliki karir apa pun.
Ada ibu hamil yang ingin berfoto dengan Arkan dan Suci.
"Mas, aku ingin meminta foto dengan mereka."
Ibu hamil yang bernama Susi itu meminta ijin pada suaminya.
"Jangan malu-maluin deh Susi, mana ramai lagi, bagi mana kalau mereka berdua menolak?"
"Belum juga di coba, sudah aku mau meminta berfoto kalau mas tidak mau bilang dengan mereka."
Susi langsung mendekati Arkan dan Suci yang sedang asik ngobrol dengan di ikuti suaminya.
__ADS_1
"Permisi nak."
Suci dan Arkan langsung melihat obrolannya, mereka melihat ke arah ibu hamil yang sedang tersenyum.
"Iya ada bisa saya bantu bu?"
Arkan bertanya dengan suara yang sopan.
"Saya boleh meminta berfoto bersama kalian boleh? Saya penggemar berat nak Arkan."
Arkan melihat ke arah istrinya. Suci mengangguk pelan untuk menyetujui permintaan Susi.
"Boleh bu."
"Saya mau di tengah kalian boleh?"
Sekali lagi Arkan melihat ke arah istri untuk meminta persetujuan.
"Boleh mas, kasian ibu itu sedang mengandung."
Arkan mengangguk pelan. Mereka lansung berfoto, yang mengambil foto adalah suaminya Susi. Mereka mengambil beberapa foto.
Setelah selsai Suci tersenyum di balik cadarnya pada Susi.
"Kandungannya sudah berapa bulan bu?"
Suci mengangguk pelan.
"Semoga lahirannya lacar iya bu. Amin."
"Amin dek, kalau boleh tau kamu siapanya nak Arkan iya dek? Sepertinya masih muda sekali?"
"Saya istrinya mas Arkan."
Susi sangat terkejut dengan jawaban dari Suci, tidak heran dengan penampilan Suci yang tertutup bisa sangat mesra bersama Arkan.
"Walah ternyata pans ibu ini sudah menikah, apa lagi istrinya sholahah."
Susi merasa sangat kagum pada Arkan yang menikahi wanita sholehah, biasanya pembisnis akan menikahi wanita yang terlihat kecintikannya dan lekuk tubuhnya yang seksi, tapi berbeda dengan Arkan yang menikahi wanita sholehah.
"Iya bu alhamdulilah saya bisa menikahi wanita sholehah seperti Suci."
Arkan baru buka suara setelah dari tadi hanya mendengar tanya jawab dari Susi dan istrinya.
"Semoga selalu langgeng iya nak, bagai mana sudah mendapatkan hasil dari pernikahan kalian?"
Susi sudah mulai kepo, walau pun suaminya sudah berkali-kali memberikan kode untuk tidak kepo dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Belum bu, do'akan saja agar kita segera di berikan momongan."
"Amin, pasti nak semoga kalian bisa segera di berikan momongan, terima kasih sudah boleh untuk berfoto."
"Sama-sama bu."
"Semoga anak saya kelak kalau lelaki bisa tampan seperti nak Arkan, dan kalau perempuan bisa seperti nak Suci yang sangat sholehah. Kalau begitu kami permisi dulu nak."
"Iya bu."
Arkan dan Suci menjawab serempak. Suci melihat ke pergian Susi dengan senyum berbinar.
"Kapan iya aku juga merasakan seperti ibu tadi."
"Semoga saja secepatnya sayang."
Arkan menjawab ucapan dari istrinya sambil tersenyum melihat istrinya yang sedang melihat ke arah ibu hamil tadi.
"Mas, sudah iya kita ke kamar, aku capek."
Arkan mengangguk pelan, ia langsung merangkul pinggang istrinya kembali lagi ke kamar.
Sebenarnya Suci masih betah di sana, hanya saja banyak tatapan-tatapan yang menujukan tidak suka padanya, membuat ia merasa sangat risih, mungkin karena suaminya seorang pembisnis, hampir semua orang juga pasti mengenal suaminya.
Arkan dan istrinya sudah sampai di kamar. Suci menatap bingung ranjang yang sudah ada taburan bunga yang membentuk love dan ada meja makan yang sudah banyak makanan tertata rapih.
Kini Suci langsung melihat ke arah suaminya.
"Mas nyuruh orang buat bikin ini."
Suci berbicara sambil menujuk ke arah ranjang.
"Iya, kamu suka?"
"Aku selalu suka apa yang di siapkan oleh mas."
Arkan langsung membuka cadar istrinya, lalu membuka hijab istrinya, setelah itu ia langsung mengambil kotak kecil yang ada di saku celananya.
Arkan langdung berjongkok di depan istrinya sambil membuka kotak yang berisi kalung berlian.
"Suci, mas tau kalau mas lelaki yang jauh dari kata sempurna, mas tau kalau mas banyak kekurangannya, tapi kamu selalu memberikan aku untuk selalu percaya diri dan menganggap mas sempurna di matamu."
Suci melihat ke arah suaminya sangat terkejut.
"Mas tau kalau mas bukan lelaki yang bisa mengungkapkan kata cinta dengan bahasa arab sepertimu, tapi mas mencintaimu dari awal pertemuan kita. Kamu mau kan selalu di samping mas hingga kita sama-sama tidak bisa bernafas lagi?"
"Aku akan selalu di samping mas, apa pun yang akan terjadi di rumah tangga kita nanti. Bagi aku mas adalah lelaki yang paling sempurna, mas bisa menjadi sosok suami bahkan mas bisa menjadi sosok seorang Ayah, perlakuan manis mas yang selalu aku rasakan selama ini, aku merasa seperti memiliki seorang Ayah lagi, karena dulu setiap aku akan tidur, Ayah yang selalu menepuk punggungku."
__ADS_1
Air mata Suci jatuh begitu saja, Arkan memang bukan hanya berperan sebagai suami, tapi Arkan juga membuat ia merasa memiliki Ayah.