
Suci menghela nafas berat, apa Indra itu tidak pernah berpikir kalau sekarang ia kaka iparnya? Apa tidak bisa rasa cinta itu cukup di pendam saja, agar ia tidak merasa bersalah?
Flashback on
Awalnya hidup Suci sangat tenang, ia hanya berteman dengan Martin, ia tidak menyukai teman wanita, karena baginya wanita itu sangat merepotkan, tapi semenjak kehadiran anak baru yang bernama Indra, hidupnya mulai terusik, karena Indra selalu saja seperti penguntit, di mana ada ia pasti ada Indra. Jam istirahat Suci sedang makan bakso di kantin bersama Martin, tiba-tiba saja Indra datang dengan ke tiga temannya.
" Hai calon pacar."
Suci menatap Indra sekilas, lalu ia meneruskan makan baksonya. Mereka berempat langsung duduk di maja yang sama dengan Suci, sedangkan Martin sudah menghela nafas berat, melihat kelakuan ke empat teman dari beda kelasnya. Suci selsai makan, ia langsung berdiri, tapi tiba-tiba Indra langsung menghalangi jalan Suci.
" Gue enggak peduli berapa kali lo tolak gue Suci, gue tatap cinta sama lo, gue tetap akan selalu utarain rasa cinta gue sama lo, gua enggak peduli dengan banyak wanita yang suka sama gue, gue hanya cinta dan sayang sama lo Suci."
Bayak murid yang berbisik-bisik, karena mereka yakin kalau Indra akan di tolak lagi, entah sudah berapa kali Indra di tolak oleh Suci, tapi Indra tidak kapok dan selalu mempermalukan diri di depan Suci, jelas-jelas hampir semua murid di sekolah itu suka dengan Indra, tapi Indra tetap saja mengejar cinta Suci.
" Lo lagi, lo lagi dan lo lagi. Lo bisa enggak jangan ganggu gue?! Lo bisa enggak menghilang dari hidup gue?! Gue bosan terus saja lo ngomong cinta sama gue! Gue sudah berkali-kali nolak lo, lo mengerti bahasa manusia'kan?!"
Suci sudah mengepalkan ke dua tangannya, bukan ia membenci Indra, tapi ia kesal ketenangannya di usik, ia kesal Indra masih saja tidak mengerti dengan ucapannya, kalau ia menolak cintanya, tapi semakin hari Indra semakin gencar mendekatinya dan mengutarakan isi hatinya.
Suci menjadi merasa benci dengan diri sendiri, karena ia tidak bisa mencintai siapa pun selain cinta pertamanya yaitu Ayah sendiri, lelaki yang paling berharga dalam hidupnya, ia benci dengan diri sendiri karena selalu menyakiti perasaan setiap orang yang mengutarakan cintanya.
Memang Suci terkenal Gadis populer nomer satu di sekolah SMA Melati, bukan hanya karena kecantikannya dan lekuk tubuhnya yang seksi, tapi juga Suci sangat pintar, selalu menduduki peringkat satu dalam pelajaran apa pun itu.
" Kenapa lo enggak pernah belajar mencintai gue? Coba bilang apa kurangnya gue Suci?"
" Lo enggak kurang apa pun, lo sempurna, lo tampan, lo pintar, tapi mungkin mata gue dan hati gue yang bermasalah hingga gue enggak pernah cinta sama lo."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Suci menarik tangan Martin pergi dari kantin.
" Lo enggak kasihan Uci, terus nolak Indra?"
" Dari pada gue memberikan harapan palsu, lebih baik gue tolak dia, kalau rasa cinta Indra tumbuh sampai dewasa dan rasa cinta gue belum tumbuh, itu akan lebih menyakiti Indra."
Martin mengangguk pelan, memang ada benarnya juga ucapan Suci. Bukan hanya sampai di situ saja Indra mengutarakan cintanya bahkan Indra mengutarakan cintanya sampai 80 kali, tapi tetap saja Suci masih saja menolaknya.
Sudah Satu miinggu Suci tidak pernah ke kantin, semejak meninggalnya Ayahnya, ia lebih memilih menyendiri, ia duduk di bawah pohon besar samping sekolah itu, sedangkan Martin hanya menatap dari kejauhan, karena Suci bilang tidak ingin di ganggu, tapi bukan berarti Martin akan membiarkan Suci sendiri, ia akan tetap mematau Suci dan Suci juga menyadari kalau Martin memang selalu menatapnya. Indra menghampiri Martin yang sedang menatap ke arah Suci.
" Suci kenapa?"
" Ayahnya menunggal, Suci jadi lebih suka menyendiri."
" Iya sudah lo pergi saja, ntar gue yang nemenin Suci."
" Gue ngerti."
Indra langsung mendekati Suci perlahan, ia duduk di samping Suci yang masih diam membisi dengan air mata yang mengalir.
" Turut berduka cita iya, semoga bokap lo di berikan tempat terbaiknya."
Suci menatap Indra sekilas, lalu ia menatap ke arah depan lagi tanpa mengeluarkan satu kata pun.
" Suci, gue tau apa yang lo rasain pasti sakit, tapi lo beruntung bisa merasakan kasih sayang seorang bokap, tapi gue, gue enggak pernah tau bagai mana rasanyan di sayang oleh seorang nyokap."
__ADS_1
Kini Suci menatap ke arah Indra dengan tatapan bertanya dengan matanya.
" Nyokap gue enggak pernah menginginkan gue, kalau saja bokap gue enggak sayang sama gue, mungkin gue sudah terlantar dari lahir, lalu semenjak bokap gue nikah dengan Tanten Key, gue baru ngerasain di sayang oleh nyokap, di sayang oleh seorang abang, mereka berdua keluarga tiri gue, tapi mereka sayang gue, sedangkan nyokap gue, sampai gue sebesar ini, dia tidak pernah ingin nemuin gue, gue pernah minta pada bokap gue untuk bertemu nyokap gue, tapi setelah di pertemukan, nyokap gue enggak peluk gue, bahkan dia melarang gue untuk datang lagi kerumahnya."
Indra mengeluarkan semua unek-uneknya yang selalu jadi beban selama ini, ia bukan bermaksud curhat, tapi ia ingin Suci tegar dengan musibah yang menimpanya.
" Tapi Allah enggak sayang gue, Allah ambil Ayah gue, belum cukup'kah selama 4 tahun Ayah gue sakit-sakitan?"
" Itu bukan enggak sayang, tapi umur sesaorang memang sudah di tentukan sebelum kita lahir Uci."
" Gue enggak percaya itu, Hiks... Hiks..."
Indra menarik Suci dalam pelukannya.
" Menangis saja kalau memang bisa membuat lo jauh lebih baik."
Suci juga membalas pelukan dari Indra, sekarang memang ia sedang membutuhkan tempat untuk bersandar.
Setelah kejadian peluk memeluk, mereka menjadi semakin dekat, dan Indra juga tidak pernah lagi mengutarakan isi hatinya pada Suci.
Namen Indra selalu ada di samping Suci, bahkan saat Suci akan ke club malam, Indra melarangnya, tapi Suci kekeh ingin ke club malam untuk menghilangkan bebannya hingga Indra dan ke tiga temannya ikut mereka ke club malam, dan Indra juga yang selalu menjaga Suci dan mengantar Suci pulang saat keadaan mabuk.
Indra memang sangat tulus mencintai Suci, ia selalu membuat Suci nyaman dan berharap kalau suatu saat Suci juga membalas cintanya, tapi semenjak Indra kecelakaan, ia tidak pernah melihat Suci di sekolah, hingga Indra bertanyan pada ke tiga temannya kalau Suci pindah sekolah, dan mereka bertiga juga mengaku kalau mereka yang hampir melecehkan Suci dan membuat Suci pindah sekolah.
Indra bahkan datang ke rumah Bundanya Suci, ia bertanya tentang Suci, tapi Bundanya Suci tidak memberi tahu di mana Suci, Bunda Suci cuma bilang kalau Suci ingin belajar agama. Indra juga berkali-kali menghubungi Suci, tapi lagi-lagi nomer Suci tidak aktif, hingga di situlah mereka hilang komunikasi.
__ADS_1
Flashback off
Indra menghela nafas saat melihat Suci hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun setelah ia mengutarakan cintanya lagi