Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 86 Mengingatkan masa lalu


__ADS_3

Anisa menghela nafas berat sambil beristighfar saat merasakan penggungnya di elus pelan olen Reyhan.


Anisa langsung memeluk Reyhan yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri untuk menyalurkan emosinya dan rasa kecewanya pada putrinya, bahkan air mata yang awalnya menetes satu kali itu menjdi lebih deras.


"Maaf Bun, Rey sudah membuat Bunda menangis karena masalah ini."


Reyhan merasa sangat bersalah karena telah mengatakan di depan Anisa, mungkin kalau ia tidak berbicara di depan Anisa, Anisa tidak akan menangis dan kecewa pada putrinya, tapi bagi ia Anisa berhak tau bagai mana kelakuan putri pertamanya yang menurut ia tindakannya tidak bisa di maafkan.


"Tidak apa-apa nak, seharusnya Bunda yang harus tau lebih dulu kelakuan putri Bunda, tapi bahkan tadi Bunda membela Sulis dan percaya kalau Sulis tidak akan melakukan itu, tapi nyatanya Sulus tega melakukan di luar batas."


Setelah perasaannya lebih tenang Anisa melepaskan pelukannya, ia langsung menatap ke arah Sulis yang dari tadi hanya diam membisu.


"Apa kesalahan adikmu Sulis? Dari dulu sebelum menikah kamu selalu saja memojokan masa lalunya, seolah-olah masa lalu adikmu itu sangat menjijikan, lalu kamu yang menyuruh adikmu untuk menikah, bukan hanya itu kamu juga menghina Arkan sampai membuat orang tuanya menangis, dan sekarang kamu tidak tau malu ingin mengambil Arkan dari adikmu? Bagai mana bisa kamu memiliki pikiran seperti itu?"


Anisa menghela nafas berat sebelum melanjutkan pembicaraannya, ini adalah pertama kalinya ia berbicara terlalu banyak.


"Kamu tidak ingat kalau adikmu itu sampai mengorbankan kebahagiaannya? Adikmu melepaskan Gus Ali, lelaki yang adikmu cintai hanya demi membuat keluarga Arkan tidak malu. Adikmu pasti menderita di awal pernikahannya yang harus sekamar dengan suami yang sama sekali belum adikmu kenal, di tambah lagi adikmu pasti tersiksa karena harus menghapus nama Gus Ali dan belajar mencintai suaminya, tapi setelah mereka saling mencintai kamu dengan seenaknya menginginkan Arkan, di mana letak hati nurani kamu Sulis?"


"Maaf Bun, Sulis mencintai Arkan, Sulis tidak bisa melepaskan Arkan."


"Mencintai lelaki mana pun memang boleh, tapi kalau ingin memiliki lelaki yang sudah beristiri, Bunda tidak akan pernah mengijinkan kamu untuk menikah. Apa lagi lelakinya suami dari adikmu sendiri. Jangan buat Bunda merasa bersalah pada almarhum Ayah karena Bunda tidak bisa mendidik kamu dengan baik Sulis. Jangan mementingkan diri sendiri, Bunda mohon nak."


Tidak ada nada membentak dari ucapan Anisa yang berbicara panjang lebar, walau pun ia sangat kecewa dan marah sama putri pertamanya, tapi rasa sayangnya tetap sama besarnya, karena ia tetap seorang ibu.

__ADS_1


Namen tidak bisa di pungkiri hati Anisa sakit saat tau putri pertamanya yang sangat egois dan selalu memaksakan kehendak.


"Tapi Sulis hanya ingin memiliki Arkan Bunda, cinta Sulis dari dulu hingga sekarang hanya untuk Arkan."


Tidak ada lagi nada kasar dari mulut Sulis saat melihat Bundanya menangis, tapi ia juga tidak bisa melepaskan Arkan, ia hanya ingin memiliki Arkan.


Sulis juga sebenarnya tidak apa-apa kalau harus menjadi istri ke dua, kalau pun perlakuan Arkan berbeda dengan ia dan adiknya, asalkan ia bisa di nikahi oleh Arkan.


Sulis merasa kalau penyesalannya itu masih belum terlambat, bukan'kah ia selalu menchat Arkan sebelum Arkan menjalani terapi dengan Reyhan, jadi menurutnya ia berhak memperjuangkan Arkan, bukan karena kaki Arkan sudah sembuh, tapi karena ia memang sangat mencintai Arkan.


"Tolong jangan lakukan kekacawan lagi nak, jangan sampai kamu menyesal untuk ke dua kalinya, Bunda mohon nak, untuk kali ini saja Bunda memohon dan meminta padamu, dari kecil hingga kamu dewasa, Bunda tidak pernah meminta apa pun dari kamu, tapi kali ini Bunda akan meminta satu, tolong jangan kacaukan rumah tangga adikmu."


Air mata Anisa langsung mengalir deras, bukan hanya kecewa dan marah saja, tapi ia sedih harus ada salah satu hati putrinya yang terluka.


Reyhan mengelus pelan punggung Anisa, ia merasakan hatinya sangat sakit saat wanita yang sudah ia anggap sebagai seorang Bunda itu harus menangis dan memohon pada putri pertamanya sendiri.


"Bunda pikir Sulis juga tidak menderita? Bunda pikir Sulis baik-baik saja? Sulis juga sama Bun seperti adek yang sangat menderita, terutama kasih sayang, apa keluarga ini menyayangi Sulis sepenuh hati? Jawabannya tentu tidak, semua orang selalu menyalahkan Sulis, terutama kake dan tante yang selalu memojokan Sulis, tapi adek, kalau pun memiliki kesalahan selalu di bela, semua keluarga ini tidak pernah memperlakukan Sulis dan adek dengan adil."


Air mata Sulis tiba-tiba saja mengalir saat mengingat masa kecilnya, dulu kakenya mau pun tantenya dan keluarga lainnya tinggal bertetengga, tapi ia selalu di salahkan, apa pun yang Suci lakukan keluarganya tidak pernah menegur atau memarahinya walau pun sudah tau Suci salah.


"Maafkan mereka nak, jangan pernah kamu memiliki dendam, dan jangan lampiaskan kebencianmu pada adikmu, kamu yang lebih dewasa harusnya kamu berpikir dewasa, Rey juga dulu tidak pernah di perlakukan baik seperti mereka memperlakukan adikmu, tapi Rey tidak pernah memilik kebencian."


"Bunda menyalahkan Sulis lagi?! Seharusnya dulu biarkan saja Suci meninggal!"

__ADS_1


Emosi Sulis tidak bisa ia tahan lagi, ia berbicara kasar sambil masih menangis.


Anisa menggeleng pelan sambil air matanya semakin deras, tubuhnya mendadak lemas saat mengingat masa lalu putri ke duanya yang hampir meninggal karena kecelakaan, ia mengingat darah yang mengalir di aspal dengan hujan yang sangat lebat, dan putri pertamanya yang memberikan darahnya saat putri ke duanya kehabisan darah.


Bahkan putri ke duanya juga ko'ma sampai 6 bulan lamanya, dan seluruh keluarganya berjanji akan melakukan apa pun asalkan putri ke duanya hidup, di situ lah kenapa keluarganya selalu memperlakukan Suci dengan berbeda, karena bagi mereka selama Suci hidup saja sudah bersyukur.


Anisa yang tubuhnya sudah bergetar ia hampir terjatuh ke lantai, tapi Reyhan dengan sigap menahan tubuh ia.


"Iya Allah, istighar Bun."


Reyhan langsung menyanggah tubuh Anisa, ia tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini, dan akan mengingatkan Anisa ke dalam masa-masa sulit lagi.


"Jaga bicaramu Sulis, jangan biarkan Bunda sakit hanya karena masa lalu Suci, kamu itu sebagai anak harus memikirkan Bundamu."


Reyhan berbicara sambil meneteskan air matanya saat melihat tubuh Anisa lemas.


Reyhan tau kejadian itu adalah kelemahan Anisa, hingga sampai sekarang Anisa takut dengan darah, karena bayang-bayang putri ke duanya saat kecelakaan akan ia ingat saat melihat banyak darah.


Sulis langsung menghapus air matanya dengan kasar, lalu ia pergi dari rumahnya.


Reyhan langsung membantu Anisa untuk duduk di sofa. Setelah duduk di sofa Reyhan memegang ke dua tangan Anisa.


"Maafkan Rey Bun, harusnya Rey tidak perlu mengatakan permasalahan ini pada Bunda."

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak, ini bukan salah kamu, kalau kamu tidak bilang, Bunda tidak akan tau kelakuan putri Bunda."


__ADS_2