
Setelah selsai dan istrinya sudah tidur, Arkan hanya menatap wajah lelah istrinya sambil tersenyum lebar, ia merasa sangat lucu saat mengingat istrinya merajuk tidak jelas.
Arkan juga memang sudah menginginkannya dari 3 hari yang lalu, tapi ia tidak berani meminta karena istrinya sedang hamil muda, apa lagi istrinya itu belum sembuh total, ia takut istrinya capek.
Arkan langsung turun dari ranjang untuk pergi membersihkan tubuhnya, sebelum ia pergi ke kamar mandi, ia mencium kening istrinya cukup lama.
"Terima kasih sayang."
Setelah mengatakan itu Arkan baru saja akan melangkah, tangan kirinya sudah di tarik oleh istrinya hingga Arkan jatuh ke atas ranjang, tapi ia bersyukur karena tangan kananya untuk menahan tubuhnya, jadi ia terjatuh di samping istrinya.
Suci memeluk suaminya dengan mata yang masih terpejam, ia juga meneteskan air matanya sambil berbicara pada suaminya masih dengan keadaan tidur.
"Mas jangan tinggalin aku, aku tidak mau mas menikah sama kaka. Hiks... Hiks..."
Arkan yang mendengar ucapan dari istrinya yang masih tertidur pulas, membuat ia menghela nafas berat, ia tidak menyangka kalau istrinya memimpikan hal yang membuat ia mengingat Sulis dan membenci Sulis.
Kalau saja bukan karena Sulis, istrinya tidak akan menjadi seperti sekarang hilang ingatan untuk mempertahankan janin yang ada di dalam kandunganya.
"Sayang, bangun."
Arkan membangunkan istrinya sambil menepuk pelan pipi istrinya yang masih memejamkan mata.
Namun sama sekali tidak ada jawaban dari istrinya membuat Arkan menghela nafas berat, sepertinya setelah istrinya sudah tidak terpengaruh obat hilang ingatan, ia harus membawa istrinya pergi menjauh dari Bundanya dan kakanya untuk sementara, itu pun kalau istrinya mau, kalau istrinya tidak mau ia terpaksa mengikuti kata istrinya, yang penting tidak membuat istrinya banyak pikiran.
"Jangan tinggalin aku mas. Hiks... Hiks... Aku mohon mas. Hiks... Hiks..."
"Istighfar sayang iya Allah, bangun sayang."
Arkan sangat kuatir pada istrinya, ia lagi-lagi menepuk pelan pipi istrinya yang masih memejamkan mata dan setetes air mata ia jatuh di pipinya begitu saja, hatinya sakit saat melihat istrinya menangis sambil memejamkan mata.
Arkan yang terus di peluk oleh istrinya, ia menepuk pelan punggung istrinya sambil membacakan surat Ar Rahman untuk menenangkan hati istrinya.
Namun tidak bisa Arkan pungkiri hatinya masih sakit dan pikirannya tidak karuan masih membacakan surat Ar Rahman.
Suci yang terus mendengar suara suaminya yang membacakan surat Ar Rahman, ia mulai bangun dari tidurnya, saat membuka mata, ia bisa melihat suaminya yang sedang membacakan surat Ar Rahman dengan mata yang memerah dan bisa ia lihat suaminya seperti habis menangis.
"Sayang sudah bangun?"
Arkan bertanya sambil mengelus pelan pipi kanan istrinya.
"Mas, aku tadi mimpi buruk mas, apa aku memiliki kakak? Apa kakak juga mencintai mas? Kenapa di mimpi itu juga benar kalau mas juga mencintai kaka? Aku yakin bukan hanya mimpi, atau jangan-jangan kalian selama ini menjalin hubungan di belakangku?"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu air mata Suci mengalir semakin deras dan tubuhnya begetar.
Arkan langsung menarik istrinya dalam pelukannya sambil menghela nafas berat.
"Istighfar sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak, mas memang pernah menjalin hubungan bersama kaka sayang, tapi bukan berarti mas masih memiliki hubungan bersama Sulis."
Suci menangis semakin tersedu-sedu saat mendengar jawaban dari suaminya, tubuhnya semakin bergetar, ia mencoba mengingat semua masa lalunya, tapi ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Sayang, jangan menangis terus, kasihan dedenya sayang."
Suci hanya menggelengkan kepalanya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya.
"Istighfar sayang, itu hanya masa lalu, semua orang memiliki masa lalu, jadi jangan berpikir macam-macam sayang."
Arkan menundukan kepalanya untuk melihat wajah istrinya yang semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang miliknya.
Setelah sekitar 1 menit, Suci mengangkat kepalanya untuk melihat wajah suaminya.
"Apa aku juga dulu pernah memiliki masa lalu mas?"
"Tentu punya sayang, kamu juga pernah mencintai Gus Ali, putra dari pak Kiai tempat sayang menimba ilmu."
"Setelah kita menikah, apa aku masih mencintai lelaki itu mas?"
Suci yang mendengar pertanyaan dari suaminya, ia langsung melihat ke tubuhnya yang masih telanjang bulat, lalu melihat ke arah suaminya yang hanya telanjang dada, rasa sedihnya hilang seketika menjadi rasa malu.
Wajah Suci langsung memerah lalu langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
"Ih mas jahat, aku masih telanjang ternyata."
Arkan tersenyum lebar lalu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya dan tubuhnya.
"Bagai mana tadi, permainan mas bisa buat sayang puas tidak?"
Arkan sengaja bertanya hal mesum untuk mengalihkan pikiran istrinya yang sedih karena mimpi tidak jelas tadi.
"Sangat puas, bahkan lebih puas hingga membuat aku tertidur pulas he."
Setelah mengatakan itu Suci langsung melihat wajah suaminya sambil tersenyum, sedangkan tangannya tidak mau diam, terus meraba-raba dada bidang milik suaminya.
Arkan semakin tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari istrinya sambil menggeleng pelan, karena tangan istrinya yang tidak bisa diam.
__ADS_1
"Sayang, jangan membangunkan milik mas, entar mas gempur lagi baru tau loh."
Arkan berbicara pada istrinya sambil berbisik.
Suci yang mendengar suara dari suaminya yang begitu seksi membuat ia menggigit pelan dada suaminya.
"Sayang ampun! Geli tau sayang!"
Arkan berbicara dengan tangan kirinya yang mencengkram kuat sprei, karena ia merasa sangat geli dengan kelakuan istrinya.
Suci yang mendengar ucapan dari suaminya ia langsung menghentikan aksinya lalu langsung tertawa terbahak-bahak, apa lagi saat tau tangan kiri suaminya yang mencengkram sprei membuat ia merasa sangat lucu.
"Berhenti tertawa sayang, nanti mas buat melenguh baru tau!"
Suci menghentikan tawanya, ia langsung memukul dada suaminya dengan tangan kirinya karena malu, ia mengingat permainan suaminya tadi yang membuat ia melenguh dengan suara keras.
Kini Arkan yang tertawa karena tau kalau istrinya sedang merasa malu.
Suci yang mendengar tawa dari suaminya, ia dengan cepat menggigit bibir bawah suaminya, lalu tersenyum lebar saat melihat wajah terkejut dari suaminya.
"Ternyata bibir mas nikmat."
Suci berbicara tanpa dosa, walau pun sudah tau bibir suaminya semakin bengkak karena ulahnya.
"Jangan aneh-aneh sayang, jangan ngajarin dede yang tidak-tidak."
Arkan berbicara sambil mengelus pelan punggung istrinya dari dalam selimut.
"Aku tidak mengajari dede mas, siapa suruh bibir mas sangat manis lebih dari madu."
Arkan langsung menggigit pelan hidung istrinya, lalu ia langsung tersenyum lebar.
"Uh sakit mas, jangan aneh-aneh, jangan ngajarin dede yang tidak-tidak."
"Suruh siapa hidung sayang sangat manis lebih dari madu."
Arkan menjawab ucapan dari istrinya dengan meniru ucapan dari istrinya.
"Mas jahat!"
Suci berbicara sambil memukul dada bidang milik suaminya.
__ADS_1
Arkan hanya menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar ucapan dari istrinya.
"Aku hanya berharap kamu selalu bahagia Uci, tanpa di ganggu oleh kakamu lagi." batin Arkan