Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 39 Hukuman


__ADS_3

Dari semenjak berbicara dengan Indra, Suci menjadi terus saja berpikir tentang suaminya yang mengatakan tidak akan pernah mencintainya, bahkan ia juga seperti orang linglung, di kampus juga ia tadi tidak fokus untuk belajar, hingga sore hari juga masih berpikir tentang ucapan Indra.


" Apa mas Arkan hanya menerimaku untuk mendapatkan Wijaya Grup dan tidak ingin menanggung malu di depan keluarganya? Kalau memang begitu lalu harus di bawa kemana hubunganku ini? Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku, apa mas Arkan tidak akan menceraikanku suatu saat? Astagfirullah Suci, kenapa kamu selalu berpikir suudzon pada suamimu sendiri, ingat Suci dosa." batin Suci


Suci mondar-mandir di depan teras rumah sambil menunggu suaminya pulang dari kantor, ia juga sudah hampir satu jam mondar-mandir di depan teras rumah. Suci melihat jam di tangannya, sudah pukul 17.00WIB, suaminya masih saja belum pulang, kemarin suaminya pulang pukul 16.00WIB.


" Mas Arkan kenapa belum pulang iya? Apa mas Arkan masih sibuk di kantor?" batin Suci


Keyla dan Bagas baru saja turun dari mobil, mereka melihat menantunya yang mondar mandir tidak jelas.


" Assalamuailikum."


" Wa'alaikumsalam."


Suci langsung mencium tangan mama mertuanya.


" Kamu kenapa sayang? Sepertinya pikiranmu tidak tenang?"


" Tidak apa-apa ma, mas Arkan kenapa belum pulang samapai sekarang iya ma?"


" Mungkin sibuk sayang, kamu tidak perlu menunggu di teras begitu, takutnya Arkan lama pulangnya, kemarin itu pertama kalinya Arkan pulang sore, biasanya Arkan pulang jam delapan atau jam sembilan malam sayang."


Memang yang di katakan Keyla itu benar, Arkan kalau sudah bekerja, ia akan lupa dengan namanya waktu, ia pikir kemarin itu karena ingat istri dan berharap pulang selalu pukul 16.00WIB, tapi ternyata hanya kemarin, hari ini Arkan pulang telat lagi.


" Iya ma."


" Masuk gih, kalau gitu mama dan papa masuk dulu iya. Kamu juga masuk."


" Iya ma."


Keyla sebelum masuk mengelus pelan kepala menantunya yang tertutup hijab, ia dan suaminya tetap menyayangi Suci seperti putrinya sendiri, walau pun mereka tau kalau Suci belum mencintai putranya, tapi bagi mereka itu hal yang wajar karena Suci dan putranya baru saja kenal beberapa hari, dan mereka juga berpikir mungkin putranya juga masih mencintai Sulis.

__ADS_1


Walau pun mereka tau putranya selalu tersenyum bahagia, tapi bagai mana pun juga Sulis pernah menjadi masa lalunya, tentu bukan hal yang mudah di lupakan. Keyla dan Bagas langsung masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Suci, ia langsung duduk di kursi yang ada di teras, ia sambil menekan-nekan tombol ponselnya, ia sebenarnya ingin menelpon suaminya, tapi ia takut kalau nanti mengganggu pekerjaan suaminya. Suci menatap foto pernikahannya di layar ponsel, ia tersenyum lebar saat melihat foto itu, bukan ke dua orang yang ia amati di foto itu, ia hanya menatap foto suaminya yang tersenyum bahagia.


" Mas, kebahagian seperti apa yang kamu rasakan saat itu? Apa kebahagian karena akan mendapatkan perusahaan milik papamu?" batin Suci


Sekali lagi Suci berburuk sangka pada suaminya, ia jadi bingung sendiri dengan perasaanya, ia saja belum memiliki rasa cinta pada suaminya, kini harus di hadapkan dengan ucapan dari Indra, bagai mana ia tidak percaya omongan Indra, kalau ia saja dulu bersahabat dan suaminya itu kaka tirinya, jelas ia begitu percaya terhadap Indra. Jam sudah menunjukan pukul 17.14WIB, Arkan baru pulang.


Suci yang melihat mobil suaminya ia berlari kecil kerena tempat parkir mobil suaminya itu sekitar 10 meter dari teras rumah. Suci sampai di samping mobil suaminya, ia langsung membuka pintu mobil.


" Assalamualaikum istriku."


Sebenarnya Arkan sedikit canggung saat pergi dan datang selalu uluk salam, tapi ia tidak ingin di sindir seperti kemarin pagi, karena yang mengucapkan salam lebih awal adalah istrinya, jadi ia merasa tersindir dan mencoba membiasakan diri.


" Wa'alaikum salam suamiku."


Suci langsung meraih tangan suaminya untuk ia cium, lalu di balas cium kening oleh suaminya. Pak Budi yang sedang menurunkan kursi roda, ia tersenyum melihat ke dua majikannya, yang terlihat begitu romantis. Suci langsung membantu suaminya turun dari mobil.


" Terima kasih pak Budi, sudah mengantarkan suami saya dengan selamat."


Pak Budi tersenyum, sudah dua hari Suci selalu mengatakan itu dan seolah-olah ia seperti begitu berjasa di depan Suci, jelas-jelas ia supir dan sudah tugasnya seperti itu. Suci langsung mendorong suaminya masuk ke dalam rumah sambil membawa tas kerja suaminya.


" Mas, hari ini ko pulang telat?"


" Iya tadi jam empat mas harus meeting, kenapa kamu sudah lama menunggu di teras rumah?"


" Iya mas."


" Maaf, mas lupa untuk mengabari kamu, kamu tidak perlu tunggu mas di teras rumah Uci."


" Itu sudah seharusnya mas, seorang istri harus menyambut suaminya pulang."

__ADS_1


Arkan hanya mengangguk pelan, walau pun ia lumpuh, tapi sekarang hidupnya begitu berwarna semejak kehadiran Suci, terlebih saat ia tau siapa Suci sebenarnya dan Suci juga memintanya untuk tidak bercerai setelah keselah pahaman itu terjadi, tentu ia lebih bahagia lagi, walau pun ia tidak tau kapan hati istrinya itu miliknya, tapi ia hanya bisa berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk wanita yang ia cintai dan sekaligus suami yang baik untuk istrinya.


Mereka sampai di kamar, Suci langsung membantu suaminya membuka jasnya. Setelah itu Suci membuka cadarnya, lalu ia menatap wajah suaminya dengan ke dua tangannya yang ia taroh di sisi kursi roda. Arkan yang di tatap dengan intens oleh istrinya menjadi salah tingkah.


" Apa yang kamu lakukan?"


" aku hanya menatap wajah mas yang terlihat capek."


" Iya tapi tidak usah menatap mas sampai seperti itu."


" Wajah mas bersemu merah, mas malu iya sama aku?"


Suci tertawa kecil saat melihat wajah suaminya yang bersemu merah. Arkan tersenyum lebar saat melihat tawa istrinya yang seperti tanpa beban. Suci langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri suaminya sekilas dengan perasaan malu, tapi ia juga harus buat suaminya juga mencintainya, ia tidak ingin berjuang sendiri untuk mencintainya.


" Itu adalah hukuman dariku karena mas telat pulang."


Awalnya Arkan terkejut saat istrinya mencium ke dua pipinya, tapi setelah mendengar ucapan dari istrinya ia tertawa, karena bagi ia istrinya itu lucu.


" Uci."


" Iya mas."


" Mas akan sering-sering pulang telat, biar dapat hukuman dari kamu, lagian hukuman dari kamu mas anggap rezexi yang tidak pernah tertandingi dengan semua harta mas."


Suci tersenyum mendengar ucapan dari suaminya sambil menggeleng pelan.


" Mas, semoga kamu juga berjuang untuk mencintaiku dan melupakan kak Sulis, aku tidak ingin jatuh seorang diri." batin Suci


" Sudah gih mas mandi sekarang, sebentar lagi akan maghrib."


" Iya Uci."

__ADS_1


Arkan mengelus lembut kepala istrinya yang masih tertutup hijab, lalu ia langsung berjalan ke dalam kamar mandi masih sambil tersenyum, ia tidak menyangka kalau akan mendapatkan hukuman aneh dari istrinya.


" Suci-Suci, ada-ada saja, hukuman ko di cium, sering-sering saja telat pulang biar dapat hukuman dari kamu." batin Arkan


__ADS_2