
Arkan yang akan memberikan epek jera pada salah satu akun gosip bukan tanpa alasan, karena salah satu akun gosip itu menyangkut nama istrinya, kalau saja yang di jelekan ia sendiri, baginya tidak masalah, ia sudah terbiasa sering masuk kabar berita dalam hal apa pun itu, tapi istrinya belum terbisa masuk dalam kabar berita, apa lagi kabar berita itu sangat memojokan istrinya dan seolah-olah istrinya yang paling bersalah, kalau saja salah satu akun gosip itu mengatakan ia yang mencintai Suci hingga membuat berakhir hubungannya bersama Sulis, mungkin ia tidak akan marah.
Belum lagi istrinya sedang hamil, ia takut kalau akan membawa pengaruh buruk dalam mental istrinya, apa lagi pikiran wanita hamil selalu sensitif.
2 hari setelah pulang dari hotel laut biru Arkan sudah siap-siap bersama istrinya untuk cek ke dokter kandungan, ia juga sudah menelpon dokter Parah kalau ia akan memeriksa kandungan istrinya.
Arkan dan istrinya sekarang sudah ada di mobil, ia memeluk istrinya yang memang tubuh istrinya sangat lemas, saat mandi saja istrinya hampir saja terjatuh kalau ia tidak mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Seperti yang di sampaikan oleh dokter Tasya saat itu, Arkan selalu mengikuti kemana pun istrinya pergi, hanya untuk berjaga-jaga.
Sekarang Arkan dan istrinya sudah sampi di parkiran rumah sakit, ia langsung turun dari mobil bersama istrinya.
"Bentar iya pak."
"Iya den."
Arkan dan istrinya masuk ke rumah sakit sambil merangkul pinggang istrinya.
Banyak sepasang mata yang melihat ke arah mereka berdua untuk sesekali saja, karena mereka tidak berani menantap langsung pada Arkan yang terkenal sebagai pembisnis muda.
Apa lagi beritanya pernikahannya sudah beredar luas, di tambah lagi dengan istri Arkan yang di tuduh sebagai orang ke tiga di hubungan Arkan dan Sulis, tentu saja akan membuat semua orang penasaran siapa sebenarnya Suci, memiliki keahlian seperti apa hingga Arkan bisa jatuh dalam cinta pada Suci.
Lalu mereka juga berpikir apa posisi Arkan dan Suci itu sebanding, hingga membuat Arkan memilih Suci dari pada Sulis yang seorang model papan atas dan bintang iklan, termasuk kecantikan Sulis yang sudah tidak di ragukan lagi.
Arkan sampai di ruangan cek kandungan. Suci sudah duduk di ranjang rumah sakit yang akan di peiksa oleh dokter Parah.
Sedangkan Arkan berdiri di samping istrinya.
Dokter Parah yang sekaligus keponakan dari Bagas itu tersenyum ramah pada Arkan yang dari tadi memasang wajah tegang.
Dokter parah selsai mengecek kandungan dari Suci.
"Wah bang cepat banget produksinya iya, Parah tidak menyangka benih abang itu mujarap."
__ADS_1
Arkan yang mendengar ucapan dokter Parah, ia langsung menyentil kening dokter Parah yang memang sudah akrab dengan ia.
Pltek..
"Aw! Sakit tau bang, orang di puji ko di balas dengan sentilan."
"Iya biar kamu ngiri kalau abang bakalan punya bayi."
"Hahaha! Aku tidak akan ngiri bang, soalnya calonnya belum dapat."
"Lelaki idaman sudah dapat, kamu saja yang tidak mau berjuang."
Arkan sudah tau siapa yang di sukai dokter Parah selama ini, yaitu salah satu sahabatnya sendiri, Rangga, hanya saja ia tau kalau Rangga tidak suka memiliki hubungan, yang jelas Rangga hanya mementingkan kepuasan.
"Bagai mana mau berjuang kalau dia saja penjahat kelamin, maunya celub-celub sama pelacur di luar sana, yang ada nanti aku juga cuma di celub-celub lalu di tinggal kabur."
Arkan sekali lagi menyentil kening dokter Parah.
Pltek...
"Jangan berbicara frontal di depan istriku."
"Iya elah bang, dia sudah mengandung bukan anak-anak lagi."
"Sudah, jangan mengoceh terus, pasienmu masih banyak. Jadi usia kandungannya berapa minggu?"
"Masih 2 minggu bang, jadi belum bisa di USG, abang bisa datang lagi setiap bulannya untuk cek rutin perbulan. Tolong jangan biarkan kak Suci banyak berpikir, karena kondisi janinya masih terlalu lemah, perbanyak makan buah-buahan dan sayur penambah darah."
Dokter Parah menghela nafas berat setelah menjelaskannya pada Arkan. Memang kondisi ibu hamil sering kurang darah, bahkan sampai usia kandungannya 24 minggu baru normal kembali, tapi saat ia memriksanya memang bukan karena paktor hamil, tapi mungkin Suci sering mengalami kurang darah.
" Abang ini tebus vitamin dan suplmen penambah darah ke repsepsionis."
Arkan mengambil kertas yang di berikan oleh dokter Parah.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu abang sama istri abang pamit dulu."
"Sama-sama bang."
Arkan langsung merangkul pinggang istrinya keluar dari ruangan dokter Parah, ia juga menebus vitamin dan suplmen penambah darah. Setelah selsai Arkan keluar dari rumah sakit, baru juga keluar istrinya menghentikan langkah kakinya sambil memegang kepalanya.
"Kenapa sayang? Kepalanya pusing?"
Suci mengangguk pelan. Arkan langsung menggendong istrinya lalu berjalan ke arah mobil.
Pak Budi langsung membukakan pintu mobil saat melihat majikannya sudah datang.
Arkan dan istrinya sudah di dalam mobil, dan mobil itu sudah melaju untuk pulang.
"Ya Allah, berilah kekuatan pada istri hamba dan janin yang ada di dalam kandungan istri hamba. Amin." batin Arkan
Arkan yang memeluk istrinya hatinya begitu resah, melihat tubuh istrinya yang sudah 2 hari ini ngedrop dan kepala istrinya yang sering pusing.
Memang istrinya tidak mual-mual seperti di hotel saat itu, tapi kondisi istrinya bahkan lebih parah dari biasanya.
"Sayang, jangan pikirkan masalah yang ada di berita, setelah tau siapa dalangnya, mas akan segara membereskannya dan akan mengumumkan kapan pernikahan kita terjadi, dan siapkan diri sayang yang akan memegang kendali perusahaan Wijaya Grup."
Suci menganguk pelan, tangan kanannya terus memegang tangan suaminya. Entah siapa yang begitu tega mengatakan dirinya sebagai orang ke tiga, Suci juga penasaran siapa dalangnya, bahkan orang-orang sampai menghina cadarnya yang tidak salah apa pun, lalu mengatakan apa sebading dengan Arkan yang pengusaha muda? Namanya sudah di kenal di seluruh asia, ia menjadi minder atas hal itu, ia tidak memiliki ke dudukan atau gelar yang bisa di banggakan, ia hanyalah wanita biasa yang beruntung di nikahi oleh Arkan.
Itu lah yang ada di pikiran Suci sekarang hingga tubuhnya menjadi ngedrop setelah melihat berita itu, tapi ia juga bersyukur karena suaminya menyita ponselnya setelah ia melihat berita itu.
"Maaf, karena nama sayang menjadi jelek di publik karena mas, tapi mas tidak akan tinggal diam, sayang hanya perlu memikirkan kondisi sayang agar cepat pulih dan agar tidak terjadi apa-apa sama janin kita."
Suci lagi-lagi mengangguk, ia mencium punggung tangan suaminya hingga 3 kali.
"Maafkan aku mas, yang selalu membuat mas kuatir dengan kondisiku."
"Jangan minta maaf sayang, kamu tidak salah apa-apa, anggap saja semuanya sebagai ujian untuk menguatkan iman dan pondasi rumah tangga kita."
__ADS_1
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum saat mendengar nasehat dari suaminya, dulu ia lah yang menguatkan suaminya dan mengatakan kalau semuanya adalah ujian, tapi kali ini yang mengatakan itu adalah suaminya.