Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 52 Ciuman


__ADS_3

Suci memang merasa sangat senang saat suaminya tidak pergi ke kantor, ia memang hari ini tidak memiliki mata kuliah, ia akan menghabiskan waktu bersama suaminya, karena suaminya itu tidak pernah ada di rumah, selama 1 bulan pernikahan, suaminya selalu saja sibuk bekerja, kadang ia bingung sendiri karena hari sabtu dan hari minggu itu libur, tapi suaminya tetap melihat ke perusahaan Xien Grupnya.


" Mas tumben tidak bekerja?"


" Ini untuk menebus kesalahan mas semalam yang sudah membuat mata istri mas jadi sebab karena ulah mas, sayang mau apa?"


" Aku tidak mau apa-apa."


Suci langsung memeluk suaminya lagi sambil tersenyum. Mungkin kalau orang yang sangat peka, sudah bisa menebak kalau tingkah istrinya itu tingkah manja cinta, berbeda dengan Arkan yang tidak mengerti dengan sifat istrinya yang seperti itu, terutama saat ia tau kalau pelukannya itu bisa membuat tidur istrinya nyenyak, jadi ia tidak tau tentang itu, yang jelas ia akan berusaha membuat istrinya selalu nyaman saat ada di sampingnya.


Suci ingat belum membicarakan tentang terapi pada suaminya, ia mendongkakan kepalanya, menatap mata suaminya yang memang sedang menatapnya sambil tersenyum.


" Mas punya hari luang kira-kira hari apa?"


" Memang kenapa sayang?"


" Aku sudah daftarin mas sebagai pasien mas Rey, kata mas Rey menjalani terapinya 1 minggu harus dua kali mas."


" Atur sama hari sayang yang tidak memiliki mata kuliah saja."


Suci mengangguk pelan sambil tersenyum.


" Semoga saja Allah mengirim pelantaranya pada mas Rey iya mas, agar mas cepat pulih. Amin."


" Amin, sayang. Mas Rey memang bekerja di rumah sakit mana sayang?"


Walau pun usia Arkan berbeda 4 tahun lebih tua dari Reyhan, tapi ia harus memanggil dengan embel-embel mas, karena Reyhan adalah kaka sepupu dari istrinya, bahkan persisnya bukan kaka sepupu lagi, tapi kaka sepersusuan dari istrinya.


" Di rumah sakit Harapan mas, berarti minggu besok sudah boleh terapi kan mas?"


" Iya sayang, terima kasih sudah daftarin mas."


Suci mengangguk, ia menginginkan suaminya cepat sembuh, agar suaminya tidak selalu merendahkan dirinya di hadapannya, ia ingin suaminya selalu percaya diri kalau suaminya itu pantas memeliki ia.


" Mas sudah mandi, tapi aku belum mandi."


Suci baru menyadari kalau suaminya sudah mandi, saat melihat baju suaminya yang sudah menggantinya dengan baju santai, bukan baju tidur lagi.


" Iya sayang, tadi mas gerah ingin mandi."


" AC kita dingin ko mas, ko bisa membuat mas gerah?"


" Sayang belum paham dengan urusan lelaki."

__ADS_1


" Hah? Memang kenapa mas?"


Arkan tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan istrinya yang memang tidak paham, ia langsung mencium bibir istrinya sekilas.


" Itu adalah hukuman untuk sayang, karena sudah berani kepo."


" Ih mas, aku lagi serius."


" Sayang tidak perlu tau, ini urusan laki-laki."


" Hhhmmm dasar."


Suci langsung duduk, ia memutuskan untuk mandi.


" Mau kemana sayang?"


Arkan langsung ikut duduk saat melihat istrinya duduk.


" Mau mandi mas, emang mas mau mandi bareng aku? Kalau mau ayo ikut, kita mandi bersama."


Wajah Arkan langsung memerah saat mendengar ajakan dari istrinya, bisa-bisanya istrinya mengajaknya untuk mandi, dan bisa-bisanya ia berpikir mesum duluan saat mendengar ajakan istrinya. Sedangkan Suci tertawa kecil melihat wajah merah suaminya, ia mencolek dagu suaminya.


" Malu iya sama aku?"


" Mas bukan malu sayang, tapi mas takut."


" Tenang saja mas, tubuh aku mulus, jangan takut."


" Iya justru tubuh kamu mulus, melihat betis kamu dan melihat dada kamu terbuka sedikit saja sudah terangsang, apa lagi melihat kamu mandi, yang ada juniorku sudah meronta-ronta." batin Arkan


" Sudah sayang mandi sana."


" Iya mas."


Suci langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Arkan menggeleng pelan. Tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang mengetuk.


Tok-tok.


Arkan langsung pindah ke kursi roda, ia berjalan mendekati pintu, lalu langsung membuka pintu kamarnya, menampilkan sosok mamanya yang sangat kuatir.


" Eh sayang belum pergi ke kantor?"


" Arkan hari ini tidak ke kantor ma."

__ADS_1


" Sayang kenapa tidak sarapan? Istri kamu baik-baik saja?"


" Uci baik-baik saja ma, sekarang Uci lagi mandi, nanti kalau lapar Arkan dan Uci juga sarapan."


Keyla tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari putranya, karena ia pikir putranya itu telah melakukan malam pertama, karena tidak biasanya putranya tidak pergi ke kantor, dan di tambah menantunya tidak membuat sarapan.


" Jangan kasar-kasar mainnya sayang, harus lemah lembut."


Setelah mengatakan itu Keyla langsung pergi dari depan pintu. Sedangkan Arkan menatap pinggung mamanya dengan perasaan bertanya, ia bingung dengan ucapan dari mamanya.


" Apa maksud mama?" batin Arkan


Sedangkan asisten rumah tangga yang berdiri di samping pintu kamar Arkan, ia sudah menahan tawanya saat majikan tuanya mengatakan hal yang lebih intim. Arkan menutup pintunya lagi, ia pindah duduk di sofa sambil menunggu istrinya.


" Apa jangan-jangan mama mikir aku sudah mengelakuin malam pertama iya? Huh dasar otak mama, sama saja seperti papa, sama-sama otak mesum."


Suci selsai mandi, ia memakai handuk kimino keluar dari kamar mandi, lalu melihat suaminya yang sudah duduk di sofa. Suci langsung mengganti pakaiannya, setelah rapi ia juga memakai make up, biasanya kalau siang ia tidak pernah memakai make up, hanya saat malam saja, tapi karena ada suaminya, ia memakai make up. Setelah selsai Suci langsung duduk di samping suaminya.


" Sayang duduk di sini."


Arkan menepuk pahanya. Suci mengangguk sambil tersenyum, ia duduk dengan menyampingkan tubuhnya. Arkan langsung memeluk pinggang istrinya.


" Istri mas cantik dan harum."


Suci tersenyum lebar saat mendengar pujian dari suaminya, sedangkan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan hanya Suci, tapi Arkan juga merasakan hal yang sama.


" Mas sudah mau sarapan?"


" Memang sayang sudah mau sarapan?"


Arkan bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya, melainkan ia balik bertanya pada istrinya.


" Belum mas."


" Mas pengen sarapan, tapi mas pengen sarapan ini, boleh?"


jempol kanan Arkan mengusap lembut bibir bawah istrinya.


" Ngapain harus bertanya mas? Aku sudah bilang kalau dari ujung rambut hingga ujung kaki milik mas."


Arkan mengangguk pelan, ia tau semuanya miliknya, tapi ia takut kalau istrinya merasa terganggu atau risih, ia tidak ingin membuat istrinya merasakan seperti itu, ia hanya ingin istrinya nyaman. Arkan langsung memulai ciumannya setelah mendapat ijin dari istrinya.


Sedangkan Suci hanya memejamkan mata sambil mengalungkan ke dua tangannya pada leher suaminya. Arkan menyapu semua rongga mulut istrinya, hingga tidak sadar tangannya itu sudah merayap membuka dua kancing baju istrinya. Suci yang menyadari itu membuat tubuhnya sudah mulai bergetar, ia bukan belum siap, tapi bagai mana pun juga ini adalah pertama kalinya, ada perasaan takut di hatinya. Arkan yang menyadari tubuh istrinya bergetar, ia baru sadar kalau tangannya sudah merayap hingga membuka dua kancing baju istrinya. Arkan langsung menghentikan ciumannya, ia akhiri dengan mencium kening istrinya

__ADS_1


" Maafkan mas sayang."


Arkan merasa menyesal, ia juga tidak bermaksud untuk melakukan lebih intim pada istrinya


__ADS_2