
Sulis sudah berhari-hari terus uring-uringan, tapi hari ini ia memutuskan jalan-jalan keliling mall untuk menghilangkan rasa sedihnya.
Sulis juga tadi menyetir mobil sendiri, ia juga berpenampilan sangat rapih menggunakan celana jeans panjang dan kemeja panjang lalu memakai kacama hitam termasuk masker.
Sulis tidak mau di kejar-kejar wartawan, ia tidak mau kalau wartawan menanyakan apa masalah ia hingga di pecat dari Xien Grup.
Apa lagi Xien Grup selama ini selalu mengutamakan Sulis menjadi model utama, bahkan pemilik Xien Grup adik iparnya sendiri, tepatnya mantan kekasihnya sendiri.
Walau pun tidak ada yang tau Sulis pernah menjalin hubungan, tapi ia pernah membocorkan hal itu dan sebagian besar yakin percaya pada berita itu.
Saat Sulis melewati restoran di dalam mall itu ia melihat ke dua sahabatnya, membuat ia tersenyum senang.
Sulis terus berjalan mendekati mereka berdua, tapi langkah kakinya terhenti saat mendengar percakapan mereka berdua.
"Pasti sekarang Sulis malu untuk keluar."
"Iya jelas lah, lagian juga siapa suruh jadi wanita tidak tau malu, jelas-jelas Sulis sudah beruntung selalu di utamakan oleh Xien Grup, tapi Sulis tega ingin merusak rumah tangga mereka, iya terpaksa gue bocorin tentang pemecatan dia di Xien Grup untuk memberikan Sulis pelajaran."
"Wanita seperti Sulis memang tidak pantas di kasih hati, sudah di kasih hati masih saja minta jantung."
Sebenarnya Vani dan Bella tidak membenci Sulis, tapi mereka berdua benci dengan sikap Sulis yang selalu saja kanak-kanakan.
Vani dan Bella ingin Sulis tidak bersikap kanak-kanakan lagi, apa lagi Suci adalah adik kandung Sulis sendiri, mereka berdua tidak ingin kalau sampai Sulis dan Suci menjadi perang sodara.
Sulis yang mendengar ucapan ke dua sahabatnya, ia langsung mengepalkan ke dua tanganya.
Sulis langsung berjalan lagi ke arah mereka, ia langsung menggebrak meja yang di duduki mereka.
Bruk...!
"Dasar sahabat gila! Kalian berdua gila dan tega membuat gue seperti ini?!"
Vani dan Bella sangat terkejut saat mejanya di gebrak, apa lagi saat mendengar suara yang mereka kenal, mereka langsung berdiri.
"Sulis!"
Mereka berdua memanggil nama Sulis serempak, walau pun penampilanya sangat rapih, tapi ia kenal suara wanita di sampingnya.
"Kenapa kalian tega ingin membuat gue jadi bulan-bulanan wartawan?!"
"Ini enggak seperti yang lo pikirin, gue dan Bella tidak bermaksud ingin membuat lo malu."
"Iya yang di katakan Vani benar Lis."
"Cukup! Gue sudah tidak butuh omong kosong kalian! Mulai dari sekarang kalian bukan sahabat gue lagi!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Sulis langsung lari dari sana, ia tidak mau menjadi pusat perhatian pengunjung yang ada di restoran tersebut.
Bella langsung lari mengejar Sulis, begitu pun dengan Vani, setelah mengeluarkan beberapa lembar uang dan langsung ia letakan di meja, ia juga ikut mengejar Sulis.
"Sulis tunggu bentar! Gue bisa jelasin!"
Bella berlari mengejar Sulis sambil berteriak, bahkan bukan hanya itu ia juga melepas sepatu hak tingginya untuk mengejar Sulis.
Sepatu hak tinggi Bella langsung di tinggalkan di sana, ia masih terus saja mengejar Sulis, tapi sayang ia tidak bisa mengejar Sulis saat Sulis memasuki pintu life dan pintu life itu sudah tertutup.
Bella mencari pintu life yang kosong di ikuti dengan Vani, mereka tidak menemukan pintu life yang kosong.
"Sial!"
Bella mengumpat saat tidak menemukan life kosong.
"Ahkk! Kenapa kita bisa berbicara sembarangan? Pasti Sulis marah banget sama kita, gue tidak tega melihat Sulis sedih, gue bukan ingin persahabatan kita putus. Gue cuma ingin Sulis berubah."
Mata Bella sudah memerah, ia sudah ingin mengis.
"Lo tenang dulu. Bukan hanya lo yang sedih, gue juga sedih. Gue juga enggak mau persahabatan yang sudah terjalin lama putus begitu saja."
Mereka berdua langsung berpelukan sambil menunggu life kosong.
Sulis menangis di dalam life, ternyata dugaan ia benar kalau salah satu sahabatnya membocorkan tentang ia di pecat.
Sulis membuka kacamata dan maskernya, ia menghapus air matanya, lalu langsung merapihkan lagi seperti semula, tapi tetap saja air matanya terus mengalir deras.
Rasa kecewa Sulis masih saja belum mereda hingga ia sampai di lantai dasar.
Sulis berjalan terburu-buru hingga menabrak sesaorang, ia hampir saja terjatuh kalau lelaki yang ia tabrak tidak sigap menahan pinggangnya. Mereka saling menatap mata hingga beberapa detik.
"Sampai kapan kamu akan berdiri seperti ini?"
Sulis yang di tanya oleh lelaki itu ia langsung berdiri.
Bahkan Sulis langsung menunduk saat mengetahui kalau lelaki yang ia tabrak adalah Raka.
"Aku minta maaf dan terima kasih."
Setelah mengatakan itu Sulis buru-buru melangkah, tapi pergelangan tanganya di cekal oleh Raka.
"Lo kenapa?"
Walau pun sekarang Sulis berpenampilan rapih tidak menggunakan pakaian seksi, dan memakai masker, tapi Raka masih mengenali suara Sulis.
__ADS_1
"Aku enggak kenapa-kenapa, tolong lepaskan tanganku."
Raka sangat terkejut saat mendengar ucapan dari Sulis yang memanggil diri sendiri dengan panggilan aku, biasanya Sulis memanggil diri sendiri dengan panggilan gue.
Saat Sulis akan melepaskan tangan Raka. Raka langsung menarik Sulis untuk saling menatap mata lagi.
"Kamu menangis?"
Raka bertanya sambil menarik kacamata hitam yang menutupi mata Sulis dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya masih menggenggam pergelangan tangan Sulis, ia juga tidak menggunakan kata gue lo lagi mengikuti ucapan dari Sulis.
"Lepas! Kamu juga mau tertawa bahagia seperti mereka?! Kamu mau mengejekku juga karena aku akhir-ahir ini di kejar wartawan?!"
Raka menggeleng pelan, walau pun ia sangat membenci Sulis, tapi ia masih memiliki hati nurani.
Orang yang berlalu lalang langsung melihat ke arah mereka berdua saat mendengar suara bentakan dari Sulis.
Raka yang sudah melihat orang-orang menatap ke arahnya, ia langsung menarik Sulis masuk ke dalam mobil miliknya.
Setelah di mobil Raka langsung mengunci mobilnya.
"Kamu mau bawa aku kemana? Aku bawa mobil sendiri."
"Mana knci mobilmu?"
"Untuk apa?"
"Cepat mana?!"
Sulis yang sudah tidak ingin berdebat dengan terpaksa ia memberikan kunci mobilnya pada Raka.
Raka langsung keluar dari mobil setelah mendapatkan kunci mobil milik Sulis, ia mendekati satpam di parkiran.
"Pak, kalau supir saya tanya saya, saya pulang duluan, kunci mobil ini tolong berikan pada supir saya dan suruh antarkan ke rumah Sulis."
"Baik den Raka."
Setelah itu Raka langsung masuk lagi ke dalam mobil, ia langsung meljukan mobilnya pergi meninggalkan mall.
Rencana Raka mau bertemu dengan Adinda sahabat lamanya, ia urungkan saat bertemu dengan Sulis.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit, Raka menghentikan mobilnya di sisi jalan sepi.
"Kenapa kamu berhenti di sini?!"
Sulis takut saat Raka menghentikan mobil di jalanan sepi, apa lagi tidak ada perumahan, jalanan itu hanya perkebunan dan pepohonan.
__ADS_1
"Jangan kuatir, aku masih sangat waras, aku tidak akan melecehkan kamu."
"Kamu memang tidak akan melecehkan aku, aku hanya perawan tua seperti yang kamu bilang dulu."