
Setelah kepergian Gus Ali dan Abinya, kini Suci memutuskan untuk ke kamar, ia ingin menangis di pojokan kamarnya untuk menangkan hatinya yang sangat hancur, terutama saat mendengar ucapan Gus Ali tadi
"Kenapa Neng tidak bilang kalau neng pulang akan menikah juga? Kalau neng bilang dari awal, neng tidak akan merasa tidak enak hati sama saya. Cinta adalah fitrah, kalau neng sudah memilihnya, saya akan berusaha untuk ikhlas, walau pun sangat berat."
Ucapan Gus Ali mampu membuat Suci lebih sakit, sakit saat mendengar Gus Ali akan berusaha mengikhlaskannya, seharusnya ia senang saat Gus Ali mengatakan akan mengikhlaskanya, tapi ia bahkan seperti tidak rela di lupakan oleh Gus Ali. Anisa tau kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja, sebelum putrinya menaiki tangga, ia langsung mengelus lembut punggung putrinya.
"Nak, kamu tidak apa-apa?"
"Uci tidak apa-apa Bun, Uci ke kamar dulu."
"Iya nak."
Suci langsung menaiki tangga dengan berjalan pelan dan tangan kirinya memegang pegangan tangga, karena tubuhnya terasa lemas. Suci sampai di kamar, ia langsung membuka cadar dan hijabnya, duduk di pojokan dengan merangkuh ke dua pahanya untuk menenggelamkan wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. Suci menangis sambil memanggil nama Ayah, karena ia mengingat betul ucapan dari Ayahnya di masa lalu
"Ayah, ternyata benar apa kata Ayah, kalau kita belum siap menerima kekecewan dalam percintaan ternyata sangat sakit yah, dada Uci sakit yah." batin Suci
Flashback on
Suci setiap hari bermain dengan Ayahnya, senyuman Suci tidak pernah pudar setiap bermain bersama Ayahnya. Sekarang Suci dan Ayahnya yang bernama Ardi Septian sedang duduk di taman.
__ADS_1
"Nak, Ayah hanya berpesan padamu, karena Ayah takut tidak bisa menunggumu sampai kamu menikah. Jangan sekali-kali mengenal yang namanya kata cinta, kalau kamu belum siap untuk menerima segalanya. Kata cinta, memang terdengar indah, tapi jika kita mendalamminya cinta itu tidak seindah yang seperti kita bayangkan."
"Maksud Ayah apa? Uci cinta Ayah, lelaki pertama yang Uci lihat adalah Ayah? Cinta anak dan Ayah sangatlah indah Ayah."
Ardi mengelus lembut pucuk kepala putrinya yang saat itu usia Suci baru saja 15 tahun.
"Bukan cinta yang seperti itu yang Ayah maksud sayang."
"Lalu cinta seperti apa yang Ayah maksud? Atau cinta seperti Ayah dan Bunda? Tapi cinta Ayah dan Bunda juga indah."
"Mingkin kamu belum mengerti nak tentang masalah percintaan, maka dari itu Ayah akan menjelaskan tentang dalamnya isi Cinta. Cinta tergantung bagai mana kita membawanya. Cinta bisa membuat kita khilaf dan melakukan dosa besar yang tidak pernah di ampuni oleh Allah, yaitu dalam artian Zina, tapi ada juga cinta yang tulus dan agar tidak ada kata Zina yaitu mengikat cinta dalam pernikahan. Nak, Ayah harap kamu bisa mengikuti jejak Ayah, mencintai sesaorang saat sudah makhromnya, Ayah harap kamu bisa menjaga hatimu dengan bersih tanpa ada memiliki kata cinta sebelum halal, tapi kalau sampai kamu mencintai sebelum menikah, Ayah harap kamu tidak seperti Bunda. Cinta Bunda di masa lalu sangat menyakitkan, Bunda mengalami rasa kecewa, benci, marah, sakit hati dan penghianatan, itu rasanya sangat sakit nak. Walau pun Ayah belum pernah mengalami hal itu, tapi Ayah bisa merasakannya. Ayah hanya minta padamu nak, kalau belum siap dengan resikonya, jangan pernah mengenal kata cinta, karena sangat menyakitkan."
Ardi memang tidak pernah mengel kata cinta sebelum menikah, walau pun ia tidak terlalu mengerti dengan agama, tapi ia paling anti yang namanya cinta, dan ia juga mencintai Anisa setelah sah mejadi suami Anisa, karena dulu ia menikahi Anisa dengan semata-mata untuk menolong Anisa yang terpuruk dalam masalah percintaannya, hingga akhirnya lambat laun ia mencintai Anisa sepenuh hati dan jiwa raganya.
"Ingatlah ucapan Ayah, jangan sekali-kali mengenal cinta kalau belum siap menerima resiko di dalamnya."
Suci mengangguk paham dengan ucapan Ayahnya, ia juga berharap seperti Ayahnya yang merasakan jatuh cinta setelah menikah.
"Jika kamu benar-benar mengikuti jejak Bunda, jangan pernah kamu sesekali melakukan apa yang pernah Bunda lakukan, yaitu mencoba untuk bunuh diri, itu tidak akan menyelsaikan masalah, tapi kamu harus mengabil wudhu, sholatlah dan curahkan semua yang menjadi beban pikiranmu, insya Allah, akan ada rasa ketenangan yang kamu dapatkan."
__ADS_1
Ardi langsung memeluk tubuh mungil putrinya, ia merasa tenang setelah menceritakan segalanya pada putrinya, karena ia takut kalau suatu saat putrinya mengambil jalan yang salah, terlebih ia juga tidak tau sampai kapan nafasnya akan terus bernafas, apa lagi penyakitnya yang sudah semakin parah, jadi ia berharap kalau ia meninggalkan ke dua putrinya nanti, putrinya sudah memiliki bekal kata-katanya.
"Ayah, kenapa Ayah bilang takut tidak bisa menunggu Uci sampai menikah? Ayah mau tinggalin Uci?"
"Tidak ada seorang Ayah yang mau meninggalkan putrinya, terkecuali ada sesuatu yang terjadi yang terpaksa harus meninggalkannya. Ayah juga ingin menunggu sampai kamu menikah, tapi umur tidak ada yang tau, kalau suatu saat ada sesuatu sama Ayah, ingatlah, jangan pernah mengenal cinta kalau belum siap dengan resikonya, karena cinta tidak akan terus indah. Ayah harap kamu bisa seperti kakemu, yang memiliki pendirian dan tegad yang kuat, yaitu tekad untuk menjadi orang yang baik. Satu hal lagi pesan Ayah, jangan pernah buat orang lain menangis, kalau ada orang yang menangis dan kamu bisa membantunya, maka bantulah dia, meski harus mengorbankan kebahagiaanmu, karena kebagian yang sesungguhnya adalah membuat orang lain bahagia."
"Akan Uci ingat semua Ucapan Ayah."
"Kamu memang putri Ayah yang sangat baik."
Flashback off
Suci terus saja menangis dadanya semakin sakit, ia tidak mengingat pesan ke dua sang Ayah agar membantu orang lain walau pun harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri, ia melakukan itu hanya dari hati dan meyakinkan diri kalau ia tidak ingin membuat orang menangis, ia akan mengorbankan kebahagiannya, tapi nyatanya ia tidak sekuat dan setegar itu.
"Maafin Uci Gus. Hiks... Hiks... Maafin Uci, Uci juga cinta sama Gus, tapi semua terjadi begitu saja Gus, Uci percaya kalau Gus bisa mendapatkan yang lebih baik dari Uci Hiks... Hiks..."
Tangisannya semakin pecah, semakin malam tangisan Suci semakin terdengar di setiap kamar, jalas-jelas sekarang jam sudah menujukan pukul 00.00WIB, tapi Suci masih terus menangis.
"Hiks... Hiks... Kenapa sesakit ini dada Uci, kenapa Uci tidak bisa menerima ucapan yang Uci katakan, kenapa kata ikhlas itu hanya ada di mulut Uci, tapi hati Uci tidak semudah itu untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi."
__ADS_1
Tangisan Suci terdengar hingga ke kamar Anisa dan Sulis, mereka berdua menghela nafas di kamar masing-masing.
Sulis yakin kalau adiknya telah menolak lamaran dari Gus Ali dan memilih Arkan, hanya saja ia tidak habis pikir kenapa adiknya mengorbankan kebahagiaannya demi untuk membantu Arkan agar bangkit dari keterpurukan.