
Walau pun Arkan antara percaya dan tidak percaya kalau istrinya adalah Gadis masa lalunya, tapi ia tetap bahagia, memang dari awal pertemuannya saja ia memiliki perasaan aneh terhadap istrinya, terlebih saat melihat wajah istrinya yang begitu menyejukan hati, membuat ia lebih bahagia lagi.
" Uci, apa tadi siang itu seluruh santri ikut?"
Suci mendongkakan kepalanya saat mendengar pertanyaan dari suaminya.
" Tidak mas, itu hanya setengah kurang dari pesantren Alhusna, jumblah seluruh santrinya 750 mas, kemarin yang ikut hanya 300 saja."
" Banyak juga iya Uci."
" Iya mas, itu pesantren terbesar di bandung mas."
" Lalu wanita yang kamu panggil Umi itu siapa Uci?"
" Oh itu Umi Khadijah mas, istri dari pak kiai Habibi, pemilik pesantren Alhusna, mereka sangat baik sama aku, mereka menganggap aku sebagai putrinya sendiri, jadi walau aku tidak memiliki Ayah, tapi setelah di pesantren itu aku berasa memiliki Ayah."
" Memang mereka tidak memiliki putri?"
" Tidak mas, mereka hanya memiliki satu putra, namanya Muhamad Ali Alfauzi."
" Iya aku tau Uci kalau putranya, bahkan aku tau kalau kamu sangat mencintainya." batin Arkan
Akhirnya mereka sama-sama diam, hingga Suci ingat tentang Ustazah Alisah, ia menjadi penasaran, tentang Ustazah Alisah.
" Mas, aku boleh tanya sesuatu?"
" Tanyakan saja."
" Mas mengenal ustazah Alisah?"
" Iya, dulu mas sama Alisah bersahabat saat SMA, saat itu Alisah tinggal di jakarta bersama neneknya."
" Tapi menurut aku pandangan matanya bukan seperti sahabat mas? Ustazah Alisah seperti memiliki perasaan sama mas."
__ADS_1
Arkan mengelus pucuk kepala istrinya, ia langsung mencium pucuk istrinya sekilas.
" Iya dulu Alisah bilang cinta sama mas, tapi mas tolak, mas beralasan kalau mas tidak suka wanita muslimah."
" Bener begitu? Aku juga wanita muslimah mas."
" Itu hanya alasan Uci, lebih jelasnya mas tidak mencintainya, tapi mas tidak ingin hati Alisah terluka, kita bersahabat sudah lama,mas tidak ingin menyakiti hatinya, tapi semenjak di tolak, ia mulai menjauhi mas, hingga pindah ke bandung, hari ini kita baru bertemu lagi setelah 10 tahun tidak bertemu. Besok langsung masuk kuliah?"
" Lusa saja mas, Uci capek."
" Baiklah, ayo tidur, sekarang sudah malam."
" Iya mas."
Arkan mengeratkan pelukannya, ia mengelus pelan pucuk kepala istrinya. Suci langsung membaca do'a tidur, ia langsung memejamkan mata. Arkan langsung melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan pelan, ia berharap kalau istrinya nyaman tidur bersamanya. Suci yang mendengar suara suaminya, membuat hatinya menghangat, tidak bisa di pungkiri perlakuan suaminya itu begitu menyentuh hati.
" Terima kasih iya Allah, sudah memberikan mas Arkan sebagai jodoh hamba." batin Suci
Arkan terus saja menatap wajah Suci yang sudah terpejam, wajah yang begitu membuat pikirannya tenang, setelah tidak ada pergerakan dari istrinya, ia menutupnya dengan do'a.
Setelah membaca do'a itu Arkan langsung mengecup ke dua mata istrinya, ia pun ikut memejamkan mata. Sebenarnya Suci sama sekali belum tidur, walau pun matanya sudah ngantuk karena lantunan ayat suci Al-Qur'an dari suaminya, tapi ia masih setia memdengarkan semua ucapan yang keluar dari mulut suaminya, dan ucapan suaminya lagi-lagi membuat hatinya tersentuh, walau pun tidak mencintai suaminya, ia sangat tersentuh dengan semua kata yang keluar dari mulut suaminya, ia jadi berpikir tentang kakanya.
" Kenapa kak Sulis membuang lelaki baik seperti mas Arkan? Bahkan mengatakan mas Arkan tidak berguna, jelas-jelas mas Arkan itu sangat baik dan calon suami idaman. Aku memang tidak mencintai mas Arkan, tapi mas Arkan masuk dalam kriteria calon suamiku." batin Suci
Setelah itu Suci juga tertidur, hingga ia bangun di tengah malam untuk sholat tahajud, saat ia mumbuka mata, ia langsung tersenyum saat melihat wajah tidur suaminya.
" Terima kasih mas, sudah mau membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk penghantar tidurku."
Setelah mengatakan itu Suci langsung membersihkan diri, lalu langsung memulai sholat tahajudnya, setelah selsai ia langsung berdo'a pada ya rabbnya.
" Ya Allah hamba percaya hanya engkau yang bisa membolak-balikan hati hamba, hamba ingin biarkan hamba mencintai suami hamba karenamu ya Allah, hapuslah perasaan hamba pada Gus Ali. Amin."
Setelah berdo'a di tutup dengan do'a sapu jagat, lalu Suci langsung melajutkannya dengan membaca surat Al waqiah. Sedangkan Arkan hanya tersenyum saat mendengar suara mengaji istrinya yang menyejukan hati.
__ADS_1
Arkan memang sudah bangun saat ia meraba ranjangnya tidak menemukan istrinya, jadi ia melihat ke ruangan sholat, sampai ia berhenti di depan pintu, menatap istrinya yang sedang berdo'a, membuat hatinya sangat senang saat mendengar agar istrinya bisa mencintainya dan melupakan Gus Ali.
Setelah selsai Suci langsung membuka mukenahnya dan melipatnya, ia hanya membaca surat Al waqiah saja, biasanya ia melanjutkan dengan surat lain sambil menunggu subuh, tapi karena lelah atas pernikahan kemarin yang terus berdiri, ia memutuskan untuk tidur lagi. Suci terkejut saat melihat suaminya yang berada di depan pintu. Suci langsung berjongkok di depan suaminya.
" Maaf mas, mas pasti terganggu iya sama suaraku, untuk itu mas bangun? Lain kali aku akan mengecilkan suaraku mas."
Arkan mengelus lembut kepala istrinya masih sambil tersenyum.
" Mas sama sekali tidak terganggu dengan suaramu Uci, mas hanya ingin mendengar lebih jelas suaramu. Suaramu sangat merdu dan menyejukan hati mas, jadi tidak perlu mengecilkan suaramu."
Suci mengangguk pelan sambil tersenyum, dari sehabis sholat berjam'ah hingga sekarang senyuman Suci tidak pernah pudar.
" Mas, tidur lagi yuk? aku masih ngantuk."
" Iya sudah ayo."
Suci mendorong kursi roda suaminya, hingga mereka sampai di samping ranjang, lalu langsung membantu suaminya pindah ke atas ranjang, setelah selsai ia juga membaringkan tubuhnya.
" Uci, apa kamu dari kecil belajar mengaji?"
" Saat kecil aku hanya menghapal surat pendek saja untuk sholat mas, dan saat bersungguh-sungguh mengaji itu saat aku masuk ke dalam pesantren."
" Kamu masuk pesantren atas kemauan sendiri? Atau atas ajakan teman?"
" Sendiri mas, bahkan aku saat itu tidak punnya teman, aku bersyukur mas atas kejadian di masa lalu hingga bisa merubah diriku ke jalan lebih baik lagi."
Sebenarnya Arkan penasaran kejadian apa yang menimpa istrinya di masa lalu, tapi ia enggan untuk bertanya, ia hanya ingin istrinya sendiri yang menceritakannya.
" Wah bagus kalau kemauan sendiri."
" Iya mas, aku selalu berharap kalau hijrahku ini bisa menghapus semua dosa di masa laluku yang selalu aku sesali hingga sekarang."
Mata Suci mulai memerah, setiap kali mengingat masa lalunya selalu membuat hatinya sakit, apa lagi saat kakanya yang selalu memojokannya, jelas membuat hatinya lebih sakit. Arkan yang melihat mata istrinya memerah, ia langsung memeluk istrinya.
__ADS_1
" Semua orang memiliki kesalahan di masa lalu Uci, jangan pernah masa lalumu menjadi kelemahanmu, mas bangga sama kamu karena kamu mau belajar dari masa lalu untuk lebih baik lagi, dan apa pun masa lalu kamu, mas akan selalu menerimanya, mas juga memiliki masa lalu yang buruk."